fbpx
LOGO

Manfaat Lithium Orotate dan Efek Sampingnya Bagi Tubuh

August 4, 2020
IMG

Lithium adalah logam alkali, yang secara alami hadir dalam jumlah kecil berbentuk mineral dalam buah-buahan, sayuran, dan tanaman lain yang tumbuh di tanah yang kaya akan kandungan lithium. Lithium orotate terdiri atas kandungan dari lithium (logam alkali) dan asam orotik (senyawa mirip vitamin B13 yang disintesis secara alami di dalam tubuh manusia).

 

Dalam pengobatan alternatif, lithium orotate dikenal sebagai alternatif pengganti obat lithium, yakni obat yang diresepkan untuk mengobati dan mencegah episode mania pada pasien gangguan bipolar. Lithium dapat mengobati dan mencegah episode manik dengan menurunkan aktivitas otak yang tidak normal.

 

Asam orotik juga disebut sebagai vitamin B13, meski sebenarnya senyawa ini bukanlah vitamin. Dalam tubuh manusia, asam orotik diproduksi oleh mikroorganisme yang ditemukan dalam usus dan saluran pencernaan.

 

 

Manfaat Lithium Orotate

 

1. Melindungi Otak dan Mencegah Gangguan Mental

Dosis kecil lithium terbukti dapat melindungi otak dari keracunan dan gangguan mental. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa lithium subterapeutik dapat memblokir reseptor NMDA, yakni reseptor yang mencegah kerusakan akibat berlebihnya kadar glutamat, serta melindungi otak dari keracunan timbal (1, 2).

 

Lithium juga menghambat GSK-3, yakni enzim yang berperan dalam metabolisme, pertumbuhan sel, dan sistem kekebalan tubuh. Terlalu aktifnya GSK-3 terkait dengan sejumlah penyakit, termasuk gangguan bipolar dan penyakit Alzheimer.

 

Pada uji coba hewan dan sel, dengan memblokir GSK-3, lithium dapat mencegah kematian sel-sel otak (apoptosis) dan berpotensi mencegah gangguan mental (bipolar, depresi, dan skizofrenia) (3, 4).

 

2. Mengurangi Perilaku Agresif

Lithium terbukti mampu meningkatkan kontrol impuls dan dapat menurunkan angka kriminalitas dengan menekan perilaku agresif dan menciptakan perasaan damai. Walaupun proses ini belum sepenuhnya dipahami, terdapat kemungkinan lithium memainkan peran utama dalam meningkatkan kontrol impuls (5).

 

Penelitian yang dilakukan di Texas dan Yunani menemukan bahwa di daerah bagian yang memiliki konsentrasi lithium lebih tinggi dalam air minum memiliki tingkat kriminalitas (pemerkosaan, pencurian, dan penyalahgunaan obat) yang lebih rendah  (6, 7).

 

3. Meningkatkan Fungsi Kognisi

Dosis kecil lithium terbukti dapat meningkatkan fungsi kognisi. Sebuah penelitian besar yang dilakukan di Denmark membandingkan sampel air minum dari lebih dari 800 ribu orang responden. Hasil penelitian menemukan fakta bahwa responden yang minum air dengan jumlah lithium yang lebih tinggi memiliki tingkat demensia (penyakit pikun) yang lebih rendah (8).

 

Lithium subterapeutik terbukti mampu menunda perkembangan demensia pada orang dengan gangguan kognitif ringan. Pemberian lithium dengan dosis 0,3 miligram juga terbukti mampu mencegah terjadinya kehilangan atau penurunan kognitif pada pasien Alzheimer (9, 10).

 

 

 

4. Membantu Meringankan Sakit Kepala

Sebuah tinjauan dari berbagai penelitian mengungkapkan bahwa lithium dapat mengurangi keparahan sakit kepala tipe cluster, jenis sakit kepala ini jarang terjadi namun terkenal memiliki tingkat nyeri yang tinggi. Dosis subterapeutik lithium (0,4 hingga 1,0 mmol / L dalam darah) terbukti dapat mengurangi gejala nyeri pada banyak pasien dengan sakit kepala jenis cluster (11).

 

Lithium dosis rendah (200 miligram/hari) juga diketahui mampu membantu mengatasi sakit kepala tipe hipnik (dikenal juga dengan sebutan “sakit kepala jam alarm”) setelah pemberian lithium selama dua hari.

 

Jenis sakit kepala ini memiliki gejala seperti alarm yang membangunkan penderitanya dari tidur pada waktu malam, sehingga sangat mengganggu kualitas tidur dan istirahat mereka. Sakit kepala hipnik biasanya menyerang lansia (12). 

 

5. Membantu Memperpanjang Usia

Berbagai enzim, hormon, vitamin, dan faktor pertumbuhan membutuhkan keberadaan senyawa lithium agar berfungsi secara normal. Lithium juga meningkatkan faktor pertumbuhan dan sel induk dalam tubuh, yang melahirkan sel-sel baru dan meningkatkan perbaikan jaringan yang rusak.

 

Sebuah penelitian pada hewan coba tikus menemukan bahwa suplementasi lithium meningkatkan konsentrasi berbagai faktor pertumbuhan di otak, seperti BDNF (brain-derived neurotrophic factor), NGF (Nerve Growth Factor), dan GDNF (glial cell-derived neurotrophic factor).

 

Ketiga faktor pertumbuhan ini membantu dalam meningkatkan kelahiran neuron baru, mengaktivasi kembali sel-sel otak, memperbaiki, serta meningkatkan neuroplastisitas sel otak (13, 14).

 

Menurut penelitian pada sel manusia, kadar subterapeutik lithium (0,2 mmol / L) meningkatkan VEGF (Vascular Hormon Growth Factor), yakni jenis lain dari faktor pertumbuhan yang mempengaruhi pembuluh darah, berpotensi membantu perbaikan struktur pembuluh darah setelah terjadinya serangan stroke (15).

 

Penelitian lain menunjukkan bahwa suplementasi lithium menstimulasi sel-sel induk dalam darah, otak, dan tulang, yang berpotensi meningkatkan perbaikan jaringan setelah cedera (16, 17).

 

Bukti lain juga menunjukkan bahwa lithium meningkatkan proses autofagi, meregenerasi sel-sel yang menua, mencegah penyakit, dan merupakan kunci untuk memperpanjang umur (18).

 

 

Sumber Makanan

 

Biji-bijian dan sayuran berkontribusi sekitar 66% hingga 90% dari total asupan lithium harian. Beberapa contoh bahan makanan dan minuman yang kaya akan kandungan lithium yaitu:

Kacang-kacangan 

Sereal 

Ikan 

Sayuran hijau yang tumbuh pada tanah yang kaya akan kandungan lithium

Produk susu 

Teh hitam

 

 

Dosis

 

Menurut Angka Kecukupan Gizi (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (RDA), setiap orang membutuhkan sekitar 1 mg lithium per hari. Lithium orotate mengandung sekitar 4 sampai 5 mg lithium aktual atau unsur lithium per 100 mg dosis sediaan.

 

Dosis maksimal suplementasi lithium orotate yang direkomendasikan adalah 20 mg / hari.

 

 

Efikasi

 

Lithium mencapai kadar tertinggi dalam darah pada 4 jam setelah konsumsi.  

 

 

Efek Samping

 

Beberapa efek samping umum yang dapat ditimbulkan oleh konsumsi suplemen lithium antara lain:

Tremor (biasanya di area tangan)

Jerawat

Menimbulkan rasa kantuk

Mulut kering

Peningkatan rasa haus 

Peningkatan buang air kecil

Mual

Diare

Sembelit

Berat badan bertambah

 

Pada konsumsi berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan ginjal, penurunan tekanan darah, koma, bahkan kematian mendadak

 

 

Kontraindikasi

 

Pasangan yang merencanakan kehamilan 

 

Ibu hamil: Lithium dapat menembus plasenta dan mengakibatkan kecacatan janin (neonatal lithium toxicity)

 

Ibu menyusui: Lithium dapat tereksresi pada air susu ibu dapat menimbulkan tonus otot yang lemah, menggigil, kebiruan, letargi, dan gangguan jantung pada bayi yang disusui)

 

Penderita gangguan fungsi ginjal

 

Hindari mengonsumsi lithium bersama dengan obat-obatan jantung seperti inhibitor ACE, antikonvulsan (anti kejang), antidepresan, penghambat saluran kalsium, dekstrometorfan, loop diuretik, meperidin, dan metildopa.

 

 

Referensi :

Eng, Mathew. (2019). 15 Shocking lithium orotate benefits + side effects. Self Hacked. Diakses pada 27 Agustus 2019.

Wong, Cathy. (2019). The benefits of lithium orotate. Very Well Mind. Diakses pada 27 Agustus 2019.

Wolters Kluwer Health. (2017). Lithium orotate. Drugs. Diakses pada 27 Agustus 2019. 

Parsaei L, Torkaman-Boutorabi A, Asadi F, Zarrindast MR. Interaction between dorsal hippocampal NMDA receptors and lithium on spatial learning consolidation in rats. Brain Res Bull. (2016). 

Banijamali M, Rabbani-Chadegani A, Shahhoseini M. Lithium attenuates lead induced toxicity on mouse non-adherent bone marrow cells. J Trace Elem Med Biol. (2016). 

Rowe MK, Wiest C, Chuang DM. GSK-3 is a viable potential target for therapeutic intervention in bipolar disorder. Neurosci Biobehav Rev. (2007). 

Won E, Kim YK. An Oldie but goodie: Lithium in the treatment of bipolar disorder through neuroprotective and neurotrophic mechanisms. Int J Mol Sci. (2017). 

Giotakos O. Is impulsivity in part a lithium deficiency state?. Psychiatriki. (2018). 

Schrauzer GN, Shrestha KP. Lithium in drinking water and the incidences of crimes, suicides, and arrests related to drug addictions. Biol Trace Elem Res. (1990). 

Giotakos O, Tsouvelas G, Nisianakis P, et al. A negative association between lithium in drinking water and the incidences of homicides, in Greece. Biol Trace Elem Res. (2015). 

Kessing LV, Gerds TA, Knudsen NN, et al. Association of lithium in drinking water with the incidence of dementia. JAMA Psychiatry. (2017). 

Forlenza OV, Diniz BS, Radanovic M, Santos FS, Talib LL, Gattaz WF. Disease-modifying properties of long-term lithium treatment for amnestic mild cognitive impairment: Randomised controlled trial. Br J Psychiatry. (2011). 

Nunes MA, Viel TA, Buck HS. Microdose lithium treatment stabilized cognitive impairment in patients with Alzheimer’s disease. Curr Alzheimer Res. (2013). 

Abdel-Maksoud MB, Nasr A, Abdul-Aziz A. Lithium treatment in cluster headache, review of literature. Eur. J. Psychiat. (2009). 

Kerr E, Hewitt R, Gleadhill I. Benign headache in the elderly–a case report of hypnic headache. Ulster Med J. (2006). 

Chiu CT, Chuang DM. Neuroprotective action of lithium in disorders of the central nervous system. Zhong Nan Da Xue Xue Bao Yi Xue Ban. (2011). 

Kang E, Wen Z, Song H, Christian KM, Ming GL. Adult neurogenesis and psychiatric disorders. Cold Spring Harb Perspect Biol. (2016). 

Guo S, Arai K, Stins MF, Chuang DM, Lo EH. Lithium upregulates vascular endothelial growth factor in brain endothelial cells and astrocytes. Stroke. (2009). 

Ferensztajn-Rochowiak E, Rybakowski JK. The effect of lithium on hematopoietic, mesenchymal and neural stem cells. Pharmacol Rep. (2016).

Young W. Review of lithium effects on brain and blood. Cell Transplant. (2009). 

Chiu CT, Chuang DM. Neuroprotective action of lithium in disorders of the central nervous system. Zhong Nan Da Xue Xue Bao Yi Xue Ban. (2011). 


Tags: , ,