fbpx
LOGO

Hati-hati, Ini Bahaya Tersembunyi Minuman Berprotein

October 7, 2020
IMG

Minuman berprotein sering dikonsumsi oleh atlet dan binaragawan, tetapi minuman berprotein juga menarik perhatian bagi baby boomers (orang lanjut usia), wanita hamil, dan remaja yang menginginkan bentuk tubuh ideal dan sehat dalam waktu cepat.

 

Minuman berprotein diklaim dapat menjadi camilan bergizi dan alternatif instan makanan. Banyak yang mengklaim suplemen protein ideal dikonsumsi oleh ibu hamil, anak-anak dalam masa tumbuh kembang, serta orang lanjut usia.

 

Mengonsumsi minuman berprotein dipercaya dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan awet muda.

 

Sayangnya, banyak hasil penelitian yang bertentangan dengan klaim tersebut. Berdasarkan beberapa penelitian, kebanyakan orang sudah memiliki kadar protein yang cukup, dan minuman berprotein dapat menjadi cara baru meningkatkan asupan protein pada orang dengan defisiensi protein. 

 

 

Bahaya tersembunyi dibalik minuman berprotein

 

Asupan protein yang berlebihan dalam jangka panjang, termasuk melalui suplemen, dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Bagi penderita diabetes atau penderita masalah ginjal, kadar protein yang tinggi dalam tubuh menyebabkan komplikasi lebih lanjut.

 

Kebanyakan jenis minuman berprotein mengandung satu atau lebih kontaminan seperti arsenik, kadmium, timbal, dan merkuri.  Jika minuman berprotein dikonsumsi secara rutin, logam berat tersebut akan memicu kerusakan dan efek keracunan pada tubuh.

 

Dalam sebuah penelitian, 15 jenis minuman berprotein yang diuji mengandung zat arsenik, kadmium, timah, dan merkuri. Mengonsumsinya secara rutin (tiga kali sehari) dapat menghasilkan paparan arsenik, kadmium, atau timah harian yang melebihi batas yang diusulkan oleh USP (United States Pharmacopeia).

 

Sedangkan batas USP per hari untuk arsenik (anorganik) adalah 15 µg (mikrogram), kadmium 5 μg (mikrogram), timah 10 µg (mikrogram), dan merkuri 15 μg (mikrogram).  

 

Mirisnya, banyak remaja yang menjadi korban setelah rutin mengonsumsi minuman berprotein. Ahli gizi Dave Ellis mengatakan bahwa remaja cenderung meminum produk minuman berprotein terlalu sering, dengan asumsi bahwa semakin banyak takaran produk maka semakin bagus hasilnya.

 

Sebuah penelitian pada tahun 2005 yang diterbitkan dalam jurnal American Academy of Pediatrics mengemukakan bahwa bubuk protein dan shake adalah suplemen yang paling umum digunakan oleh remaja berusia 12 hingga 18 tahun.

 

Menurut Robert Wright, MD, seorang profesor di Harvard Medical School, kita tidak dapat menghindari paparan kecil logam beracun. Namun permasalahannya adalah ketika mengonsumsi produk yang mengandung logam melebihi batas USP. 

 

 

 

Sumber protein terbaik

 

Menurut Bruce A. Fowler, seorang peneliti di Badan Federal untuk Zat Beracun dan Registry Penyakit mengatakan bahwa selain pada minuman berprotein, zat kadmium tinggi juga ditemukan pada:

• Kerang

• Daging organ

• Kentang

• Beras

• Biji bunga matahari

• Bayam

• Sayuran hijau

 

Protein yang berasal dari sumber nabati mengandung zat kadmium melalui penyerapan nutrisi dari dalam pupuk.

 

Menurut Food and Drug Administration (FDA), berikut ini sumber protein terbaik dengan sedikit atau tidak mengandung zat kadmium, timbal, arsenik, dan merkuri:

• Susu

• Yogurt

• Telur

• Unggas

• Daging merah

 

 

Referensi:

Consumer Report. (2010). Health risks of protein drinks. Consumer Report. Diakses pada 01 Oktober 2019.


Tags: