fbpx
LOGO

Campur Tangan Industri Gula dalam Penelitian Gula dan Penyakit Jantung

September 4, 2020
IMG

Pada tahun 1960 tepatnya 50 tahun yang lalu, industri gula diketahui membayar para ilmuwan untuk meneliti keterkaitan antara lemak jenuh dengan penyakit jantung, dan memperkecil risiko terkait konsumsi gula dengan penyakit jantung.

 

Berita ini pertama kali terungkap di laman New York Times. Seorang peneliti dari University of California, San Francisco menemukan dokumen internal dari industri gula tersebut dan menerbitkannya di JAMA Internal Medicine (Jurnal Kedokteran yang diterbitkan oleh Asosiasi Kedokteran Amerika Serikat)

 

Dokumen-dokumen tersebut menunjukkan bahwa kelompok perdagangan yang disebut Sugar Research Foundation, yang sekarang dikenal sebagai Sugar Association, membayar tiga ilmuwan Harvard setara dengan sekitar $ 50.000 (nilai dolar hari ini) untuk menerbitkan tinjauan penelitian pada tahun 1967 tentang keterkaitan gula, lemak, dan penyakit jantung.

 

Beberapa penelitian yang digunakan dalam review tersebut dipilih sendiri oleh Sugar Association, kemudian diterbitkan dalam jurnal bergengsi New England Journal of Medicine (Jurnal Kedokteran yang diterbitkan oleh Massachusetts Medical Society).

 

Artikel tersebut mengatakan bahwa keterkaitan antara gula dengan kesehatan jantung sangat minimal atau tidak ada, namun sebaliknya keterkaitan lemak jenuh sangat berisiko pada kesehatan jantung. Kemudian secara tegas dikatakan bahwa gula bukan sebagai faktor risiko utama terjadinya penyakit jantung koroner. 

 

Tinjauan artikel tersebut mempengaruhi para ilmuwan sehingga hanya sedikit yang meneliti keterkaitan gula dengan penyakit jantung koroner. Pada beberapa kasus, mereka juga menuduh penyidik ​​tidak kompeten atau metodologi yang digunakan cacat dalam memeriksa penelitian yang dilakukan. 

 

Salah satu ilmuwan yang ikut berperan dalam penelitian tersebut yaitu nutrisionis D. Mark Hegsted, yang sekarang menjabat sebagai kepala nutrisi di Departemen Pertanian Amerika Serikat.

 

Hegsted memanfaatkan penelitiannya untuk merekomendasikan kebijakan terkait diet yang menekankan lemak jenuh sebagai faktor risiko penyakit jantung, sementara gula hanya dikaitkan sebagai penyebab kerusakan gigi.

 

Dalam sebuah pernyataan oleh Sugar Association yang dulunya bernama Sugar Research Foundation, mengatakan bahwa sulit untuk mengomentari peristiwa yang sudah terjadi sejak dulu. Mereka juga mengatakan menyesal karena sudah memanipulasi hasil penelitian dan menerima dana secara pribadi oleh industri gula sehingga membuat penelitian tersebut menjadi ternoda.

 

Meskipun sudah lebih dari lima dekade yang lalu, hingga saat ini industri makanan masih menggunakan cara tersebut untuk memperkuat bisnis mereka.

 

Pada tahun 2015, sebuah artikel yang juga diterbitkan di New York Times mengatakan bahwa perusahaan Coca-Cola, produsen minuman manis terbesar di dunia, mensponsori para peneliti untuk meminimalisir hubungan antara minuman manis dan obesitas (1).

 

Pada bulan Juni di tahun yang sama, The Associated Press melaporkan bahwa perusahaan pembuat permen mendanai dan mempengaruhi penelitian yang mengklaim bahwa anak-anak yang makan permen cenderung memiliki berat badan lebih rendah daripada mereka yang tidak memakan permen.

 

 

 

Referensi:

O’Connor, Anahad. (2016). How the sugar industry shifted blame to fat. New York Times. Diakses pada 09 Agustus 2019.

Domonoske, Camila. (2019). 50 years ago, sugar industry quietly paid scientists to point blame at fat. NPR. Diakses pada 09 Agustus 2019. 

O’Connor, Anahad. (2015). Coca-cola funds scientists who shift blame for obesity away from bad diets. New York Times. Diakses pada 09 Agustus 2019.


Tags: