fbpx
LOGO

Mengenal Koenzim Q10 (CoQ10) Sebagai Nootropik

September 25, 2020
IMG

Koenzim Q10 (CoQ10) merupakan antioksidan alami dan sumber energi sel tubuh. CoQ10 juga merupakan bahan bakar mitokondria yang bekerja dengan mengambil lemak dan zat lainnya kemudian mengubahnya menjadi energi yang dapat digunakan. Bentuk suplemen dari koenzim Q10 disebut ubiquinol.

 

Ubiquinol merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak menghasilkan efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, daging sapi mengandung koenzim Q10 yang mampu meningkatkan fungsi kognisi dan melindungi sel otak pada waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih baik bisa didapat melalui suplementasi ubiquinol, tanpa perlu mengonsumsi daging sapi.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

 

Manfaat

 

1. Dapat meningkatkan pembelajaran dan memori

Sebuah uji coba hewan yang dilakukan di University of Texas membuktikan suplementasi CoQ10 dan vitamin E secara tunggal maupun kombinasi dapat meningkatkan proses belajar pada tikus.

 

Setelah melewati serangkaian tes, terdapat peningkatan fungsi belajar, memori, dan psikomotorik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kombinasi CoQ10 dengan vitamin E bekerja secara efektif dalam meningkatkan kinerja tikus di semua tes (1).

 

2. Memperlambat kerusakan mitokondria

Kerusakan mitokondria dapat terjadi seiring bertambahnya usia. Kerusakan mitokondria akan menyebabkan malfungsi memicu kematian sel terutama neuron.

 

Hal ini juga mengakibatkan terjadinya kabut otak, masalah kognisi, memburuknya fungsi memori, pembelajaran, bahkan dapat meningkatkan risiko stroke, serta penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, dan Huntington.

 

Sebuah studi menunjukkan bahwa CoQ10 mampu melindungi dan mencegah kerusakan sel dengan meningkatkan level energi. Dalam studi tikus, campuran CoQ10 pada pakannya mampu mengurangi kerusakan sel otak sebesar 30%, dan memulihkan produksi energi pada tikus akibat induksi racun (2).

 

3. Melindungi dari stres oksidatif

Kematian neuron yang disebabkan oleh stres oksidatif berimplikasi pada sejumlah penyakit neurodegeneratif, termasuk Alzheimer, Parkinson, dan stroke.

 

Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Windsor, Kanada menunjukkan bahwa CoQ10 mampu mencegah stres oksidatif dan kerusakan neuron pada otak manusia yang terpapar racun paraquat yang dapat menyebabkan apoptosis dan fragmentasi DNA (3).

 

 

 

4. Mencegah migrain, depresi, dan gangguan bipolar

Hingga saat ini belum diketahui pasti penyebab terjadinya migrain, namun berbagai spekulasi disebutkan bahwa migrain sangat berkaitan dengan tingkat energi dalam metabolisme otak.

 

Suplementasi CoQ10 diketahui mampu meredakan sakit kepala migrain terutama pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa karena menghasilkan penurunan frekuensi dan panjang migrain secara signifikan (4)

 

Pemberian 1.200 mg CoQ10 per hari juga mampu menurunkan gejala depresi, bipolar, dan skizofrenia pada pasien lansia (5).

 

5. Meredakan sindrom Perang Teluk

Sindrom perang teluk adalah kondisi yang menyerang para tentara veteran Amerika Serikat yang menerima misi pada Perang Teluk Persia periode Pertama tahun 1990.

 

Penyakit Perang Teluk muncul akibat paparan pestisida, gas saraf sarin, dan racun lainnya selama perang berlangung. Gejalanya meliputi kelelahan, nyeri otot, kelemahan, dan penurunan fungsi kognitif.

 

Pemberian CoQ10 100 mg dalam bentuk pil selama 3 ½ bulan pada penderita sindrom Perang Teluk berhasil menurunkan gejala kesakitan pada hampir 80% orang partisipan. Hal ini berkorelasi dengan peningkatan kadar CoQ10 dalam darah (6).

 

 

Sumber Makanan

 

Daging sapi

Hati

Sarden

Makarel

Mentega

Minyak zaitun murni

 

 

Dosis

 

Dosis umum CoQ10 yang direkomendasikan untuk dewasa sehat adalah 30 – 400 mg setiap hari.

Sebagai antioksidan: CoQ10 60 – 150 mg setiap hari.

• Mengobati gejala Alzheimer: 400 mg CoQ10 setiap hari.

 

 

Interaksi Sinergi 

 

CoQ10 aman dikombinasikan dengan berbagai sumber antioksidan terutama vitamin E. Kombinasi ini terbukti dapat meningkatkan fungsi kognitif secara optimal.

 

 

Efek Samping

 

Pusing

Sensitivitas terhadap cahaya

Mudah marah

Sakit kepala

Kelelahan

 

 

Kontraindikasi

 

Gangguan perdarahan

Tekanan darah rendah

Diabetes

 

Berhati-hati dalam mengkombinasikan CoQ10 dengan obat-obatan pengatur tekanan darah, obat pengencer darah, obat anti-diabetes, dan aspirin.

 

Referensi

Tomen D. (2017). Coenzyme q10 (coq10). Nootropics Expert. Diakses pada 09 September 2019.

McDonald SR, Sohal RS, Forster MJ. Concurrent administration of coenzyme Q10 and alpha-tocopherol improves learning in aged mice. Free Radic Biol Med. (2005). 

Beal MF, Henshaw DR, Jenkins BG, Rosen BR, Schulz JB. Coenzyme Q10 and nicotinamide block striatal lesions produced by the mitochondrial toxin malonate. Ann Neurol. (1994). 

McCarthy S, Somayajulu M, Sikorska M, Borowy-Borowski H, Pandey S. Paraquat induces oxidative stress and neuronal cell death; neuroprotection by water-soluble Coenzyme Q10. Toxicol Appl Pharmacol. (2004). 

Hershey AD, Powers SW, et al. Coenzyme Q10 deficiency and response to supplementation in pediatric and adolescent migraine. Headache. (2007). 

Forester BP, Zuo CS, Ravichandran C, Harper DG, Du F, Kim S, Cohen BM, Renshaw PF. Coenzyme Q10 effects on creatine kinase activity and mood in geriatric bipolar depression. J Geriatr Psychiatry Neurol. (2012).

Golomb BA, Allison M, Koperski S, Koslik HJ, Devaraj S, Ritchie JB. Coenzyme Q10 benefits symptoms in Gulf War veterans: results of a randomized double-blind study. Neural Comput. (2014).


Tags: , , ,