fbpx
LOGO

Mengonsumsi Jamur dapat Mengurangi Risiko Alzheimer

August 26, 2020
IMG

Jamur atau cendawan adalah tumbuhan tanpa klorofil yang umum diolah menjadi hidangan makanan atau obat. Jamur mengandung banyak antioksidan, serat, protein, vitamin dan mineral, sehingga memiliki banyak manfaat kesehatan pada tubuh. 

 

Karena manfaatnya yang besar, jamur banyak diteliti efek positifnya untuk kesehatan otak dan kognitif. Para peneliti menganggap bahwa mengonsumsi jamur dalam porsi kecil mengurangi risiko untuk terkena mild cognitive impairment (MCI) atau gangguan kognitif ringan yang merupakan salah satu gejala penyakit Alzheimer. 

 

Sebuah penelitian dilakukan di National University of Singapore (NUS) dan dipublikasi dalam Journal of Alzheimer’s Disease. Penelitian tersebut dilakukan selama enam tahun, sejak 2011 hingga 2017, dan melibatkan data dari lebih dari 600 manula Tionghoa di atas usia 60 tahun yang tinggal di Singapura.

 

Para peneliti berfokus pada konsumsi beberapa jamur paling umum yang dimakan orang di Singapura, seperti jamur emas, jamur tiram, jamur shitake, jamur kancing putih, jamur kering dan jamur kancing kalengan. Peneliti mendefinisikan ukuran porsi jamur sebagai tiga perempat cangkir jamur matang per porsi, dengan berat rata-rata sekitar 150 gram.

 

Lansia yang menderita MCI sering menunjukkan beberapa bentuk lupa serta defisit pada fungsi kognitif lainnya seperti bahasa, perhatian dan kemampuan visuospatial. Namun, perubahannya bisa tidak terlihat, karena hal tersebut tidak sampai memengaruhi aktivitas kehidupan sehari-hari, yang merupakan karakteristik dari Alzheimer dan bentuk demensia lainnya.

 

Menurut Lei Feng, asisten peneliti di National University of Singapore (NUS), orang dengan MCI masih dapat melakukan kegiatan normal sehari-hari. Untuk mengukur hubungan antara konsumsi jamur dan risiko terjadiya MCI, para peneliti juga mengukur kemampuan kognitif para peserta. Maka dari itu, partisipan diberikan tes neuropsikologis dan wawancara untuk menentukan diagnosis yang akurat. 

 

“Wawancara tersebut mempertimbangkan informasi demografis, riwayat medis, faktor psikologis, dan kebiasaan diet. Seorang perawat akan mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, pegangan tangan, dan kecepatan berjalan. Mereka juga akan melakukan tes layar sederhana pada kognisi, depresi, dan kecemasan.” jelas Asisten Prof Lei Feng.

 

 

Benarkah Jamur Dapat Mengurangi Risiko MCI?

 

Hasil temuan yang dilakukan para peneliti National University of Singapore (NUS) menunjukkan bahwa manula yang mengonsumsi lebih dari dua porsi standar jamur (satu porsi sekitar 150 gram) setiap minggunya memiliki risiko 50 persen lebih rendah terkena gangguan kognitif ringan (MCI) (1).  

 

Dr. Irwin Cheah, rekan dari Asisten Prof. Lei Feng mengatakan bahwa para ilmuwan sangat tertarik pada senyawa yang disebut ergothioneine (ET). Senyawa ini merupakan antioksidan dan anti-inflamasi unik yang tidak dapat disintesis oleh manusia.

 

Mereka meyakini, senyawa ET memiliki dampak langsung pada risiko penurunan fungsi kognitif. Hal ini diperkuat dengan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biochemical and Biophysical Research Communications yang menyebutkan bahwa ET dapat diperoleh dari sumber makanan, salah satunya jamur (2).

 

Para peneliti juga mengungkapkan bahwa jamur tidak hanya mengandung senyawa ET, tapi jamur juga mengandung banyak zat lain, termasuk hericenones, erinacine, scabronine, dan dictyophorines, yang mungkin berperan pada pada pertumbuhan neuron (sel otak) dan kesehatan otak.

 

Senyawa bioaktif dalam jamur juga dapat melindungi otak dari degenerasi saraf dengan menghambat produksi beta amiloid dan fosforilasi tau, dan asetilkolinesterase. 

 

 

Referensi:

National University of Singapore. (2019). Eating mushrooms may reduce the risk of cognitive decline. Science Daily. Diakses pada 06 Agustus 2019.

Cohut M. (2019). Does eating mushrooms protect brain health?. Medical News Today. Diakses pada 06 Agustus 2019. 

Feng L, Cheah IK, Ng MM, et al. The association between mushroom consumption and mild cognitive Impairment: A community-based cross-sectional study in Singapore. J Alzheimers Dis. (2019).

Halliwell B, Cheah IK, Drum CL. Ergothioneine, an adaptive antioxidant for the protection of injured tissues? A hypothesis. Biochem Biophys Res Commun. (2016).


Tags: