fbpx
LOGO

Manfaat Hemp Protein dan Kontroversi Penggunaannya di Indonesia

July 19, 2020
IMG

Hemp atau Hennep (Cannabis sativa) berasal dari spesies yang sama seperti ganja (Cannabis), dan hanya mengandung sekitar 0,3 hingga 1,5 % THC (tetrahydrocannabinol) yang merupakan senyawa memabukkan pada ganja. Komposisinya diketahui lebih sedikit dibandingkan ganja yang memiliki 5 % hingga lebih THC.

 

Hemp protein sangat umum ditemukan dalam sediaan bubuk atau minyak, di mana keduanya didapatkan dari hasil olahan biji hemp. Hemp mengandung 20 asam amino esensial seperti histidin, leusin, lisin, fenilalanin, dan triptofan, omega-3 dan omega-6, serta sumber asam gamma linolenat (GLA) yang bermanfaat untuk membantu mengobati berbagai kondisi kesehatan seperti gangguan aktivitas dan fokus (ADHD), penyakit jantung, kegemukan, radang sendi, dan alergi kulit. 

 

Meski memiliki berbagai manfaat, di Indonesia penggunaan hemp sendiri masih ilegal. Hal ini dipertegas oleh Undang-undang Narkotika di Indonesia bahwa seluruh bagian dari pohon Cannabis sativa  tidak dapat dimanfaatkan (1).

 

 

Manfaat

 

1. Menurunkan Risiko Penyakit Jantung

Hemp protein mengandung perbandingan asam lemak omega-3 dan omega-6 yang seimbang, sehingga dapat meningkatkan kesehatan jantung. Asam linolenat dan asam amino arginin yang terkandung di dalamnya juga terbukti menyebabkan penurunan pada tekanan darah serta membantu mencegah penyakit jantung koroner karena mencegah penumpukan lemak pada dinding areti koroner dalam jantung (2, 3).

 

Hemp protein juga kaya akan kandungan arginine yakni sebesar 94 – 128 mg per gram bubuk hemp protein. Pada sebuah penelitian nasional yang melibatkan lebih dari 13.000 orang, peningkatan asupan arginin berhubungan dengan penurunan kadar protein C-reaktif (CRP) yang menjadi penanda peradangan.

 

Tingkat CRP yang tinggi dalam darah juga sangat erat berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Asupan berbagai sumber makanan yang kaya akan arginine termasuk hemp protein sangat disarankan untuk mencegah serangan jantung yang tidak diinginkan (4, 5).  

 

Adapun penelitian pada hewan tikus menyatakan bahwa suplementasi biji hemp atau minyak hemp yang kaya akan kandungan asam linoleat (LA) dan alpha-linolic acid (ALA) dapat menurunkan tekanan darah, menurunkan risiko pembentukan bekuan darah dan membantu mengembalikan performa jantung setelah terjadi  serangan jantung akibat iskemia atau penurunan aliran darah pada sel otot jantung (6, 7, 8). 

 

Sebuah penelitian melaksanakan pemberian minyak hemp sebesar 30 ml selama 4 minggu berturut-turut pada orang sehat. Hasilnya terjadi penurunan yang signifikan terhadap kolesterol tipe trigliserida sebanyak hampir 2 mmol/liter darah meski tidak menunjukkan perubahan pada kadar kolesterol jahat (LDL) ataupun kolesterol baik (HDL).

 

Trigliserida merupakan cadangan lemak yang apabila jumlahnya berlebihan dapat meningkatkan risiko jantung akibat obesitas (9). 

 

2. Menjaga Kesehatan Pencernaan

Biji hemp mengandung 80% unsaturated fat dan 20% saturated fat yang berguna secara alami membersihkan usus besar, mencegah terjadinya sembelit, mengeluarkan racun dalam tubuh, serta melindungi tubuh terhadap perkembangan kanker kolorektal (kanker pada usus besar dan anus).

 

Unsaturated fat adalah lemak tidak tersaturasi yang merupakan lemak rantai ganda. Lemak ini sangat baik untuk mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk omega-3 dan omega-6 (10).

 

Hemp protein juga mengandung serat yang baik, dan dapat berfungsi sebagai prebiotik. Serat larut dalam hemp protein membentuk zat seperti gel di usus dan menjadi sumber nutrisi untuk bakteri baik (probiotik) pada pencernaan, serta mengurangi lonjakan gula darah dan mengatur kadar kolesterol (11, 12).

 

Sementara itu, serat yang tidak larut dalam hemp protein bekerja dengan memudahkan jalan bagi makanan dan limbah untuk melewati usus. Hal ini juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit diabetes atau gangguan regulasi gula darah akibat penurunan produksi insulin ataupun kerusakan pada pankreas (13, 14).

 

3. Membantu Meringankan Gejala PMS dan Menopause

80% wanita usia reproduktif mengalami gejala fisik atau emosional yang disebabkan oleh sindrom pramenstruasi (PMS). Kondisi ini terjadi disebabkan oleh adanya sensitivitas tubuh terhadap hormon prolaktin (15).

 

Gamma-linolenic acid (GLA), yang ditemukan dalam biji hemp menghasilkan prostaglandin E1 yang mengurangi efek prolaktin sehingga dapat berguna dalam menekan gejala PMS (16).

 

Sebuah penelitian yang melibatkan 120 orang wanita dengan PMS menyatakan bahwa suplementasi 1 gram asam lemak esensial (termasuk 210 mg GLA) per hari menghasilkan penurunan gejala PMS yang signifikan. Hemp merupakan satu-satunya tumbuhan yang kaya akan kandungan gamma linolenic acid (GLA) atau turunan omega-6 dari tumbuhan yang lebih sehat dibandingkan dengan omega-6 dari sumber lainnya (17). 

 

Penelitian lain juga menyebutkan bahwa GLA dalam hemp protein sangat efektif dalam mengurangi gejala pada wanita yang gagal dalam terapi PMS lainnya, termasuk mengurangi rasa sakit dan nyeri payudara, depresi, lekas marah dan retensi cairan yang terkait dengan PMS (18).

 

4. Meningkatkan Asupan Protein dan Serat

Protein merupakan zat utama yang dibutuhkan tubuh dalam memenuhi kebutuhan metabolisme organ vital, dan sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan dan perkembangan, serta perbaikan sel. Hemp protein disebut sebagai “complete protein” karena mengandung asam amino esensial yang lengkap. Protein jenis edestin dan albumin yang terkandung didalamnya sangat memudahkan tubuh untuk mencerna protein hemp (19). 

 

Karena hal ini, hemp protein juga umum digunakan para atlet selayaknya suplemen protein lain untuk membentuk otot dan membakar lemak untuk tujuan penurunan berat badan. Setiap ¼ gelas (30 gram) hemp protein juga terkandung 7 – 8 gram serat, cukup untuk memenuhi 18 – 28 % kebutuhan harian seseorang akan serat.

 

Dengan asupan protein dan serat yang cukup akan menciptakan rasa kenyang yang cukup lama sehingga menurunkan rasa lapar untuk mengonsumsi berbagai makanan lain secara berlebihan (20).

 

 

Sumber Makanan

 

Biji dari tumbuhan Cannabis sativa 

 

 

Dosis Pemakaian

 

Konsumsi bubuk hemp protein tergantung berdasarkan usia, berat badan, jenis kelamin, dan faktor lingkungan. Awali dengan dosis ringan, 1 sendok teh per hari untuk menghindari efek samping pada gangguan pencernaan

 

Pemulihan pasca olahraga: Bubuk hemp protein dapat menjadi sumber protein tambahan terutama untuk atlet. Dosis 5-7 sendok makan per hari merupakan jumlah ideal. Sumber lain menyebutkan 1,5-2,2 g / Kg berat badan untuk atlet, orang yang sangat aktif, dan sedang diet untuk menurunkan lemak namun tetap mempertahankan massa otot tanpa lemak

 

Pemenuhan nutrisi harian: 0,8 g / Kg berat badan

 

Penderita obesitas disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Dalam hal ini, hitung target Anda berdasarkan berat badan Anda dengan asumsi BMI kelebihan berat badan

 

 

Efek Samping

 

Gas dan kembung

Diare

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui

Penderita alergi protein

Orang dengan riwayat kesehatan, terutama infeksi herpes (termasuk luka dingin) dan kondisi autoimun

Hindari dalam mengombinasikan dengan obat pengencer darah dan obat imunosupresan

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2013). Hemp protein. Examine. Diakses pada 22 Juli 2019.

Price, Annie. (2017). Hemp protein powder: The perfect plant-based protein. Dr Axe. Diakses pada 22 Juli 2019.

Bjarnadottir, Adda. (2018). 6 Evidence-based health benefits of hemp seeds. Healthline. Diakses pada 22 Juli 2019.

Julson, Erica. (2018). Hemp protein powder: The best plant-based protein?. Healthline. Diakses pada 22 Juli 2019.

Narayana D. (2011). Apa itu hemp?. Diakses pada 22 Juli 2019.

American Chemical Society. (2014). New analysis finds hempseed oil packed with health-promoting compounds. American Chemical Society. Diakses pada 22 Juli 2019.

Hord NG. Dietary nitrates, nitrites, and cardiovascular disease. Curr Atheroscler Rep. (2011). 

Wells BJ, Mainous AG 3rd, Everett CJ. Association between dietary arginine and C-reactive protein. Nutrition. (2005).

Ridker PM, Cushman M, Stampfer MJ, Tracy RP, Hennekens CH. Inflammation, aspirin, and the risk of cardiovascular disease in apparently healthy men [published correction appears in N Engl J Med 1997 Jul 31;337(5):356]. N Engl J Med. (1997).

Al-Khalifa A, Maddaford TG, Chahine MN, et al. Effect of dietary hempseed intake on cardiac ischemia-reperfusion injury. Am J Physiol Regul Integr Comp Physiol. (2007). 

Girgih AT, Alashi A, He R, Malomo S, Aluko RE. Preventive and treatment effects of a hemp seed (Cannabis sativa L.) meal protein hydrolysate against high blood pressure in spontaneously hypertensive rats. Eur J Nutr. (2014).

Prociuk MA, Edel AL, Richard MN, et al. Cholesterol-induced stimulation of platelet aggregation is prevented by a hempseed-enriched diet. Can J Physiol Pharmacol. (2008). 

Schwab US, Callaway JC, Erkkilä AT, Gynther J, Uusitupa MI, Järvinen T. Effects of hempseed and flaxseed oils on the profile of serum lipids, serum total and lipoprotein lipid concentrations and haemostatic factors. Eur J Nutr. (2006). 

Slavin J. Fiber and prebiotics: mechanisms and health benefits. Nutrients. (2013). 

Anderson JW, Baird P, Davis RH Jr, et al. Health benefits of dietary fiber. Nutr Rev. (2009). 

Weickert MO, Pfeiffer AF. Metabolic effects of dietary fiber consumption and prevention of diabetes. J Nutr. (2008).

de Munter JS, Hu FB, Spiegelman D, Franz M, van Dam RM. Whole grain, bran, and germ intake and risk of type 2 diabetes: a prospective cohort study and systematic review. PLoS Med. (2007).

Tolossa FW, Bekele ML. Prevalence, impacts and medical managements of premenstrual syndrome among female students: Cross-sectional study in College of Health Sciences, Mekelle University, Mekelle, northern Ethiopia. BMC Womens Health. (2014). 

Rocha Filho EA, Lima JC, Pinho Neto JS, Montarroyos U. Essential fatty acids for premenstrual syndrome and their effect on prolactin and total cholesterol levels: A randomized, double blind, placebo-controlled study. Reprod Health. (2011). 

Kapoor R, Huang YS. Gamma linolenic acid: An antiinflammatory omega-6 fatty acid. Curr Pharm Biotechnol. (2006). 

Horrobin DF. The role of essential fatty acids and prostaglandins in the premenstrual syndrome. J Reprod Med. (1983). 

Tang CH, Ten Z, Wang XS, Yang XQ. Physicochemical and functional properties of hemp (Cannabis sativa L.) protein isolate. J Agric Food Chem. (2006).


Tags: , , ,