fbpx
LOGO

Selain untuk Kecantikan, Ini Manfaat Lain Glutathione

June 29, 2020
IMG

Glutathion (GSH) adalah antioksidan terpenting dalam tubuh karena diproduksi hampir pada setiap sel dalam tubuh. Glutahion tersusun atas tiga asam amino: glutamin, glisin, dan sistein. Selain diproduksi secara alami oleh tubuh, glutathion dapat diberikan secara intravena, topikal, atau dihirup.

 

Meskipun tersedia sebagai suplemen oral dalam bentuk kapsul dan cair, konsumsi oral glutathion mungkin tidak seefektif pemberian secara intravena terutama untuk beberapa kondisi khusus.

 

 

Manfaat

 

1. Agen Anti-Kanker

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2004 dalam Jurnal Biokimia Sel dan Fungsi menyatakan bahwa glutathion memiliki  peran ganda pada keganasan sel, ia dapat memiliki efek protektif maupun patogen pada sel kanker.

 

Pada kondisi resisten pada obat kemoterapi, glutathion menunjukkan efek perlindungan dari penyebaran keganasan sel, terutama menunjukkan perlindungan pada sel sumsum tulang, jaringan payudara, usus besar, laring, dan paru-paru (1).

 

Sebuah artikel yang dikutip dalam Jurnal Ilmu dan Terapi Kanker menunjukkan bahwa kekurangan glutathion menyebabkan peningkatan tingkat stres oksidatif, yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi sel mengarah kepada keganasan (kanker). Lebih lanjut dibahas di dalam jurnal tersebut bahwa peningkatan kadar glutathion dapat meningkatkan kadar antioksidan dan resistensi terhadap stres oksidatif dalam sel kanker (2). 

 

Penelitian lain juga menemukan fakta bahwa pemberian glutathion bersama asupan sumber antioksidan lain dapat meningkatkan efektivitas kemoterapi dalam memerangi kanker serta mengurangi efek samping yang dapat terjadi akibat pemberian obat-obatan kemoterapi (3).

 

2. Mengurangi Kerusakan Sel Pada Penyakit Hati Berlemak 

Fatty liver atau penyakit hati berlemak merupakan sebuah kondisi terjadinya penumpukan lemak pada organ hati yang dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang. Penyalahgunaan alkohol dapat menyebabkan kondisi ini, sehingga disebut fatty liver alkoholik. Sedangkan, penyebab lain seperti pola makan yang salah, konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan lemak juga dapat memicu terjadinya fatty liver jenis non-alkoholik. 

 

Glutathion bekerja dengan meningkatkan kadar protein, enzim, dan bilirubin dalam darah individu dengan penyakit hati berlemak kronis baik alkoholik dan non-alkoholik.

 

Sebuah penelitian melaporkan bahwa glutathion paling efektif ketika diberikan kepada orang-orang dengan penyakit hati berlemak secara intravena (disuntikkan melalui pembuluh darah), dalam dosis tinggi. Partisipan dalam penelitian ini juga menunjukkan pengurangan kadar malondialdehyde, yakni penanda kerusakan sel di hati (4).

 

Penelitian lainnya menemukan fakta bahwa mengonsumsi 300 miligram glutathion per hari selama empat bulan memiliki efek positif pada orang dengan penyakit hati berlemak non-alkoholik setelah diiringi dengan perubahan gaya hidup sehat (5).

 

3. Meningkatkan Resistensi Insulin Pada Lansia

Lansia merupakan kelompok yang berisiko terhadap penyakit metabolik yang diakibatkan rendahnya kemampuan insulin untuk mengikat gula dalam darah dan menyalurkan pada sel (diabetes tipe 2). Selain itu, penumpukan lemak dalam tubuh terutama yang disimpan dalam hati dan pankreas, juga menyebabkan penurunan kemampuan insulin dalam metabolisme gula ke dalam sel. Produksi glutathion juga diketahui semakin berkurang seiring bertambahnya usia. 

 

Sebuah penelitian yang dilakukan di Baylor School of Medicine menggunakan kombinasi penelitian pada hewan dan manusia untuk mengeksplorasi peran glutathion dalam manajemen berat badan dan resistensi insulin pada lansia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glutathion yang rendah dikaitkan dengan pembakaran lemak yang lebih sedikit dan tingkat penyimpanan lemak yang lebih tinggi dalam tubuh lansia. Pada penelitian tersebut juga dilaksanakan penambahan cystein dan glisin pada diet para partisipan untuk tujuan peningkatan glutathion per oral.

 

Hasilnya setelah dievaluasi terjadi peningkatan sensitivitas insulin dan pembakaran lemak yang signifikan pada para lansia (6). 

 

4. Menurunkan Stres Oksidatif Pada Anak Autis

Autisme merupakan sebuah kondisi gangguan kemampuan interaksi dan komunikasi yang disebabkan oleh adanya gangguan persarafan. Autisme juga kerap berhubungan dengan terjadinya stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan metabolit oksidatif seperti malondyaldehida (MDA) dan penurunan kadar protein seperti transferin dan seruloplasma.

 

Pada anak dengan autisme juga diketahui lebih sering mengalami stres oksidatif karena memiliki kadar glutahion plasma yang lebih rendah dibandingkan dengan anak normal. 

 

Sebuah penelitian dilaksanakan pada kelompok anak dengan autisme, dengan pemberian suplemen glutathion oral sebesar 50 – 200 miligram yang diberikan dua kali per hari, disertai dengan tambahan injeksi glutathion. Hasilnya terjadi perubahan signifikan terhadap kandungan sistein, plasma sulfat, dan kadar glutathion darah meski gejala autisme sendiri tidak diukur dalam penelitian  ini (7). 

 

5. Memiliki Efek Kecantikan dan Kosmetik 

Suplemen glutathion sering digunakan untuk tujuan kosmetik karena memiliki efek mencerahkan kulit. Sebuah penelitian dilaksanakan kepada 30 orang wanita dengan diberikan losion yang mengandung 2% glutathion dengan dosis 0.5 gram yang harus dioleskan merata pada area wajah selama 10 minggu berturut-turut.

 

Setelah dievaluasi, kelompok intervensi memiliki melanin indeks yang lebih rendah (warna kulit lebih cerah) dibandingkan dengan kelompok plasebo, pada minggu ke 8 dan ke 9 juga terjadi perbedaan kelembapan kulit yang lebih signifikan pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok plasebo. Pada kelompok penerima glutathion juga terjadi penurunan kerut, peningkatan elastisitas dan kehalusan kulit yang lebih signifikan dibandingkan kelompok plasebo (8). 

 

6. Meningkatkan Kesuburan Pria 

Tingkat kesuburan pada pria sering dikaitkan dengan kondisi stres oksidatif yang dialami dalam tubuhnya. Kekurangan glutathion peroksidase erat berhubungan dengan perubahan motilitas dan morfologi sperma pada pria. Sebuah penelitian dilaksanakan kepada 20 orang pria yang infertil dengan pemberian injeksi glutathion sebesar 600 miligram per hari selama 2 bulan.

 

Hasilnya secara signifikan, terapi glutathion menunjukkan efek positif terhadap motilitas dan morfologi sperma partisipan (9). Hasil yang serupa juga diketahui ditunjukkan dengan pemberian terapi NAC (N-asetilsistein) yang merupakan prekursor dari glutathion sebesar 600 miligram per hari selama 3 bulan berturut-turut pada pria infertil (10). 

 

 

Sumber Makanan

 

Glutathion banyak ditemukan pada sumber makanan, diantaranya yaitu:

Makanan kaya akan kandungan sulfur seperti tumbuhan crusifera (kubis, kembang kol, brokoli, sawi bok choy, kale, lobak, dll)

 

Makanan kaya selenium seperti telur, jamur, ayam, keju, tuna, daging ikan salmon, dll

 

Makanan yang kaya akan nutrisi metilasi (vitamin B6, B9, B12, dan biotin) seperti bayam, asparagus, alpukat, ubi bit merah, kacang lentil, pinto dan chickpea, dll

 

Buah dan sayuran yang kaya akan vitamin C (jeruk, strawberry, jambu, kiwi, paprika merah dan hijau, dll) dan vitamin E (kacang almond, ubi, biji bunga matahari, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, dll)

 

Vitamin D

 

Jeroan (hati sapi)

 

NAC (N-asetilsistein)

 

Protein whey

 

Milk thistle

 

 

Dosis Pemakaian

 

Hingga saat ini belum diketahui dosis standar yang ditetapkan. Sebaiknya lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan untuk mengetahui dosis yang aman dan sesuai.

 

Suplemen glutathion sendiri diketahui tidak dapat diserap secara maksimal dalam saluran pencernaan manusia dan terapi injeksi melalui pembuluh darah lebih menunjukkan manfaat yang signifikan.

 

Lebih disarankan mengambil manfaat glutathion dari mengonsumsi makanan maupun suplemen yang kaya dan meningkatkan kadar glutathion secara sekunder. 

 

 

Interaksi Sinergi

 

α-lipoic acid (ALA): ALA dapat mencegah terjadinya oksidasi glutathion serta meningkatkan metabolisme glutathion dalam tubuh manusia.  

 

Sitrulin: Kombinasi sitrulin bersama dengan glutathion dapat meningkatkan kadar nitrit dan nitrat yang berperan penting dalam fungsi vasodilator (pelebaran) pembuluh darah. 

 

 

Defisiensi

 

Kekurangan glutathion dapat menyebabkan sel menjadi lebih rentan terhadap stres oksidatif, yang berkontribusi terhadap perkembangan mutasi sel normal menjadi kanker. Selain itu, dapat terjadi anemia atau kekurangan sel darah merah, yang menyebabkan penumpukan asam dalam tubuh yang disebut dengan asidosis metabolik.

 

Penumpukan asam dapat menimbulkan berbagai masalah dan gejala di otak dan sistem saraf seperti kejang, penurunan kecerdasan hingga kehilangan koordinasi tubuh. 

 

 

Kontraindikasi

 

Glutathion aman digunakan bagi kebanyakan orang dewasa saat diminum, dihirup, atau disuntikkan ke pembuluh darah. Adapun ibu hamil, menyusui, atau penderita asma tidak disarankan untuk menggunakan glutathion.

 

 

Efek Samping

 

Kram perut

Perut kembung

Kesulitan bernapas

Reaksi alergi seperti ruam pada kulit

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Glutathion. Examine. Diakses pada 23 Juni 2019.

Axe, Josh. (2018). Glutathion: Top 9 foods & supplements to boost. Diakses pada 23 Juni 2019.

Whelan, Corey. (2017). Glutathion benefits. Healthline. Diakses pada 23 Juni 2019.

WebMD. (2018). Glutathion. WebMD. Diakses pada 23 Juni 2019.

Balendiran GK, Dabur R, Fraser D. The role of glutathione in cancer. Cell Biochem Funct. (2004).

Schnelldorfer T, Gansauge S, Gansauge F, Schlosser S, Beger HG, Nussler AK. Glutathione depletion causes cell growth inhibition and enhanced apoptosis in pancreatic cancer cells. Cancer. (2000).

Palkhivala, A. Glutathione: New supplement on the block. MedicineNet. Diakses pada 23 Juni 2019.

Dentico P, Volpe A, Buongiorno R, et al. Il glutatione nella terapia delle epatopatie croniche steatosiche [Glutathione in the treatment of chronic fatty liver diseases]. Recenti Prog Med. (1995).

Honda Y, Kessoku T, Sumida Y, et al. Efficacy of glutathione for the treatment of nonalcoholic fatty liver disease: an open-label, single-arm, multicenter, pilot study. BMC Gastroenterol. (2017).

Pathak D. Correcting glutathione deficiency improves impaired mitochondrial fat burning, insulin resistance in aging. Baylor College of Medicine. (2013).

Kern JK, Geier DA, Adams JB, Garver CR, Audhya T, Geier MR. A clinical trial of glutathione supplementation in autism spectrum disorders. Med Sci Monit. (2011).

Watanabe F, Hashizume E, Chan GP, Kamimura A. Skin-whitening and skin-condition-improving effects of topical oxidized glutathione: a double-blind and placebo-controlled clinical trial in healthy women. Clin Cosmet Investig Dermatol. (2014).

Lenzi A, Culasso F, Gandini L, Lombardo F, Dondero F. Placebo-controlled, double-blind, cross-over trial of glutathione therapy in male infertility. Hum Reprod. (1993).

Ciftci H, Verit A, Savas M, Yeni E, Erel O. Effects of N-acetylcysteine on semen parameters and oxidative/antioxidant status. Urology. (2009).


Tags: , , , , ,