fbpx
LOGO

Hanya Sekali Hisap, Vape dapat Ganggu Peredaran Darah

August 30, 2020
IMG

Belakangan ini, vape menjadi alternatif bagi mereka yang ingin menghindari efek buruk rokok, karena vape diklaim memiliki efek buruk yang lebih rendah dibandingkan dengan rokok. Vape pertama kali diperkenalkan pada tahun 2007 dan langsung menjadi primadona di kalangan anak-anak muda.

 

Dari tahun 2017-2018, penggunaan vape di kalangan remaja Amerika meningkat lebih dari 75 persen, mendorong US Surgeon General untuk menyebutnya sebagai epidemi atau suatu wabah (1). 

 

Meski efek yang dimiliki rokok elektronik lebih sedikit dibandingkan dengan rokok konvensional, faktanya terdapat laporan kasus penyakit paru-paru dengan kategori parah yang dialami oleh hampir 100 remaja dan dewasa muda di 14 negara bagian yang dikaitkan dengan penggunaan vape.

 

 

Penelitian terbaru menemukan bahwa Vaping dapat mengganggu aliran darah pada hisapan pertama

 

Menurut sebuah penelitian tahun 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Radiology, meski efek buruk vape dikaitkan dengan perasa atau cairan yang digunakan, menghirup uap rokok elektrik saja tanpa nikotin atau perisa apapun memiliki dampak negatif yang langsung dirasakan pada pembuluh darah. 

 

Baru-baru ini, para peneliti di Perelman School of Medicine Universitas Pennsylvania juga melakukan uji coba untuk melihat efek menghirup uap vape (tanpa nikotin dan perasa) terhadap pembuluh darah seseorang. Partisipan merupakan vapers dan perokok berusia antara 18 dan 35 tahun. 

 

Peneliti menggunakan MRI (Magnetic Resonance Imaging) yaitu suatu alat yang dapat menghasilkan gambaran atau citraan bagian dalam tubuh manusia dengan memanfaatkan daya magnet, untuk memeriksa pembuluh darah dan arteri dari para partisipan, sebelum dan sesudah mereka mengambil beberapa isapan rokok elektronik atau vape.

 

Hasilnya, setelah mengambil 16 hisapan dalam waktu tiga detik, para peserta memiliki sirkulasi yang lebih buruk, dimana pembuluh darah menjadi lebih kaku dan terdapat lebih sedikit oksigen dalam darah mereka.

 

Meskipun gliserol dan propilen glikol (dua zat kimia pada vape) dianggap aman untuk dikonsumsi, mereka mungkin tidak aman untuk dihirup. Menurut Wehrli, peneliti utama di studi vape Perelman School of Medicine, ketika bahan kimia dipanaskan dan dihirup, itu akan melewati paru-paru dan masuk ke dalam arteri dan vena yang membentuk sistem pembuluh darah.

 

Sesampainya di sana, mereka mengiritasi epitel yang merupakan sebuah lapisan tipis sel yang melapisi pembuluh darah dan membantu mengatur aliran darah, pembekuan darah, dan respons imun. Epitel yang mengalami peradangan kemudian membesar dan mengganggu kerja arteri untuk berkontraksi.

 

Epitel yang tidak berfungsi dengan baik dapat berdampak besar pada kesehatan. Seiring waktu, peradangan dapat menyebabkan plak terkumpul di pembuluh darah dan menyebabkan suatu kondisi yang dikenal sebagai aterosklerosis yang dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke. Meskipun efek ini hanya sementara, menghisap vape terus menerus akan menyebabkan penyakit kronis yang serius.

 

Sebuah studi pada tahun 2019 menilai data dari survei nasional terhadap hampir 450.000 partisipan dan ditemukan bahwa orang yang merokok baik rokok konvensional maupun rokok elektronik atau vape cenderung memiliki penyakit jantung (2)

 

Studi lain tahun 2019 berdasarkan hasil survei nasional yang sama menemukan bahwa penggunaan rokok elektronik atau vape dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke, serangan jantung, angina, dan penyakit jantung (3).

 

 

 

Kesimpulan

 

Menghirup asap rokok elektronik atau vape baik dengan perisa atau nikotin dapat menganggu aliran darah dan menyebabkan kekurangan oksigen pada darah, membuat pembuluh darah lebih kaku dan berujung dengan kondisi kesehatan seperti penyakit jantung atau stroke.

 

Meskipun vape disimpulkan memiliki lebih sedikit risiko terhadap masalah kesehatan dibandingkan rokok konvensional, keduanya memiliki kecenderungan yang sama untuk menyebabkan penyakit jantung dan memperparah kondisi jantung bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya.

 

Hal ini menyimpulkan bahwa vape tidak lebih aman dari rokok, dimana keduanya memiliki efek samping yang sama.

 

Referensi:

Harrison, Sara. (2019). Vaping may harm your blood flow—even without nicotine. Wired. Diakses pada 22 Agustus 2019.

Vandergriendt, Carly. (2019). Is vaping bad for you? and 12 other faqs. Healthline. Diakses pada 22 Agustus 2019.

Centers for Disease Control and Prevention. (2019). Surgeon general’s advisory on e-cigarette use among youth. Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 22 Agustus 2019.

Osei AD, Mirbolouk M, et al. Association between e-cigarette use and cardiovascular disease among never and current combustible-cigarette smokers. The American Journal of Medicines. (2019). 

Ndunda PM, Muutu TM. Abstract 9: Electronic cigarette use is associated with a higher risk of stroke. Stroke. (2019).