fbpx
LOGO

Mengetahui Penyebab dan Cara Mengatasi Depresi

September 7, 2020
IMG

Depresi tampaknya menjadi masalah kesehatan mental yang sudah umum terjadi pada kebanyakan orang.

 

Pada tahun 2017, Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa sekitar 322 juta orang atau lebih dari 4 persen populasi global saat ini hidup dengan depresi.

 

Para ahli kesehatan masyarakat (Kesmas) juga memperkirakan bahwa pada tahun 2020, depresi kemungkinan akan menempati peringkat pertama gangguan kesehatan mental.

 

Depresi dapat dialami oleh siapapun. Beberapa survei dan penelitian menemukan bahwa depresi dialami dua kali lebih banyak pada wanita dibandingkan pria.

 

Hal ini dikaitkan dengan perubahan hormonal dan banyak mengalami bentuk spesifik dari penyakit yang berhubungan dengan depresi, termasuk pubertas, premenstrual syndrome (PMS), masa kehamilan, depresi pasca persalinan, perimenopause dan menopause, serta keadaan dan budaya kehidupan.

 

Sementara sekitar 2-4 persen anak-anak dan 8 persen remaja di Amerika Serikat melaporkan mengalami depresi pada tahun-tahun tertentu. Mereka yang mengalami episode depresi lebih cenderung mengalami depresi berulang sebagai orang dewasa dan berisiko lebih besar untuk bunuh diri.

 

Faktor risiko depresi untuk populasi di atas beragam, antara lain:

• Jenis kelamin wanita.

• Riwayat keluarga depresi.

• Kondisi kesehatan kronis.

• Kelebihan berat badan atau obesitas.

• Mengalami peristiwa traumatis (termasuk bencana alam).

• Menyaksikan atau menjadi korban kekerasan.

• Mengalami ketidakpastian tentang orientasi seksual atau identitas jenis kelamin.

• Tinggal bersama anggota keluarga yang memiliki gangguan mental ataupun penyalahgunaan zat. 

 

Sedangkan depresi lebih jarang dialami oleh orang tua yang berusia 65 tahun ke atas. Namun, tingkat bunuh diri karena depresi lebih tinggi pada orang tua daripada demografi lainnya.

 

Depresi pada orang dewasa yang lebih tua dapat disembunyikan oleh kondisi kesehatan lain sehingga mempersulit diagnosis dan perawatan. Penggunaan simultan beberapa obat (biasanya lima atau lebih) pada orang dewasa yang lebih tua dapat meningkatkan risiko terkena depresi. 

 

 

Penyebab Depresi

 

Walaupun belum diketahui secara pasti, penyebab depresi dikaitkan dengan berbagai faktor termasuk psikologis, fisiologis, dan lingkungan. Memiliki kondisi medis kronis juga meningkatkan risiko seseorang terkena depresi.

 

Berikut ini beberapa penyebab depresi:

 

1. Trauma

Trauma fisik dan emosional merupakan faktor risiko yang kuat untuk mengembangkan depresi di masa dewasa, terutama sebagai respons terhadap stres tambahan. 

 

2. Peradangan berlebih (Inflamasi)

Peradangan terjadi ketika tubuh terkena paparan patogen seperti virus atau bakteri, sehingga tubuh melakukan respon inflamasi sebagai kekebalan tubuh.

 

Dampak dari respons ini adalah “bias inflamasi” atau kecenderungan tubuh untuk meluncurkan respons sembarangan terhadap stresor. Peradangan kronis dapat mengembangkan banyak penyakit, termasuk depresi.

 

3. Gangguan neurogenesis

Neurogenesis adalah proses pembentukan neuron baru yang sangat penting selama perkembangan embrionik dan berlanjut di daerah otak tertentu sepanjang umur manusia. Gangguan pada neurogenesis dewasa dan kehilangan atau kegagalan konektivitas dikaitkan dengan depresi dan dikatakan dapat menghambat respons terhadap terapi antidepresan.

 

4. Ritme sirkadian yang terganggu

Ritme sirkadian adalah siklus yang mengatur fungsi tidur, makan, metabolisme, dan lain-lain. Isyarat eksternal, disebut zeitgebers, atau “pemberi waktu,” memberikan isyarat pada jam internal tubuh untuk mengatur proeses tersebut.

 

Asupan makanan dan paparan cahaya adalah dua zeitgebers yang paling kuat, sehingga ritme sirkadian dikatakan memiliki implikasi mendalam bagi kesehatan mental dan suasana hati. 

 

Cahaya secara langsung memengaruhi produksi melatonin, hormon yang mengatur respons tubuh terhadap kegelapan dan memengaruhi suasana hati. Orang yang mengalami gangguan afektif musiman, umumnya dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD), menunjukkan peningkatan signifikan setelah pemberian melatonin.

 

Selain itu, orang yang mengalami depresi sering menunjukkan pola siklus gejala depresi yang lebih parah di pagi hari.

 

5. Faktor genetik (turunan/bawaan)

Depresi dapat dikategorikan sebagai kondisi turunan atau bawaan dari keluarga. Faktor genetik berkontribusi terhadap kerentanan seseorang terhadap depresi. Temuan dari meta-analisis yang menyelidiki epidemiologi genetik depresi menunjukkan bahwa sekitar sepertiga hingga setengah risiko pengembangan depresi disebabkan oleh pengaruh genetik. 

 

6. Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan memiliki efek samping depresi, terutama isotretinoin (obat anti-jerawat), varenicline (umumnya dikenal sebagai Chantix®, obat penghentian merokok), imonabant dan taranabant (obat anti-obesitas), dan banyak kelas obat kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Pemberian obat-obatan dengan jumlah banyak sekaligus dapat meningkatkan risiko terkena depresi.

 

7. Kesehatan pencernaan yang terganggu

Ketidakseimbangan mikroba pada usus memiliki kaitan dengan depresi. Stres, diet, dan suasana hati dapat bekerja bersama atau secara independen mempengaruhi populasi mikroba usus, yang pada akhirnya menyebabkan dysbiosis atau ketidakseimbangan komposisi keseluruhan dan kurangnya keragaman mikroba. 

 

8. Kekurangan nutrisi

Penelitian menunjukkan bahwa orang dengan depresi sering kekurangan beberapa nutrisi penting yang terlibat dalam memodulasi peradangan, neurogenesis, dan aspek metabolisme, termasuk folat, vitamin B6 dan B12, dan asam lemak omega-3. Kekurangan lebih dari empat nutrisi tersebut dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk mengalami depresi.

 

 

Gejala Depresi

 

Depresi seringkali disamakan dengan stres. Padahal kedua hal tersebut sangat berbeda. Tanda dan gejala yang dapat dilihat dari depresi yaitu sebagai berikut :

 

Perasaan sedih, bersalah atau putus asa. 

Kehilangan minat pada hal-hal yang disukai.

Perubahan signifikan dalam pola tidur, seperti kesulitan tidur atau terlalu banyak tidur.

Kelelahan atau sakit yang tidak dapat dijelaskan atau gejala fisik lainnya tanpa sebab yang jelas.

Masalah berkonsentrasi atau mengingat sesuatu.

Perubahan nafsu makan menyebabkan penurunan berat badan yang signifikan atau penambahan berat badan.

Rasa sakit dan nyeri fisik.

Merasa seolah hidup ini tidak layak dijalani, atau berpikir untuk bunuh diri.

 

Jika Anda mengalami beberapa gejala di atas, segeralah menemui psikologi untuk meminta diagnosis lebih lanjut.

 

Melakukan self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri sangatlah berbahaya, diantaranya menyebabkan kesalahan penanganan dan memperburuk kondisi kesehatan.

 

 

Mengatasi Depresi

 

Meskipun depresi mungkin tampak luar biasa, ada banyak pengobatan yang efektif, bahkan depresi berat seringkali dapat berhasil diobati.

 

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi depresi yaitu:

 

1. Intervensi kesehatan masyarakat

Strategi untuk mengobati orang dewasa yang lebih tua dengan depresi dapat melalui pemanfaatan kegiatan terstruktur seperti olahraga dan strategi pemecahan masalah, dalam hubungannya dengan psikoterapi dan / atau konsumsi antidepresan. Ini terbukti efektif dalam mengurangi jumlah hari peserta mengalami gejala depresi.

 

2. Perbanyak aktivitas fisik

Beberapa penelitian yang melakukan pengamatan telah menemukan bahwa orang yang aktif secara fisik lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami depresi. Berolahraga dan memperbanyak aktivitas fisik mempengaruhi berbagai respons neurogenik dan neuroprotektif yang membantu menangani gejala depresi. 

 

3. Melakukan diet sehat

Mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan ikan berlemak dikaitkan dengan berkurangnya gejala depresi. Buah-buahan dan sayuran menyediakan nutrisi penting seperti vitamin folat dan vitamin B, senyawa bioaktif seperti polifenol, isotiosianat, stilbena, dan lainnya.

 

Senyawa ini menimbulkan respons hormon dalam tubuh yang memicu stres seluler ringan, dan menginduksi jalur respons stres yang dapat mengurangi peradangan dan melindungi sel dari kerusakan. 

 

Mengonsumsi asam lemak omega-3 dan probiotik juga mampu menurunkan gejala depresi dan mengurangi pikiran-pikiran negatif yang berkaitan dengan perasaan sedih.

 

4. Melakukan sauna

Mandi sauna mampu membuat tubuh lebih rileks. Penggunaan sauna juga telah terbukti mengurangi gejala depresi, yang mungkin disebabkan oleh ekspresi protein peredam panas, regulator transkripsi, dan faktor pro dan antiinflamasi.

 

5. Menemui profesional kesehatan atau pelayanan kesehatan

Jika tidak yakin dengan cara diatas, menemui profesional kesehatan mungkin menjadi opsi terakhir yang paling baik.

 

Pertama-tama, pertimbangkan untuk menemui penyedia perawatan primer Anda terlebih dahulu – misalnya, dokter keluarga, dokter penyakit dalam, praktisi perawat, dokter kandungan atau ginekolog.

 

Jika perlu, penyedia perawatan primer Anda dapat merujuk Anda ke profesional kesehatan mental. 

 

 

 

Referensi:

Found My Fitness. (2019). Depression. Found My Fitness. Diakses pada 19 Agustus 2019.

Mayo Clinic. (2019). Depression in women: Understanding the gender gap. Mayo Clinic. Diakses pada 19 Agustus 2019. 


Tags: ,