fbpx
LOGO

Begini Cara Aman Melakukan Diet Karnivora

August 28, 2020
IMG

Diet karnivora atau The Carnivore Diet adalah diet ketat yang hanya memperbolehkan mengonsumsi daging, ikan, dan makanan hewani lainnya seperti telur dan produk susu tertentu. Diet jenis ini tidak memperbolehkan mengonsumsi buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan.

 

Sekilas diet karnivora terlihat mirip dengan diet keto, karena keduanya sama-sama menekankan asupan lemak dan protein. Hal yang membedakan adalah diet karnivora sama sekali tidak memperbolehkan mengonsumsi karbohidrat, sementara diet keto masih memungkinkan untuk mengonsumsi sedikit karbohidrat. 

 

 

Manfaat Diet Karnivora

 

Mungkin diet ini terlihat ekstrem mengingat konsumsi daging yang berlebih dikaitkan dengan penyebab masalah kesehatan. Meskipun demikian, diet karnivora dikatakan memiliki manfaat kesehatan yang sama seperti diet lainnya. 

 

1. Menjaga Kesehatan Jantung

Lemak jenuh adalah kandungan yang umum ditemukan pada daging. Lemak jenuh telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung. Faktanya, lemak jenuh tidak memiliki pengaruh buruk terhadap jantung dan bahkan terbukti sebaliknya.

 

Lemak terdiri dari dua jenis yaitu lemak jenuh dan tak jenuh. Lemak tak jenuh disebut juga dengan lemak baik karena baik bagi kesehatan jantung.

 

Orang-orang yang dietnya mengandung lemak tak jenuh (ditemukan dalam produk susu), atau lemak jenuh rantai panjang  (ditemukan pada daging), beserta konsumsi protein nabati justru memiliki tingkat risiko terjadinya infark miokard (serangan jantung) yang rendah, bahkan mengurangi peluang terkena serangan jantung. 

 

2. Menurunkan Berat Badan

Mennurut Ryan Munsey, seorang pelatih kinerja dengan gelar dalam ilmu pangan dan nutrisi, mengganti diet keto menjadi diet karnivora selama 35 hari dapat menurunkan berat badan sebanyak 2 kg pada minggu pertama ketika menjalani diet karnivora.

 

Menurutnya, selama menjalani diet karnivora dia merasa kenyang lebih lama dan tidak pernah lapar. Hal ini mungkin dikarenakan kandungan daging yang terdiri dari protein dan lemak. Ia juga mengatakan, diet karnivora menjadikan dirinya hanya makan ketika merasa benar-benar lapar sehingga membuat berat badannya menurun.

 

Beberapa penelitian mengenai peningkatan konsumsi protein sebagai pengganti karbohidrat juga menunjukkan temuan yang sama, dimana protein meningkatkan fungsi metabolisme tubuh sehingga membantu tubuh membakar lebih banyak kalori (1, 2, 3).

 

3. Menurunkan Peradangan atau Inflamasi Berlebih

Sebuah studi tahun 2013 dalam jurnal Metabolism membandingkan kelompok yang makan makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat dengan mereka yang mengikuti diet rendah lemak tinggi karbohidrat. Kalori dibatasi pada kedua kelompok.

 

Setelah penelitian selama 12 minggu, kelompok yang mengonsumsi lemak tinggi memiliki tanda peradangan sistemik yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang mengonsumsi tinggi karbohidrat. Sehingga, para peneliti menyimpulkan bahwa mengonsumsi makanan tinggi lemak mungkin lebih bermanfaat bagi kesehatan jantung (4).

 

4. Menjaga Kesehatan Pencernaan

Sebuah studi tahun 2012 yang diterbitkan di World Journal of Gastroenterology menyelidiki efek dari mengurangi asupan serat pada orang dengan sembelit kronis. Penelitian ini dilakukan selama 6 bulan dan melibatkan partisipan pria dan wanita yang berusia 20 hingga 80 tahun.

 

Mereka diminta untuk tidak mengonsumsi serat selama dua minggu pertama, kemudian mereka diizinkan untuk meningkatkan asupan serat mereka ke tingkat yang mereka sukai, atau mengikuti diet tinggi serat.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang makan serat tinggi melaporkan tidak ada perubahan dalam kondisi mereka, tetapi mereka yang tidak makan atau makan sedikit serat mencatat perbaikan yang signifikan terkait gejala yang mereka rasakan, termasuk berkurangnya gas, kembung, dan mengejan (5).

 

5. Meningkatkan Kadar Testosteron

Diet tinggi lemak telah terbukti meningkatkan kadar testosteron, yaitu hormon seks laki-laki yang berfungsi untuk meningkatkan libido, energi dan fungsi imun.

 

Penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition membuktikan bahwa pria yang mengikuti diet tinggi lemak dan rendah serat selama 10 minggu memiliki testosteron total 13% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat (6).

 

6. Meningkatkan Fokus

Seperti halnya dengan diet ketogenik, pelaku diet karnivora melaporkan adanya peningkatan berpikir lebih jernih dan memiliki fokus yang lebih baik. Efek ini terlihat dalam beberapa hari atau seminggu setelah melakukan diet karnivora.

 

 

Apakah Diet Karnivora Aman?

 

Hingga saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan manfaat kesehatan jangka panjang dari diet karnivora. Mengonsumsi daging tentunya harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu dimana biasanya akan ada tambahan beberapa bahan masakan lain, salah satunya yaitu sodium.

 

Terlalu banyak sodium dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, dan masalah kesehatan lainnya, termasuk beberapa jenis kanker seperti kanker usus besar dan kanker dubur.

 

Menjalankan diet karnivora ketat juga dapat mengakibatkan kekurangan nutrisi penting, seperti vitamin, serat dan mineral, yang bersumber dari buah, sayur, kacang dan biji-bijian utuh. Bukan hanya itu, pelaku diet karnivora juga akan kekurangan senyawa antioksidan yang berfungsi menangkal radikal bebas dan melindungi tubuh. 

 

Akan tetapi, Stephen D. Phinney, MD, Ph.D., penulis buku The Art and Science of Low-Carbohydrate Living, membantah hal tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan tidak adanya karbohidrat, tubuh mungkin tidak membutuhkan banyak vitamin C, sehingga asupan kecil sudah mencukupi. Selain itu, keseimbangan mikroba pada usus tampaknya tidak terganggu dengan diet karnivora. 

 

Diet karnivora tidak cocok dilakukan oleh anak-anak, ibu hamil atau menyusui, penderita penyakit ginjal, dan sensitif terhadap kolesterol.

 

 

 

Kekurangan Diet Karnivora

 

Banyaknya pelaku diet karnivora akan menyebabkan ketidakseimbangan lingkungan. Peningkatan permintaan daging secara drastis pasti akan berdampak buruk pada planet ini.

 

Mendukung praktik pertanian organik dan makan makanan  lokal adalah cara pintar untuk meningkatkan kesejahteraan hewan dan mengurangi polutan. Selain itu, tanaman juga memiliki manfaat potensial terhadap kesehatan yang tidak dapat diabaikan, seperti antioksidan, anti kanker, dan antiinflamasi.

 

Diet karnivora juga sulit dilakukan ketika Anda sedang dalam perjalanan, sehingga tidak memungkiri Anda harus mengonsumsi makanan non-daging.

 

Untuk mendapatkan manfaat kesehatan jangka panjang, Anda dapat menambahkan beberapa buah, sayur, dan karbohidrat ke dalam menu diet karnovira Anda. Hal tersebut merupakan salah satu cara melakukan diet karnivora secara aman

 

 

Referensi:

Hyson S. (2019). The carnivore diet: Is eating only meat healthy, or totally f@#$ing crazy?. Onnit. Diakses pada 21 Agustus 2019.

Streit L. (2019). All you need to know about the carnivore (all-meat) diet. Healthline. Diakses pada 21 Agustus 2019.

Paddon-Jones D, Westman E, Mattes RD, Wolfe RR, Astrup A, Westerterp-Plantenga M. Protein, weight management, and satiety. Am J Clin Nutr. (2008). 

Layman DK, Evans EM, Erickson D, et al. A moderate-protein diet produces sustained weight loss and long-term changes in body composition and blood lipids in obese adults. J Nutr. (2009). 

Soenen S, Bonomi AG, Lemmens SG, et al. Relatively high-protein or ‘low-carb’ energy-restricted diets for body weight loss and body weight maintenance?. Physiol Behav. (2012).

Ruth MR, Port AM, Shah M, et al. Consuming a hypocaloric high fat low carbohydrate diet for 12 weeks lowers C-reactive protein, and raises serum adiponectin and high density lipoprotein-cholesterol in obese subjects [published correction appears in Metabolism. 2014 Mar;63(3):e1]. Metabolism. (2013). 

Ho KS, Tan CY, Mohd Daud MA, Seow-Choen F. Stopping or reducing dietary fiber intake reduces constipation and its associated symptoms. World J Gastroenterol. (2012). 

Dorgan JF, Judd JT, Longcope C, et al. Effects of dietary fat and fiber on plasma and urine androgens and estrogens in men: a controlled feeding study. Am J Clin Nutr. (1996). 


Tags: ,