fbpx
LOGO

Pecinta Ikan, Berikut Daftar Ikan yang Sebaiknya Tidak Dikonsumsi

November 18, 2020
IMG

Ikan adalah sumber potensial asam lemak omega 3. Akan tetapi, karena emisi bahan bakar fosil, metal berat seperti merkuri mencemari air menyebabkan zat berbahaya tersebut terkumpul di dalam ikan.

 

Sayangnya, bahkan level merkuri yang rendah dari seafood yang terkontaminasi menjadi ancaman serius dan menyebabkan efek-efek yang sangat merugikan, khususnya untuk perkembangan janin.

 

Beberapa ikan terlalu banyak ditangkap sehingga mereka berada di ambang kepunahan. Dan jika ikan-ikan ini sampai habis akan berimbas pada ekosistem laut dan banyak sekali spesies-spesies lainnya yang kita butuhkan untuk nutrisi.

 

Berikut ini adalah jenis-jenis ikan yang tidak boleh dikonsumsi:

 

 

Salmon Budidaya 

 

Ikan salmon terkenal akan kandunga omega-3 nya yang tinggi. Sayangnya, kebanyakan salmon budidaya terkontaminasi dengan pestisida, tinja, bakteri dan parasit, terutama yang dipasarkan sebagai salmon “Atlantik”. Pada kenyataannya, salmon Atlantik liar yang asli dilindungi karena terdaftar sebagai ikan yang terancam punah menurut Endangered Species Act.

 

Ikan salmon hasil budidaya akuakultur adalah alasan terbesar spesies ini tidak bisa kembali jumlahnya, ditambah masalah-masalah lain seperti perubahan iklim, polusi air dan ekstraksi air (dari bendungan, sungai dan air bawah tanah).

 

Budidaya akuakultur di Indonesia umum dilakukan dengan sarana kolam atau empang, tambak, tangka, karamba, serta karamba apung.  

 

Berikut ini adalah alasan-alasan lain mengapa salmon budidaya tidak baik dikonsumsi:

1. Kadar omega 3 pada salmon budidaya menurun dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah salmon budidaya diberi makan lebih sedikit ikan teri (1).

 

2. Level dioxin pada salmon budidaya 11 kali lebih tinggi daripada salmon liar. Dioxin merupakan zat kimia “kotor” yang tersimpan di sel-sel lemak, dan dikaitkan dengan risiko kanker, kerusakan organ, dan disfungsi sistem kekebalan tubuh (2, 3).  

 

3. Salmon budidaya berpotensi meningkatkan berat badan, risiko sindrom metabolisme, dan gejala-gejala diabetes tipe 2 (4).

 

4. Ikan budidaya mendukung penangkapan ikan berlebihan. Salmon merupakan ikan karnivora, dan diperlukan 1 sampai 2 kg ikan santapan salmon untuk menghasilkan sekitar setengah kilo salmon budidaya. Hal ini akan merugikan ekosistem alami (5). 

 

Untungnya, salmon Alaska hasil tangkapan adalah salah satu pilihan makanan laut yang terbaik untuk alternatif Anda. 

 

 

Belut

 

Belut atau yang disebut unagi dalam menu restoran sushi, lamban mencapai usia dewasa dan terlalu banyak ditangkap di banyak tempat di seluruh dunia sehingga menyebabkan beberapa populasi menurun. Monterey Bay Aquarium’s Seafood Watch pun menempatkannya dalam daftar ikan yang perlu dihindari paa panduan sushi mereka (6).

 

Disamping masalah penangkapan berlebihan, belut cenderung menyerap dan menyimpan kontaminan pengganggu endokrin, atau penyakit yang terkait dengan kelenjar endokrin di otak yang mengatur hormon.

 

Di beberapa negara bagian Amerika Serikat seperti New Jersey, belut sungai banyak terkontaminasi sampai orang dewasa disarankan untuk memakan hanya seekor belut setahun (7).

 

 

Ikan Berkumis/Catfish Budidaya

 

Di Indonesia, ikan catfish termasuk juga dengan ikan patin, ikan basa/tra, ikan swai, dan striped catfish. Sebuah penelitian dari tahun 2016 menemukan 70-80% sampel ikan patin terkontaminasi bakteri vibrio, mikroba di balik keracunan kerang paling banyak. Baik ikan patin mentah ataupun setengah matang dapat menimbulkan bahaya bagi konsumen (8).

 

Kolam ikan patin di Vietnam menghasilkan sistem produksi makanan yang paling intensif dan produktif di dunia. Metode ternak ini merusak kehidupan sungai dan rawa-rawa, dan ikan berenang di air limbah dan lumpur. Ikan-ikan ini juga diberi berbagai macam antibiotik, pestisida, dan disinfektan. 

 

Pada tahun 2017, Eropa menolak setidaknya 17 pengiriman ikan patin karena kandungan residu antibiotik. Amerika Serikat pun, pada 2016 mengembalikan hampir 20.000 kilogram jenis-jenis ikan berkumis karena masalah kontaminasi seperti malachite green, obat hewan untuk ikan yang sakit (9, 10).

 

 

Udang Budidaya

 

90 persen udang yang kita konsumsi adalah hasil budidaya. Sayangnya udang budidaya cenderung terpapar senyawa berbahaya, seperti: 

 

4-hexylresorcinol: tambahan pangan untuk mencegah udang kehilangan warna. Efek sampingnya dapat mengurangi jumlah sperma pria dan meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita (11, 12).

 

Neurotoxic organophosphate: pestisida yang berkaitan dengan risiko ADHD, berkurangnya daya ingat, dan tremor (gemetaran).

 

Malachite green (hijau malakit): berfungsi sebagai antimikroba pada akuakultur, namun kontroversial karena senyawa ini tersimpan dalam udang dalam waktu yang lama. 

 

Organotin: untuk membunuh moluska, seperti siput, sebelum diisi udang. Senyawa kimia ini mengganggu hormon karena menyerupai estrogen dan dijuluki “obesogen”, yaitu mengganggu sistem hormon dan menyebabkan konsumen mengalami obesitas (13).

 

Food and Water Watch menyatakan bahwa pengoperasian budidaya udang secara intensif rata-rata hanya baik selama 7 tahun. Setelah itu polusi dan patogen di dalam kolam akan cukup berbahaya sampai udang tidak mungkin bisa hidup. 

 

 

Ikan Pedang (Swordfish)

 

Ikan pedang mengandung merkurinya yang sangat tinggi. Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency) merekomendasikan wanita dan anak-anak untuk tidak mengonsumsinya. Untuk pria, direkomendasikan agar tidak memakan lebih dari satu sajian per bulan (14).

 

 

Ikan Hiu

 

ada beberapa alasan kenapa hiu tidak sebaiknya dikonsumsi. Sebagai raja lautan, hiu ada di posisi yang tinggi dalam rantai makanan yang artinya kandungan merkurinya juga tinggi baik sebagai makanan maupun ketika sudah berbentuk suplemen. 

 

Selain itu, kebanyakan spesies hiu membutuhkan waktu lama menjadi dewasa dan tidak bisa menghasilkan banyak keturunan sehingga kelangsungan spesiesnya mengkhawatirkan. Ditambah lagi, permintaan sirip ikan hiu dalam menu masakan Asia cukup tinggi (15). 

 

 

 

Ikan Raja Makerel (King Mackerel)

 

Ikan makarel kaya dengan omega 3. Namun spesies makerel tertentu perlu dihindari karena kandungan merkurinya yag tinggi. Food and Drug Administration memperingatkan wanita dan anak-anak agar menghindari mengonsumsi ikan raja makerel (king mackerel).

 

Selain king mackerel, Spanish mackerel juga perlu dihindari. Untungnya, Atlantic mackerel mengandung omega 3 yang tinggi dan rendah merkuri. Karena itu, Atlantic mackerel dinilai sebagai pilihan utama untuk kesehatan dan keberlanjutan.

 

 

Tuna Sirip Biru Atlantik

 

Ikan yang banyak ditangkap untuk sushi ini sudah hampir mendekati kepunahan. Namun karena permintaan daging ikan ini yang tinggi, ikan ini masih diperbolehkan ditangkap (17).  

 

Jumlah tuna sirip biru (bluefish tuna) hanya 2,6% dari tingkat populasi bersejarah. Usaha untuk melindungi nasib ikan ini sudah dilakukan namun pelarangan-pelarangan dan usaha konservasi belum mencapai kata sepakat (18).

 

Disamping kehancuran populasinya, ikan ini merupakan ikan predator besar yang mengandung level merkuri tinggi, sehingga lebih baik dihindari (19). 

 

 

Tilapia

 

Menurut Wake Forest University School of Medicine, Tilapia adalah salah satu ikan yang dikonsumsi secara luas di benua Amerika. Sayangnya, tilapia mengandung omega 3 yang sangat rendah dan omega 6 sangat tinggi. 

 

Omega 3 memiliki manfaat yang lebih besar bagi kesehatan, sehingga mengonsumsi tilapia tidak cukup memenuhi asupan omega-3 kita.

 

Selain itu makanan yang mengandung omega 3 yang rendah namun tinggi omega 6 berbahaya untuk penderita penyakit jantung, radang sendi, asma dan gejala-gejala penyakit autoimun dan alergi lainnya. Hal ini dikarenakan, mereka yang menderita penyakit dan gangguan tersebut rentan mengalami respon peradangan yang berlebihan.

 

Menurut sebuah penelitian tahun 2008, mengonsumsi ikan tilapia budidaya dapat menyebabkan peradangan. Bahkan, menurut para ilmuwan dari Wake Forest, bahayanya melebihi konsumsi makanan olahan seperti burger, donat, dan daging babi karena kandungan asam lemak omega 6-nya yang tinggi (20, 21).

 

 

 

King Crab atau Raja Kepiting Impor

 

Raja Kepiting yang paling dicari salah satunya adalah Alaskan King Crab yang dipanen dari Alaska. Namun, banyak kasus raja kepiting yang bukan dari Alaska dilabeli dan dipasarkan sebagai Alaskan King Crab. Raja kepiting dalam jumlah besar juga ditangkap di Rusia dan perairan internasional dan dilabeli dengan nama yang sama, padahal harusnya dengan Russian King Crab.

 

Permintaan raja kepiting yang tinggi akhirnya menyebabkan perlunya konservasi. Pada 2005, Alaska memberlakukan aturan penangkapan yang ketat, misalnya kepiting betina tidak boleh dijual, dan jika kepiting yang belum dewasa tertangkap maka harus dilepaskan.

 

Sayangnya, di Rusia, peraturan penangkapan masih kurang baik dan menyebabkan stok raja kepiting di ambang kepunahan. Menurut The Pacific Scientific Research Institute of Fishery and Oceanography menemukan bahwa karena perburuan, jumlah kepiting betina di Rusia merosot hingga 84%.

 

Harga raja kepiting cukup mahal, karena itu Anda perlu memastikan asal dari kepiting raksasa tersebut.

 

 

Orange Roughy

 

Dalam komunitas ilmiah, orange roughy secara umum disebut sebagai si kepala lendir. Akan tetapi, ia dijual dengan nama yang lebih menarik dan terdengar lebih lezat serta ditangkap secara berlebihan. Orange roughy adalah salah satu spesies laut yang dapat hidup paling lama. Ikan ini mampu hidup hingga 150 tahun. 

 

Sayangnya ikan ini membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai usia dewasa, setidaknya ketika berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan mereka sangat lama bereproduksi. Karena itu, populasinya menurun dan dapat memakan waktu setengah abad atau lebih lama sebelum jumlah populasinya kembali pulih.

 

Selain itu, orange roughy adalah ikan besar yang hidup di dekat dasar laut ketika dewasa dan diketahui mengandung kadar merkuri yang tinggi (22, 23). 

 

 

Caviar (Beluga Sturgeon)

 

Beluga sturgeon adalah ikan langka yang banyak dicari karena telur ikannya yang disebut dengan caviar. Ikan ini dapat tumbuh hingga sangat besar dan hidup sampai 100 tahun.

 

Satu ekor ikan dapat membawa beberapa ton caviar. Harga caviar bisa mencapai $3.500,- per pound atau lebih dari Rp100 juta per kilogramnya, hingga menjadikan beluga sturgeon ikan paling mahal di dunia bagi nelayan. 

 

Menurut Oceana, sebuah organisasi internasional yang berfokus pada laut, ikan yang dipanen demi caviar yang mahal ini berada dalam bahaya besar. Beluga sturgeon telah hilang dari laut dan sungai habitat asli mereka.

 

Para ilmuwan khawatir beluga sturgeon terancam punah bila tidak dilindungi dan diusahakan keberlangsungan spesiesnya (24).

 

 

Ikan Jenis Sturgeon

 

Sementara ikan beluga sturgeon secara khusus diburu demi telur ikannya, ikan sturgeon lainnya juga  berada dalam bahaya. Sebagian ikan sturgeon disajikan di restoran.

 

Menurut International Union for Conservation of Nature, ikan sturgeon lebih terancam daripada kelompok spesies lainnya (25).  

 

 

Kerapu

 

Ikan kerapu adalah spesies yang terancam akibat penangkapan yang berlebihan dan kandungan merkuri yang tinggi (25, 26). 

 

 

Referensi

World Wild Life. Farmed seafood. World Wild Life. Diakses pada 18 Februari 2019.

NOAA Fisheries. Endangered species conservation. NOAA Fisheries. Diakses pada 18 Februari 2019.

Food and Water Watch. (2009). Suspicious shrimp. Food and Water Watch. Diakses pada 18 Februari 2019. 

Ghosh P. (2016). Omega-3 oils in farmed salmon ‘halve in five years’. BBC News. Diakses pada 18 Februari 2019. 

Hites RA, Foran JA, Carpenter DO, Hamilton MC, Knuth BA, Schwager SJ. Global assessment of organic contaminants in farmed salmon. Science. (2004).

WHO. (2016). Dioxins and their effects on human health. WHO. Diakses pada 18 Februari 2019. 

Ibrahim MM, Fjære E, et al. Chronic consumption of farmed salmon containing persistent organic pollutants causes insulin resistance and obesity in mice. PLoS One. (2011).

Weiss KR. (2002). Fish farms become feedlots of the sea. LA Times. Diakses pada 18 Februari 2019. 

Monterey Bay Aquarium SeafoodWatch. National consumer guide. Monterey Bay Aquarium SeafoodWatch. Diakses pada 18 Februari 2019. 

The Salt. (2016). New jersey river polluters fund toxic fish swap — but there’s a snag. The Salt. Diakses pada 18 Februari 2019. 

Kulawik P, Migdał W, Gambuś F, Cieślik E, Özoğul F, Tkaczewska J, Szczurowska K, Wałkowska I. Microbiological and chemical safety concerns regarding frozen fillets obtained from Pangasius sutchi and Nile tilapia exported to European countries. J Sci Food Agric. (2016). 

Monterey Bay Aquarium SeafoodWatch. (2014). Pangasius (pangasianodon hypophthalmus).  Monterey Bay Aquarium SeafoodWatch. Diakses pada 18 Februari 2019.

News Desk. (2016). Food & water watch urges continuation of catfish inspections. Food Safety News. Diakses pada 18 Februari 2019. 

Amadasi A, Mozzarelli A, et al. Identification of xenoestrogens in food additives by an integrated in silico and in vitro approach. Chem. Res. Toxicol. (2009).

Science News. (2009). Two food additives have previously unrecognized estrogen-like effects. Science News. Diakses pada 18 Februari 2019.

Grün F, Blumberg B. Environmental obesogens: Organotins and endocrine disruption via nuclear receptor signaling. Endocrinology. (2006).

EDF Seafood Selector. Swordfish. EDF Seafood Selector. Diakses pada 18 Februari 2019.

EDF Seafood Selector. Shark. EDF Seafood Selector. Diakses pada 18 Februari 2019.

Oceana. (2010). Atlantic bluefin tuna. Oceana. Diakses pada 18 Februari 2019. 

EDF Seafood Selector. Tuna. EDF Seafood Selector. Diakses pada 18 Februari 2019.

Weaver KL, Ivester P, Chilton JA, Wilson MD, Pandey P, Chilton FH. The content of favorable and unfavorable polyunsaturated fatty acids found in commonly eaten fish. J Am Diet Assoc. (2008).

Wake Forest. (2008). Wake forest researchers say popular fish contains potentially dangerous fatty acid combination. Wake Forest. Diakses pada 18 Februari 2019.

Rosen A. (2016). Your alaskan king crab may not be from alaska. Fox News. Diakses pada 18 Februari 2019.

Oceana. (2010). Orange roughy. Oceana. Diakses pada 18 Februari 2019. 

EDF Seafood Selector. Orange roughy. EDF Seafood Selector. Diakses pada 18 Februari 2019.

WWF Panda. Sturgeon. WWF Panda. Diakses pada 18 Februari 2019.

EDF Seafood Selector. Grouper. EDF Seafood Selector. Diakses pada 18 Februari 2019.

Monterey Bay Aquarium SeafoodWatch. Grouper. Monterey Bay Aquarium SeafoodWatch. Diakses pada 18 Februari 2019. 


Tags: