fbpx
LOGO

Manfaat Mineral Molibdenum dan Dampak Kekurangannya bagi Tubuh

July 29, 2020
IMG

Molibdenum atau Molybdenum (Mo) adalah mineral penting dalam tubuh, seperti besi dan magnesium. Molibdenum dibutuhkan oleh enzim tertentu agar dapat bekerja dengan baik. Molibdenum membantu dalam memproses asam amino yang mengandung sulfur seperti metionin dan sistein. Molibdenum juga memproduksi asam urat, serta mineral penting dari email gigi.

 

Kandungan molibdenum dalam sumber makanan amat dipengaruhi kandungan dan kualitas mineral dalam tanah. Konsumsi molibdenum secara khusus melalui suplementasi sangat jarang dilaksanakan karena kebutuhan akan mineral ini telah tercukupi dari konsumsi berbagai makanan di alam.

 

Sumber nabati yang kaya akan kandungan molibdenum yaitu kacang, lentil, dan biji-bijian. Sedangkan dari sumber hewani, molibdenum banyak terkandung dalam jeroan seperti hati dan ginjal.

 

 

Manfaat

 

1. Membantu Mengobati Beberapa Penyakit Kronis

Reaksi kimia yang dihasilkan molibdenum telah digunakan untuk mengembangkan senyawa yang disebut tetrathiomolybdate (TM). TM memiliki kemampuan untuk mengurangi kadar tembaga dalam darah dan sedang diteliti sebagai pengobatan potensial untuk penyakit Wilson (penumpukan tembaga pada hati, otak, dan kornea mata), penyakit kanker serta multiple sclerosis (yakni penyakit gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang) (1, 2, 3, 4).

 

2. Berperan Sebagai Kofaktor untuk Berbagai Enzim Penting

Molibdenum sangat penting untuk berbagai proses dalam tubuh dan bertindak sebagai kofaktor (senyawa non-protein untuk aktivitas biologis) melalui empat enzim. Keempat enzim tersebut adalah sulfit oksidase, aldehid oksidase, xanthine oksidase, dan mitokondrial amidoxime.

 

Enzim sulfit oksidase berfungsi mencegah penumpukan sulfit yang berbahaya di dalam tubuh. Aldehid oksidase berfungsi memecah kumpulan aldehid (disebut aldehydes), yang menjadi racun bagi tubuh, membantu hati memecah alkohol, serta mendetoksifikasi tubuh dari beberapa efek obat keras seperti yang digunakan dalam terapi kanker (obat-obatan kemoterapi).

 

Xanthine oksidase mengubah xanthine menjadi asam urat, membantu memecah nukleotida, bahan pembangun DNA, ketika tidak diperlukan lagi. Sedangkan mitokondrial amidoxime berperan dalam menghilangkan produk sampingan yang beracun dari hasil metabolisme tubuh.

 

Keempat enzim tersebut secara bersama juga terlibat dalam pengolahan sulfit dan memecah produk limbah dan racun dalam tubuh. Sulfit merupakan salah satu jenis zat pengawet yang biasa digunakan dalam industri makanan dan farmasi. Kelebihan sulfit dalam tubuh dapat menyebabkan hipotensi, diare, masalah kulit, hingga kesulitan bernapas (5). 

 

 

 

Sumber Makanan

 

Kacang tanah

Kacang hijau

Kacang merah

Biji labu

Jeroan, terutama organ hati dan ginjal

Seoritae, sejenis kedelai hitam

 

 

Dosis

 

Dosis dapat berbeda sesuai dengan jenis kelamin, usia, dan kondisi kesehatan. Pada dewasa sehat, dosis molibdenum yang direkomendasikan adalah 0,045 miligram per hari, dengan dosis maksimum sebesar 2 miligram per hari.

 

Namun, bagi beberapa orang dewasa, konsumsi molibdenum dengan dosis 0,3 – 0,8 miligram per hari dapat menyebabkan efek samping serius, sehingga disarankan untuk memulai konsumsi dengan dosis yang sangat rendah dan dilakukan dibawah pengawasan dokter.

 

 

Defisiensi

 

The Recommended Dietary Allowance (RDA) menyatakan bahwa orang dewasa harus mendapatkan sekitar 0,045 miligram molibdenum setiap hari (6). Karena tubuh hanya membutuhkan molibdenum dalam jumlah sedikit dan mineral ini banyak tersedia dalam makanan, kekurangan molibdenum jarang terjadi.

 

Kekurangan molibdenum dikaitkan dengan peningkatan resiko gigi berlubang. Defisiensi molibdenum juga dapat membuat kadar senyawa yang mengandung sulfur (metionin dan tiosulfat) dalam darah meningkat, sementara kandungan asam urat menurun. 

 

Defisiensi molibdenum yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang lebih buruk. Pada sebuah kasus, seorang pasien rumah sakit menerima nutrisi melalui infus atau melalui pembuluh darah vena. Tim dokter tidak menambahkan molibdenum ke dalam asupan nutrisi harian pasien tersebut, sehingga terjadilah beberapa gejala kesehatan yang mengancam jiwa yakni peningkatan detak jantung dan pernapasan, muntah, disorientasi dan akhirnya pasien mengalami koma (7).

 

Kekurangan molibdenum jangka panjang telah diamati pada beberapa populasi dan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan. Di satu daerah kecil di China, kasus kanker kerongkongan 100 kali lebih umum terjadi dibandingkan di Amerika Serikat. Peneliti kemudian menemukan bahwa bahwa tanah di daerah tersebut mengandung tingkat molibdenum yang sangat rendah, sehingga menghasilkan efek samping defisiensi molibdenum jangka panjang (8).

 

Kekurangan molibdenum juga ditemukan di wilayah utara Iran dan Afrika Selatan, dua wilayah tersebut memiliki penduduk dengan resiko tinggi terserang kanker (9, 10).

 

Pada kasus yang sangat jarang, defisiensi molibdenum pada bayi juga dapat menyebabkan kelainan otak, keterlambatan perkembangan dan kematian anak. Hingga kini terdapat sekitar 100 kasus kelainan perkembangan otak pada anak akibat defisiensi molibdenum yang dilaporkan secara global (11).

 

 

Efek Samping

 

Konsumsi molibdenum dalam dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping seperti:

Kejang

Halusinasi

Kerusakan otak permanen

Gout

Memperburuk kesehatan tulang

Infertilitas atau kemandulan

 

 

Kontraindikasi

 

Anak-anak

Ibu hamil atau menyusui

Penderita penyakit gout/radang sendi akibat asam urat berlebih

 

 

Referensi

Eng, Mathew. (2019). Molybdenum deficiency symptoms & causes in Humans. Self Hacked. Diakses pada 26 Agustus 2019.

Rowles, Alexandra. (2017). Why molybdenum is an essential nutrient. Healthline. Diakses pada 26 Agustus 2019.

WebMD. (2018). Molybdenum. WebMD. Diakses pada 26 Agustus 2019. 

Brewer GJ, Askari F, Dick RB, et al. Treatment of Wilson’s disease with tetrathiomolybdate: V. Control of free copper by tetrathiomolybdate and a comparison with trientine. Transl Res. (2009).

Redman BG, Esper P, Pan Q, et al. Phase II trial of tetrathiomolybdate in patients with advanced kidney cancer. Clin Cancer Res. (2003).

Wei H, Zhang WJ, McMillen TS, Leboeuf RC, Frei B. Copper chelation by tetrathiomolybdate inhibits vascular inflammation and atherosclerotic lesion development in apolipoprotein E-deficient mice. Atherosclerosis. (2012). 

Hou G, Abrams GD, Dick R, Brewer GJ. Efficacy of tetrathiomolybdate in a mouse model of multiple sclerosis. Transl Res. (2008). 

Vally H, Misso NL. Adverse reactions to the sulphite additives. Gastroenterol Hepatol Bed Bench. (2012). 

Institute of Medicine (US) Panel on Micronutrients. Dietary reference intakes for vitamin A, vitamin K, arsenic, boron, chromium, copper, iodine, iron, manganese, molybdenum, nickel, silicon, vanadium, and zinc. Washington (DC): National Academies Press (US); 2001. Diakses pada 26 Agustus 2019. 

Abumrad NN, Schneider AJ, Steel D, Rogers LS. Amino acid intolerance during prolonged total parenteral nutrition reversed by molybdate therapy. Am J Clin Nutr. (1981). 

Blot WJ, Li JY, Taylor PR, et al. Nutrition intervention trials in Linxian, China: Supplementation with specific vitamin/mineral combinations, cancer incidence, and disease-specific mortality in the general population. J Natl Cancer Inst. (1993). 

Nouri M, Chalian H, Bahman A, et al. Nail molybdenum and zinc contents in populations with low and moderate incidence of esophageal cancer. Arch Iran Med. (2008). 

Ray SS, Das D, Ghosh T, Ghosh AK. The levels of zinc and molybdenum in hair and food grain in areas of high and low incidence of esophageal cancer: a comparative study. Glob J Health Sci. (2012). 

Ichida K, Aydin HI, Hosoyamada M, et al. A Turkish case with molybdenum cofactor deficiency. Nucleosides Nucleotides Nucleic Acids. (2006).


Tags: