fbpx
LOGO

Manfaat dan Efek Samping Berbahaya Daun Kratom bagi Tubuh

July 23, 2020
IMG

Kratom (Mitragyna speciosa) atau ketum atau daun purik merupakan tanaman tropis dari famili Rubiaceae yang berasal dari negara Afrika dan Asia Tenggara seperti Thailand, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Papua Nugini.

 

Di Indonesia sendiri, tanaman ini tumbuh di hutan Kalimantan (disebut dengan Borneo kratom) dan Bali (disebut dengan Bali kratom atau red vein, karena daunnya berwarna merah). Terdapat pula jenis Indo kratom, memiliki warna daun hijau, merah, maupun putih yang memiliki efek stimulan paling rendah di antara jenis kratom lain. 

 

Ramuan kratom telah digunakan sejak abad ke-19 untuk menghilangkan rasa sakit, mengobati kecanduan, dan untuk meringankan gejala putus obat terutama dari heroin dan berbagai jenis opium lainnya. Tanaman ini juga digunakan untuk mengobati diare, kelelahan, nyeri otot, batuk, meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan tekanan darah tinggi, menambah energi, mengatasi depresi, anti-diabetes, dan stimulan seksual (1).

 

Kratom mengandung lebih dari 40 jenis senyawa aktif, dan lebih dari 25 alkaloid. Beberapa alkaloid paling aktif adalah mitraginin dan 7-hydroxymitragynine yang berfungsi untuk memperbaiki suasana hati dan memberikan sensasi euforia, seperti opium dan heroin. Kratom juga memiliki efek stimulasi dan depresan serta terbukti memiliki aktivitas analgesik dan anti-inflamasi.

 

Sayangnya, pemakaian dosis lebih tinggi akan menyebabkan kecanduan seperti narkotika. Hal ini yang menjadikan suplementasi kratom dilarang di beberapa negara, seperti Malaysia, Muang Thai, Birma, dan Australia. 

 

Di negara Amerika Serikat, meski badan federasi obat negara ini melarang keras penggunaan kratom karena sangat berkaitan dengan banyak kematian akibat overdosis kratom, legalitasnya masih terus diperdebatkan. Pemerintah AS sendiri masih melegalkan jual beli kratom karena efek positifnya dalam mengatasi berbagai gejala putus obat seperti menekan nyeri, mengobati kecanduan analgesik dan heroin. 

 

Di Indonesia sendiri, hingga kini belum ada larangan penggunaan kratom oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Kratom juga belum diklasifikasikan ke dalam narkotika jenis baru yang diterbitkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika. Meski demikian, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia telah melarang penggunaan kratom sebagai obat tradisional dan suplemen makanan, karena pada dosis rendah kratom memiliki efek stimulan dan pada dosis tinggi memiliki efek sedatif seperti narkotika.

 

Sangat disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi kratom.

 

 

Manfaat

 

1. Meningkatkan Energi

Kratom mengandung mitraginin yang berguna sebagai stimulan, meningkatkan produktivitas dan energi tanpa meningkatkan denyut jantung. Kratom bekerja dengan meningkatkan oksigen dalam aliran darah, sehingga menenangkan dan menstabilkan ketegangan saraf. 

 

Pada sebuah penelitian cross-sectional yang melibatkan 293 masyarakat Malaysia utara, kratom diketahui mampu meningkatkan energi fisik sebanyak 27 hingga 28% terutama pada penggunaan jangka menengah dan panjang. Penelitian tersebut juga mengungkapkan fakta bahwa kratom biasa dikonsumsi seperti layaknya minuman penambah energi. Namun, mengkonsumsi kratom selama lebih dari 6 bulan dapat menimbulkan efek ketergantungan dan gejala putus obat (2, 3).

 

Hasil sebuah penelitian review terhadap kratom juga menyatakan bahwa tanaman ini memiliki efek stimulan dan mencegah terjadinya kelelahan dengan lebih cepat. Kratom juga menghambat pelepasan berbagai mediator peradangan, meningkatkan permeabilitas pembuluh darah, serta imunitas (4).

 

Pada tikus coba, suplementasi kratom dosis rendah juga menimbulkan gerak tanpa henti atau hiperaktif yang merupakan karakteristik peningkatan energi fisik (5). Namun, kedua penelitian tersebut tetap menggarisbawahi adanya efek samping negatif dari penggunaan kratom secara fisik maupun psikologis.

 

2. Mengatasi Kecemasan dan Depresi

Kratom memiliki efek yang mirip dengan opium, seperti morfin atau kodein dalam mengatasi kecemasan dan depresi. Hal ini dikarenakan bahan aktif dalam kratom disebut mitraginin yang bekerja seperti reseptor opium di otak, membantu menghilangkan rasa sakit, menghasilkan efek antidepresan, dan anti-kecemasan.

 

Sebuah review yang dipublikasikan pada tahun 2017 menegaskan bahwa di antara beberapa penggunanya, kratom telah terbukti mampu meningkatkan suasana hati dan mengurangi kecemasan, serta memiliki efek sedatif. Namun, kandungan psikoaktif dalam kratom juga memiliki efek negatif bagi kesehatan mental terutama karena memiliki efek candu dan gejala putus obat yang mirip dengan penggunaan opium dan narkotika sejenis (6). 

 

Pada sebuah survei online yang dilaksanakan pada tahun 2016 di AS, 66% dari 8049 orang partisipan menyatakan menggunakan kratom sebagai self treatment tanpa pendampingan maupun resep medis untuk mengatasi gejala depresi dan kecemasan (7). Bahkan, pada sebuah studi kasus, seorang pasien paruh baya berusia 44 tahun, membutuhkan peningkatan dosis konsumsi kratom dari 4 gram hingga 8 gram dua kali per hari untuk secara sengaja menikmati efek euforia yang dihasilkan dari kratom (8). 

 

Potensi  penyalahgunaan kratom dan menjadi kecanduan terhadap tanaman ini sangatlah besar. Berhenti mengonsumsi kratom justru dapat meningkatkan kecemasan dan depresi, menimbulkan gangguan fokus, menyebabkan kerusakan kognitif jangka panjang, hingga kematian (5). 

 

 

 

3. Menghilangkan Rasa Nyeri

Secara tradisional, kratom digunakan untuk mengatasi berbagai rasa nyeri, seperti nyeri punggung, sakit kepala, ataupun nyeri akibat masalah persendian. Pada penelitian pada hewan, kratom terbukti bersifat analgesik dan anti-nosiseptif, mampu meredakan dan memblokir rasa sakit dengan efek yang menyerupai opium, obat-obatan jenis narkotika yang terbuat dari getah putih tumbuhan poppy (9, 10). 

 

Pada tikus yang diberikan ekstrak kratom secara oral (melalui makanan per hari), menunjukkan penurunan respon nyeri (nosiseptif) yang signifikan terhadap berbagai rangsangan berbahaya seperti hot plate, tes tail-flick, dan tes menggeliat. Penelitian ini juga membandingkan respon nyeri yang signifikan lebih rendah pada tikus yang mendapatkan kratom dibandingkan tikus yang menerima morfin dan aspirin sebagai obat anti nyeri (11).

 

Adapun sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Addiction menyatakan bahwa kratom dapat digunakan untuk membantu menghentikan penyalahgunaan hydromorphone sebagai obat untuk nyeri kronis. Alkaloid yang terkandung dalam daun kratom menempel pada reseptor opium di otak, sehingga mengurangi dan meringankan rasa sakit yang dirasakan di tubuh dan membuat gejala putus obat menjadi lebih ringan (12).

 

4. Membantu Mengatasi Kecanduan Opium

Sejak abad ke-19, kratom telah dikenal dan digunakan secara luas sebagai pengobatan untuk gejala putus obat terutama pada penderita kecanduan opium dan narkotika lainnya. Senyawa mitraginine dan 7-hydroxymitragynine dalam daun kratom membantu mengurangi efek samping putus obat dengan cara kerja berinteraksi dengan reseptor opium di otak, menekan produksi serotonin, norephinephrine, dan dopamin pada batang otak, serta menutup aliran kalsium kepada neuron atau sel saraf (13, 14, 7).  

 

Mengunyah daun kratom secara langsung juga diketahui mampu menghentikan gejala kecanduan obat dengan lebih cepat, dibandingkan dengan mengonsumsi obat-obatan lain yang memiliki efek samping lebih keras dan menyakitkan. Selain itu, kratom tidak menyebabkan hipoventilasi, sebuah kondisi depresi pernafasan yang menjadi penyebab utama kematian karena putus obat jenis opium (15). 

 

Namun di sisi lain, mengonsumsi kratom sendiri sebenarnya juga dapat menimbulkan efek candu yang dapat mengancam nyawa (16).  

 

5. Meningkatkan Fungsi Seksual

Secara tradisional, kratom telah digunakan untuk meningkatkan kesuburan pria dan menjadi alternatif herbal untuk mengatasi ejakulasi dini.

 

Hingga saat ini belum terdapat uji klinis terhadap fungsi seksual pada manusia terutama pria. Namun sebuah penelitian dengan hewan tikus jantan yang diberikan ekstrak kratom per oral selama 14 hari menunjukkan peningkatan jumlah sperma tikus jantan meski tidak diringi dengan morfologi sperma dan motilitas sperma yang lebih baik dari kelompok tikus yang menerima terapi clomifen, sejenis obat penyubur konvensional (17).   

 

 

Sumber Makanan

 

Daun tumbuhan kratom

 

 

Dosis Pemakaian

 

Kratom dapat ditemukan dalam berbagai bentuk sediaan termasuk kapsul, tablet, obat ataupun permen kunyah, cairan, dan ekstraksi murni. Daun kratom segar juga dapat dikonsumsi langsung, atau ekstrak kering sehingga dapat dikonsumsi dengan diseduh seperti teh ataupun diubah menjadi bubuk daun kratom. Beberapa diketahui menggunakan daun kratom seperti rokok ataupun vape, dikeringkan kemudian dibakar untuk dihirup aromanya.  

 

Tidak ada dosis aman dalam penggunaan kratom. Bahkan, berbagai sumber sangat menekankan untuk menghindari penggunaan kratom untuk mengatasi gangguan kesehatan apapun. Penggunaan dosis tinggi dapat menimbulkan efek overdosis dengan efek samping berbahaya dan sangat mengancam nyawa.

 

Berdasarkan pengalaman penggunanya berikut adalah dosis penggunaan kratom dan efek yang ditimbulkan :

 

Dosis rendah bubuk kratom (1-5 gram per hari) dapat menjadi stimulan ringan, meningkatkan energi dan fokus.

 

Dosis sedang (5-15 gram per hari) dapat menimbulkan efek seperti opioid, meredakan nyeri dan menimbulkan euforia.

 

Dosis tinggi (>15 gram per hari) dapat menimbulkan efek sedasi seperti mengantuk.

 

 

Efikasi

 

Efek kratom dapat dirasakan dalam 5 hingga 10 menit setelah konsumsi. Pada dosis rendah hingga sedang, efek kratom dapat bertahan sekitar dua jam. Pada dosis yang lebih tinggi, efeknya dapat bertahan hingga lima jam.

 

 

Efek Samping

 

Lidah mati rasa

Mual dan muntah

Mulut kering

Buang air kecil terus menerus

Sembelit

Agresif 

Halusinasi dan delusi

Gangguan tiroid

 

Mengonsumsi kratom dalam dosis besar juga dapat menyebabkan beberapa gejala yang mengancam jiwa seperti: 

Kesulitan bernapas

Pembengkakan otak

Kejang

Kerusakan hati

Kematian

 

Kratom juga dapat menyebabkan ketergantungan ketika diminum secara teratur. 

 

Pada beberapa orang yang menggunakan kratom secara teratur dan kemudian berhenti meminumnya juga dapat mengalami beberapa gejala putus obat seperti penurunan nafsu makan, diare, nyeri otot dan kejang, berkedut, mata berair, gelisah, sulit tidur, marah, gejala hot flash (rasa panas dan terbakar), dan demam.

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil: Kratom dapat menimbukan gejala putus obat pada bayi setelah dilahirkan

Ibu menyusui

Gangguan mental

 

Hindari mengonsumsi kratom bersama dengan alkohol maupun obat-obatan penenang lain seperti benzodiazepin karena dapat meningkatkan risiko overdosis.

 

Hindari mengendarai kendaraan ataupun mengoperasikan alat setelah mengonsumsi kratom.

 

Hindari mengonsumsi kratom dengan beberapa jenis obat-obatan seperti obat yang dipecah oleh P-glikoprotein (misalnya colchicine, tacrolimus, dan quinidine) atau UG72B7 dan berbagai obat yang dipecah oleh hati, misalnya CYP3A4, CYP2D6, CYP1A2 karena dapat menyebabkan kerusakan organ hati.

 

 

Referensi

Link, Rachael. (2019). Kratom: Harmful banned substance or safe drug addiction treatment?. Dr Axe. Diakses pada 09 Juli 2019.

Novkovic, Biljana. (2019). Kratom (mitragyna speciosa): What it is + effects. Self Hacked. Diakses pada 09 Juli 2019.

Vandergriendt, Carly. (2018). Can you use kratom for depression and anxiety?. Healthline. Diakses pada 09 Juli 2019.

WebMD. (2018). Kratom. WebMD. Diakses pada 09 Juli 2019.

Raini M. Kratom (Mitragyna speciosa korth): Manfaat, efek samping dan legalitas.  Media Litbangkes. (2017). 

Singh D, Müller CP, Vicknasingam BK, Mansor SM. Social functioning of kratom (mitragyna speciosa) users in malaysia. J Psychoactive Drugs. (2015).

Singh D, Müller CP, Vicknasingam BK. Kratom (Mitragyna speciosa) dependence, withdrawal symptoms and craving in regular users. Drug Alcohol Depend. (2014).

Fluyau D, Revadigar N. Biochemical benefits, diagnosis, and clinical risks evaluation of kratom. Front Psychiatry. (2017). 

Yusoff NH, Suhaimi FW, Vadivelu RK, et al. Abuse potential and adverse cognitive effects of mitragynine (kratom). Addict Biol. (2016).

Swogger MT, Walsh Z. Kratom use and mental health: A systematic review. Drug and Alcohol Dependence. (2018). 

Grundmann O. Patterns of kratom use and health impact in the US-Results from an online survey. Drug Alcohol Depend. (2017). 

Hassan Z, Muzaimi M, Navaratnam V, et al. From kratom to mitragynine and its derivatives: Physiological and behavioural effects related to use, abuse, and addiction. Neurosci Biobehav Rev. (2013). 

Matsumoto K, Horie S, Takayama H, et al. Antinociception, tolerance and withdrawal symptoms induced by 7-hydroxymitragynine, an alkaloid from the Thai medicinal herb Mitragyna speciosa. Life Sci. (2005). 

Matsumoto K, Hatori Y, Murayama T, et al. Involvement of mu-opioid receptors in antinociception and inhibition of gastrointestinal transit induced by 7-hydroxymitragynine, isolated from Thai herbal medicine Mitragyna speciosa. Eur J Pharmacol. (2006). 

Sabetghadam A, Ramanathan S, Mansor SM. The evaluation of antinociceptive activity of alkaloid, methanolic, and aqueous extracts of Malaysian Mitragyna speciosa Korth leaves in rats. Pharmacognosy Res. (2010). 

Boyer EW, Babu KM, Adkins JE, McCurdy CR, Halpern JH. Self‐treatment of opioid withdrawal using kratom (Mitragynia speciosa korth). Addiction. (2008).

Chang-Chien GC, Odonkor CA, Amorapanth P. Is kratom the new ‘legal high’ on the block?: The case of an emerging opioid receptor agonist with substance abuse potential. Pain Physician. (2017).

Cinosi E, Martinotti G, et al. Following “the roots” of kratom (mitragyna speciosa): The evolution of an enhancer from a traditional use to increase work and productivity in southeast asia to a recreational psychoactive drug in western countries. Biomed Research International. (2015).

Ward J, Rosenbaum C, Hernon C, McCurdy CR, Boyer EW. Herbal Medicines for the Management of Opioid Addiction. CNS. (2011). 

Trakulsrichai S, Sathirakul K, Auparakkitanon S, et al. Pharmacokinetics of mitragynine in man. Drug Des Devel Ther. (2015). 

Daud M, Syamsudin M, et al. (2011). Effect of short-term ingestion of the methanolic extract of mitragyna speciosa on sperm quality in mice. In: 6th Seminar on Veterinary Sciences, 11-14 Jan. 2011, Faculty of Veterinary Medicine, Universiti Putra Malaysia. Diakses pada 09 Juli 2019.


Tags: , , , , ,