fbpx
LOGO

Mengenal Bakteri Probiotik dan Manfaatnya bagi Tubuh

July 17, 2020
IMG

Di dalam tubuh manusia, terdapat bakteri jahat dan bakteri baik. Probiotik merupakan bakteri baik yang juga dapat ditemukan pada makanan dan suplemen yang berperan penting bagi kesehatan tubuh, terutama dalam menjaga kesehatan usus.

 

Kulit dan sistem pencernaan menampung 2.000 jenis bakteri, sehingga 70-80 % sistem imun terletak di saluran pencernaan. Para ahli pencernaan sepakat bahwa 85% bakteri baik dan 15% bakteri jahat adalah jumlah seimbang mikroorganisme dalam sistem pencernaan. 

 

Probiotik sendiri telah terbukti efektif dalam mendukung fungsi kekebalan tubuh, mengurangi peradangan, meningkatkan pencernaan yang sehat, serta menjaga kulit yang indah, terutama jika dikombinasikan dengan prebiotik (makanan untuk bakteri baik). Beberapa tugas probiotik antara lain memproduksi vitamin, menekan pertumbuhan bakteri jahat, memproduksi enzim yang dapat menghancurkan bakteri berbahaya, dan menunjang sistem imunitas tubuh. 

 

Terdapat banyak jenis probiotik di pasaran, dan terdapat dua spesies probiotik utama yakni Bifidobacteria dan Lactobacillus. Kedua spesies ini telah dipelajari secara luas dan memiliki efek menguntungkannya pada fungsi kekebalan tubuh, kesehatan pencernaan, penurunan berat badan dan berbagai manfaat lainnya.

 

Probiotik membutuhkan prebiotik untuk dapat hidup dalam saluran pencernaan manusia, prebiotik dapat ditemukan pada sumber makanan yang kaya akan serat seperti buah dan sayuran.  

 

 

Manfaat

 

1. Menjaga Kesehatan Pencernaan

Probiotik memiliki fungsi utama dalam menjaga kesehatan pencernaan, seperti membantu meringankan gejala sindrom iritasi usus besar (IBS), termasuk sakit perut dan kembung. Probiotik berjenis Bifidobacteria dan Lactobacillus misalnya, juga mampu membantu mengobati diare dan membantu penderita intoleransi laktosa atau gula dalam susu sapi. Di sisi lain, Bacillus coagulans menempati peringkat terbaik untuk mengatasi sembelit dan menunjang kesehatan pencernaan. Bakteri tersebut termasuk probiotik terbaik untuk sindrom iritasi usus besar (IBS) serta mengurangi nyeri perut (1).

 

Probiotik jenis Bacillus clausii juga menjadi probiotik terbaik untuk anak-anak yang terkena diare. Sebuah sistematis review terhadap enam penelitian menunjukkan bahwa efek mengonsumsi probiotik ini dapat mengurangi durasi dan frekuensi diare pada 1298 pasien anak-anak dengan diare akut. Bakteri ini juga terbukti aman dan rendah efek samping (2).

 

Pada penyakit celiac atau intoleransi protein gandum, juga terjadi ketidakseimbangan mikrobiota dalam saluran pencernaan akibat diet bebas gluten yang harus dijalani. Suplementasi Bifidobacterium spp. diketahui sangat potensial dalam meningkatkan kualitas kesehatan penderita penyakit celiac (3). 

 

Penggunaan probiotik juga sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya alergi makanan pada anak-anak maupun dewasa. Probiotik memiliki kelebihan keamanan, tahan asam maupun enzim, serta memiliki kemampuan yang baik untuk terikat dalam saluran usus manusia. Kebanyakan probiotik yang telah diteliti adalah golongan Lactobacili dan Bifidobacteria.

 

Probiotik menormalisasi peningkatan permeabilitas lambung dan menunjang keseimbangan mikroekologi dalam saluran pencernaan dengan meningkatkan respon IgA dan respon peradangan dalam usus, sehingga akan terjadi proses degradasi antigen makanan penyebab alergi, modulasi sekresi sitokin Th2 dan menurunkan respon hipersensitivitas oleh IgE (4).  

 

Pada kondisi fatty liver non-alcoholic (penumpukan lemak pada organ hati karena faktor selain penyalahgunaan konsumsi alkohol), terapi menggunakan probiotik diketahui secara signifikan menurunkan kadar aminotransferase, kolesterol total, TNF-α dan memperbaiki resistensi insulin. Empat indikator tersebut merupakan indikator kesehatan liver atau organ hati (5)

 

2. Membantu Menurunkan Berat Badan

Lactobacillus gasseri merupakan salah satu jenis probiotik terbaik untuk tujuan diet atau menurunkan berat badan. Jenis probiotik ini diisolasi dari ASI (Air Susu Ibu).

 

Sebuah penelitian yang dilakukan di British Journal of Nutrition menunjukkan bahwa mengonsumsi Lactobacillus gasseri yang terdapat dalam susu fermentasi setiap hari menyebabkan penurunan berat badan dan lemak tubuh sebanyak 8.5% lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil ini diperoleh setelah dikonsumsi setiap hari selama 12 minggu berturut-turut (6).

 

Penelitian lain juga memiliki temuan serupa, dimana suplementasi 6 kapsul probiotik per hari (2 kapsul setiap 30 menit sebelum makan pagi, siang dan malam) mampu mengurangi lingkar pinggul dan pinggang, dan meningkatkan toleransi terhadap glukosa lebih baik  pada penderita obesitas dengan gula darah puasa sebelumnya yakni  ≥ 100 mg/dL (7).

 

3. Sebagai Anti-Aging dan Menunjang Kesehatan Kulit

Sebuah uji klinis yang diterbitkan dalam Journal of Microbiology and Biotechnology menemukan manfaat suplementasi Lactobacillus plantarum dalam mengurangi kedalaman kerut, meningkatkan kilau, dan meningkatkan elastisitas kulit pada 110 orang sukarelawan penelitian yang berusia antara 41 – 59 tahun hingga hampir 22% setelah 12 minggu konsumsi. Hal ini menunjukkan probiotik ini dapat memiliki manfaat anti-aging (8).

 

Penggunaan probiotik Lactobacillus casei juga berpotensi dalam mencegah terjadinya dermatitis atopik atau eksim pada anak-anak (9). 

 

 

4. Mengurangi Peradangan dan Memperkuat Sistem Kekebalan Tubuh

Beberapa probiotik diketahui sangat bermanfaat dalam mengurangi peradangan dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Lactobacillus plantarum adalah salah satu probiotik yang dapat membantu meningkatkan kekebalan sekaligus mengurangi peradangan pada saluran pencernaan (10).

 

Bakteri Saccharomyces boulardii memiliki efek antimikroba dan antitoksin yang kuat, bakteri ini dapat membantu memblokir pertumbuhan bakteri dan parasit, serta membuang racun berbahaya keluar dari tubuh. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa Saccharomyces boulardii dapat merangsang fungsi kekebalan tubuh, mengurangi penanda peradangan dan memperkuat penghalang saluran pencernaan untuk membantu pencegahan kondisi seperti sindrom leaky gut atau sindrom usus bocor (11).

 

Selain itu, bakteri Bacillus coagulans juga memiliki efek yang sama, ditambah manfaatnya dalam meminimalkan gejala gangguan autoimun tertentu, seperti rheumatoid arthritis (RA). RA adalah sebuah kondisi peradangan pada sendi yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang dirinya sendiri (12).

 

Strain lain dari Bacillus yakni Bacillus subtilis juga menunjukkan efek antivirus. Sebuah penelitian pada hewan yang dilakukan oleh para peneliti di Ukraina, menemukan bahwa efek perlindungannya sebanding dengan Tamiflu, obat yang biasa digunakan untuk mengobati dan mencegah flu (13).

 

5. Mengobati Kecemasan Sosial (Social Anxiety)

Kecemasan sosial juga dikenal dengan sebutan fobia sosial. Sebuah gejala ketakutan atas penilaian dan kritikan orang lain sehingga menimbulkan gejala panik seperti keringat berlebih, tubuh bergetar, ketegangan otot meningkat, kebingungan serta peningkatan detak jantung di atas batas normal.

 

Di Amerika Serikat, kondisi ini dialami hampir 10.7% penduduk negara adidaya tersebut, dan tergolong dalam gangguan kecemasan dan gangguan mood terbesar ketiga di antara kondisi distres lainnya. Banyak hal yang dapat menyebabkan kecemasan atau fobia sosial, faktor keturunan, kepribadian serta tendensi memiliki emosi negatif menyebabkan seseorang berisiko mengalami kecemasan sosial. 

 

Sebuah penelitian menunjukkan potensi probiotik Lactic Acid Bacteria (LAB) sebagai suplemen tradisional untuk mengatasi kecemasan sosial, dikarenakan memiliki profil keamanan yang sangat baik. Penelitian terhadap manusia telah dilaksanakan sebanyak 143 kali dengan total partisipan mencapai 7526 sepanjang tahun 1991 – 1998 (14).  

 

Penelitian lain yang diterbitkan pada tahun 2015 menunjukkan bukti interaksi probiotik yang didapat dari makanan fermentasi bersama dengan frekuensi berolahraga dan karakter neurotisme (mudah gugup, depresi, tidak percaya diri dan berubah pikiran secara signifikan memprediksi terjadinya fobia sosial. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa seseorang berkarakter neurotisme yang mengonsumsi makanan tinggi fermentasi, akan memiliki kecenderungan rendah terhadap terjadinya fobia sosial (15).

 

Sebuah studi acak terkontrol terhadap 20 orang dewasa sehat tanpa gejala gangguan mood yang diberikan suplementasi kombinasi probiotik B. bifidum, B. lactis, L. acidophilus, L. brevis, L. casei, L. salivarius, dan L. lactis selama 4 minggu berturut-turut, Kombinasi tersebut terbukti dapat meningkatkan kadar triptofan dalam darah, menurunkan terjadinya kemunculan berbagai pikiran negatif yang berhubungan dengan mood kesedihan (16).

 

Triptofan adalah asam amino esensial dalam tubuh manusia, dan sangat berperan dalam pembentukan protein dan merupakan perkursor dari melatonin (hormon perangsang tidur), serotonin (hormon kebahagiaan) dan niasin (vitamin B3 untuk menunjang kesehatan sistem saraf).

 

6. Menurunkan Tekanan Darah dan Mencegah Diabetes

Probiotik terbukti dapat memperbaiki gangguan metabolik termasuk gangguan tekanan darah tinggi dan diabetes. Probiotik memiliki kemampuan menurunkan tekanan darah melalui perbaikan profil lipid, meningkatkan kadar antioksidan, menurunkan resistensi insulin, serta mengatur kadar renin pada ginjal (17). 

 

Sebuah update meta-analisis dilaksanakan terhadap 3 juta lebih partisipan penelitian pada tahun 1986 – 2010, dan diketahui terdapat 15.156 kasus penderita diabetes tipe 2 baru di Amerika Serikat.  Berdasarkan hasil analisis dari kuesioner frekuensi makan diketahui bahwa konsumsi yogurt yang tinggi probiotik per hari nya secara konsisten menurunkan risiko terjadinya penyakit diabetes tipe 2 pada total partisipan penelitian (18).

 

Dalam sebuah meta-analisis terhadap 14 penelitian klinis acak, menemukan bahwa kombinasi probiotik dengan prebiotik seperti Lactobacillus rhamnosus GG dan inulin efektif dan merupakan cara yang aman untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh (19). 

 

 

Sumber Makanan

 

Makanan fermentasi adalah sumber terbaik probiotik, diantaranya seperti:

Tempe

Acar (tidak dipanaskan/pasteurisasi)

Keju

Yogurt

Produk susu fermentasi

Miso

Natto

Kimchi

Teh Kombucha

 

Adapun sumber prebiotik (makanan bagi probiotik yang wajib dikonsumsi agar probiotik dapat hidup berfungsi secara optimal dalam saluran pencernaan manusia), antara lain: 

Kacang-kacangan (legume, kacang polong, dan buncis)

Oat

Buah-buahan (pisang dan beri)

Sayuran (daun dandelion, asparagus, bawang putih, bawang merah, dan daun bawang)

 

 

Dosis Pemakaian

 

Suplemen probiotik biasanya tersedia dalam bentuk kapsul, obat tetes/cairan maupun pil. Sangat disarankan untuk memilih suplemen probiotik dengan kualitas merk yang baik, kandungan CFU (Colony Forming Unit) yang tinggi, memiliki tingkat ketahanan dan kekayaan bakterial yang baik dalam saluran pencernaan, mengonsumsi bersama prebiotik sebagai makanan alami bagi probiotik, serta memiliki standar penyimpanan yang sesuai untuk tetap menjaga kualitas bakteri hidup dalam suplemen. 

 

Disarankan untuk mengikuti dosis yang tertera pada label atau berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk menemukan dosis yang tepat. Adapun sebagian sumber menyarankan untuk mengonsumsi probiotik di pagi hari sekitar 15-30 menit sebelum sarapan. Hal ini dilaksanakan untuk memastikan bahwa suplemen probiotik dapat mencapai saluran pencernaan dengan cepat tanpa tertahan oleh makanan yang dikonsumsi ketika sarapan.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Probiotik dapat berinteraksi dengan prebiotik untuk menciptakan sinergisme dan menunjang kesehatan terutama saluran pencernaan. Kombinasi ini dikenal dengan istilah sinbiotik.

 

Beberapa contoh sinbiotik antara lain Bifidobacteria dan Fruktooligosakarida (FOS), Lactobacillus rhamnosus GG dan inulin, Bifidobacteria atau lactobacilli dengan FOS atau inulin atau galactooligosaccharides (GOS), dan polifenol.

 

Contoh sinbiotik pada makanan adalah sauerkraut yakni sejenis makanan khas Jerman berasal dari kubis yang diiris tipis dan difermentasi dengan berbagai bakteri asam laktat seperti Leuconostoc, Lactobacillus dan Pediococcus.

 

 

Defisiensi

 

Kekurangan bakteri baik atau probiotik akan menyebabkan dysbiosis, yang berarti ketidakseimbangan jumlah bakteri bak dan jahat sehingga akan memengaruhi kesehatan tubuh secara negatif.

 

 

Kontraindikasi

 

Disarankan berkonsultasi dengan profesional kesehatan yang memiliki pengetahuan tentang probiotik, karena setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda.

 

Akan tetapi, terdapat beberapa orang yang tidak boleh menggunakan probiotik atau yang berisiko mengalami gejala kesehatan lain jika mengonsumsi probiotik, antara lain:

 

Orang dengan masalah sistem kekebalan tubuh (autoimun)

Orang dengan pertumbuhan berlebih bakteri usus kecil (SIBO) 

Orang yang peka terhadap bahan dalam suplemen

 

 

Efek Samping

 

Efek samping berikut dapat terjadi pada konsumsi probiotik yang berlebihan:

Sakit perut

Diare

Kembung

Reaksi alergi

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2015). Fermented foods, neuroticism, and social anxiety. Examine. Diakses pada 04 Juli 2019.

Axe, Josh. (2019). What are probiotics? a beginner’s guide. Dr Axe. Diakses pada 04 Juli 2019.

Lewis, Sarah. (2017). Probiotics and prebiotics: What’s the difference?. Healthline. Diakses pada 03 Juli 2019.

Nazario, Brunilda. (2018). What are probiotics?. Diakses pada 04 Juli 2019.

Rogha M, Esfahani MZ, Zargarzadeh AH. The efficacy of a synbiotic containing Bacillus Coagulans in treatment of irritable bowel syndrome: A randomized placebo-controlled trial. Gastroenterol Hepatol Bed Bench. (2014). 

Ianiro G, Rizzatti G, Plomer M, et al. Bacillus clausii for the treatment of acute diarrhea in children: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Nutrients. (2018). 

Cristofori F, Indrio F, Miniello VL, De Angelis M, Francavilla R. Probiotics in celiac disease. Nutrients. (2018).

Kirjavainen PV, Apostolou E, Salminen SJ, Isolauri E. New aspects of probiotics – a novel approach in the management of food allergy. Allergy. (2001). 

Ma YY, Li L, Yu CH, Shen Z, Chen LH, Li YM. Effects of probiotics on nonalcoholic fatty liver disease: A meta-analysis. World J Gastroenterol. (2013). 

Kadooka Y, Sato M, Ogawa A, et al. Effect of Lactobacillus gasseri SBT2055 in fermented milk on abdominal adiposity in adults in a randomised controlled trial. Br J Nutr. (2013). 

Jung SP, Lee KM, Kang JH, et al. Effect of Lactobacillus gasseri BNR17 on overweight and obese adults: A randomized, double-blind clinical trial. Korean J Fam Med. (2013). 

Lee DE, Huh CS, Ra J, et al. Clinical evidence of effects of Lactobacillus plantarum HY7714 on skin aging: A randomized, double blind, placebo-controlled study. J Microbiol Biotechnol. (2015).

Lee J, Seto D, Bielory L. Meta-analysis of clinical trials of probiotics for prevention and treatment of pediatric atopic dermatitis. Journal of Allergy and Clinical Immunology. (2008).

Bubnov, R.V., Spivak, M.Y., Lazarenko, L.M. et al. Probiotics and immunity: Provisional role for personalized diets and disease prevention. EPMA Journal. (2015).

Kelesidis T, Pothoulakis C. Efficacy and safety of the probiotic Saccharomyces boulardii for the prevention and therapy of gastrointestinal disorders. Therap Adv Gastroenterol. (2012).

Mandel DR, Eichas K, Holmes J. Bacillus coagulans: A viable adjunct therapy for relieving symptoms of rheumatoid arthritis according to a randomized, controlled trial. BMC Complement Altern Med. (2010). 

Starosila D, Rybalko S, Varbanetz L, Ivanskaya N, Sorokulova I. Anti-influenza activity of a Bacillus subtilis probiotic strain. Antimicrob Agents Chemother. (2017).

Naidu AS, Bidlack WR, Clemens RA. Probiotic spectra of lactic acid bacteria (LAB). Crit Rev Food Sci Nutr. (1999).

Hilimire MR, DeVylder JE, Forestell CA. Fermented foods, neuroticism, and social anxiety: An interaction model. Psychiatry Research. (2015). 

Steenbergen L, Sellaro R, van Hemert S, Bosch JA, Colzato LS. A randomized controlled trial to test the effect of multispecies probiotics on cognitive reactivity to sad mood. Brain Behav Immun. (2015).

Lye HS, Kuan CY, Ewe JA, Fung WY, Liong MZ.  The improvement of hypertension by probiotics: Effects on cholesterol, diabetes, renin, and phytoestrogens. International Journal of Molecular Sciences. (2009).

Chen M, Sun Q, Giovannucci E. et al. Dairy consumption and risk of type 2 diabetes: 3 cohorts of US adults and an updated meta-analysis. BMC Med. (2014).

Nikbakht, E., Khalesi, S., Singh, I. et al. Effect of probiotics and synbiotics on blood glucose: A systematic review and meta-analysis of controlled trials. Eur J Nutr. (2018).


Tags: , , , , ,