fbpx
LOGO

Mengenal DHEA, Hormon Induk Kaya Manfaat

June 25, 2020
IMG

Dehydroepiandrosterone atau DHEA adalah salah satu hormon steroid dengan jumlah paling melimpah di dalam tubuh manusia. Hormon ini aktif diproduksi oleh kelenjar adrenal dan otak. DHEA dapat dirubah menjadi beberapa hormon lain, termasuk androstenedione dan beberapa hormon seks lainnya seperti estrogen dan testosteron, sehingga DHEA juga dijuluki sebagai hormon induk.

 

Di dalam tubuh manusia, DHEA bekerja seperti steroid anabolik alami, yakni meningkatkan produksi hormon pertumbuhan sehingga membantu membangun massa otot tanpa lemak dan melawan penumpukan lemak. Itulah sebabnya suplemen DHEA juga populer di kalangan atlet dan binaragawan.

 

Faktanya, meskipun suplemen DHEA diketahui aman untuk dikonsumsi, National Collegiate Athletic Association (NCAA) melarang penggunaan suplemen tersebut pada atlet yang akan melaksanakan kompetisi olahraga karena efek yang kuat dapat mempengaruhi kesehatan atlet. 

 

 

Manfaat DHEA

 

1. Mengurangi Inflamasi Berlebih

Inflamasi merupakan sumber terjadinya berbagai macam penyakit terutama penyakit yang berhubungan dengan aging atau penambahan usia. Sebagai agen anti-inflamasi, DHEA dapat meningkatkan produksi energi, membakar lemak berlebih, serta meningkatkan vitalitas.

 

Suplementasi DHEA dipercaya dapat meningkatkan kadar hormon seks, membantu mencegah reaksi autoimun, mengatasi gangguan suasana hati seperti depresi, serta meningkatkan kualitas hidup (1). 

 

Pasien dengan penyakit inflamasi seperti sindrom metabolik (kombinasi peningkatan tekanan darah, kadar gula darah tinggi, gangguan pemecahan kolesterol serta obesitas), serta pasien dengan kondisi autoimun seperti lupus dan artritis (radang sendi) diketahui memiliki kadar DHEA yang amat rendah dalam darah.

 

Beberapa penelitian juga telah membuktikan bahwa rendahnya kadar DHEA sangat erat berhubungan dengan terjadinya berbagai penyakit inflamasi. 

 

2. Membantu Meningkatkan Kepadatan Tulang

DHEA terbukti memiliki efek anti-penuaan yang dapat membantu melindungi kepadatan tulang sehingga menurunkan risiko terjadinya patah tulang akibat pengeroposan atau osteoporosis. Sebuah penelitian yang dilaksanakan pada 294 orang pria dan wanita sehat di Korea mengenai pemberian serum DHEA-S terhadap kepadatan mineral tulang femur atau paha.

 

Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian serum DHEA-S berkaitan erat dengan kepadatan mineral pada tulang paha.

 

Sejumlah 154 partisipan kemudian dilaksanakan pemeriksaan kepadatan tulang per tahun, diketahui bahwa pemberian serum DHEA-S secara signifikan menjaga kepadatan tulang, dan mencegah terjadinya patah tulang atau penyakit kelainan pada tulang yang berhubungan dengan faktor usia (2)

 

DHEA juga diketahui meningkatkan produksi hormon estrogen, sehingga menghasilkan kepadatan mineral tulang yang lebih tinggi baik terutama pada wanita usia lanjut atau pasca-menopause (3, 4). 

 

 

3. Meningkatkan Kekuatan dan Massa Otot

Suplemen DHEA banyak digunakan untuk membakar lemak, menurunkan berat badan, dan membentuk massa otot. Suplementasi DHEA juga dapat mengubah glukosa menjadi energi, mengurangi kadar insulin dan merangsang pembakaran lemak.

 

Hal ini menyebabkan DHEA menjadi suplemen yang efisien untuk tujuan peningkatan kekuatan, pembentukan massa otot dan pembakaran lemak meski seseorang dalam keadaan beristirahat (5).

 

Karena manfaatnya yang signifikan dalam meningkatkan energi dan massa otot, organisasi olahraga National Collegiate Athletic Association (NCAA) memasukkan suplemen ini ke dalam daftar suplemen yang terlarang untuk digunakan oleh atlet.

 

DHEA bekerja dengan memperbaiki respon dan stimulus sinyal produksi energi terutama ketika seseorang sedang berolahraga. DHEA membantu sel mengolah glukosa menjadi energi dan mencegah terjadinya penumpukan lemak berbahaya dalam tubuh. 

 

4. Menurunkan Depresi dan Meningkatkan Stabilitas Emosi

Sebuah analisis yang diterbitkan dalam Current Drug Targets menemukan bahwa suplemen DHEA mampu memperbaiki gejala depresi dan suasana hati, termasuk anhedonia (penurunan minat, motivasi, dan kesenangan), kehilangan energi, kesedihan, mudah marah, ketidakmampuan untuk mengatasi stres dan kecemasan yang berlebihan.

 

Penelitian tersebut juga menambahkan bahwa penggunaan DHEA mampu mengurangi gejala depresi pada pasien skizofrenia dan anoreksia (6). 

 

5. Mencegah Terjadinya Penyakit Alzheimer

DHEA memiliki sifat nootropik. Hasil penelitian National Institute of Health mencatat bahwa DHEA dapat digunakan untuk memperlambat terjadinya penurunan kognitif sebagai akibat dari proses penuaan. Termasuk juga meningkatkan keterampilan berpikir pada lansia dan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer (7),

 

Mengonsumsi 50 miligram DHEA setiap hari selama empat minggu diketahui mampu membantu meningkatkan penglihatan dan mencegah terjadinya kehilangan memori pada dewasa paruh baya dan lansia (8). 

 

6. Mengatasi Disfungsi Seksual dan Meningkatkan Libido

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat DHEA yang lebih rendah terjadi pada pria dengan disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi merupakan sebuah kondisi ketidakmampuan seorang pria mendapatkan cukup ereksi untuk melakukan hubungan seksual.

 

Kondisi ini dapat menjadi pertanda adanya gangguan fisik lain, serta menyebabkan terjadinya stres dan gangguan kepercayaan diri lainnya.

 

Suplementasi DHEA dikatakan mampu memperbaiki kualitas efektivitas seksual dan mencegah terjadinya penurunan hormon seksual. DHEA diketahui juga mampu mengatasi berbagai gejala disfungsi seksual lainnya seperti kehilangan libido, ketidakseimbangan hormon, dan gejala menopause (9).

 

Bukti lain menunjukkan bahwa mengonsumsi DHEA selama enam bulan akan membantu menurunkan gejala gangguan seksual yang terkait dengan kerusakan saraf dan komplikasi diabetes, seperti impotensi. Wanita yang mengonsumsi 10 hingga 25 miligram DHEA setiap hari diketahui mengalami penurunan pada berbagai gejala menopause seperti rasa terbakar pada kulit, kering pada area vagina, dan kenaikan berat badan berlebihan (9).

 

Suplementasi DHEA juga dapat meningkatkan gairah seksual, aktivitas dan kepuasan seksual pada wanita pascamenopause (10). 

 

Namun, sebuah ulasan penelitian mengemukakan bahwa efek DHEA terhadap disfungsi seksual tidak konsisten. Beberapa penelitian menyatakan terdapat efek positif DHEA terhadap gairah seksual pada pria yang lebih tua, namun tidak pada pria usia muda. Dibutuhkan penelitian berskala besar dan lebih mendalam untuk mengetahui implikasi terapeutik DHEA pada pria dengan disfungsi seksual (11).

 

 

Sumber Makanan

 

DHEA dapat ditemukan pada kedelai dan berbagai produk turunannya, serta ubi yam atau dikenal juga dengan gembili.

 

 

Dosis Pemakaian

 

• Berdasarkan National Institute of Health, dosis konsumsi suplemen DHEA yang direkomendasikan adalah 20-50 miligram, terutama bagi konsumen dewasa (usia lebih dari 30 tahun).

 

• DHEA dapat diberikan dalam dosis tinggi yakni 200-500 miligram setiap hari untuk membantu menangani depresi dan lupus. Dosis ini diberikan dengan pengawasan medis.

 

• Depresi berat, penurunan kognitif dan skizofrenia: 25 miligram suplemen DHEA, dua kali sehari selama enam minggu.

 

• Peningkatan penyembuhan tulang dan kepadatan mineral tulang: 50-100 miligram per hari.

 

• Disfungsi ereksi, gejala menopause dan kekeringan pada vagina: 25-50 miligram DHEA per hari.

 

 

Defisiensi

 

Pasien sindrom metabolik, yakni pasien dengan kumpulan gejala metabolik seperti peradangan, obesitas/kelebihan berat badan, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi dan diabetes, akan cenderung memiliki kadar DHEA yang lebih rendah.

 

Pasien dengan gangguan autoimun inflamasi seperti lupus dan artritis/radang sendi juga diketahui mengalami kadar DHEA yang rendah di dalam tubuhnya.

 

Studi yang melibatkan wanita dengan gangguan autoimun (sindrom lupus dan gangguan tiroid) menunjukkan bahwa kadar DHEA yang rendah akan mempengaruhi organ dalam, kesehatan kulit dan sistem kekebalan tubuh (7).

 

 

Kontraindikasi

 

Beberapa orang dengan kondisi dibawah ini disarankan untuk menghindari konsumsi suplemen DHEA antara lain:

 

Berusia 30 tahun

 

Pasien kanker prostat

 

Pasien kanker payudara

 

Wanita hamil atau yang sedang menjalani program hamil

 

Penderita gangguan kesehatan khusus yang mengonsumsi obat-obatan secara teratur (termasuk pengencer darah, antikonvulsan, terapi hormon, antidepresan, obat-obatan yang diubah oleh substrat hati, dan obat-obatan untuk diabetes, gangguan jantung atau hati)

 

 

Efek Samping

 

Beberapa efek samping yang dapat terjadi adalah akibat meningkatnya kadar testosteron dan estrogen dalam tubuh yang disebabkan oleh konsumsi DHEA. Pria dan wanita dapat mengalami efek samping yang berbeda.

 

Masih minimnya penelitian mengenai efek jangka panjang dari penggunaan suplemen DHEA, sehingga sebaiknya suplemen ini tidak dikonsumsi dalam waktu yang lama tanpa berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis.

 

Adapun beberapa efek samping yang dapat terjadi bila mengkonsumsi DHEA dalam dosis tinggi antara lain:

• Sakit kepala / pusing

• Sakit perut

• Diare

• Hidung tersumbat

• Kulit berminyak, berjerawat atau mengalami penebalan

• Ruam atau kemerahan pada kulit

• Tumbuhnya rambut wajah pada wanita

• Kerontokan rambut

• Perubahan siklus menstruasi

• Perubahan suara pada wanita

• Penambahan berat badan

• Insomnia

• Kelelahan

• Detak jantung cepat atau tidak teratur

• Perubahan kadar kolesterol 

• Perubahan tekanan darah

• Gagal pernapasan akut

• Perubahan suasana hati dan emosional

• Kecemasan, agitasi, gugup, gelisah, dan perilaku agresif

• Pendarahan pada saluran kemih

• Masalah penglihatan

• Pendarahan dan gangguan pembekuan darah

 

 

Referensi:

Levy, Jillian. (2017). Is a dhea supplement right for you?. Dr Axe. Diakses pada 13 Juni 2019.

Patel, Kamal. (2013). Dehydroepiandrosterone. Examine. Diakses pada 13 Juni 2019.

WebMD. (2018). Dhea. WebMD. Diakses pada 13 Juni 2019.

WebMD. (2018). Dhea supplements. WebMD. Diakses pada 13 Juni 2019.

Carter, Alan. (2018). How can dhea benefit your health?. Medical News Today. Diakses pada 13 Juni 2019.

Wong, Cathy. (2019). The health benefits of dhea supplements. Very Well Health. Diakses pada 13 Juni 2019.

Maninger N, Wolkowitz OM, Reus VI, Epel ES, Mellon SH. Neurobiological and neuropsychiatric effects of dehydroepiandrosterone (DHEA) and DHEA sulfate (DHEAS). Front Neuroendocrinol. (2009). 

Park SG, Hwang S, Kim JS, Park KC, Kwon Y, Kim KC. The association between dehydroepiandrosterone sulfate (DHEA-S) and bone mineral density in korean men and women. J Bone Metab. (2017).

Wei P, Liu M, Chen Y, Chen DC. Systematic review of soy isoflavone supplements on osteoporosis in women. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine. (2012).

Gail G, Chi-hong T, et al. Dietary isoflavones and bone mineral density during midlife and the menopausal transition. Menopause. (2015). 

Morales AJ, Haubrich RH, Hwang JY, Asakura H, Yen SSC. The effect of six months treatment with a 100 mg daily dose of dehydroepiandrosterone (DHEA) on circulating sex steroids, body composition and muscle strength in age‐advanced men and women. Clinical Endocrinology. (1998). 

Peixoto C, Cheda JND, Nardi AE, Veras AB, Cardoso A. The effects of dehydroepiandrosterone (DHEA) in the treatment of depression and depressive symptoms in other psychiatric and medical illnesses: A systematic review. Current Drug Targets. (2014).

Medline Plus. (2019). DHEA. U.S National Library of Medicine. Diakses pada 13 Juni 2019.

Labrie F. Dhea, important source of sex steroids in men and even more in women. Prog Brain Res. (2010).

Munarriz R, Talakoub L, Flaherty E, et al. Androgen replacement therapy with dehydroepiandrosterone for androgen insufficiency and female sexual dysfunction: androgen and questionnaire results. J Sex Marital Ther. (2002). 

El-Sakka AI. Dehydroepiandrosterone and erectile function: A review. World J Mens Health. (2018). 

 


Tags: , , , , , , , , , , ,