fbpx
LOGO

Asam Butirat dan 4 Manfaatnya yang Mengagumkan

August 19, 2020
IMG

Asam lemak adalah senyawa pembangun lemak yang dibutuhkan oleh sel untuk dapat menjalankan fungsinya. Asam butirat atau butirat merupakan asam lemak rantai pendek (SCFA-Short Chain Fatty Acid), yang terbentuk ketika bakteri usus memfermentasi serat yang tidak dapat dicerna dari makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks.

 

Produksi butirat sangat tergantung teradap kadar pH usus besar, karena bakteri yang menghasilkan butirat berkembang dalam lingkungan yang lebih asam (pH lebih rendah). Butirat sangat penting untuk menjaga dinding usus besar agar tetap sehat, dan mencegah peradangan pada usus. 

 

 

Manfaat

 

1. Membantu Menurunkan Berat Badan

Pada sebuah uji coba dengan tikus, suplementasi asam lemak rantai pendek (SCFA), termasuk butirat, terbukti meningkatkan jumlah bakteri Bacteroidetes (salah satu kelompok bakteri dalam usus) yang membantu penurunan berat badan (1).

 

Sedangkan pada percobaan dengan subyek manusia, mengonsumsi suplemen serat penghasil butirat (merk PolyGlycopleX®) dosis 4,5 gram per hari mampu menurunkan berat badan dan BMI (Basal Mass Index) secara signifikan pada 118 orang yang mengalami kelebihan berat badan (2).

 

Mengonsumsi suplemen SCFA juga dapat meningkatkan kolonisasi bakteri baik dalam usus besar sehingga meningkatkan pembakaran lemak, penyerapan serat,  serta menurunkan terjadinya lipolisis atau pemecahan trigliserida berlebihan pada kelompok pria dengan obesitas (3).

 

2. Menjaga Kesehatan Usus 

Bakteri baik pada usus besar manusia seperti Clostridium butyricum, Roseburia intestinalis, dan Faecalibacterium prausnitzii bertugas dalam proses fermentasi karbohidrat dan menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA), termasuk butirat.

 

Butirat juga berperan dalam menutrisi dan mempertahankan fungsi dinding usus besar, melindungi dan mencegah terjadinya peradangan usus, bahkan mencegah dari terjadinya kanker kolorektal (kanker yang terjadi pada usus besar bagian bawah termasuk bagian dubur) (4, 5).

 

Sebuah penelitian dilaksanakan terhadap 47 orang pasien dengan penyakit Crohn (radang usus kronis). Intervensi dilaksanakan dengan pemberian butirat secara enema (memasukkan cairan ke dalam kolon melalui anus) sebanyak 2 kali per hari, selama 8 minggu berturut-turut.

 

Hasil evaluasi dengan endoskopi menunjukkan sebanyak 69% partisipan mengalami perbaikan pada mukosa atau dinding usus besar secara signifikan dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo (6).

 

Butirat juga dapat mencegah terjadinya gastric ulcer (GU) atau luka pada lambung yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan. Hal ini dibuktikan dengan pemberian butirat 30 menit sebelum ethanol pada tikus dengan GU, dimana kelompok butirat memiliki luka dan kerusakan dinding lambung yang lebih sedikit.

 

Selain itu juga terjadi peningkatan mekanisme perlindungan dinding lambung yang ditandai dengan peningkatan aktivitas antioksidan dan penurunan penanda peradangan pada sel mukosa lambung (7).

 

Mengombinasikan makanan yang kaya akan kandungan butirat (pisang hijau) bersama dengan pectin (sejenis SCFA lain) juga terbukti mengatasi diare persisten pada anak berusia 5 – 12 tahun dengan meningkatkan permeabilitas dan penyerapan air lebih baik pada dinding usus halus (8).

 

Butirat juga dapat mengatasi kondisi diare traveler, yakni suatu kondisi diare yang umum terjadi pada para wisatawan yang melaksanakan perjalanan ke berbagai negara berkembang. Kombinasi butirat dengan asam organik dan A-300 silikon dioksida merupakan pengobatan potensial diare traveler. Kombinasi ini dapat dikonsumsi 10 hari sebelum dan selama perjalanan (9).

 

3. Mencegah Alergi

Pada sebuah penelitian yang dilaksanakan terhadap tikus dengan kondisi rinitis alergi (hay fever), pemberian sodium butirat yang disemprotkan langsung ke dalam hidung terbukti berhasil menurunkan gejala dan penanda biologis alergi pada tikus (10).

 

Adapun penelitian pada sel manusia, SCFA termasuk butirat menghambat peningkatan sel darah putih (eosinofil) sebagai respons terhadap alergen. Butirat membantu menonaktifkan eosinofil untuk mencegah terjadinya peradangan dan menyelesaikan respon inflamasi (11).

 

4. Bersifat Anti-bakteri

Pada studi tingkat sel dan uji klinis dengan model hewan, ditemukan fakta bahwa butirat bersifat anti-bakteri dan dapat mengurangi peradangan yang terkait dengan infeksi.

 

Studi sel mengungkapkan bahwa asam butirat dapat secara langsung menghambat dan membunuh patogen yang terdapat dalam makanan dengan kondisi kurang higienis seperti Salmonella dan Clostridium perfringens, serta menyebabkan gangren (kondisi pembusukan dan kematian jaringan setelah luka yang disebabkan terhambatnya sirkulasi darah menuju area luka atau akibat infeksi bakteri) (12).

 

Selain dapat menurunkan kemampuan bakteri Salmonella dalam mencetuskan berbagai penyakit, asam butirat juga terbukti dapat menghancurkan dinding sel H. Pylori yakni bakteri yang menyebabkan gastritis atau radang lambung dan bisul dalam saluran pencernaan (13).

 

Pada sebuah penelitian dengan subyek manusia yang mengalami shigellosis (infeksi saluran pencernaan akibat makanan atau yang terkontaminasi feses), pemberian enema sodium butirat dengan dosis 80 mM, dua kali per hari selama 3 hari berturut-turut dapat menurunkan gejala shigellosis.

 

Selain itu juga terlihat perbaikan pada epitel kolon, serta menunjukkan efek anti-inflamasi dengan meningkatkan berbagai penanda inflamasi pada uji histopatologis feses (14).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Minyak nabati dan produk olahan susu, terutama butter, kaya akan kandungan butirat. Mengonsumsi makanan yang kaya akan kandungan serat juga mendorong produksi SCFA termasuk butirat dalam tubuh manusia. 

 

Adapun makanan yang dapat mendorong produksi butirat yakni:

• Sumber inulin dan fruktooligosakarida (FOS): bawang putih, daun bawang, bawang merah, artichoke, dan asparagus

 

• Pati resisten seperti nasi, kentang, dan pisang

 

Sumber pektin, seperti apel, aprikot, wortel, dan jeruk

 

• Oat bran atau kulit ari oat (dikenal dengan istilah bekatul)

 

• Arabinoxylan (serat makanan yang ditemukan dalam biji-bijian)

 

• Guar gum (serat tanaman guar)

 

• Arabinogalactan (serat kayu pohon larch)

 

• Tepung jagung (maizena), tepung kentang atau tepung pisang

 

 

Dosis

 

Suplemen butirat tersedia dalam sediaan sodium, kalsium, dan magnesium butirat. Namun saat ini belum ada rekomendasi dosis standar suplemen butirat. 

 

Disampin itu, lebih disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat untuk menghasilkan butirat secara alami dibanding mengonsumsi suplemen butirat, terutama untuk mencegah terjadinya overdosis suplemen.

 

 

Interaksi Sinergi

 

 

• Nikotinamida dan kalsium glusarat

Kedua senyawa tersebut merupakan senyawa anti-kanker. Ketika dikombinasikan bersama dengan butirat terbukti mampu mencegah pertumbuhan sel tumor pada percobaan terhadap tikus (15). 

 

• Artemisin

Artemisin adalah senyawa aktif dalam tanaman yang memiliki efek anti-kanker. Kombinasi artemisin dengan butirat terbukti sangat efektif dalam menghentikan pertumbuhan sel kanker darah (leukimia) meski digunakan dalam dosis rendah (16). 

 

• Interleukin-2 (IL-2)

IL-2 adalah sitokin atau penanda peradangan yang mampu mengaktivasi cancer killer cell ketika dikombinasikan bersama dengan butirat (17).

 

 

 

Efek Samping

 

Konsumsi suplemen butirat dapat menyebabkan resistensi insulin dan akumulasi lemak

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui: Butirat dapat meningkatkan akumulasi lemak dalam tubuh dan menyebabkan resistensi insulin

 

Riwayat kanker usus besar

 

 

Referensi :

Julajak J. (2019). 18 Butyrate benefits + side effects & sources. Self Hacked. Diakses pada 27 Agustus 2019. 

Chakraborti CK. New-found link between microbiota and obesity. World J Gastrointest Pathophysiol. (2015). 

Solah VA, Kerr DA, Hunt WJ, et al. Effect of fibre supplementation on body weight and  Composition, frequency of eating and dietary choice in overweight individuals [published correction appears in Nutrients. 2017 Apr 20;9(4):]. Nutrients. (2017). 

Canfora EE, van der Beek CM, Jocken JWE, et al. Colonic infusions of short-chain fatty acid mixtures promote energy metabolism in overweight/obese men: A randomized crossover trial. Sci Rep. (2017).

Reddavide R, Rotolo O, Caruso MG, et al. The role of diet in the prevention and treatment of Inflammatory Bowel Diseases. Acta Biomed. (2018). 

Chen W, Liu F, Ling Z, Tong X, Xiang C. Human intestinal lumen and mucosa-associated microbiota in patients with colorectal cancer. PLoS One. (2012). 

Scheppach W. Treatment of distal ulcerative colitis with short-chain fatty acid enemas. A placebo-controlled trial. German-Austrian SCFA Study Group. Dig Dis Sci. (1996).

Liu J, Wang F, Luo H, et al. Protective effect of butyrate against ethanol-induced gastric ulcers in mice by promoting the anti-inflammatory, anti-oxidant and mucosal defense mechanisms. Int Immunopharmacol. (2016).

Rabbani GH, Teka T, Saha SK, et al. Green banana and pectin improve small intestinal permeability and reduce fluid loss in Bangladeshi children with persistent diarrhea. Dig Dis Sci. (2004). 

Krokowicz L, Mackiewicz J, Wejman-Matela A, Krokowicz P, Drews M, Banasiewicz T. Management of traveller’s diarrhoea with a combination of sodium butyrate, organic acids, and A-300 silicon dioxide. Prz Gastroenterol. (2014). 

Wang J, Wen L, Wang Y, Chen F. Therapeutic effect of histone deacetylase inhibitor, sodium butyrate, on allergic rhinitis in vivo. DNA Cell Biol. (2016).

Theiler A, Bärnthaler T, et al. Butyrate ameliorates allergic airway inflammation by limiting eosinophil trafficking and survival. Journal of Allergy and Clinical Immunology. (2019). 

Gantois I, Ducatelle R, Pasmans F, et al. Butyrate specifically down-regulates salmonella pathogenicity island 1 gene expression. Appl Environ Microbiol. (2006). 

Yonezawa H, Osaki T, Hanawa T, et al. Destructive effects of butyrate on the cell envelope of Helicobacter pylori. J Med Microbiol. (2012). 

Raqib R, Sarker P, Mily A, et al. Efficacy of sodium butyrate adjunct therapy in shigellosis: A randomized, double-blind, placebo-controlled clinical trial. BMC Infect Dis. (2012). 

Tiwari P, Sahay S, Pandey M, Qadri SS, Gupta KP. Combinatorial chemopreventive effect of butyric acid, nicotinamide and calcium glucarate against the 7,12-dimethylbenz(a)anthracene induced mouse skin tumorigenesis attained by enhancing the induction of intrinsic apoptotic events. Chem Biol Interact. (2015). 

Singh NP, Lai HC. Synergistic cytotoxicity of artemisinin and sodium butyrate on human cancer cells. Anticancer Res. (2005). 

Perrin P, Cassagnau E, Burg C, et al. An interleukin 2/sodium butyrate combination as immunotherapy for rat colon cancer peritoneal carcinomatosis. Gastroenterology. (1994).


Tags: , , ,