fbpx
LOGO

Penelitian Terbaru: Konsumsi Suplemen Vitamin D Mampu Turunkan Risiko Diabetes

August 26, 2020
IMG

Vitamin D adalah vitamin yang larut dalam lemak yang memainkan sejumlah peran penting dalam tubuh, termasuk menjaga kesehatan tulang, gigi, sendi, serta membantu fungsi sistem kekebalan tubuh.

 

Vitamin D dapat ditemukan pada sumber makanan dan juga diproduksi oleh tubuh sebagai respon terhadap paparan sinar matahari. Ketika kulit terpapar sinar ultraviolet-B (UVB) matahari, tubuh mengubah turunan kolesterol menjadi vitamin D. Faktanya, setiap sel dan jaringan dalam tubuh memiliki reseptor protein vitamin D. 

 

Kekurangan vitamin D berdampak negatif terhadap tubuh. Beberapa literatur mengungkapkan bahwa kekurangan vitamin D dapat mengakibatkan nyeri tulang dan kelemahan otot, sistem kekebalan tubuh yang melemah, hingga depresi. Sementara defisiensi jangka panjang dapat menyebabkan obesitas, tekanan darah tinggi, psoriasis, osteoporosis, kelelahan kronis, penyakit Alzheimer, kanker serta diabetes tipe 2. 

 

 

Suplemen Vitamin D Mampu Menurunkan Risiko Diabetes

 

Banyak penelitian awal yang mengungkapkan bahwa sebenarnya suplemen vitamin D tidak memiliki efek signifikan terhadap peningkatan fungsi metabolisme pada pasien diabetes. Namun hasil temuan ini dibantah oleh penelitian terbaru yang dilakukan oleh Laval University, Quebec.

 

Peneliti di Laval University baru saja merilis temuan penelitian bahwa suplemen vitamin D dapat memperlambat perkembangan diabetes tipe 2 pada pasien yang baru didiagnosis dan pasien dengan prediabetes. Penelitian yang diterbitkan di European Journal of Endocrinology menyarankan suplementasi vitamin D dosis tinggi untuk meningkatkan metabolisme glukosa dan membantu mencegah perkembangan diabetes.

 

Dalam penelitian tersebut, tim Universitas Laval meneliti efek suplementasi vitamin D pada metabolisme glukosa pada pasien yang baru didiagnosis diabetes tipe 2 atau memiliki resiko tinggi mengembangkan kondisi tersebut. Penanda fungsi insulin dan metabolisme glukosa diukur sebelum dan setelah enam bulan suplementasi vitamin D dosis tinggi (sekitar 5-10 kali dosis yang dianjurkan).

 

Meskipun pada awal penelitian, hanya 46% dari peserta penelitian memiliki kadar vitamin D yang rendah, suplementasi dengan vitamin D secara signifikan mampu meningkatkan sensitivitas insulin dalam jaringan otot peserta setelah enam bulan penelitian.

 

Menurut Claudia Gagnon, MD, asisten profesor di Laval University, hasil tidak signifikan pada penelitian terdahulu diduga karena mekanisme perbaikan fungsi metabolisme lebih sulit untuk dideteksi pada mereka yang memiliki penyakit jangka panjang atau penyakit kronis.

 

Selain itu, peneliti juga menduga jika hal ini berkaitan dengan jangka waktu perawatan. Ia mengatakan butuh waktu yang lebih lama untuk dapat melihat manfaat pemberian vitamin D.

 

Gagnon mengungkapkan dibutuhkan peneitian lebih lanjut untuk mengevaluasi apakah ada faktor klinis atau genetik individu yang mempengaruhi bagaimana setiap individu yang berbeda menanggapi suplemen vitamin D, serta bagaimana efek positif dan keamanan pada metabolisme jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

 

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan kami, untuk mengidentifikasi apakah beberapa orang mungkin mendapat manfaat lebih dari intervensi ini, dan untuk mengevaluasi keamanan suplementasi vitamin D dosis tinggi dalam jangka panjang. Sampai saat itu saya akan menyarankan agar rekomendasi suplemen vitamin D saat ini diikuti” tambahnya.

 

 

 

Referesi:

GEN. (2019). Supplementation with vitamin d could slow diabetes progression. Genetic Engineering and Biotechnology News. Diakses pada 07 Agustus 2019.

The Global Diabetes Community. (2018). Vitamin d and diabetes. Diabetes. Diakses pada 07 Agustus 2019.

 


Tags: