fbpx
LOGO

Sulforafan, Rahasia Dibalik Sederet Manfaat Brokoli

June 24, 2020
IMG

Sulforafan adalah senyawa yang dapat ditemukan dalam kubis-kubisan, terutama brokoli. Sulforafan memiliki sifat antioksidan, anti-inflamasi, anti-kanker serta mampu menjaga kesehatan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Mengukus sayuran selama satu hingga tiga menit akan mengoptimasi kadar sulforafan saat dikonsumsi. Jaga suhu api dibawah 140 ketika memasak sayur dan hindari merebus atau memanaskan sayur dengan microwave.

 

Cara lain untuk mendapatkan kandungan sulforafan yang lebih tinggi yakni dengan mengonsumsi sayuran yang kaya akan kandungan sulforana secara mentah. Namun pastikan kebersihan dari sumber makanan tersebut dengan mencuci menggunakan air mengalir. 

 

 

Manfaat Sulforafan

 

1. Berfungsi Sebagai Anti-Kanker

Sulforafan memiliki sifat anti kanker dan mencegah gejala kanker. Sulforafan akan melepaskan enzim antioksidan dan melaksanakan detoksifikasi kepada zat karsinogen, yakni zat yang dapat memicu pertumbuhan dan mutasi sel normal menjadi sel kanker (1, 2, 3).

 

Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa mengonsumsi sayuran kubis-kubisan, terutama brokoli akan menurunkan hingga 40% resiko berbagai macam kanker seperti kanker prostat, kanker darah, kanker paru-paru, dan lainnya karena kandungan sulforafan yang terdapat pada sayuran jenis tersebut. (4, 5, 6).

 

2. Meningkatkan Kesehatan Jantung

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sulforafan dapat meningkatkan kesehatan jantung dalam beberapa cara, yakni dengan mengurangi terjadinya peradangan pada pembuluh darah yang menjadi penyebab utama aterosklerosis. Aterosklerosis merupakan penyakit sumbatan pada pembuluh darah akibat terjadinya oksidasi lemak jahat (LDL-low density lipoprotein). Pemberian ekstrak sulforana diketahui mampu menginduksi terjadinya produksi antioksidan yang berlipat-lipat.  Kadar antoksidan yang tinggi secara otomatis akan mengurangi resiko terjadinya peradangan (7). 

 

Sulforana juga memiliki komponen penting bernama isotiosianat, yang mengandung sulfur dan digunakan untuk mengaktivasi sebuah protein bernama Nrf2 (NF-E2-related factor-2). Protein inilah yang kemudian memunculkan mekanisme pertahanan pembuluh darah dari serangan stres oksidatif dan toxic elektrofilik  dengan menciptakan lebih banyak protein yang bersifat sitoprotektif, yakni antioksidan dan enzim-enzim yang berperan dalam proses detoksifikasi (8, 9). 

 

Pemberian sulforana terhadap hewan coba tikus yang mengalami kondisi SHRSP (spontaneously hypertensive stroke-prone) selama 4 bulan berturut-turut, diketahui mampu meningkatkan rasio pelebaran lumen pembuluh darah (35%) terhadap dinding arteri ginjal sehingga secara signifikan mempengaruhi perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah (10).

 

3. Mencegah Diabetes

Diabetes tipe dua adalah salah satu penyakit kronis yang menyerang jutaan manusia. Pada diabetes tipe ini, tubuh pasien tidak mampu memproduksi cukup insulin, atau terjadi penolakan (resistensi) terhadap insulin sehingga berpengaruh terhadap proses transfer gula darah (glukosa) ke dalam sel. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar gula darah di atas normal.

 

Pada penelitian pada hewan coba berupa tikus, pemberian sulforafan menghasilkan efek perlindungan pada resistensi insulin dan intoleransi glukosa. Sulforafan juga berperan sebagai aktivator protein Nrf2 alami yang berfungsi untuk mengurangi terjadinya stres oksidatif, serta mencegah perkembangan diabetes kepada komplikasi  terhadap organ lain (11, 12).

 

Penelitian singkat melibatkan 97 orang pasien diabetes tipe 2. Partisipan diberikan ekstrak brokoli yang setara dengan 150 μmol sulforafan setiap hari. Hasil penelitian menyatakan bahwa sulforafan mampu mengurangi kadar gula darah sebesar 6,5% dan meningkatkan hemoglobin A1c, yaitu penanda kontrol gula darah jangka panjang. Efek ini diketahui lebih kuat pada partisipan diabetes yang mengalami obesitas akibat kontrol pengobatan yang buruk (13).

 

4. Mencegah Penyakit Ginjal

Sebuah penelitian mengatakan bahwa mengonsumsi sulforafan dengan dosis 0,5mg / kg berat badan pada tikus selama 3 bulan, mampu secara signifikan melemahkan perkembangan penyakit pada tikus. Efek ini juga dimediasi oleh aktivasi protein Nrf2, sebuah protein yang mencegah stres oksidatif dan peradangan (inflamasi) (14).

 

Karena perannya sebagai aktivator Nrf2, sulforafan juga efektif mencegah ginjal dari keracunan (toksisitas), serta melindungi dari penyakit obstruksi ureter unilateral (sumbatan pada saluran kemih), nefropati diabetik (penyakit ginjal akibat diabetes),  dan disfungsi ginjal yang terjadi akibat penggunaan obat-obatan keras seperti kemoterapi (15, 16, 17, 18).

  

5. Membantu Mengobati Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi kemampuan penderitanya dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Mengonsumsi sulforafan terbukti meningkatkan kemampuan interaksi sosial dan komunikasi verbal pada pasien autisme. Hal ini didasarkan pada hasil penelitian dengan 29 partisipan penderita autisme yang mengonsumsi  50–150 µmol sulforafan setiap hari selama 18 minggu.

 

Setelah evaluasi dilaksanakan, diketahui bahwa pasien autisme mampu mengurangi gejala umum seperti perilaku abnormal (stereotipik-mengulang-ulang gerakan tanpa tujuan jelas) serta meningkatkan interaksi dan komunikasi verbal (19).

 

6. Melindungi Dari Bahaya Sinar UV

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa sulforafan dapat melindungi kulit dari bahaya sinar UV yang ada pada sinar matahari. Manfaat ini berasal dari peran sulforafan sebagai aktivator Nrf2, yang menginduksi produksi antioksidan berlipat serta berbagai enzim detoksifikasi, menghambat produksi matrik metaloproteinase yakni DNA pemicu sel kanker (20)

 

Sebuah penelitian dilaksanakan dengan tujuan menguji coba kemampuan sulforana (SFN) dan feniletil-isotiocianat (PEITC) terhadap paparan kronik UVR (ultraviolet radiation) sebesae 300 mJ/cm2 pada kulit manusia. Sulforana bersama dengan PEITC diketahui mampu memproduksi antioksidan dalam jumlah yang konsisten, sehingga menghindari terjadinya stres oksidatif dan apoptosis (kematian sel kulit) akibat paparan UVR (21).

 

7. Sebagai Anti-Inflamasi

Inflamasi atau peradangan berperan dalam melindungi tubuh dari virus, bakteri, atau mikroorganisme asing yang membahayakan tubuh. Dalam batasan normal, proses inflamasi sangat penting. Namun, proses inflamasi yang berlebihan memicu terjadinya penyakit seperti gagal jantung, kanker, dan lainnya.

 

Sulforafan memiliki sifat antioksidan dan anti-inflamasi yang mampu melindungi tubuh dari stres oksidatif dan berbagai masalah kesehatan. Sebagai anti-inflamasi, sulforafan akan menghambat sinyal peradangan yang memicu aktivasi respon antioksidan dalam tubuh (22, 23, 24, 25).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Sulforafan banyak ditemukan pada sayur berjenis kubis-kubisan, antara lain:

• Brokoli

• Kecambah brokoli

• Kembang kol

• Selada air 

 Kale

• Kubis

• Kubis brussel

• Pakcoy

• Arugula

 

 

Dosis Pemakaian

 

Meskipun belum ada dosis yang ideal, suplementasi 0,1-0,5 mg / kg sulforafan pada tikus coba telah terbukti menunjukkan efektivitas dalam produksi antioksidan. Rekomendasi dosis pemberian sulforana pada manusia adalah sebagai berikut:

• Dosis 7 sampai 34 mg untuk batas berat badan 68 kg.

• Dosis 9 sampai 45 mg untuk batas berat badan 91 kg.

• Dosis 11 sampai 57 mg untuk batas berat badan 113,4 kg.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Kurkumin: Sulforafan bersinergi dengan curcumin menciptakan efek anti-inflamasi atau anti peradangan yang baik.

 

• Phenethyl Isothiocyanate (PEITC): merupakan salah satu kandungan yang juga dapat ditemukan pada sayur berjenis kubis-kubisan. Ketika zat ini dikonsumsi bersama dengan sulforafan akan menciptakan efek anti-inflamasi atau anti peradangan yang lebih baik.

 

• Mustar: Penambahan mustar ketika memasak sayuran, terutama brokoli dapat meningkatkan kandungan sulforafan karena mustar memiliki enzim yang mampu menahan panas selama proses memasak, sehingga melindungi brokoli dari kehilangan sulforafan.

 

 

Kontraindikasi

 

Beberapa obat-obatan memiliki interaksi dengan organ hati, dimana organ hati berperan memecah senyawa dalam obat tersebut. Sebelum mengonsumsi sulforafan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk memastikan tidak ada obat yang dapat menimbulkan reaksi jika dikonsumsi secara bersamaan.

 

Adapun obat yang tidak disarankan untuk dikonsumsi bersama sulforafan antara lain clozapine (Clozaril), cyclobenzaprine (Flexeril), fluvoxamine (Luvox), haloperidol ( Haldol), imipramine (Tofranil), mexiletine (Mexitil), olanzapine (Zyprexa), pentazocine (Talwin), propranolol (Inderal), tacrine (Cognex), theophilin, zileuton (Zyflo), zolmitriptan (Zomfig), dan Neoglucobrassicin.

 

 

Efek Samping

 

Aman mengkonsumsi sulforafan dari sayur-mayur dan jarang menimbulkan efek samping serius. Adapun efek samping ringan dari mengonsumsi suplemen sulforafan yaitu peningkatan rasa kembung pada area perut, konstipasi, dan diare (26, 27). 

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2013). Sulforaphane. Examine. iakses pada 11 Juni 2019.

Found My Fitness. (2017). Sulforaphane and its effects on cancer, mortality, aging, brain and behavior, heart disease, & more. Found My Fitness. Diakses pada 11 Juni 2019.

WebMd. (2018). Sulforaphane. WebMD. Diakses pada 11 Juni 2019.

Coyle, Daisy. (2019). Sulforaphane: Benefits, side effects, and food sources. Healthline. Diakses pada 11 Juni 2019.

Su X, Jiang X, Meng L, Dong X, Shen Y, Xin Y. Anticancer activity of sulforaphane: The epigenetic mechanisms and the Nrf2 signaling pathway. Oxid Med Cell Longev. (2018).

Tortorella SM, Royce SG, Licciardi PV, Karagiannis TC. Dietary sulforaphane in cancer chemoprevention: The role of epigenetic regulation and hdac inhibition. Antioxid Redox Signal. (2015).

Clarke JD, Dashwood RH, Ho E. Multi-targeted prevention of cancer by sulforaphane. Cancer Lett. (2008).

Ullah MF. Sulforaphane (SFN): An isothiocyanate in a cancer chemoprevention paradigm. Medicines (Basel). (2015).

Li Y, Zhang T, Korkaya H, et al. Sulforaphane, a dietary component of broccoli/broccoli sprouts, inhibits breast cancer stem cells. Clin Cancer Res. (2010). 

Singh AV, Xiao D, Lew KL, Dhir R, Singh SV. Sulforaphane induces caspase-mediated apoptosis in cultured PC-3 human prostate cancer cells and retards growth of PC-3 xenografts in vivo. Carcinogenesis. (2004).

Evans PC. The influence of sulforaphane on vascular health and its relevance to nutritional approaches to prevent cardiovascular disease. EPMA J. (2011).

Bai Y, Wang X, Zhao S, Ma C, Cui J, Zheng Y. Sulforaphane protects against cardiovascular disease via Nrf2 activation. Oxid Med Cell Longev. (2015).

Zakkar M, Van der Heiden K, Luong le A, et al. Activation of Nrf2 in endothelial cells protects arteries from exhibiting a proinflammatory state. Arterioscler Thromb Vasc Biol. (2009).

Senanayake GV, Banigesh A, Wu L, Lee P, Juurlink BH. The dietary phase 2 protein inducer sulforaphane can normalize the kidney epigenome and improve blood pressure in hypertensive rats. Am J Hypertens. (2012).

Xu Y , Fu JF , Chen JH , et al. Sulforaphane ameliorates glucose intolerance in obese mice via the upregulation of the insulin signaling pathway. Food Funct. (2018). 

Jiménez-Osorio AS, González-Reyes S, Pedraza-Chaverri J. Natural Nrf2 activators in diabetes. Clin Chim Acta. (2015). 

Axelsson AS, Tubbs E, Mecham B, et al. Sulforaphane reduces hepatic glucose production and improves glucose control in patients with type 2 diabetes. Sci Transl Med. (2017). 

Cui W, Bai Y, Miao X, et al. Prevention of diabetic nephropathy by sulforaphane: possible role of Nrf2 upregulation and activation. Oxid Med Cell Longev. (2012).

Alp H, Aytekin I, Hatipoglu NK, Alp A, Ogun M. Effects of sulforophane and curcumin on oxidative stress created by acute malathion toxicity in rats. Eur Rev Med Pharmacol Sci. (2012). 

Chung SD, Lai TY, Chien CT, Yu HJ. Activating Nrf-2 signaling depresses unilateral ureteral obstruction-evoked mitochondrial stress-related autophagy, apoptosis and pyroptosis in kidney. PLoS One. (2012).

Zheng H, Whitman SA, Wu W, et al. Therapeutic potential of Nrf2 activators in streptozotocin-induced diabetic nephropathy. Diabetes. (2011).

Guerrero-Beltrán CE, Calderón-Oliver M, Tapia E, et al. Sulforaphane protects against cisplatin-induced nephrotoxicity. Toxicol Lett. (2010).

Singh K, Connors SL, Macklin EA, et al. Sulforaphane treatment of autism spectrum disorder (ASD). Proc Natl Acad Sci USA. (2014).

Sikdar S, Papadopoulou M, Dubois J. What do we know about sulforaphane protection against photoaging?. J Cosmet Dermatol. (2016).

Kleszczyński K, Ernst IM, Wagner AE, et al. Sulforaphane and phenylethyl isothiocyanate protect human skin against UVR-induced oxidative stress and apoptosis: role of Nrf2-dependent gene expression and antioxidant enzymes. Pharmacol Res. (2013). 

Heiss E, Herhaus C, Klimo K, Bartsch H, Gerhäuser C. Nuclear factor kappa B is a molecular target for sulforaphane-mediated anti-inflammatory mechanisms. J Biol Chem. (2001). 

Zandi E, Rothwarf DM, Delhase M, Hayakawa M, Karin M. The IκB kinase complex (IKK) contains two kinase subunits, IKKα and IKKβ, necessary for IκB phosphorylation and NF-κB activation. Cell. (1997). 

Israël A. The IKK complex, a central regulator of NF-kappaB activation. Cold Spring Harb Perspect Biol. (2010).

Heiss E, Gerhäuser C. Time-dependent modulation of thioredoxin reductase activity might contribute to sulforaphane-mediated inhibition of NF-kappaB binding to DNA. Antioxid Redox Signal. (2005).


Tags: , , , , , , ,