fbpx
LOGO

3 Manfaat Ajaib Pisang. Si Kuning Buah Tropis

October 27, 2020
IMG

Pisang adalah buah yang populer di dunia karena mudah dikonsumsi dan sering dimasukkan ke dalam menu diet. Pisang merupakan salah satu buah yang berasal dari Asia Tenggara dan banyak ditemukan di daerah tropis di dunia. 

 

Buah ini mengandung serat, kalium, vitamin B6, vitamin C, dan berbagai antioksidan serta fitonutrien yang sehat. Terdapat variasi jenis dan ukuran dengan warna yang biasanya berkisar dari hijau ke kuning, dan beberapa varietas berwarna merah.

 

 

Kandungan nutrisi pisang

 

1 pisang ukuran sedang (100 gram) mengandung sekitar:

Kalori: 89

Air: 75%

Protein: 1,1 gram

Karbohidrat: 22,8 gram

Gula: 12,2 gram

Serat: 2,6 gram

Lemak: 0,3 gram

 

Pisang merupakan sumber karbohidrat. Komposisi karbohidrat pisang berubah secara drastis selama pemasakan. Komponen utama pisang mentah adalah pati dengan kadar hingga 80% dalam berat kering.

 

Selama pematangan, pati diubah menjadi gula dan kadar pati menjadi kurang dari 1%. Jenis gula yang paling umum dalam pisang matang adalah sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Dalam pisang matang, kadar gula total bisa mencapai lebih dari 16% dari berat segar.

 

Pati resisten juga bekerja sebagai serat. Di usus besar, pati resisten diurai dan diubah menjadi asam lemak rantai pendek, salah satunya yaitu butirat yang berfungsi menjaga kesehatan pencernaan. 

 

Pisang juga merupakan sumber serat jenis lain yang baik, seperti pektin. Beberapa pektin dalam pisang larut dalam air. Ketika pisang matang, proporsi pektin yang larut dalam air meningkat. Ini merupakan salah satu alasan utama mengapa semakin hari pisang menjadi lunak. 

 

 

Manfaat pisang

 

1. Menjaga kesehatan jantung

Pisang mengandung kalium, mineral yang mampu meningkatkan kesehatan jantung dan tekanan darah normal. Menurut analisis dari banyak penelitian, konsumsi harian pisang sebanyak 1,3-1,4 gram kalium dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit jantung 26% lebih rendah (1).

 

Selain itu, pisang mengandung antioksidan flavonoid yang berperan dalam menurunkan risiko penyakit jantung secara signifikan (2).

 

2. Menjaga kesehatan pencernaan

Pisang hijau mentah mengandung banyak pati resisten dan pektin, yang merupakan jenis serat makanan. Pati resisten dan pektin bertindak sebagai prebiotik yang mendukung pertumbuhan probiotik atau bakteri baik dalam usus (3, 4).

 

3. Meningkatkan kesehatan ginjal

Sebagai sumber kalium yang baik, pisang akan sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan ginjal. Sebuah penelitian yang dilakukan selama 13 tahun pada partisipan wanita menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi pisang 2–3 kali per minggu berisiko 33% lebih rendah terserang penyakit ginjal (5).

 

Studi lain mencatat bahwa mereka yang mengonsumsi pisang 4-6 kali seminggu hampir 50% berisiko rendah terserang penyakit ginjal dibandingkan mereka yang tidak rutin makan buah kuning ini (6).

 

 

 

Efek samping dan kontraindikasi

 

Pisang termasuk buah dengan minim risiko. Namun, orang yang alergi terhadap lateks mungkin juga alergi terhadap pisang (7). Pisang juga dipercaya dapat menyebabkan sembelit, namun penelitian lainnya mendapatkan hasil yang berbeda (8, 9).

 

Pisang juga dikatakan tidak aman dikonsumsi bagi penderita diabetes tipe 2 karena tinggi pati dan gula. Namun, pisang memiliki indeks glikemik (GI) rendah, yaitu 42-62 tergantung pada tingkat kematangannya.

 

Hal tersebut menandakan konsumsi pisang dalam jumlah sedang aman bagi penderita diabetes tipe 2, tapi disarankan untuk menghindari konsumsi pisang matang dalam jumlah besar dan tetap pantau kadar karbohidrat dan gula darah.

 

 

Referensi

Arnarson A. (2019). Bananas 101: Nutrition facts and health benefits. Healthline. Diakses pada 14 Oktober 2019.

Palsdottir D. (2017). Bananas: Good or bad?. Healthline. Diakses pada 14 Oktober 2019.

Bjarnadottir A. (2018). 11 Evidence-based health benefits of bananas. Healthline. Diakses pada 14 Oktober 2019. 

D’Elia L, Barba G, Cappuccio FP, Strazzullo P. Potassium intake, stroke, and cardiovascular disease a meta-analysis of prospective studies. J Am Coll Cardiol. (2011).

Wang X, Ouyang YY, Liu J, Zhao G. Flavonoid intake and risk of CVD: a systematic review and meta-analysis of prospective cohort studies. Br J Nutr. (2014). 

Englyst HN, Cummings JH. Digestion of the carbohydrates of banana (Musa paradisiaca sapientum) in the human small intestine. Am J Clin Nutr. (1986). 

Leonel AJ, Alvarez-Leite JI. Butyrate: Implications for intestinal function. Curr Opin Clin Nutr Metab Care. (2012). 

Rashidkhani B, Lindblad P, Wolk A. Fruits, vegetables and risk of renal cell carcinoma: a prospective study of Swedish women. Int J Cancer. (2005).

Maclure M, Willett W. A case-control study of diet and risk of renal adenocarcinoma. Epidemiology. (1990). 

Wagner S, Breiteneder H. The latex-fruit syndrome. Biochem Soc Trans. (2002).

Müller-Lissner SA, Kaatz V, Brandt W, Keller J, Layer P. The perceived effect of various foods and beverages on stool consistency. Eur J Gastroenterol Hepatol. (2005).

Mitsou EK, Kougia E, Nomikos T, Yannakoulia M, Mountzouris KC, Kyriacou A. Effect of banana consumption on faecal microbiota: a randomised, controlled trial. Anaerobe. (2011)


Tags: ,