fbpx
LOGO

Awas, Gula Memiliki Efek Kecanduan Seperti Kokain!

September 4, 2020
IMG

Siapa sangka, gula dapat bersifat adiktif atau ketergantungan yang sama seperti kokain. Keterkaitan gula dengan perilaku adiktif dapat dilihat saat mengonsumsi gula atau makanan manis, dimana otak akan mengeluarkan hormon dopamine dan opioid.

 

Menurut Cassie Bjork, R.D., L.D., pendiri Healthy Simple Life, gula mengaktifkan reseptor opiat di otak dan mempengaruhi pusat imbalan, yang mengarah pada perilaku kompulsif.

 

Tubuh akan cenderung mengulangi perilaku yang menimbulkan sifat menyenangkan. Satu-satunya cara untuk merasakan sensasi yang sama seperti sebelumnya adalah mengulangi perilaku tersebut dalam jumlah dan frekuensi yang meningkat. Hal ini dikenal sebagai penyalahgunaan zat.

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gula dapat lebih bersifat adiktif dibandingkan kokain. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Connecticut menunjukkan bahwa mengonsumsi cookies dengan merk Oreo mengaktifkan lebih banyak neuron di pusat kesenangan otak daripada kokain atau morfin.

 

Seperti halnya manusia, uji coba pada tikus juga menunjukkan bagian yang pertama kali dimakan oleh tikus adalah bagian tengah krim gula Oreo. 

 

Dalam penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa peneliti akan memberi Oreo pada tikus lapar di labirin pertama, dan di labirin lain tikus diberikan kue beras yang berfungsi sebagai variabel kontrol. Kemudian, peneliti akan memberikan tikus pilihan untuk menghabiskan waktu di kedua sisi labirin dan mengukur berapa lama mereka akan menghabiskan waktu, di sisi mana tikus biasanya makan Oreo.

 

Kemudian peneliti membandingkan hasil uji tikus yang diberikan Oreo dan kue beras dengan hasil uji dari tikus yang diberikan suntikan kokain atau morfin di satu sisi labirin dan suntikan cairan saline di sisi lain. Penelitian menunjukkan bahwa  tikus yang diberikan Oreo menghabiskan banyak waktu di labirin berisi obat, seperti tikus yang diberikan dengan kokain atau morfin.

 

Profesor Joseph Schroeder yang memimpin penelitian tersebut menilai hasil penelitian mendukung teori yang menyatakan bahwa makanan tinggi lemak / tinggi gula merangsang otak dengan cara yang sama seperti obat. Hal ini menjelaskan beberapa orang tidak bisa menolak makanan ini meskipun faktanya mereka tahu dampak buruknya.

 

Schroeder mengatakan ia dan murid-muridnya secara khusus memilih Oreo. Mereka ingin menciptakan kondisi yang sama pada manusia, yaitu makanan enak, dan menyebabkan terjadinya obesitas dengan cara yang sama, yaitu adanya sifat menyenangkan kokain dan membuat ketagihan bagi manusia.

 

Penelitian Princeton pada tahun 2008 menemukan bahwa dalam keadaan tertentu, tikus tidak hanya bisa bergantung pada gula, tapi juga berkaitan dengan dengan beberapa aspek kecanduan, termasuk pendambaan, kelebihan makan, dan penarikan.

 

Maka dari itu, para peneliti Prancis setuju bahwa gula dan obat-obatan terlarang memberikan imbalan kesenangan pada otak, dan gula memiliki dampak yang lebih besar daripada efek kokain (1, 2). 

 

Sejak tahun 1989, Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah memperingati untuk mengurangi asupan gula. termasuk gula alami seperti madu, menjadi kurang dari 10 persen dari kalori harian.

 

Upaya tersebut dapat menurunkan risiko obesitas, kegemukan, dan kerusakan gigi. Lebih lanjut, pada tahun 2015, mereka kembali menyarankan untuk mengurangi asupan gula hingga kurang dari 5 persen kalori atau sekitar 6 sendok teh. 

 

Namun tidak dipungkuri, kecanduan gula lebih sulit dihindari dibandingkan dengan narkoba dan obat-obatan terlarang yang lain. Gula merupakan makanan yang umum dikonsumsi dan sesuatu hal yang dibutuhkan.

 

Sama seperti kecanduan obat, kecanduan gula mengubah zat kimia di otak sehingga menyebabkan kebingungan, lonjakan senang, gejala penarikan, dan kepekaan.

 

 

 

Referensi:

Connecticut College. (2013). Are oreos addictive? research says yes. Science Daily. Diakses pada 13 Agustus 2019.

Schaefer, Anna & Yasin, Kareem. (2016). Experts agree: Sugar might be as addictive as cocaine. Healthline. Diakses pada 13 Agustus 2019.

Avena NM, Rada P, Hoebel BG. Evidence for sugar addiction: behavioral and neurochemical effects of intermittent, excessive sugar intake. Neurosci Biobehav Rev. (2008). 

Ahmed SH, Guillem K, Vandaele Y. Sugar addiction: pushing the drug-sugar analogy to the limit. Curr Opin Clin Nutr Metab Care. (2013).


Tags: