fbpx
LOGO

Saw Palmetto, Herbal Mujarab Atasi Kebotakan

August 14, 2020
IMG

Saw palmetto merupakan ekstrak berry pohon palem kerdil, Serenoa repens. Buahnya berwarna kehitaman dengan ukuran biji yang besar. Suplemen saw palmetto memiliki nilai kalori, karena mengandung asam lemak.

 

Asam lemak tersebut memiliki kemampuan untuk memblokir enzim yang mengubah testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT), penyebab rambut rontok pada kelompok pria yang rentan secara genetik.

 

Selain itu, saw palmetto juga mampu mengobati pilek, batuk, dan sakit tenggorokan, berfungsi sebagai obat alami untuk asma, bronkitis kronis (infeksi cabang tenggorokan menahun), sindrom nyeri panggul kronis, dan sakit kepala migrain.

 

Saw palmetto juga digunakan untuk meningkatkan aliran urin pada pria, menimbulkan efek relaksasi, dan meningkatkan dorongan seksual.

 

 

Manfaat

 

1. Mencegah Rambut Rontok

Seiring bertambahnya usia pria, hormon testosteron akan berkurang dan terdapat peningkatan pada enzim 5α-Dihydrotestosterone. Enzim tersebut mengubah testosteron menjadi hormon yang terkait dengan kerontokan rambut yang disebut dihydrotestosterone (DHT).

 

Berdasarkan sebuah tinjauan ilmiah, saw palmetto dapat memblokir enzim 5α-Dihydrotestosterone sehingga mencegah rambut rontok dengan mengurangi penyerapan DHT dalam folikel rambut. Saw palmetto teruji efektif meningkatkan pertumbuhan rambut pada 60% pria berusia 23 dan 64 tahun dengan masalah kebotakan (1).

 

Mengoleskan krim saw palmetto pada kulit kepala selama 3 bulan berturut-turut dapat meningkatkan kepadatan rambut sebesar 35% (2). Suplementasi saw palmetto juga dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan rambut. Mengonsumsi 320 mg saw palmetto setiap hari memiliki efektivitas yang sama dengan obat konvensional yang digunakan untuk mengatasi kebotakan rambut (3).

 

2. Menjaga Kadar Testosteron

Saw palmetto bekerja dengan mengurangi aktivitas 5α-Dihydrotestosterone, enzim yang bertanggung jawab untuk mengubah testosteron menjadi dihidrotestosteron (DHT), dan membantu menjaga kadar testosteron dalam batas normal (4).

 

Sebuah penelitian yang melibatkan 40 pria menemukan bahwa pengobatan dengan saw palmetto dapat menurunkan kadar DHT sebesar 32% setelah dikonsumsi selama 6 bulan berturut-turut. Hal ini menunjukkan bahwa saw palmetto efektif dalam mempertahankan kadar testosteron (5).

 

Studi lain menemukan bahwa efektivitas ekstrak saw palmetto sebanding dengan finasteride dalam menjaga kadar testosteron. Finasteride merupakan obat yang umum digunakan untuk mengobati kerontokan rambut dan BPH (Benign Prostate Hyperthropy, atau pembengkakan kelenjar prostat) pada pria (6).

 

3. Mendukung Sistem Urologi

Tinjauan penelitian yang diterbitkan oleh Journal of American Medical Association pada tahun 1998, menyatakan bahwa saw palmetto efektif dalam mencegah berbagai gangguan terkait urologi (gangguan sistem perkemihan) dan aliran urin. Dalam ulasan tersebut, analisis dilaksanakan terhadap 18 percobaan acak dengan hampir 3.000 peserta laki-laki.

 

Sebanyak 28% pria yang menggunakan saw palmetto mengalami gejala saluran kemih yang lebih ringan, 24% menunjukkan peningkatan aliran urin puncak, dan aliran urin secara keseluruhan meningkat terhadap 43% dari total partisipan. Hasil ini sebanding dengan kelompok yang menggunakan Proscar, obat kovensional yang diberikan kepada kelompok plasebo (7).

 

Penelitian lain juga melaporkan hasil yang serupa, dimana konsumsi ekstrak saw palmetto dapat meningkatkan aliran urin dan menurunkan frekuensi buang air kecil di malam hari (8, 9), terutama pada pria dengan BPH. Untuk mendapat manfaat ini, saw palmetto dapat dikonsumsi dalam dosis tunggal maupun dikombinasikan dengan herbal tradisional lainnya (10, 11, 12, 13).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Ekstrak saw palmetto didapat dari buah tanaman Serenoa repens

 

 

Dosis Pemakaian

 

Buah saw palmetto dikonsumsi langsung dengan cara dikeringkan dan diseduh sebagai teh. Selain itu buah keringnya dapat ditumbuk menjadi bubuk yang kemudian dibentuk menjadi suplemen maupun tablet, maupun diolah menjadi ekstrak minyak esensial

 

Dosis suplementasi saw palmetto yang direkomendasikan berkisar antara 160-320 mg, sekali sehari bersama dengan makan. Dosis tersebut memiliki kandungan 80-90% liposterolik (berefek terapetik pada penderita BPH).

 

Untuk persiapan operasi prostat (reseksi transurethral dari prostat, TURP), ekstrak saw palmetto dosis 320 mg dapat dikonsumsi setiap hari selama 2 bulan sebelum operasi.

 

Untuk mengobati androgenetik alopecia pada pria (kebotakan yang berpola), saw palmetto dapat dikonsumsi dengan dosis sebesar 200 miligram dua kali sehari, dikombinasikan dengan 50 miligram beta-sitosterol dua kali sehari.

 

 

Interaksi Sinergi

 

 

Saw palmetto dapat dikombinasikan dengan:

Ekstrak biji labu: Kombinasi keduanya digunakan dalam meningkatkan kesehatan kelenjar prostat pada pria (14)

 

 

• Beta-sitosterol: Kombinasi saw palmetto dengan beta-sitosterol terbukti efektif dalam mengobati gangguan kebotakan berpola pada pria (15). 

 

 

 

Efek Samping

 

Konsumsi ekstrak saw palmetto dapat menyebabkan efek samping seperti:

Pusing dan sakit kepala

Mual

Muntah

Sembelit atau diare

Impotensi

Gangguan hati atau pankreas

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil dan menyusui: Saw palmetto dapat mempengaruhi kadar hormon.

 

Pasien pra-operasi: Hindari mengonsumsi saw palmetto dua minggu sebelum operasi.

 

Hindari mengombinasikan saw palmetto dengan pil hormonal kontrasepsi yang mengandung estrogen, dan obat-obatan pengencer darah atau antikoagulan (meningkatkan risiko perdarahan).

 

 

Referensi

Patel, Kamal. (2015). Saw palmetto. Examine. Diakses pada 12 Juli 2019.

Rachael, Link. (2019). 5 Promising benefits and uses of saw palmetto. Healthline. Diakses pada 12 Juli 2019.

Petre, Alina. (2019). What is saw palmetto? prostate health and other uses. Healthline. Diakses pada 12 Juli 2019.

WebMD. (2018). Saw palmetto. WebMD. Diakses pada 12 Juli 2019.

Ruggeri, Christine. (2017). Saw palmetto benefits the prostate & stops hair loss. Dr Axe. Diakses pada 12 Juli 2019. 

Prager N, Bickett K, French N, Marcovici G. A randomized, double-blind, placebo-controlled trial to determine the effectiveness of botanically derived inhibitors of 5-alpha-reductase in the treatment of androgenetic alopecia [published correction appears in J Altern Complement Med. 2006 Mar;12(2):199]J Altern Complement Med. (2002).

Murugusundram S. Serenoa repens: Does it have any role in the management of androgenetic alopecia?. J Cutan Aesthet Surg. (2009).

Rossi A, Mari E, Scarno M, et al. Comparitive effectiveness of finasteride vs Serenoa repens in male androgenetic alopecia: a two-year study. Int J Immunopathol Pharmacol. (2012). 

Fagelman E, Lowe FC. Saw palmetto berry as a treatment for BPH. Rev Urol. (2001). 

Marks LS, Hess DL, Dorey FJ, Luz Macairan M, Cruz Santos PB, Tyler VE. Tissue effects of saw palmetto and finasteride: use of biopsy cores for in situ quantification of prostatic androgens. Urology. (2001). 

Pais P, Villar A, Rull S. Determination of the potency of a novel saw palmetto supercritical CO2 extract (SPSE) for 5α-reductase isoform II inhibition using a cell-free in vitro test system. Res Rep Urol. (2016). 

Wilt TJ, Ishani A, Stark G, MacDonald R, Lau J, Mulrow C. Saw palmetto extracts for treatment of benign prostatic hyperplasiaA systematic review. JAMA. (1998). 

Novara G, Giannarini G, Alcaraz A, et al. Efficacy and safety of hexanic lipidosterolic extract of serenoa repens (Permixon) in the treatment of lower urinary tract symptoms due to benign prostatic hyperplasia: Systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Eur Urol Focus. (2016). 

Vela-Navarrete R, Alcaraz A, Rodríguez-Antolín A, et al. Efficacy and safety of a hexanic extract of Serenoa repens (Permixon® ) for the treatment of lower urinary tract symptoms associated with benign prostatic hyperplasia (LUTS/BPH): systematic review and meta-analysis of randomised controlled trials and observational studies. BJU Int. (2018). 

Wilt TJ, Ishani A, Rutks I, MacDonald R. Phytotherapy for benign prostatic hyperplasia. Public Health Nutr. (2000).

Bertaccini A, Giampaoli M, Cividini R, et al. Observational database serenoa repens (DOSSER): Overview, analysis and results. A multicentric SIUrO (Italian Society of Oncological Urology) project. Arch Ital Urol Androl. (2012). 

Ryu YW, Lim SW, Kim JH, Ahn SH, Choi JD. Comparison of tamsulosin plus serenoa repens with tamsulosin in the treatment of benign prostatic hyperplasia in Korean men: 1-year randomized open label study. Urol Int. (2015). 

Tacklind J, Macdonald R, Rutks I, Stanke JU, Wilt TJ. Serenoa repens for benign prostatic hyperplasia. Cochrane Database Syst Rev. (2012). 

Hong H, Kim CS, Maeng S. Effects of pumpkin seed oil and saw palmetto oil in Korean men with symptomatic benign prostatic hyperplasia. Nutr Res Pract. (2009). 

Prager N, Bickett K, French N, Marcovici G. A randomized, double-blind, placebo-controlled trial to determine the effectiveness of botanically derived inhibitors of 5-alpha-reductase in the treatment of androgenetic alopecia [published correction appears in J Altern Complement Med. 2006 Mar;12(2):199]. J Altern Complement Med. (2002).


Tags: