fbpx
LOGO

Selain Lezat, Ini Manfaat Kakao Sebagai Nootropik

September 11, 2020
IMG

Kakao merupakan biji pohon Theboroma cacao atau pohon kakao yang berasal dari benua Amerika Tengah dan Selatan. Pada dasarnya, kakao merupakan cokelat yang masih alami atau mentah dan belum melaui proses apapun. Ketika diolah, kakao akan menghasilkan bubuk cokelat yang disebut kokoa. Kokoa merupakan bahan dasar pembuatan cokelat.

 

Kakao tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia, sehingga mengonsumsi kakao sebagai suplemen akan meningkatkan fungsinya sebagai nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tanpa menghasilkan efek samping yang signifikan.

 

Jika Anda ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, silahkan membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Sebagai nootropik, kakao merangsang pelepasan phenylethylamine (PEA) yang meningkatkan fokus dan kesadaran, dan juga anandamide (molekul kebahagiaan) yang meningkatkan tingkat kebahagiaan. Kakao merupakan sumber antioksidan terkaya yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas dan stres oksidatif yakni epicatechin dan proanthocyanins.

 

Selain itu, kakao juga merupakan sumber triptofan dan theobromin yang berperan dalam meningkatkan aliran darah, sebagai prekursor atau pencetus serotonin, dan bertanggung jawab atas efek afrodisiak pada cokelat.

 

 

Manfaat Kakao

 

1. Meningkatkan suasana hati

Kakao bertanggung jawab atas perbaikan dan peningkatan suasana hati. Kakao mengandung tirosin yang merupakan prekursor dopamin, dan triptofan yang merupakan prekursor serotonin. Ketika dikonsumsi, kakao merangsang hormon endorfin yang memicu perasaan positif dan mengurangi rasa sakit (1).

 

Para peneliti di Neuroscience Institute, San Diego menemukan bahwa cokelat menghambat pemecahan anandamide yang membantu meningkatkan kebahagiaan. Selain itu, cokelat juga diketahui memiliki efek afrodisiak, menyebabkan gairah seksual bertahan lebih lama (2).

 

2. Meningkatkan memori dan pembelajaran

Flavonoid merupakan salah satu antioksidan yang mampu melintasi sawar penghalang darah-otak dan menumpuk di hipokampus yang berperan dalam pembelajaran dan memori. Flavanol dipercaya berkaitan dalam proses neurogenesis, fungsi saraf, dan konektivitas otak.

 

Flavanol juga meningkatkan aliran darah otak dan pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis) yang memberikan efek perlindungan jangka panjang pada kognisi dan perilaku (3).

 

Hasil penelitian cross-sectional dengan total 2.841 partisipan menemukan bahwa mengonsumsi cokelat, anggur, dan teh menghasilkan skor tes kognitif yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak mengonsumsi ketiganya. Hasil yang lebih baik tergantung pada dosis, dengan efek maksimal untuk cokelat dan anggur.

 

Disamping itu, kandungan flavonoid yang tinggi pada cokelat hitam dapat menurunkan risiko stroke, meningkatkan suasana hati, serta daya ingat dan konsentrasi. Meski begitu perlu diperhatikan untuk mengonsumsi flavonoid sesuai dengan dosis yang disarankan (4, 5).

 

3. Mencegah demensia

Sebuah studi di Perancis yang melibatkan 1.367 subyek berusia di atas 65 tahun selama 5 tahun menguji efek flavonoid terhadap perlindungan saraf. Hasil penelitian menemukan bahwa asupan flavonoid yang tinggi antioksidan berbanding terbalik dengan risiko demensia (6).

 

Studi lain juga menemukan bahwa pemberian ekstrak kakao dalam bentuk minuman dengan flavanol 520 – 990 mg per sajian selama 8 minggu menghasilkan skor kefasihan verbal pada subjek lansia dengan gangguan kognitif ringan dibandingkan dengan minuman kandungan flavanol yang rendah (45 mg per sajian) (7).

 

4. Meningkatkan sensitivitas insulin

Fitonutrien yang terkandung pada kakao berfungsi untuk melawan radikal bebas dan stres oksidatif. Fitonutrien juga berperan dalam kesehatan fungsi otak, aliran darah serta sistem persarafan. Defisiensi fitonutrien dapat menyebabkan resistensi insulin.

 

Sebuah penelitian menyatakan bahwa kondisi diabetes tipe 2 menyebabkan resistensi insulin di otak dan meningkatkan risiko terjadinya gangguan kognitif, termasuk penyakit Alzheimer bahkan dengan gejala yang lebih progresif.

 

Namun, kondisi ini dapat ditangani dengan manajemen pengobatan diabetes melalui pemberian insulin dan obat-obatan anti-diabetes, termasuk pemberian diet tinggi flavanol sebagai sumber antioksidan yang baik. Para peneliti juga menyimpulkan Alzheimer sebagai diabetes tipe 3 karena karakteristiknya yang khas (8).

 

Penelitian lain juga membuktikan bahwa polifenol dalam cokelat hitam mampu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan sensitivitas insulin pada orang sehat (9).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Kakao dan kokoa merupakan dua jenis bahan dasar pembuatan cokelat yang berbeda. Kakao merupakan biji dari tanaman Theobroma cacao dari buah cokelat yang sudah matang dan terbelah. Biji kakao inilah yang kemudian diproses dengan fermentasi dan pemanasan suhu tinggi menjadi kokoa untuk mendapatkan rasa cokelat yang khas. 

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis flavanol kakao yang disarankan untuk meningkatkan manfaat kognitif adalah 500 – 1.000 mg per hari. Biasanya produsen cokelat akan memberikan informasi mengenai kandungan flavanol dalam sediaan kakao per kapsul atau per sajian pada label ingridients.

 

Pilihlah jenis cokelat hitam (dark chocolate) atau kakao bubuk murni (pure cacao powder) dengan kadar minimum 80% jika Anda menginginkan efek flavanol dan antioksidan yang menunjang fungsi kognitif. Karena kandungan susu dalam cokelat (milk chocolate) justru dapat menghalangi penyerapan antioksidan secara maksimal ke dalam tubuh manusia. 

 

Hindari mengonsumsi kakao di malam hari karena efek stimulannya dapat menyebabkan insomnia.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Mengombinasikan kakao dengan berbagai sumber flavonoid lain seperti anggur merah dan teh terbukti mampu meningkatkan fungsi kognitif secara signifikan.

 

 

Efikasi 

 

Kandungan flavanol dalam ekstrak kakao dapat meningkatkan aliran darah pada 2 jam pertama setelah konsumsi.

 

 

Efek Samping

 

Migrain

Insomnia

Kenaikan berat badan

Kulit berjerawat

GERD (gastroesophageal reflux disease atau refluks asam lambung)

 

 

Kontraindikasi

 

Riwayat batu ginjal: Kakao memiliki kandungan asam oksalat. Penumpukan asam oksalat dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal dan memperparah kondisi tersebut.

 

Gangguan penyerapan kalsium: Kandungan asam oksalat dalam cokelat dapat menghalangi penyerapan kalsium dalam tubuh.

 

Hindari mengombinasikan kakao dengan susu ataupun produk turunan susu karena dapat mengurangi manfaat nootropik.

 

Mengombinasikan kakao dengan beberapa obat-obatan dapat meningkatkan efek kafein pada metabolisme tubuh termasuk estrogen dan obat-obatan kontrasepsi hormonal, antibiotik quinolon, anti-jamur  fluconazole, disulfiram sebagai obat kecanduan alkohol, dan obat jantung mexiletine.

 

Mengombinasikan kakao dengan clozapine (anti-psikosis) dan obat anti-depresan lainnya (termasuk MAOIs – Monoamine oxidase inhibitor) dapat menyebabkan krisis hipertensi.

 

Hindari memberikan cokelat pada hewan peliharaan Anda, karena hewan (terutama anjing, burung, dan kuda) tidak memiliki enzim yang dapat memecah senyawa theobromine dalam kakao. Cokelat dapat menjadi racun dan membunuh hewan peliharaan Anda. 

 

 

Referensi:

Tomen D. (2018). Cacao. Nootropics Expert. Diakses pada 04 September 2019. 

Benton D, Donohoe RT. The effects of nutrients on mood. Public Health Nutr. (1999).

General Chemistry Online.(2018). Anandamide. General Chemistry Online. Diakses pada 04 September 2019. 

Sokolov AN, Pavlova MA, Klosterhalfen S, Enck P. Chocolate and the brain: Neurobiological impact of cocoa flavanols on cognition and behavior. Neurosci Biobehav Rev. (2013). 

Nurk E, Refsum H, Drevon CA, Tell GS, Nygaard HA, Engedal K, Smith AD. Intake of flavonoid-rich wine, tea, and chocolate by elderly men and women is associated with better cognitive test performance. The Journal of Nutrition. (2009).

Ruxton CHS. The impact of caffeine on mood, cognitive function, performance and hydration: A review of benefits and risks. Nutrition Bulletin. (2003). 

Commenges D, Scotet V, Renaud S, et al. Intake of flavonoids and risk of dementia. Eur J Epidemiol. (2000).

Desideri G, Kwik-Uribe C, Grassi D, et al. Benefits in cognitive function, blood pressure, and insulin resistance through cocoa flavanol consumption in elderly subjects with mild cognitive impairment. Hypertension. (2012).

de la Monte SM, Wands JR. Alzheimer’s disease is type 3 diabetes-evidence reviewed. J Diabetes Sci Technol. (2008). 

Grassi D, Lippi C, Necozione S, Desideri G, Ferri C. Short-term administration of dark chocolate is followed by a significant increase in insulin sensitivity and a decrease in blood pressure in healthy persons. Am J Clin Nutr. (2005).


Tags: ,