fbpx
LOGO

Benarkah Kemiskinan Penyebab Utama Obesitas?

August 11, 2020
IMG

Obesitas kini tampaknya menjadi tren masalah kesehatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan pada 2018 menyatahan bahwa prevelensi obesitas di Indonesia terus meningkat sejak tahun 2007. Badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) memprediksi jumlah anak yang terkena obesitas di dunia akan mencapai 70 juta jiwa pada 2025 mendatang. 

 

Mitos umum menyebutkan bahwa obesitas berkaitan erat dengan kemiskinan, namun Cut Novianty Rachmi, peneliti Departemen Gizi Universitas Gajah Mada membantah hal tersebut. Hasil penelitiannya justru membuktikan bahwa obesitas pada anak-anak Indonesia berhubungan erat dengan genetik dan tingkat pendidikan orang tua. Orang tua yang gemuk akan menurunkan gen gemuk kepada anaknya.

 

Selain itu, orang tua yang gemuk akan mengajarkan dan atau menjadi contoh pola makan atau kebiasaan makan anak-anaknya. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan dokter spesialis gizi klinis, dr. Diana F. Suganda, M.Kes, SpGK bahwa obesitas pada anak umumnya disebabkan oleh tiga hal yakni faktor perilaku, faktor lingkungan dan genetik. 

 

Kegemukan juga dikaitkan dengan tingkat pendidikan orang tua. Semakin tinggi jenjang pendidikan formal yang ditempuh, maka semakin besar pula kesempatan mendapat hidup yang layak. Sehingga obesitas tidak hanya dialami oleh golongan masyarakat miskin atau menengah kebawah tetapi dapat dialami oleh siapa saja. 

 

Riset yang dilakukan oleh Kementrian Kesehatan pada 2013 memaparkan kenaikan obesitas anak di Indonesia terjadi hampir di semua kelas sosial, dengan selisih presentase kelompok sosial atas dan bawah sekitar 3% hingga 15% berbanding 12%. Seperti yang diketahui, obesitas disebabkan karena pola makan dan asupan makanan yang tidak sehat, salah satunya makanan manis atau yang mengandung gula. 

 

 

Obesitas dan Makanan Manis

 

Terdapat enam jenis gula dan dikelompokkan dalam monosakarida, disakarida, dan oligosakarida. Keenam jenis gula ini memiliki reaksi yang berbeda pada tubuh. Contohnya glukosa dan fruktosa. Walaupun keduanya termasuk kedalam monosakarida, glukosa diproses menjadi energi, sementara fruktosa diproses menjadi lemak tubuh. Hal ini yang menyebabkan seseorang tidak boleh mengonsumsi fruktosa berlebih.

 

Fruktosa adalah pemanis alami pada buah-buahan. Pada tahun 1840, Orlando Jones mematenkan ekstraksi pati alkali, sebuah proses yang memisahkan pati jagung dari kernel atau disebut sebagai penggilingan basah. Setahun kemudian, Thomas Kingford membuka pabrik penggilingan basah komersial pertama di Amerika.

 

Pada tahun 1864, produksi sirup jagung dari pati jagung mulai dilakukan. Industri ini berjalan relatif tetap selama satu abad. Kemudian, pada tahun 1967 metode konversi enzim dibuat untuk mengkomersialkan produksi high fructose corn syrup (HFCS) atau sirup jagung fruktosa tinggi. 

 

Sirup jagung fruktosa tinggi (HFCS) mengandung 5 persen fruktosa lebih banyak dari sebagian besar gula yang hanya mengandung 50 persen fruktosa. Hal ini yang menjadikan banyak pabrik makanan dan minuman di AS berlomba-lomba menggunakan jenis pemanis ini, karena selain harganya yang lebih murah, sirup jagung hampir tidak semanis tebu atau gula bit.

 

Sebuah penelitian dari University of Tennessee, Knoxville, yang diterbitkan dalam Palgrave Communications mengatakan bahwa konsumsi gula dan karbohidrat merupakan penyebab utama dalam tren obesitas saat ini, khususnya penggunaan HFCS oleh kalangan orang miskin di AS.

 

Pada dekade dari 2004 hingga 2013, obesitas meningkat sekitar satu persen rata-rata di antara 25 negara terkaya di AS. Tahun 2016 ditandai dengan puncak obesitas satu generasi. Hal ini bukan tanpa sebab, karena HFCS yang memiliki harga lebih murah digunakan secara berlebihan dalam bahan makanan.

 

Salah satu upaya menghentikan tren obesitas adalah membatasi konsumsi gula terutama produk-produk yang menggunakan fruktosa, ubah pola hidup sehat dan rajin berolahraga. 

 

 

 

References:

Beres D. (2018). There was no relationship between obesity and poverty — until high-fructose corn syrup. Big Think. Diakses pada 29 Juli 2019.

Food Research and Action Center. (2019). Relationship between poverty and obesity.Food Research and Action Center. Diakses pada 29 Juli 2019.

Hanifan AW. (2016). Obesitas mengancam anak indonesia. Tirto. Diakses  pada 29 Juli 2019.

Viva. (2019). Waspada jumlah anak obesitas 2025 membludak, apa penyebabnya?. Viva. Diakses pada 29 Juli 2019.

Alamsyah IE. (2018). Riskesdas: Makin banyak penderita obesitas di indonesia. Republika. Diakses pada 29 Juli 2019.

Shabrina A. (2018). Apa itu gula fruktosa? benarkah berbahaya bagi kesehatan?. Hello Sehat. Diakses pada 29 Juli 2019.


Tags: