fbpx
LOGO

Manfaat Magnesium Sebagai Nootropik

October 14, 2020
IMG

Magnesium merupakan mineral ke4 dengan jumlah paling berlimpah di dalam tubuh. Magnesium membantu mengubah energi dari makanan menjadi sumber bahan bakar utama mitokondria dan diperlukan untuk proses sintesis RNA dan DNA.

 

Di dalam otak, magnesium mengatur aktivitas dalam saluran ion neuron serta plastisitas sinaptik otak yang penting untuk pembelajaran, memori, dan fungsi kognisi. 

 

Magnesium merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak menghasilkan efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, kacang tanah mengandung magnesium yang mampu meningkatkan fungsi kognitif dan menjaga kesehatan otak di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih bisa didapatkan melalui suplementasi magnesium, tanpa perlu mengonsumsi kacang tanah.

 

Jika Anda ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, berikut artikel kami dengan judul Apa itu nootropik?

 

Sebagai nootropik, magnesium tidak banyak mendapat perhatian. Hal ini dikarenakan sebagian besar bentuk magnesium tidak berfungsi dengan baik sebagai suplemen nootropik dan sulit melewati sawar penghalang darah-otak.

 

Jenis magnesium yang direkomendasikan untuk penggunaan nootropik adalah magnesium L-threonate karena jenis suplemen magnesium ini dapat melewati sawar penghalang darah-otak dengan lebih mudah.

 

 

Manfaat

 

1. Meningkatkan fungsi kognitif

Magnesium berperan dalam menjaga neuroplastisitas (kemampuan otak dan sistem saraf untuk berubah secara struktur dan fungsi sebagi respon adaptasi terhadap perubahan lingkungan), sekaligus menunjang pembentukan memori dan pembelajaran.

 

Ion magnesium berperan seperti sakelar listrik ketika semakin banyak sinyal yang ditransmisikan oleh saluran magnesium, akan semakin kuat koneksi antar neuron, dan semakin kuat pembentukan memori yang dihasilkan. Otak juga membutuhkan magnesium untuk menunjang keseluruhan fungsi otak.

 

Magnesium diketahui menjadi energi untuk menjaga proses metabolisme sel, selain berperan dalam proses pembelajaran, pembentukan daya ingat, dan kognisi (1).

 

Pada uji coba hewan, suplementasi magnesium dapat meningkatkan proses pembelajaran pada tikus muda dan tua (2).

 

2. Mengurangi depresi

Magnesium diketahui menekan pelepasan hormon stres ACTH (hormon adrenocorticotrophic) yang bekerja dengan menstimulasi adrenalin untuk melepaskan lebih banyak kortisol dan adrenalin dalam darah.

 

Terlalu banyak kortisol akan merusak hippocampus (bagian sistem limbik yang berperan pada kegiatan mengingat dan navigasi) di otak dan menjadi salah satu penyebab depresi kronis.

 

Hasil penelitian di Norwegia membuktikan asupan magnesium yang rendah berhubungan erat dengan kejadian depresi (3).

 

Studi lain menemukan bahwa suplementasi magnesium meningkatkan kualitas tidur dan menurunkan hormon stres kortisol pada lansia. Magnesium menjadi terapi yang efektif dalam menjaga stabilitas suasana hati (4).

 

3. Meringankan gejala ADHD

ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder) adalah sebuah kondisi gangguan fokus, hiperaktif dan impulsif yang terjadi pada masa anak dan dapat menetap hingga  dewasa. Banyak penelitian yang mendukung klain bahwa salah satu faktor penyebab ADHD adalah kurangnya magnesium.

 

Sebuah penelitian di Polandia menunjukkan bahwa 95% anak dengan ADD (Attention Deficit Disorder) atau ADHD mengalami kekurangan magnesium dalam tubuhnya. Penggunaan magnesium sangat umum digunakan dalam pengobatan ADHD (5).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Sayuran hijau

Kacang-kacangan seperti kacang polong dan kacang tanah

Biji-bijian

Daging unggas

Daging sapi

Salmon

 

 

Dosis

 

Magnesium tersedia dalam bentuk kapsul, tablet kunyah, bubuk, kaplet, atau sirup (larutan cair).

 

Dosis magnesium yang dianjurkan dalam bentuk paling umum adalah 400 mg sehari, dan untuk magnesium-L-threonate yang dianjurkan adalah 1 gram per hari.

 

 

Defisiensi

 

Kekurangan magnesium dapat menyebabkan:

• Kabut otak

• Kecemasan dan depresi

• Kejang

• Hipertensi

• Stroke

• Migrain

ADHD

• Resistensi insulin

• Diabetes tipe II

• Penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer

 

 

Efek Samping

 

Suplementasi magnesium dapat menyebabkan diare dan perut kembung.

 

 

Kontraindikasi

 

Orang lanjut usia

Alkoholisme

Gangguan pendarahan

Diabetes

Blok jantung

Penyakit yang mempengaruhi penyerapan magnesium seperti infeksi lambung, penyakit kekebalan tubuh, penyakit radang usus dan lainnya

Myasthenia gravis

Masalah ginjal, seperti gagal ginjal

Sindrom kaki gelisah (RLS)

 

Berhati-hati dalam mengombinasikan magnesium dengan antibiotik (Aminoglikosida, Quinolone, Tetrasiklin), bifosfonat, obat anti-hipertensi (penghambat saluran kalsium), relaksan otot dan pengikat air (diuretik atau kalium).

 

 

Referensi:

Tomen D. (2017). Magnesium. Nootropics Expert. Diakses pada 12 September 2019.

WebMD. (2018).  Magnesium. WebMD. Diakses pada 12 September 2019.

Yu X, Guan PP, Guo JW, Wang Y, Cao LL, Xu GB, Konstantopoulos K, Wang ZY, Wang P. By suppressing the expression of anterior pharynx-defective-1α and -1β and inhibiting the aggregation of β-amyloid protein, magnesium ions inhibit the cognitive decline of amyloid precursor protein/presenilin 1 transgenic mice. FASEB J. (2015).

Landfield PW, Morgan GA. Chronically elevating plasma Mg2+ improves hippocampal frequency potentiation and reversal learning in aged and young rats. Brain Res. (1984).

Jacka FN, Overland S, Stewart R, Tell GS, Bjelland I, Mykletun A. Association between magnesium intake and depression and anxiety in community-dwelling adults: The hordaland health study. Australian and New Zealand Journal of Psychiatry. (2009).

Held K, Antonijevic IA, Künzel H, Uhr M, Wetter TC, Golly IC, Steiger A, Murck H. Oral Mg(2+) supplementation reverses age-related neuroendocrine and sleep EEG changes in humans. Pharmacopsychiatry. (2002).

Kozielec T, Starobrat-Hermelin B. Assessment of magnesium levels in children with attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Magnesium Research. (1997).


Tags: ,