fbpx
LOGO

4 Manfaat Potensial Resveratrol

June 26, 2020
IMG

Resveratrol adalah antioksidan bioflavonoid polifenik, senyawa dalam grup polifenol yang dapat ditemukan dalam berbagai sumber makanan seperti kacang-kacangan, beberapa jenis buah beri terutama yang memiliki warna gelap (blueberry, lingonberry, mulberry dan bilberry), cokelat, dan paling banyak ditemukan dalam anggur merah (terutama bagian kulit dan olahan minuman anggur/wine). 

 

Resveratrol dikelompokkan sebagai senyawa fitoestrogen, karena memiliki kemampuan interaksi dengan reseptor estrogen dalam tubuh manusia. Sehingga, resveratrol dikatakan efektif menjaga kesehatan jantung dan aliran darah, serta sebagai pelindung terkuat terhadap gejala yang terkait dengan penuaan dan kerusakan akibat radikal bebas.

 

 

Manfaat

 

1. Sebagai Anti-Kanker

Menurut penelitian yang diterbitkan oleh Departemen Farmakologi di University of Seville, Spanyol, efek yang paling mencolok dari resveratrol adalah potensi anti-kankernya.  Resveratrol berfungsi menghambat proses pembentukan sel kanker (karsinogenesis) dan menurunkan inflamasi melalui penghambatan sintesis dan pelepasan mediator proinflamasi (1).

 

Beberapa penelitian membuktikan bahwa resveratrol dapat melawan beberapa jenis sel kanker, termasuk  kanker lambung (2), kanker usus besar (3), kanker kulit (4), kanker payudara (5) dan kanker prostat (6) dengan cara menghambat pertumbuhan sel kanker (7), dan mencegah penyebaran kanker terutama pada jenis kanker yang pertumbuhannya bergantung pada hormon (8).

 

2. Menjaga Kesehatan Kardiovaskular 

Resveratrol memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat melindungi tubuh dari aterosklerosis (penebalan pembuluh darah oleh lemak), peningkatan LDL atau kolesterol jahat, pembentukan bekuan darah dan miokarditis (peradangan pada otot jantung).

 

Mengonsumsi lebih banyak resveratrol juga terbukti membantu meningkatkan sirkulasi darah dan memiliki efek positif pada glukosa dan metabolisme lipid pada beberapa orang yang memiliki risiko terkena sindrom metabolik seperti orang dengan obesitas, diabetes tipe 2 dan pasien dengan penyakit kronis lainnya (9).

 

Salah satu sumber resveratrol yaitu teh itadori sudah digunakan sejak lama di negara-negara Asia, termasuk Jepang dan Cina, sebagai obat herbal tradisional untuk mencegah penyakit jantung dan stroke. Sebuah tinjauan penelitian yang dilakukan pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa dosis tinggi suplemen resveratrol dapat membantu mengurangi tekanan darah sistolik (10). Tekanan darah sistolik biasanya naik seiring bertambahnya usia, hal ini disebabkan karena pembuluh darah arteri yang menegang. Tekanan darah sistolik yang tinggi adalah salah satu faktor risiko penyakit jantung.

 

Cara kerja resveratrol untuk menghasilkan efek penurunan tekanan darah tinggi adalah dengan membantu menghasilkan lebih banyak nitrat oksida, yaitu sebuah senyawa yang menyebabkan pembuluh darah menjadi rileks dan terjadilah pelebaran pembuluh darah (11, 12).

 

Sebuah studi meta-analisis terhadap enam penelitian dengan total 247 subyek menunjukkan bahwa konsumsi dosis tinggi reveratrol (>150 mg/d) secara signifikan menurunkan tekanan sistolik atau hingga -11.90 mmHg. Tekanan sistolik merupakan tekanan arterial maksimum yang terjadi saat kontraksi pada serambi jantung sebelah kiri. Tekanan sistolik menunjukkan tekanan darah yang di pompa menuju seluruh tubuh (13). 

 

3. Membantu Mengobati Diabetes dan Mencegah Obesitas

Penelitian yang dilakukan pada tikus coba yang terkena diabetes menunjukkan bahwa pemberian resveratrol dapat menurunkan kadar gula darah dan bermanfaat untuk mencegah dan / atau mengobati obesitas serta diabetes. Resveratrol juga diketahui dapat mengurangi komplikasi diabetes, seperti kerusakan saraf dan jantung, serta membantu mengelola kadar insulin (14).

 

Selain itu, antioksidan yang terkandung didalamnya sangat bermanfaat bagi penderita diabetes karena dapat melindungi tubuh dari terjadinya stres oksidatif, membantu mengurangi peradangan, dan mengaktifkan AMPK, protein yang membantu menjaga kadar gula tetap dalam batas normal (15).

 

Para peneliti juga percaya bahwa resveratrol mampu mengaktivasi gen SIRT1, sebuah gen yang melindungi tubuh dari efek buruk obesitas atau kegemukan. Sebuah penelitian pada hewan coba menunjukkan bahwa konsumsi reveratrol pada tikus obesitas yang diberikan diet tinggi kalori, secara signifikan mampu menurunkan berat badan dan tingkat penyimpanan adiposa (lemak di bawah kulit) melalui mekanisme pengaturan insulin (16).

 

Penelitian terhadap subjek manusia memang masih sangat terbatas, namun resveratrol menunjukkan efek potensial terhadap manfaat ini. 

 

4. Melindungi Otak dan Kesehatan Kognitif

Beberapa penelitian mengatakan  resveratrol yang terdapat dalam anggur merah dapat membantu memperlambat penurunan fungsi kognitif yang berkaitan dengan usia. Hal ini terjadi karena adanya aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi yang terkandung pada resveratrol (17, 18). 

 

Senyawa ini juga mengganggu fragmen protein beta-amiloid di otak. Kadar beta-amilod yang berlebih akan menyebabkan pembentukan plak pada otak dan akan meningkatkan risiko penyakit Alzheimer (19).

 

Studi terbaru yang dilakukan oleh para peneliti di Pusat Penelitian Nutrisi di Universitas Northumbria, Inggris, menunjukkan bahwa resveratrol mampu meningkatkan aliran darah ke otak, dan menunjukkan manfaat yang cukup besar untuk menjaga kesehetan fungsi otak dan melindungi sistem saraf (20).

 

Temuan penelitian yang telah diterbitkan dalam Jurnal Kimia Pangan Pertanian juga menunjukkan bahwa satu kolf infus resveratrol dapat menimbulkan efek neuroprotektif (perlindungan pada otak dan persyarafan) terutama pada kondisi kehilangan dan kerusakan syaraf otak yang disebabkan oleh peningkatan radikal bebas serta peningkatan aliran darah pada otak (21). 

 

 

 

 

Sumber Makanan

 

• Fermentasi anggur merah / red wine

• Anggur / wine

Kacang terutama pistachio

Kedelai

Cokelat

Tomat anggur

Acai beri

Plum

Buah beri seperti raspberi, lingonberi, bluberi, mulberi, bilberi, dan cranberi

Teh itadori

 

 

Dosis Pemakaian

 

Umumnya resveratrol tersedia dalam bentuk sediaan softgel, kapsul, tablet, dan pil. Dosis umum yang dapat dikonsumsi pada dewasa sehat berkisar antara 150 – 445 mg.

 

Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah, serta meningkatkan sensitivitas insulin: Konsumsi 5 – 10 mg suplemen resveratrol setiap hari.

 

Melancarkan aliran darah otak: Konsumsi suplemen resveratrol dengan total dosis 250 – 500 mg per hari.

 

Menghambat aromatase: Konsumsi 500 mg per hari.

 

Resveratrol dalam bentuk wine: Aman dikonsumsi dalam dosis kecil (1 – 2 gelas per hari), namun dosis ini tidak cukup untuk memunculkan manfaat kesehatan.

 

Lebih dianjurkan untuk mengonsumsi resveratrol secara natural dalam berbagai sumber makanan sehat dan bervariasi. 

 

 

Kontraindikasi

 

Masa kehamilan dan menyusui: Resveratrol aman dikonsumsi dalam jumlah yang ditemukan dalam beberapa makanan. Tetapi perlu diperhatikan sumber dari resveratrol itu sendiri. Hindari mengonsumsi anggur / wine selama masa kehamilan dan menyusui.

 

Gangguan pembekuan darah: Hindari konsumsi resveratrol karena dapat memperlambat pembekuan darah sehingga dapat meningkatkan risiko perdarahan.

 

Kondisi sensitif-hormon seperti kanker payudara, kanker rahim, kanker ovarium, endometriosis, atau fibroid rahim: Hindari mengkonsumsi resveratrol karena senyawa ini dapat bertindak seperti estrogen sehingga memperburuk kondisi kesehatan.

 

Pasien pra-operasi: Resveratrol dapat meningkatkan risiko perdarahan selama dan setelah operasi. Hentikan penggunaan resveratrol setidaknya 2 minggu sebelum operasi yang dijadwalkan.

 

Hentikan suplementasi resveratrol jika Anda sedang mengonsumsi obat-obatan seperti Cytochrome P450 3A4 (CYP3A4) dan antikoagulan.

 

Efek Samping

 

Hingga saat ini belum diketahui efek samping dari suplementasi resveratrol. Berbagai penelitian tehadap manfaat kesehatan resevatrol mayoritas masih terbatas pada penelitian terhadap hewan coba. Bahkan peneliti dari Harvard School of Public Health menyatakan bahwa dosis yang dilaksanakan dalam berbagai uji coba merupakan dosis yang sangat tinggi, dari dosis yang dkonsumsi harian oleh manusia.

 

Dibutuhkan ribuan gelas wine untuk mendapatkan dosis yang sama dengan dosis yang diberikan pada tikus coba, dan justru dapat membahayakan kesehatan (22). 

 

Diharapkan untuk tetap berhati-hati dalam mengonsumsi suplemen ini, terutama jika Anda memiliki kondisi khusus atau sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Resveratrol. Examine. Diakses pada 18 Juni 2019.

Axe, Josh. (2017). Resveratrol: The anti-aging powerhouse that’s good for the heart, brain & waistline. Dr Axe. Diakses pada 18 Juni 2019.

Jennings, K. A. (2017). 7 Health benefits of resveratrol supplements. Healthline. Diakses pada 18 Juni 2019.

Ambardekar, Nayana. (2018). Resveratrol supplements. WebMD. Diakses pada 18 Juni 2019.

WebMD. (2018). Resveratrol. WebMD. Diakses pada 18 Juni 2019.

de la Lastra CA, Villegas I. Resveratrol as an anti-inflammatory and anti-aging agent: mechanisms and clinical implications. Mol Nutr Food Res. (2005).

Zulueta A, Caretti A, et al. Resveratrol: A potential challenger against gastric cancer. World J Gastroenterol. (2015).

Vanamala J, Reddivari L, Radhakrishnan S, Tarver C. Resveratrol suppresses IGF-1 induced human colon cancer cell proliferation and elevates apoptosis via suppression of IGF-1R/Wnt and activation of p53 signaling pathways. BMC Cancer. (2010). 

Ndiaye P, Philippe C, et al. The grape antioxidant resveratrol for skin disorders: Promise, prospects, and challenges. Arch Biochem Biophys. (2011).

Chen ZH, Hurh YJ, Na HK, et al. Resveratrol inhibits TCDD-induced expression of CYP1A1 and CYP1B1 and catechol estrogen-mediated oxidative DNA damage in cultured human mammary epithelial cells. Carcinogenesis. (2004).

Li G, Rivas P, Bedolla R, et al. Dietary resveratrol prevents development of high-grade prostatic intraepithelial neoplastic lesions: Involvement of SIRT1/S6K axis. Cancer Prev Res (Phila). (2013).

Tessitore L, Davit A, Sarotto I, Caderni G. Resveratrol depresses the growth of colorectal aberrant crypt foci by affecting bax and p21(CIP) expression.

Wang TT, Hudson TS, Wang TC, et al. Differential effects of resveratrol on androgen-responsive LNCaP human prostate cancer cells in vitro and in vivo. Carcinogenesis. (2008).   

Bonnefont-Rousselot, D. Resveratrol and cardiovascular diseases. Nutrients. (2016).

Liu Y, Ma W, Zhang P, He S, Huang D. Effect of resveratrol on blood pressure: a meta-analysis of randomized controlled trials. Clin Nutr. (2015). 

Xia N, Förstermann U, Li H. Resveratrol and endothelial nitric oxide. Molecules. (2014).

López-Sepúlveda R, Jiménez R, Romero M, et al. Wine polyphenols improve endothelial function in large vessels of female spontaneously hypertensive rats. Hypertension. (2008).

Szkudelski T, Szkudelska K. Resveratrol and diabetes: From animal to human studies. Biochim Biophys Acta. (2015).

Chang CC, Chang CY, Wu YT, Huang JP, Yen TH, Hung LM. Resveratrol retards progression of diabetic nephropathy through modulations of oxidative stress, proinflammatory cytokines, and AMP-activated protein kinase. J Biomed Sci. (2011).

Szkudelska K, Szkudelski T. Resveratrol, obesity and diabetes. Eur J Pharmacol. (2010).

Granzotto A, Zatta P. Resveratrol and Alzheimer’s disease: Message in a bottle on red wine and cognition. Front Aging Neurosci. (2014).

Wang J, Ho L, Zhao Z, et al. Moderate consumption of cabernet sauvignon attenuates abeta neuropathology in a mouse model of Alzheimer’s disease. FASEB J. (2006).  

Kennedy D, Wightman E, et al. Effects of resveratrol on cerebral blood flow variables and cognitive performance in humans: A double-blind, placebo-controlled, crossover investigation. The American Journal of Clinical Nutrition. (2010).

Lu KT, Chiou RYY, et al. Neuroprotective effects of resveratrol on cerebral ischemia-induced neuron loss mediated by free radical scavenging and cerebral blood flow elevation. Journal of Agricultural and Food Chemistry. (2006).

Godman, H. (2014). Diet rich in resveratrol offers no health boost. Harvard Health Publishing. Diakses pada 18 Juni 2019.


Tags: , , , , , , , ,