fbpx
LOGO

Pro dan Kontra Manfaat Pala bagi Kesehatan

July 23, 2020
IMG

Pala adalah rempah-rempah yang umum ditemukan pada hidangan Indonesia. Rempah ini berasal dari pohon pala (Myristica fragrans) yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Tanaman ini dapat tumbuh tinggi hingga 15 meter, memiliki buah yang berbentuk seperti buah pir dan bijinya dapat ditumbuk menjadi rempah pala.

 

Meskipun lebih umum digunakan untuk rasanya daripada manfaatnya bagi kesehatan, pala mengandung beragam senyawa kuat. Mengonsumsi pala dapat membantu mencegah penyakit dan meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, termasuk meningkatkan kesehatan jantung, menunjang kesehatan dan fungsi otak, menurunkan peradangan dan banyak manfaat lain. Terlebih lagi, pala juga berkhasiat membantu memasok sejumlah kecil nutrisi penting bagi tubuh, termasuk serat, magnesium, kalsium dan zat besi.

 

 

Manfaat

 

1. Menjadikan Tidur Lebih Baik

Menambahkan sejumput bubuk pala ke dalam segelas susu hangat sebelum tidur dapat mengatasi gangguan tidur atau insomnia sekaligus meningkatkan kualitas tidur. Dalam sebuah penelitian, mengonsumsi kapsul bubuk pala selama empat minggu berturut-turut terbukti memperbaiki gejala insomnia sekaligus meningkatkan suasana hati dan mengurangi kelelahan (1).

 

Penelitian lain dengan model hewan yang diterbitkan dalam Journal of Ethnopharmacology menunjukkan bahwa ekstrak pala secara signifikan meningkatkan durasi tidur pada ayam (2).

 

2. Menjaga Kesehatan Pencernaan

Pala terbukti memiliki sifat anti-bakteri dan melindungi tubuh dari berbagai strain bakteri yang berbahaya. Beberapa penelitian telah membuktikan manfaat pala dalam menghambat pertumbuhan strain bakteri Escherichia coli patogenik yang berbahaya seperti O157.

 

Sifat patogenik dari bakteri ini dapat menyebabkan diare, sakit perut, demam, dan berbagai gangguan pencernaan lainnya. Sedangkan pada strain yang non patogenik, bakteri E. coli menunjukkan toleransi yang baik pada ekstrak pala (1, 4).

 

Secara historis, pala telah digunakan dalam pengobatan tradisional Ayurveda, India untuk mengatasi diare. Sebuah uji coba klinis menggunakan babi guinea dilaksanakan untuk membuktikan manfaat ini secara klinis. Hasilnya, pemberian ekstrak pala diketahui menurunkan kejadian diare, memperbaiki gerak usus, serta memberikan efek sedatif dan anti nyeri ringan pada hewan coba. Ekstrak pala juga tidak menunjukkan efek samping terhadap tekanan darah maupun gangguan pada elektrisitas jantung (5)

 

 

 

3. Mengandung Antioksidan Kuat

Biji pala mengandung banyak senyawa antioksidan yang berfungsi untuk melawan radikal bebas serta menjaga kerusakan sel pada tubuh. Tingginya radikal bebas dalam tubuh dapat menyebabkan stres oksidatif yang terkait dengan timbulnya dan berkembangnya banyak kondisi kronis, seperti kanker, penyakit jantung dan neurodegeneratif (1, 7, 8, 9).

 

Kandungan antioksidan kuat dalam ektrak pala juga terbukti melindungi organ hati dari berbagai toxin dan kimia beracun. Sebuah penelitian pada hewan menunjukkan bahwa mengonsumsi ekstrak pala dapat mencegah kerusakan liver pada tikus yang diberikan terapi isoproterenol, obat yang diketahui memicu stres oksidatif dan kerusakan liver.

 

Pada kelompok tikus yang tidak menerima ekstrak pala, terjadi kerusakan jaringan liver yang signifikan, penumpukan lemak hingga degradasi dan nekrosis atau kematian jaringan sebagai akibat efek samping terapi (10).

 

Sebuah penelitian dengan model hewan juga menunjukkan kemampuan antioksidan dalam minyak biji pala yang dikombinasikan dengan herbal Kaempferia parviflora dalam meningkatkan produksi neurotransmiter. Peningkatan produksi neurotransmiter berperan penting dalam pembentukan memori yakni serotonin, norephinephrine, dan dopamin.

 

Temuan ini menjadikan minyak biji pala menjadi herbal potensial untuk mengatasi berbagai gangguan neurodegeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer, meski masih terbatasnya penelitian langsung terhadap manusia (11). 

 

4. Mengandung Senyawa Anti-Inflamasi

Pala kaya akan senyawa anti-inflamasi yang disebut monoterpen, termasuk sabinene, terpineol, dan pinene, yang dapat membantu mengurangi peradangan dan mengatasi kondisi peradangan. Beragam antioksidan yang ditemukan dalam rempah-rempah, seperti sianidin dan senyawa fenolik, juga memiliki sifat anti-inflamasi yang kuat (1, 13).

 

Pada penelitian dengan model hewan, minyak biji pala dapat membantu meredakan nyeri kronis akibat peradangan, mengurangi pembengkakan, sekaligus efektif mengurangi peradangan pada sendi tikus. Beberapa senyawa tersebut antara lain sabinene, terpineol, pinene, limonene dan terpinene yang terbukti memiliki sifat anti-inflamasi, dapat mengurangi derajat peradangan dengan menghambat berbagai enzim yang mempromosikan peradangan (14, 15, 16).

 

 

Sumber Makanan

 

Bagian yang paling banyak diambil manfaatnya adalah bagian buah dan biji pala (Myristica fragrans).

 

 

Dosis Pemakaian

 

Pala sebagai rempah-rempah tersedia dalam bentuk bubuk halus maupun bubuk kasar (hasil tumbuk). Buah pala segar juga dapat dinikmati dengan cara diparut.  

 

Dosis yang direkomendasikan untuk mengonsumsi pala adalah kurang dari 10 gram per hari, setara dengan 1.5 sendok makan bubuk pala. Lebih dari itu dapat menimbulkan efek toksik bagi tubuh. 

 

 

Efek Samping

 

Di dalam biji pala terdapat senyawa myristicin dan safrole yang apabila dikonsumsi berlebihan dapat menimbulkan beberapa efek samping, antara lain:

Halusinasi

Kejang

Mual

Pusing

Nyeri

Gelisah dan agitasi

Ketakutan

Mulut kering

Kemerahan

Penglihatan kabur

Peningkatan detak jantung

• Risiko kematian

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil dan menyusui disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi pala dalam bentuk apapun.

 

Meski memiliki nama nutmeg, pala bukanlah termasuk tumbuhan kacang, sehingga tidak perlu khawatir jika Anda alergi terhadap berbagai jenis kacang-kacangan seperti almond, walnut, maupun pistachio. Pala dikelompokkan sebagai tanaman biji, sehingga perlu kewaspadaan lebih bagi penderita alergi terhadap biji-bijian. 

 

Berhati-hati dengan kombinasi pala dengan beberapa obat-obatan yang diubah oleh hati (CYP1A1, CYP1A2, CYP2B1, CYP2B2) dan obat anti kejang fenobarbital (Luminal).

 

 

Referensi

Link, Rachael. (2018). Nutmeg: Healthy holiday spice or toxic hallucinogen?. Dr Axe. Diakses pada 09 Juli 2019.

Kubala, Jillian. (2019). 8 Science-backed benefits of nutmeg. Healthline. Diakses pada 09 Juli 2019.

WebMD. (2018). Nutmeg and mace. WebMD. Diakses pada 09 Juli 2019. 

Abourashed EA, El-Alfy AT. Chemical diversity and pharmacological significance of the secondary metabolites of nutmeg (Myristica fragrans Houtt.). Phytochem Rev. (2016). 

Sherry CJ, Ray LE, Herron RE. The pharmacological effects of the ligroin extract of nutmeg (Myristica fragrans). J Ethnopharmacol. (1982). 

Takikawa A, Abe K, Yamamoto M, et al. Antimicrobial activity of nutmeg against Escherichia coli O157. J Biosci Bioeng. (2002). 

Grover JK, Khandkar S, Vats V, Dhunnoo Y, Das D. Pharmacological studies on Myristica fragrans–antidiarrheal, hypnotic, analgesic and hemodynamic (blood pressure) parameters. Methods Find Exp Clin Pharmacol. (2002).

Rahal A, Kumar A, Singh V, et al. Oxidative stress, prooxidants, and antioxidants: The interplay. Biomed Res Int. (2014). 

Liguori I, Russo G, Curcio F, et al. Oxidative stress, aging, and diseases. Clin Interv Aging. (2018). 

Champasuri S, Itharat A. Bioactivities of ethanolic extracts of three parts (wood, nutmeg and mace) from myristica fragrans houtt. J Med Assoc Thai. (2016). 

Kareem MA, Gadhamsetty SK, Shaik AH, Prasad EM, Kodidhela LD. Protective effect of nutmeg aqueous extract against experimentally-induced hepatotoxicity and oxidative stress in rats. J Ayurveda Integr Med. (2013). 

Plaingam W, Sangsuthum S, Angkhasirisap W, Tencomnao T. Kaempferia parviflora rhizome extract and Myristica fragrans volatile oil increase the levels of monoamine neurotransmitters and impact the proteomic profiles in the rat hippocampus: Mechanistic insights into their neuroprotective effects. J Tradit Complement Med. (2017). 

Sergent T, Piront N, Meurice J, Toussaint O, Schneider YJ. Anti-inflammatory effects of dietary phenolic compounds in an in vitro model of inflamed human intestinal epithelium. Chem Biol Interact. (2010). 

Zhang WK, Tao SS, Li TT, et al. Nutmeg oil alleviates chronic inflammatory pain through inhibition of COX-2 expression and substance P release in vivo. Food Nutr Res. (2016). 

Ozaki Y, Soedigdo S, Wattimena YR, Suganda AG. Antiinflammatory effect of mace, aril of Myristica fragrans Houtt., and its active principles. Jpn J Pharmacol. (1989). 

Zhang CR, Jayashre E, Kumar PS, Nair MG. Antioxidant and Antiinflammatory Compounds in Nutmeg (Myristicafragrans) Pericarp as Determined by in vitro Assays. Nat Prod Commun. (2015).