fbpx
LOGO

BPA: Bahan Kimia Plastik Beracun Sehari-hari

September 24, 2020
IMG

Bisphenol A atau BPA adalah senyawa sintetis berbasis karbon yang ditambahkan ke banyak produk komersial, termasuk wadah makanan dan produk kebersihan. BPA pertama kali ditemukan pada tahun 1890-an, namun pada tahun 1950-an peneliti menyadari potensi BPA yang dicampur dengan senyawa lain untuk menghasilkan plastik yang lebih kuat.

 

BPA sering ditemukan dalam botol bayi plastik, gelas minum anak-anak, serta wadah kaleng makanan dan minuman untuk menjaga kaleng dari korosi dan kerusakan.

 

Ketika pembuatan wadah BPA, tidak semua BPA tercampur dengan aman pada kemasan produk. Kemungkinan BPA terlepas dan bercampur dengan isi wadah setelah penambahan makanan atau cairan (1, 2).

 

Beberapa negara seperti Eropa, Kanada, China dan Malaysia membatasi penggunaan BPA, terutama untuk produk bayi dan anak-anak. Hal ini dikarenakan beberapa penelitian membuktikan bahwa terpapar BPA rendah (10 mcg per kg) setiap hari dapat menyebabkan efek negatif pada sistem reproduksi serta sejumlah penyakit pencernaan (3, 4, 5, 6).

 

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2007 menunjukkan bahwa mengonsumsi makanan kaleng menghasilkan kontaminasi BPA yang luas. Konsentrasi tertinggi ditemukan dalam sup kalengan, pasta dan susu formula. Analisis juga menemukan bahwa banyak orang Amerika yang terpapar BPA di atas level yang terbukti berbahaya dalam penelitian laboratorium (7).

 

Tetapi penelitian lain membantah hal tersebut dan menyatakan BPA aman bila digunakan sesuai aturan (50 mcg per kg). Inilah yang membuat penggunaannya kontroversi  (8).

 

 

Produk dengan BPA

 

Beberapa produk yang mengandung BPA yaitu:

Makanan atau minuman kaleng

Barang yang dikemas dalam wadah plastik

Botol bayi

Mainan

Perlengkapan mandi

Produk kebersihan

Alat kesehatan

Alat makan

CD dan DVD

Kertas kwitansi

Elektronik rumah tangga

Lensa kacamata

Peralatan olahraga

Pipa PVC (PolyVinyl Chloride)

 

 

Bahaya BPA

 

1. Mengganggu sistem reproduksi

BPA dapat meniru hormon estrogen sehingga mengganggu pubertas, kesuburan, dan memengaruhi perkembangan dan kesehatan reproduksi (9). 

 

BPA juga dikatakan mengganggu beberapa aspek kesuburan pada pria dan wanita. Salah satu penelitian mengamati bahwa wanita yang sering mengalami keguguran memiliki sekitar tiga kali lebih banyak BPA dalam darah mereka dibandingkan wanita dengan kehamilan yang normal (10, 11, 12).

 

Penelitian lain juga menyatakan BPA menyebabkan disfungsi reproduksi dan sperma pria, menyebabkan cacat pada embrio, gangguan endokrin, dan mengurangi kualitas sel telur wanita (13).

 

2. Dampak negatif pada anak-anak

Pada tahun 2008, Program Toksikologi Nasional Amerika mengakui ada kekhawatiran atas tingkat paparan BPA terhadap manusia. Kekhawatiran utama yaitu dampaknya pada kelenjar prostat, janin, bayi dan anak-anak, serta gangguan perilaku dan otak jika terpapar dengan BPA setiap hari (14).

 

Sebagian besar penelitian menemukan bahwa anak-anak yang lahir dari ibu yang terpapar dengan BPA memiliki berat lahir rendah dan cenderung memiliki jarak anus dengan genitalia yang lebih pendek. Mereka juga lebih mungkin menjadi anak yang hiperaktif, mudah cemas, depresi, reaktif, agresif, dan mempunyai risiko kanker di kemudian hari (15, 16).

 

3. Penyakit jantung 

Penelitian pada manusia melaporkan kadar BPA tinggi (18–135%) di dalam tubuh sangat berisiko terkena tekanan darah tinggi (17).

 

Artikel penelitian yang diterbitkan dalam PLOS One menemukan bahwa BPA mengubah sinyal detak jantung alami pada wanita. Hal ini menyebabkan aritmia dan detak jantung yang tidak menentu, yang mengarah kepada kematian jantung (sudden cardiac death/SCD) (18)

 

4. Diabetes

BPA mempengaruhi metabolisme glukosa melalui resistensi insulin, disfungsi sel β pankreas, adipogenesis, peradangan dan stres oksidatif. Hal ini berkaitan dengan pra-diabetes yang terlepas dari faktor risiko diabetes tradisional (19).

 

Dalam penelitian lain, seseorang dengan kadar BPA tinggi lebih mungkin memiliki resistensi insulin, pendorong utama sindrom metabolik dan risiko diabetes tipe 2 (20, 21).

 

5. Obesitas

Penelitian menunjukkan bahwa anak perempuan dengan kadar BPA tinggi pada urin lebih berisiko terkena obesitas dari pada anak laki-laki (22).

 

Beberapa penelitian juga melaporkan bahwa orang dengan tingkat BPA tertinggi 50-85% lebih mungkin mengalami obesitas dan 59% lebih cenderung memiliki lingkar pinggang yang besar (23).  Menariknya, pola serupa juga terjadi pada anak-anak dan remaja (24, 25).

 

Selain beberapa masalah kesehatan yang telah disebutkan di atas, BPA juga mempengaruhi terjadinya sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovarian syndrome (PCOS), asma, terganggunya fungsi hati, otak, dan tiroid, menurunkan kadar vitamin D dalam tubuh, menurunkan kekebalan tubuh, dan memicu sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS).

 

 

 

Cara mengurangi paparan BPA

 

Kontak terhadap BPA hampir tidak mungkin dihindari karena sebagian besar terdapat pada makanan kemasan dan kontaminan dari lingkungan.

 

Disisi lain, setelah BPA dilarang penggunaannya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau US Food and Drug Administration (FDA), BPA diganti dengan bisphenol S (BPS) dan bahan kimia lainnya yang ternyata memiliki efek yang sama buruknya dengan BPA. 

 

Meski begitu, terdapat beberapa cara untuk meminimalisir atau menghindari paparan BPA, yaitu:

 

1. Hindari makanan kemasan. Makanlah makanan segar dan utuh, dan jauhi makanan kaleng atau makanan yang dikemas dalam wadah plastik berlabel daur ulang yaitu  3 atau 7 atau huruf “PC.”

 

2. Belilah cairan yang dikemas dalam botol kaca. Untuk bayi, gunakan botol gelas.

 

3. Sebisa mungkin, batasi kontak Anda dengan kwitansi karena mengandung BPA tingkat tinggi. 

 

4. Pastikan mainan plastik yang Anda beli terbuat dari bahan yang bebas BPA, terutama untuk mainan yang kemungkinan besar memiliki kontak oral (digigit atau disedot) dengan anak Anda.

 

5. Jangan memasukkan plastik ke dalam microwave. Gunakan wadah berbahan keramik untuk menghangatkan makanan dan minuman dengan microwave.

 

6. Gunakan susu formula bubuk. Beberapa ahli merekomendasikan susu bayi bubuk daripada cairan, karena  cairan cenderung menyerap lebih banyak BPA dari wadah.

 

 

Kesimpulan

 

BPA telah terbukti menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti masalah reproduksi, gangguan pada anak-anak dan bayi, obesitas, diabetes, penyakit jantung, dan lainnya. Secara khusus, ibu hamil disarankan untuk menghindari paparan BPA, terutama pada tahap awal kehamilan. 

 

Produk BPA biasanya diberi label 3, 7, atau PC. Namun perlu diketahui bahwa wadah dengan label bebas BPA atau BPA-free tidak selalu aman.

 

 

Referensi:

Petre A. (2018). What is bpa and why is it bad for you?. Healthline. Diakses pada 26 September 2019.

Axe J. (2018). Bpa toxic effects & symptoms: How bpa destroys your body. Dr Axe. Diakses pada 26 September 2019. 

Geens T, Apelbaum TZ, Goeyens L, Neels H, Covaci A. Intake of bisphenol A from canned beverages and foods on the Belgian market. Food Addit Contam Part A Chem Anal Control Expo Risk Assess. (2010). 

Schecter A, Malik N, Haffner D, Smith S, Harris TR, Paepke O, Birnbaum L. Bisphenol a (BPA) in U.S. food. Environ Sci Technol. (2010).

DeLuca JAA, Allred KF, Menon R, Riordan R, Weeks BR, Jayaraman A, Allred CD. Bisphenol-A alters microbiota metabolites derived from aromatic amino acids and worsens disease activity during colitis. Experimental Biology and Medicine. (2018). 

Alonso-Magdalena P, Morimoto S, Ripoll C, Fuentes E, Nadal A. The estrogenic effect of bisphenol A disrupts pancreatic beta-cell function in vivo and induces insulin resistance. Environ Health Perspect. (2006). 

Hunt PA, Lawson C, Gieske M, Murdoch B, Smith H, Marre A, Hassold T, VandeVoort CA. Bisphenol A alters early oogenesis and follicle formation in the fetal ovary of the rhesus monkey. Proc Natl Acad Sci U S A. (2012).

vom Saal FS, Welshons WV. Large effects from small exposures. II. the importance of positive controls in low-dose research on bisphenol A. Environ Res. (2006). 

Houlihan J, Lunder S, Jaco A. (2011). Timeline: Bpa from invention to phase-out. The Environmental Working Group. Diakses pada 26 September 2019. 

Initial data collected from 2014 updated safety assessment of bisphenol a (bpa) for use in food contact applications (John Aungst, Ph. D., e-mail communication, June 17, 2014).

Geens T, Aerts D, et al. A review of dietary and non-dietary exposure to bisphenol-A. Food Chem Toxicol. (2012). 

Sugiura-Ogasawara M, Ozaki Y, Sonta S, Makino T, Suzumori K. Exposure to bisphenol A is associated with recurrent miscarriage. Hum Reprod. (2005).

Manfo FP, Jubendradass R, Nantia EA, Moundipa PF, Mathur PP. Adverse effects of bisphenol A on male reproductive function. Rev Environ Contam Toxicol. (2014).

Yan PP, Pan XY, Wang XN, Wang ZC, Li ZX, Wan Y, He Z, Dou ZH. Effects of bisphenol A on the female reproductive organs and their mechanisms. Zhongguo Yi Xue Ke Xue Yuan Xue Bao. (2013). 

University of California San Fransisco. (2010). Study links increased bpa exposure to reduced egg quality in women. University of California San Fransisco. Diakses pada 26 September 2019.   ‘

Shelby MD. NTP-CERHR monograph on the potential human reproductive and developmental effects of bisphenol A. NTP CERHR MON. (2008). 

Miao M, Yuan W, Zhu G, He X, Li DK. In utero exposure to bisphenol-A and its effect on birth weight of offspring. Reprod Toxicol. (2011). 

Philippat C, Mortamais M, et al. Exposure to phthalates and phenols during pregnancy and offspring size at birth. Environ Health Perspect. (2012). 

Shankar A, Teppala S. Urinary bisphenol A and hypertension in a multiethnic sample of US adults. J Environ Public Health. (2012). 

Sabanayagam C, Teppala S, Shankar A. Relationship between urinary bisphenol A levels and prediabetes among subjects free of diabetes. Acta Diabetol. (2013).

Shankar A, Teppala S. Relationship between urinary bisphenol A levels and diabetes mellitus. J Clin Endocrinol Metab. (2011). 

Wang T, Li M, et al. Urinary bisphenol A (BPA) concentration associates with obesity and insulin resistance. J Clin Endocrinol Metab. (2012).

Li DK, Miao M, et al. Urine bisphenol-a level in relation to obesity and overweight in school-age children. Plos One. (2013).

Lang IA, Galloway TS, Scarlett A, Henley WE, Depledge M, Wallace RB, Melzer D. Association of urinary bisphenol A concentration with medical disorders and laboratory abnormalities in adults. JAMA. (2008). 

Trasande L, Attina TM, Blustein J. Association between urinary bisphenol A concentration and obesity prevalence in children and adolescents. JAMA. (2012).

Wang HX, Zhou Y, Tang CX, Wu JG, Chen Y, Jiang QW. Association between bisphenol A exposure and body mass index in Chinese school children: A cross-sectional study. Environ Health. (2012).


Tags: , ,