fbpx
LOGO

Licorice, Akar Manis yang Kaya Manfaat

June 30, 2020
IMG

Licorice adalah nama umum dari tanaman Glycyrrhiza glabra yang disebut juga akar manis. Tanaman berjenis polong-polongan ini berasal dari Eropa selatan dan banyak dibudidayakan di beberapa bagian wilayah Asia. Licorice identik digunakan sebagai perasa permen yang kuat, padahal tanaman ini telah digunakan selama ribuan tahun untuk mengobati sindrom leaky gut atau usus bocor. 

 

Kandungan flavanoid, coumarin, triterpenoid, dan stilbenoid termasuk asam glycyrrhetic dalam licorice, dipercaya dapat menurunkan testosteron dan meningkatkan kortisol. Selain itu, juga terdapat senyawa glabridol, salah satu flavonoid yang juga memiliki manfaat kesehatan yang baik bagi kesehatan manusia. 

 

Fakta menariknya lagi, licorice memiliki senyawa bernama glycyrrhizin, sejenis triterpenoid yang dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan seperti dapat meningkatkan tekanan darah, menurunkan kadar kalium darah, menyebabkan edema atau bengkak, dan berbagai efek samping negatif lainnya.

 

Oleh karenanya senyawa glycyrrhizin terkadang dibuang dalam proses pembuatan suplemen licorice terstandar, yang kemudian diberi nama deglycyrrhized licorice (DGL). 

 

 

Manfaat

 

1. Menjaga Kesehatan Usus

Seperti yang telah disebutkan di atas, licorice sangat umum dan telah digunakan sejak zaman tradisional sebagai herbal yang dapat menjaga kesehatan pencernaan termasuk usus. Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa asam glycyrrhetic dalam licorice dapat menekan pertumbuhan bakteri beracun H. pylori, yang merupakan bakteri penyebab infeksi pada lambung, serta dapat mencegahnya berkembang biak di dalam usus manusia (1). 

 

Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Element-based Complementary and Alternative Medicine, menyatakan ekstrak Glycyrrhiza glabra secara efektif dapat melawan dispepsia fungsional yang merupakan kumpulan ketidaknyamaan di perut seperti nyeri, kembung, sendawa, rasa terbakar, dan mual tanpa adanya luka pada saluran pencernaan.  Licorice juga tidak hanya mampu mengatasi rasa mulas tetapi juga menjadi obat alami untuk mual, dan gangguan pencernaan lainnya (2). 

 

Penelitian lain menunjukkan bahwa akar licorice memiliki efek anti-inflamasi dan bersifat demulsen (menenangkan). Sebuah uji coba yang dilaksanakan pada hewan tikus diberikan ibuprofen (obat konvensional anti-inflamasi yang dapat menimbulkan perlukaan pada dinding lambung apabila digunakan secara berkepanjangan) yang telah dilapisi ekstrak akar licorice. Setelah dievaluasi, lapisan ekstrak akar licorice menurunkan insiden luka lambung sebanyak 59% serta tidak mempengaruhi tingkat penyerapan licorice pada lambung tikus (3).

 

Pada pasien yang memiliki riwayat maag, mulas, atau gastritis kronis atau berkepanjangan lebih disarankan untuk mengonsumsi licorice jenis deglycyrrhized licorice (DGL). DGL aman dikonsumsi dalam jangka panjang dan tidak menimbulkan efek samping bagi organ yang lain.

 

2. Menjaga Kesehatan Kulit dan Mulut

Senyawa glabridin dalam licorice merupakan senyawa yang dapat menurunkan terjadinya eritema atau  bercak kemerahan akibat paparan sinar UVB (4). Mengaplikasikan  gel topikal yang mengandung 0.5% licorice dapat digunakan untuk mengobati eksim (ruam kemerahan akibat alergi). Glabridin dalam licorice bertindak sebagai hidrokortison yang dapat mengurangi rasa gatal akibat eksim dan berbagai kondisi ketidaknyamanan pada kulit lainnya (5). 

 

Koyo yang mengandung ekstrak licorice yang ditempelkan pada luka akibat kanker mulut, terbukti menurunkan tingkat nyeri hingga 40% dan ukuran luka hingga 81% setelah satu minggu pemberian (6). 

 

Penelitian lain dilaksanakan pada pasien dengan gingivitis, atau radang gusi. Kandungan lichocalchone A dalam licorice dan proanthocyanidin dalam cranberry dikombinasikan sebagai terapi. Hasilnya, terjadi penurunan yang signifikan dari Porphyromonas gingivalis, bakteri penyebab infeksi dalam rongga mulut sebesar 65 – 85%. Selain itu juga ditemukan bahwa kombinasi senyawa licorice dengan cranberry menurunkan produksi penanda peradangan yang diinduksi oleh lipopolisakarida yakni IL-1β, TNF-α, IL-6 and IL-8 (7). 

 

3. Memiliki Senyawa Anti-Inflamasi

Sifat anti-inflamasi yang terkandung didalamnya menjadikan akar licorice bermanfaat sebagai ekspektoran yang efektif dalam membantu melonggarkan saluran nafas dan mengeluarkan lendir penyebab batuk atau sakit tenggorokan (8).

 

Manfaat anti-inflamasi yang terkandung dalam licorice juga dapat membantu meringankan rasa nyeri persendian akibat osteoartritis. Disisi lain, licorice bersama dengan shakuyakukanzoto dan akar paeoniae bertindak sebagai anti-spasmodik yang meringankan gejala kram otot lengan dan tungkai maupun otot perut ketika diuji coba pada hewan tikus dengan tetanus (9

 

4. Mengatasi Gejala PCOS dan Menopause

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Health Care for Women International menunjukkan efek licorice lebih baik dalam mengurangi durasi hot flashes daripada terapi penggantian hormon. Hot flashes merupakan rasa panas dan berkeringat yang muncul akibat perubahan hormon pada wanita yang memasuki masa menopause (10).

 

Akar licorice diketahui memiliki efek seperti estrogen (estrogenik) pada wanita, ia dapat menjadi alternatif pengobatan untuk masalah terkait menstruasi dan kesuburan akibat PCOS (Polycystic Ovary Syndrome), dan sebagai obat alami untuk menurunkan gejala terkait pre-menstrual syndrom (PMS) seperti gangguan mood dan ketidakteraturan menstruasi (11).

 

5, Mengatasi Kelelahan Adrenal

Stres lingkungan, fisik dan mental dapat membuat kelenjar adrenalin kelelahan dengan terus-menerus memproduksi adrenalin dan kortisol. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis Molecular and Cellular Endocrinology menemukan bahwa licorice dapat memberi kelegaan pada kelenjar adrenal dengan membantu tubuh mengatur kortisol, hormon stres dengan lebih efisien, sehingga membuat adrenal dalam keadaan tenang atau istirahat (12).

 

 

Sumber Makanan

 

Licorice atau akar manis umumnya diubah menjadi ekstrak akar licorice kering atau dalam bentuk suplemen.

 

 

Dosis Pemakaian

 

Berdasarkan pengobatan tradisional cina, untuk tujuan kesehatan secara umum licorice dengan sediaan akar murni dapat dikonsumsi dengan dosis 8 – 15 gram per hari dan maksimum dapat dikonsumsi 100 gram per hari untuk kondisi penyakit tertentu. 

 

Sedangkan dalam bentuk suplemen, licorice dapat dikonsumsi 150 – 300 miligram per hari. Sediaan DGL dapat dikonsumsi maksimal hingga 1800 miligram per hari selama 4 minggu berturut-turut. 

 

Untuk mengobati mulas atau sakit perut, dapat mengkonsumsi 1 mL produk spesifik yang mengandung kombinasi licorice, milk thistle, daun peppermint, chamomile Jerman, jintan, celandine, angelica, lemon balm, dan tanaman sawi badut (merk paten Iberogast, STW-5-S; Steigerwald Arzneimittelwerk GmbH), diminum tiga kali sehari selama 4 hingga 12 minggu. 

 

Aplikasikan gel yang mengandung 1% atau 2% ekstrak akar licorice, tiga kali sehari selama 2 minggu untuk mengatasi kulit yang gatal dan meradang (eksim).

 

Menghindari luka akibat pemasangan alat bantu nafas: Berkumur dengan 30 mL cairan yang mengandung 0,5 gram licorice selama satu menit dan dimulai 5 menit sebelum penempatan alat bantu pernapasan.

 

 

Interaksi Sinergi

 

• Lycopene: Kombinasi bersama dengan lycopene sangat baik untuk mencegah terjadinya oksidasi pada kolesterol jahat atau LDL (Low Density Lipoprotein)

 

Cranberry: Kandungan polifenol dalam cranberry bersama dengan licochalcone A (senyawa aktif dalam licorice) bersinergis sebagai anti inflamasi dan memiliki efek bakteriosida terutama dalam rongga mulut. Keduanya juga menjadi kombinasi yang baik untuk diolah menjadi permen. 

 

 

Kontraindikasi

 

Licorice sebaiknya tidak dikonsumsi oleh:

Ibu hamil dan menyusui 

Penderita gangguan hati atau jantung

Penderita gangguan ginjal

Wanita dengan kondisi sensitif hormon (seperti kanker payudara, kanker rahim, kanker ovarium, endometriosis, fibroid rahim) 

Hipertonia (kondisi otot yang disebabkan oleh penyakit saraf)

Kekurangan kalium (hipokalemia)

Disfungsi ereksi

 

Hindari kombinasi licorice dengan beberapa obat-obatan seperti warfarin (obat antikoagulan/penggumpalan darah), digoksin (obat gangguan irama jantung), pil hormonal yang mengandung estrogen (kontrasepsi), furosemid (pengikat air), obat anti-hipertensi (termasuk captopril), dan obat-obatan kortikosteroid (anti-radang) selain dapat menurunkan efektivitas obat, licorice dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. 

 

 

Efek Samping

 

Mengonsumsi licorice dengan dosis tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan efek samping serius antara lain:

Tekanan darah tinggi 

Hipokalemia (kadar kalium rendah) 

Kelemahan dan kelelahan

Kelumpuhan

Kerusakan otak

Tidak adanya periode menstruasi pada wanita

Sakit kepala

Retensi air dan natrium (dapat menimbulkan efek bengkak sekujur tubuh)

Penurunan minat dan fungsi seksual pada pria

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Licorice. Examine. Diakses pada 24 Juni 2019.

Axe, Josh. (2018). Licorice root benefits adrenal fatigue & leaky gut. Dr Axe. Diakses pada 24 Juni 2019.

Wilson, D. R.. (2018). Health benefits of licorice root. Diakses  pada 24 Juni 2019.

WebMD. (2018). Licorice. WebMD. Diakses pada 24 Juni 2019.

Hosseinzadeh H, Nassiri‐Asl, M. Pharmacological effects of glycyrrhiza spp. and its bioactive Constituents: Update and Review. Phytoteraphy Research. (2015).

Raveendra KR, Jayachandra, Srinivasa V, et al. An Extract of Glycyrrhiza glabra (GutGard) Alleviates Symptoms of Functional Dyspepsia: A Randomized, Double-Blind, Placebo-Controlled Study. Evid Based Complement Alternat Med. (2012).

Dehpour AR, Zolfaghari ME, Samadian T, Kobarfard F, Faizi M, Assari M. Antiulcer activities of liquorice and its derivatives in experimental gastric lesion induced by ibuprofen in rats. International Journal of Pharmaceutics. (1995).

Yokota T, Nishio H, Kubota Y, Mizoguchi M. The inhibitory effect of glabridin from licorice extracts on melanogenesis and inflammation. Pigment Cell Res. (1998).

Teelucksingh S, Mackie ADR, Burt D, Edwards CRW, Mclntyre MA, Brett L. Potentiation of hydrocortisone activity in skin by glycyrrhetinic acid. The Lancet. (1990).

Martin MD, Sherman J, van der Ven P, Burgess J. A controlled trial of a dissolving oral patch concerning glycyrrhiza (licorice) herbal extract for the treatment of aphthous ulcers. Gen Dent. (2008).

Feldman M, Grenier D. Cranberry proanthocyanidins act in synergy with licochalcone A to reduce Porphyromonas gingivalis growth and virulence properties, and to suppress cytokine secretion by macrophages. J Appl Microbiol. (2012).

Brinckmann J, Sigwart H, van Houten Taylor L. Safety and efficacy of a traditional herbal medicine (Throat Coat) in symptomatic temporary relief of pain in patients with acute pharyngitis: a multicenter, prospective, randomized, double-blinded, placebo-controlled study. J Altern Complement Med. (2003).

Lee KK, Omiya Y, Yuzurihara M, Kase Y, Kobayashi H. Lee KK, Omiya Y, Yuzurihara M, Kase Y, Kobayashi H. Antispasmodic effect of shakuyakukanzoto extract on experimental muscle cramps in vivo: role of the active constituents of Glycyrrhizae radix [published correction appears in J Ethnopharmacol. 2013 Mar 7;146(1):431]. J Ethnopharmacol. (2013).

Menati L, Khaleghinezhad K, Tadayon M, Siahpoosh A. Evaluation of contextual and demographic factors on licorice effects on reducing hot flashes in postmenopause women. Health Care Women Int. (2014).

Arentz S, Abbott JA, Smith CA, Bensoussan A. Herbal medicine for the management of polycystic ovary syndrome (PCOS) and associated oligo/amenorrhoea and hyperandrogenism; a review of the laboratory evidence for effects with corroborative clinical findings. BMC Complement Altern Med. (2014).

Al-Dujaili EA, Kenyon CJ, Nicol MR, Mason JI. Liquorice and glycyrrhetinic acid increase DHEA and deoxycorticosterone levels in vivo and in vitro by inhibiting adrenal SULT2A1 activity. Mol Cell Endocrinol. (2011).

 


Tags: , , , , ,