fbpx
LOGO

Risiko yang Mengintai Pengguna Sukralosa (Sucralose)

August 31, 2020
IMG

Sukralosa (Sucralose) adalah pemanis buatan dengan kandungan nol kalori dan umum dijual dengan nama merek Splenda. Sukralosa ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1976 ketika seorang ilmuwan di sebuah perguruan tinggi Inggris melakukan kesalahan dalam instruksi saat pengujian suatu zat. Ketika dicicipi, zat tersebut memiliki rasa yang sangat manis.

 

Produk Splenda kemudian dikembangkan oleh perusahaan Tate & Lyle dan Johnson & Johnson. Saat diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1999, produk tersebut menjadi salah satu pemanis paling populer di Amerika Serikat.

 

Sukralosa umum digunakan sebagai pengganti gula baik untuk memasak maupun memanggang, juga menjadi pemanis tambahan pada ribuan produk makanan di seluruh dunia. 

 

Meskipun sukralosa mempunyai kandungan 0 kalori (zero calories), sukralosa mengandung karbohidrat dekstrosa (glukosa) dan maltodekstrin yang mengandung hingga 3,36 kalori per gram. sukralosa 400-700 kali lebih manis daripada gula dan tidak memiliki rasa pahit seperti banyak pemanis populer lainnya.

 

 

Apakah Sukralosa Aman?

 

Seperti pemanis buatan lainnya, penggunaan sukralosa sangat kontroversial. Beberapa orang mengklaim sukralosa aman dikonsumsi, tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaannya mungkin mempengaruhi fungsi metabolisme tubuh.

 

Berikut ini risiko mengonsumsi sukralosa :

 

1. Berpotensi meningkatkan risiko kanker

Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2016 dalam International Journal of Occupational and Environmental Health menunjukkan bahwa Splenda dapat berperan dalam kanker tertentu. Peneliti memberi makan tikus berbagai tingkat sukralosa dan mencatat efek pemanis terhadap tubuh tikus.

 

Secara keseluruhan terdapat peningkatan kanker ganas karena peningkatan asupan sukralosa . Secara khusus, para peneliti menemukan insiden leukemia yang lebih tinggi pada tikus jantan yang terkait dengan asupan sukralosa (1).

 

Perlu adanya penelitian lebih lanjut untuk melihat efek sukralosa terhadap peningkatan kanker pada manusia.

 

2. Meningkatkan kadar gula darah dan insulin

Sukralosa dapat mempengaruhi kadar gula darah dan insulin, khususnya bagi mereka yang tidak terbiasa dengan pemanis buatan. Sebuah penelitian kecil pada 17 orang gemuk yang tidak secara teratur mengonsumsi pemanis buatan melaporkan bahwa sukralosa meningkatkan kadar gula darah sebesar 14% dan kadar insulin sebesar 20% (2).

 

Namun pada orang dewasa sehat dengan berat badan normal, konsumsi sukralosa tidak mempengaruhi kadar gula darah dan insulin (3, 4).

 

3. Sucrolase berbahaya jika dipanaskan

Meski umum ditambahkan ke dalam sebuah masakan atau panggangan, keamanan sukralosa pada suhu tinggi masih dipertanyakan. Splenda dianggap tahan panas dan baik untuk memasak dan membuat kue, tapi sebuah penelitian mengatakan bahwa sukralosa dapat berbahaya jika berinteraksi dengan bahan lain (5).

 

Sebuah penelitian menemukan bahwa memanaskan sukralosa dengan gliserol menghasilkan zat berbahaya yang disebut kloropropanol. Zat ini dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker (6).

 

Penelitian lebih lanjut memang diperlukan, tetapi mungkin lebih baik menggunakan pemanis lain saat memanggang pada suhu di atas 120° C (7).

 

4. Mengurangi bakteri baik dalam usus

Meski memerlukan penelitian pada manusia, uji coba dengan tikus menunjukkan bahwa pemberian sukralosa menghasilkan 47-80% lebih sedikit bakteri anaerob (bakteri yang tidak membutuhkan oksigen) dalam usus mereka. 

 

Bakteri menguntungkan seperti bifidobacteria dan bakteri asam laktat berkurang secara signifikan, sementara bakteri yang lebih berbahaya tampaknya kurang terpengaruh. Terlebih lagi, bakteri usus masih belum kembali normal selama 12 minggu setelah percobaan selesai (8).

 

Terlepas dari efek samping dan efek kesehatan jangka panjang yang masih belum jelas, otoritas kesehatan seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau Food and Drug Administration (FDA)  menganggap sukralosa aman untuk dikonsumsi.

 

 

Pencegahan

 

Penggunaan sukralosa atau Splenda sebaiknya dibatasi, terutama digunakan saat memasak atau memanggang hidangan.  Agar lebih aman, disarankan untuk menggunakan pemanis lain yang lebih alami seperti madu, kurma, dan stevia.

 

Produk berbasis stevia sama sekali tidak terbuat dari gula, melainkan dari tanaman Stevia rebaudiana. Stevia 200-400 kali lebih manis dari gula dan rasa manis pada stevia berasal dari senyawa alami pada ekstrak tanaman yang disebut steviol glikosida. Seperti Splenda, Stevia merupakan pemanis non-gizi, yang berarti mengandung nol kalori.

 

Jika Anda menderita diabetes atau sedang menjalani diet, stevia merupakan pilihan pemanis alami terbaik. 

 

 

Referensi:

Palsdottir, Hrefna. (2018). Sucralose (splenda): Good or bad?. Healthline. Diakses pada 23 Agustus 2019.

Butler, Natalie. (2017). Splenda: Is it safe?. Medical News Today. Diakses pada 23 Agustus 2019.

Padovani M, Tibaldi E, et al. Sucralose administered in feed, beginning prenatally through lifespan, induces hematopoietic neoplasias in male swiss mice. International Journal of Occupational and Environmental Health. (2016). 

Pepino MY, Tiemann CD, Patterson BW, Wice BM, Klein S. Sucralose affects glycemic and hormonal responses to an oral glucose load. Diabetes Care. (2013).

Ma J, Bellon M, Wishart JM, et al. Effect of the artificial sweetener, sucralose, on gastric emptying and incretin hormone release in healthy subjects. Am J Physiol Gastrointest Liver Physiol. (2009). 

Ford HE, Peters V, Martin NM, et al. Effects of oral ingestion of sucralose on gut hormone response and appetite in healthy normal-weight subjects. Eur J Clin Nutr. (2011).

Schiffman SS, Rother KI. Sucralose, a synthetic organochlorine sweetener: overview of biological issues. J Toxicol Environ Health B Crit Rev. (2013).

Rahn A, Yaylayan VA. Thermal degradation of sucralose and its potential in generating chloropropanols in the presence of glycerol. Food Chemistry. (2010).

Abou-Donia MB, El-Masry EM, Abdel-Rahman AA, McLendon RE, Schiffman SS. Splenda alters gut microflora and increases intestinal p-glycoprotein and cytochrome p-450 in male rats. J Toxicol Environ Health A. (2008).