fbpx
LOGO

5 Manfaat NADH Sebagai Suplemen Nootropik

November 2, 2020
IMG

NADH (Nicotinamide Adenine Dinucleotide + Hydrogen) merupakan bentuk koenzim aktif dari vitamin B3 (niasin). NADH ditemukan secara alami dalam organ sel tubuh manusia terutama jantung dan otak, dan berbagai sumber makanan di alam.

 

Koenzim ini juga merupakan senyawa yang diperlukan dalam pembentukan ATP (sumber energi dalam mitokondria sel). 

 

NADH merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak memiliki efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, daging ikan mengandung NADH yang mampu menjaga dan meningkatkan fungsi kognitif di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih bisa didapat melalui suplementasi NADH, tanpa perlu mengonsumsi ikan.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Kadar NADH menurun seiring bertambahnya usia. Suplementasi NADH diklaim mampu meningkatkan fungsi kognitif, meningkatkan energi seluler, meningkatkan daya tahan tubuh, mematikan gen penuaan, dan memperpanjang masa hidup sel.

 

Meskipun NADH diproduksi secara alami di dalam tubuh dan bisa didapatkan melalui sumber makanan, namun efek nootropiknya tidak dapat bertahan lama.

 

NADH yang terkandung pada sumber makanan akan hilang ketika dimasak, sehinga tetap disarankan  mengonsumsi suplemen NADH jika ingin mendapatkan manfaat nootropik yang lebih baik.

 

 

Manfaat

 

1. Meningkatkan fungsi kognitif

NADH membawa elektron yang dibutuhkan untuk sintesis ATP (Adenosine Triphosphate). ATP digunakan untuk mitokondria sel otak agar dapat berfungsi dan tetap sehat.

 

Dengan menyediakan sarana untuk sintesis ATP, NADH terlibat dalam proses kognisi, fokus, konsentrasi, memori, dan kecepatan proses transfer informasi dalam sistem persarafan.

 

NADH juga berperan penting dalam mencegah aging atau penuaan pada sel otak dan kerusakan jaringan, bahkan mengurangi kerusakan akibat stroke (kerusakan otak akibat gangguan suplai darah) (1, 2).

 

Dalam penelitian lain pemberian suplemen NADH dengan dosis 20 mg kepada penderita sindrom kelelahan kronis mampu menurunkan kecemasan dan menurunkan rerata denyut jantung setelah diberikan tes stres (3).

 

2. Membantu mengobati Parkinson

NADH terlibat langsung dalam produksi neurotransmiter jenis dopamin dan norepinefrin, yang sangat bermanfaat bagi penderita Parkinson.

 

Pada penelitian di Austria, terapi NADH baik secara injeksi maupun oral pada penderita Parkinson mampu meningkatkan produksi dopamin otak tanpa pemberian Levodopa (obat yang umum digunakan untuk Parkinson).

 

Kedua kelompok menunjukkan respons keseluruhan yang baik terhadap terapi NADH termasuk peningkatan fungsi motorik, berjalan, mendorong, postur dan berbicara. Para partisipan juga mengalami peningkatan dalam kognisi dan suasana hati.

 

Pada akhir penelitian, para peneliti juga menemukan terdapat peningkatan metabolit dopamin dalam urin pasien. Temuan ini menunjukkan bahwa NADH mendorong peningkatan produksi dopamin dan menurunkan gejala Parkinson meski tidak menggunakan obat Parkinson konvensial (4).

 

3. Membantu mengurangi jet lag

Jet lag adalah gangguan tidur sementara yang terjadi ketika jam internal tubuh tidak sinkron dengan zona waktu. Kondisi ini biasa terjadi pada wisatawan mancanegara yang sering melaksanakan perjalanan antar benua dengan perbedaan zona waktu signifikan.

 

NADH diklaim mampu meningkatkan produksi seluler ATP dan memfasilitasi sintesis dopamin, sehingga diklaim mampu menangkal efek jet lag pada fungsi kognitif dan mengurangi gejala kantuk berlebih

 

Penelitian yang dilakukan NASA (Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat) mengenai efektivitas NADH untuk menanggulani gejala jet lag menemukan bahwa partisipan wisatawan yang menerima 20 mg NADH sublingual (di bawah lidah) memiliki kinerja lebih baik pada tes kognitif dan motorik, dan melaporkan lebih sedikit rasa kantuk dibandingkan mereka yang menggunakan plasebo.

 

NASA menyimpulkan bahwa NADH secara signifikan mampu mengurangi gangguan fungsi kognitif akibat jet lag, mudah digunakan, dan tidak memiliki efek samping yang merugikan (5).

 

4. Meregenerasi sel

Stem cell atau sel induk dari di tubuh manusia bereaksi terhadap persinyalan yang dikirim oleh berbagai stimulus, serta memiliki kemampuan meregenerasi organ yang rusak dengan memproduksi sel baru.

 

Kelelahan pada sel-sel induk adalah salah satu penyebab utama dari regenerasi yang buruk, yang akan menyebabkan degenerasi pada jaringan, organ, dan otak. Proses regenerasi sel akan menurun seiring bertambahnya usia. 

 

Pada uji coba hewan, NADH terbukti mampu meregenerasi dan merevitalisasi sel-sel induk pada otot tikus yang berusia tua. Penelitian ini juga tidak menemui efek samping dalam penggunaan prekursor NADH, meningkatkan fungsi semua sel, termasuk sel tubuh tikus yang sudah rusak akibat penuaan (6).

 

5. Mengurangi kelelahan kronis

Sindrom kelelahan kronis merupakan suatu kondisi kelelahan yang semakin memburuk seiring waktu dan tidak dapat hilang hanya dengan beristirahat. Gejalanya mencakup kebingungan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, suasana hati memburuk, dan gejala kelelahan lainnya.

 

Dalam sebuah penelitian terapi dengan suplemen NADH selama 24 bulan berturut-turut mampu mengurangi gejala kelelahan kronis (7).

 

 

 

Sumber makanan

 

NADH terkandung dalam berbagai makanan yang kaya akan niasin (Vitamin B3), antara lain:

Daging dan jeroan, seperti hati

Daging unggas

Ikan 

Kacang-kacangan

Alpukat

Asparagus

Brokoli

Kentang

 

 

Dosis rekomendasi

 

Dosis NADH yang direkomendasikan adalah 5 – 20 mg per hari, dikonsumsi 30 menit sebelum makan atau ketika perut dalam keadaan kosong. Untuk mendapat manfaat nootropik, Anda bisa mengonsumsi 10 mg NADH per hari.

 

Disarankan untuk mengonsumsi dengan dosis rendah saat akan memulai suplementasi NADH untuk melihat efeknya pada tubuh.

 

 

Interaksi sinergi

 

NADH dapat dikombinasikan dengan nootropik jenis lainnya seperti NALT (N-Asetil L-Tirosin) untuk meningkatan produksi dopamin di otak. Namun suplementasi dengan kombinasi ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.

 

 

Efek samping

 

Meski aman dikonsumsi, suplementasi NADH mungkin menghasilkan efek samping seperti gelisah, cemas, dan insomnia. Jika diberikan secara injeksi dapat menimbulkan efek samping nyeri, bengkak, dan kemerahan pada area injeksi.

 

 

Defisiensi

 

Kondisi defisiensi NADH dapat terjadi ketika mitokondria kehabisan ATP untuk diproses menjadi energi. Gejala yang dapat terjadi adalah terjadinya kabut otak (brain fog), lambat dalam berfikir, kecemasan, dan lemahnya kekuatan tubuh.

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi suplemen NADH.  

 

 

Referensi:

Tomen D. (2017). Nadh. Nootropics Expert. Diakses pada 13 September 2019.

Dellwo A. (2019). Health benefits of nadh. Very Well Health. Diakses pada 13 September 2019. 

Ying W. Nad+ and nadh in brain functions, brain diseases and brain aging. Front Biosci. (2007).

Ying W. Nad+ and nadh in ischemic brain injury. Front Biosci. (2008).

Alegre J, Rosés JM, Javierre C, Ruiz-Baqués A, Segundo MJ, de Sevilla TF. Nicotinamida adenina dinucleótido (NADH) en pacientes con síndrome de fatiga crónica [Nicotinamide adenine dinucleotide (NADH) in patients with chronic fatigue syndrome]. Rev Clin Esp. (2010).

Birkmayer JG, Vrecko C, Volc D, Birkmayer W. Nicotinamide adenine dinucleotide (NADH)–a new therapeutic approach to Parkinson’s disease. comparison of oral and parenteral application. Acta Neurol Scand Suppl. (1993).

Kay GG, Viirre E, Clark J. Stabilized nadh as a countermeasure for jet lag. NASA. (2001).

Zhang H, Ryu D, et al. Nad+ repletion improves mitochondrial and stem cell function and enhances life span in mice. Science. (2016).

Santaella ML, Font I, Disdier OM. Comparison of oral nicotinamide adenine dinucleotide (NADH) versus conventional therapy for chronic fatigue syndrome. P R Health Sci J. (2004).


Tags: , ,