fbpx
LOGO

Compassion Fatigue: Lelah Berempati Saat Covid-19 dan Cara Mengatasinya

November 9, 2020
IMG

Semakin meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia tampaknya tidak membuat masyarakat khawatir bepergian atau beraktifitas di luar rumah. Pasalnya, banyak orang terlihat tidak mematuhi protokol kesehatan yang dihimbau pemerintah, seperti menjaga jarak, mencuci tangan, dan menggunakan masker.

 

Masyarakat saat ini seperti mulai lelah dengan pemberitaan Covid-19. Mereka beranggapan pemerintah lamban dan tidak transparan menangani wabah mematikan tersebut. Sedangkan masyarakat harus tetap melakukan upaya untuk menopang perekonomian mereka yang semakin susah.

 

Lama-kelamaan, mereka mulai tak acuh dengan wabah ini. Rasa empati mereka perlahan memudar. Hal ini disebut dengan compassion fatigue

 

 

Apa itu Compassion Fatigue?

 

Compassion fatigue atau kelelahan empati adalah kelelahan mental dimana rasa empati dan kepedulian seseorang memudar akibat terus terpapar berita negatif.

 

Menurut Dr Kaustabh Joag, Psikiater sekaligus Peneliti Senior di Pusat Hukum dan Kebijakan Kesehatan Mental India, compassion fatigue memiliki efek dua kali lipat yaitu kelelahan dan stres traumatis.

 

Selain kondisi mental, compassion fatigue juga mempengaruhi kondisi fisik. Dampak yang ditimbulkan akibat kelelahan empati yakni:

Pola tidur terganggu

Tidak nafsu makan atau terlalu banyak makan

Tubuh lelah

Kurangnya konsentrasi dan motivasi

Sulit memecahkan masalah

Mudah tersinggung

Merasa tidak peduli dengan kondisi orang lain

 

 

Apa Hubungan Covid-19 dengan Kelelahan Empati?

 

Awal kemunculan wabah Covid-19 di dunia, orang beramai-ramai berdonasi kepada negara yang terdampak. Ketika Covid-19  mulai masuk ke Indonesia, masyarakat juga ramai-ramai berdonasi masker, alat kesehatan, dan pakaian pelindung bagi para garda terdepan.

 

Namun, lama-kelamaan pemberitaan mengenai Covid-19 terus menerus menimbulkan rasa takut. Ditambah lagi tidak adanya kepastian mengenai vaksin dan kapan wabah ini akan berakhir. Rasa takut tersebut menimbulkan kelelahan yang pada akhirnya memotivasi seseorang untuk berhenti peduli pada orang lain.

 

Seseorang yang mulanya terus mengikuti update berita Covid-19, lambat laun tidak mengikuti perkembangan terbaru karena rupanya pemberitaan tersebut membuatnya merasa gelisah dan tidak berdaya.

 

Tak hanya masyarakat biasa, orang-orang yang berkontak langsung seperti para pekerja medis lebih rentan terkena kelelahan empati. 

 

 

Bagaimana Mengatasi Kelelahan Empati Selama Covid-19?

 

Beberapa tips ini mungkin membantu Anda mengatasi gejala kelelahan empati:

 

1. Penuhi kebutuhan dasar

Makan, tidur, dan aktif bergerak adalah kebutuhan dasar manusia. Anda harus memenuhi tiga kebutuhan dasar tersebut agar tubuh lebih segar dan perasaan lebih tenang. 

 

Makan berguna menambah energi pada tubuh agar dapat bergerak. Tidur merupakan waktu tubuh beristirahat dan mengatur kembali fungsi otak. Bergerak seperti berjalan dan berlari membantu tubuh melepas beban pikiran, stres, dan meningkatkan perasaan positif.

 

2. Jauhi hal-hal penyebab kelelahan

Jika pemberitaan Covid-19 menyebabkan Anda merasa lelah dan gelisah, maka jauhi segala hal yang berkaitan dengan virus tersebut. Minimalisir menonton atau membaca berita mengenai Covid-19. 

 

Ada baiknya untuk menjauhi televisi dan media sosial untuk mengurangi terpapar berita mengenai Covid-19  atau berita negatif lainnya. 

 

3. Selesaikan siklus stres setiap hari

Penyebab stres (stressor) bermacam-macam dan dapat meningkat setiap harinya. Stres yang menumpuk akan mengakibatkan depresi dan kelelahan. Maka dari itu, lakukan hal menyenangkan yang dapat mencegah stressor dan mengatasi stres yang timbul.

 

Anda dapat mengisi waktu luang dengan hobi seperti bermain game, bernyanyi, bahkan berteriak dan menangis. Terkadang, mengeluarkan perasaan negatif adalah pilihan terbaik. Aktivitas ini membantu tubuh lebih seimbang.

 

4. Konsisten melakukan rutinitas harian

Wabah Covid-19 terpaksa merumahkan banyak orang. Para pegawai yang bertahan juga menerapkan kerja dari rumah.  Hal ini cenderung membuat seseorang overwork dan mengabaikan kebutuhan dasarnya.

 

Tetapkan jadwal mulai dari bangun, makan, kerja, hingga istirahat. Lakukan jadwal tersebut secara konsisten agar fungsi tubuh berjalan lancar dan nyaman selama masa transisi new normal.

 

5. Ucapkan kalimat motivasi

Jangan menampik bahwa Anda sedang mennghadapi situasi sulit. Luangkan waktu untuk menyadari bahwa situasi yang Anda hadapi memang berat, namun Anda hebat karena bisa bertahan hingga sekarang.  

 

Katakan kepada diri sendiri kalimat seperti “Saya mengalami masa sulit”, dan “Saya tidak akan menekan diri saya terlalu keras”. 

 

 

Seluruh elemen masyarakat terdampak dengan pandemi Covid-19. Jika Anda merasa kesulitan menghadapi pandemi, segera hubungi psikolog atau profesional kesehatan mental lainnya.

 

 

Referensi

Nance S. (2020). Helping doesn’t have to hurt: Managing compassion fatigue in the midst of the COVID-19 pandemic. Public Source. Diakses pada 02 September 2020.

Phukan H. (2020).  Why addressing compassion fatigue amid the coronavirus crisis is crucial to navigating such extraordinary times. First Post. Diakses pada 02 September 2020.

Dholakia U. (2020). How long does public empathy last after a natural disaster?. Psychology Today. Diakses pada 02 September 2020. 

Nugraheny DE. (2020). Pemerintah: Masyarakat belum optimal patuhi protokol kesehatan. Kompas. Diakses pada 02 September 2020.


Tags: ,