fbpx
LOGO

Alzheimer: Kenali Penyebab, Risiko, dan Gejala Awalnya

July 31, 2020
IMG

Lupa adalah bagian dari proses penuaan yang wajar. Setiap orang pasti mengalami lupa, terlebih seiring berjalannya waktu. Bukan masalah besar jika Anda melupakan nama teman lama Anda yang sudah lama tidak bertemu. Tapi, bagaimana jika masalah ingatan itu memengaruhi kehidupan Anda? Bisa jadi itu merupakan tanda-tanda Alzheimer.

 

Alzheimer merupakan penyakit yang dialami saat lanjut usia yang ditandai dengan penurunan kognitif secara progesif. Meski umumnya menyerang orang dewasa  berusia 65 tahun ke atas, 5% lansia dengan Alzheimer diketahui telah memiliki gejala awal Alzheimer sejak dini. Hal ini  berarti seseorang yang berusia 40-an atau 50-an sudah dapat mengalami dan menunjukkan berbagai tanda gejala Alzheimer.

 

Mendiagnosa Alzheimer sejak dini terbilang sulit, karena banyak gejala yang muncul sebagai akibat dari peristiwa kehidupan yang khas seperti halnya stres. Karena Alzheimer sangat mempengaruhi fungsi otak, penyakit ini dapat menyebabkan penurunan daya ingat, penalaran, dan kemampuan berpikir. Penurunan biasanya terjadi secara bertahap dan lambat, serta bervariasi tiap kasusnya.

 

 

Onset Alzheimer

 

Satu hingga enam persen dari kasus dan gejala Alzheimer timbul pada usia 30 hingga 65 tahun (onset dini), dan sisanya mulai mengalami gejala awal pada usia diatas 65 tahun (onset lambat). 

 

Terdapat tiga jenis mutasi gen yang bertanggung jawab dalam perkembangan penyakit Alzheimer pada usia yang lebih dini, termasuk protein prekursor amiloid (APP), presenilin 1 (PSEN1) dan presenilin 2 (PSEN2). Mereka yang mewarisi mutasi pada gen PSEN2 memiliki peluang 95% untuk mengembangkan penyakit Alzheimer. Namun, sebagian besar pasien memiliki tipe onset lambat, di mana gejalanya dimulai sekitar usia 65 atau lebih.

 

Tipe onset lambat dipengaruhi oleh adanya gen apolipoprotein E (ApoE). ApoE4, salah satu varian ApoE yang kurang efisien dalam membersihkan protein beta-amiloid sebagai penyebab terjadinya peradangan pada sel otak. 

 

 

Penyebab Terjadinya Alzheimer

 

Penyakit Alzheimer terjadi akibat hilangnya sel otak secara bertahap. Penyebab mendasar terjadinya Alzheimer masih belum diketahui dengan pasti. Namun, kemungkinan terbesar tidak ada penyebab tunggal dari penyakit neurodegeneratif ini.

 

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik, infeksi, ketidakseimbangan bakteri di usus, dan penuaan akan menyebabkan peradangan otak, stres oksidatif, penumpukan beta-amiloid, dan ketidakseimbangan neurotransmiter otak. Kondisi ini mengarah kepada penyakit demensia atau Alzheimer.

 

Selain itu, kondisi penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, obesitas, maupun tekanan darah tinggi pada usia paruh baya berkaitan erat dengan perkembangan penyakit Alzheimer.

 

 

Faktor Risiko Penyakit Alzheimer 

 

1. Faktor Penuaan

Penuaan adalah faktor risiko terbesar dalam perkembangan penyakit Alzheimer. Kebanyakan penderita Alzheimer pada usia 65 tahun. Tetapi, proses kemunculan gejala dan perkembangan penyakit Alzheimer dapat muncul hingga 20 tahun sebelum gejala utama Alzheimer terlihat. Maka dari itu, perkembangan penyakit ini terbilang lambat dan sulit untuk dideteksi.

 

2. Faktor Genetik

Alzheimer adalah penyakit turunan. Seseorang yang memiliki riwayat di dalam keluarga, baik orang tua ataupun saudara kandung, akan meningkatkan risiko untuk mengalami hal serupa. Hal ini diakibatkan oleh adanya gen ApoE4 yang membawa dan mewariskan penyakit Alzheimer.

 

Anda dapat mewarisi gen ini dari ibu, ayah, atau dari keduanya. Memiliki dua salinan gen ApoE4 akan meningkatkan risiko hingga 12 kali lipat terkena penyakit Alzheimer dan satu salinan meningkatkan risiko hingga empat kali lipat. 

 

3. Gaya Hidup

Studi menunjukkan bahwa olahraga adalah salah satu cara yang paling penting dan efektif untuk mencegah atau menurunkan risiko demensia dan penyakit Alzheimer. Sebuah tinjauan penelitian yang melibatkan lebih dari 160 ribu partisipan menemukan bahwa olahraga fisik secara signifikan mengurangi risiko terkena penyakit Alzheimer (1).

 

Selain itu, hindarilah merokok dan jauhi berbagai jenis minuman beralkohol untuk menekan risiko terjadinya Alzheimer. Pada sebuah studi observasional terhadap lebih dari 20 ribu orang partisipan penelitian, kebiasaan dan gaya hidup merokok akan meningkatkan risiko penyakit Alzheimer hingga lebih dari 100%. Merokok selama usia paruh baya (40-55 tahun) juga sangat merusak sel dan menghambat proses regenerasi otak (2).

 

4. Obesitas atau Kelebihan Berat Badan

Mengalami kegemukan atau obesitas selama usia paruh baya dapat menjadi faktor risiko terhadap penyakit Alzheimer. Sebuah penelitian observasional terhadap 6.500 orang partisipan mengungkapkan bahwa kegemukan, terutama adanya penumpukan lemak di area perut, berkaitan erat dengan tingkat demensia atau kepikunan yang lebih tinggi (3).

 

5. Kurang Tidur

Ketika waktu tidur, otak akan membersihkan limbah yang menumpuk setelah beraktivitas seharian. Seseorang yang tidak cukup tidur atau tidak mendapatkan tidur berkualitas akan mengakibatkan penumpukan limbah di otak sehingga dapat menyebabkan demensia atau penyakit pikun termasuk Alzheimer.

 

Sebuah penelitian terhadap 250 ribu orang yang mengalami gangguan tidur, ternyata memiliki peningkatan risiko terkena demensia dibandingkan dengan partisipan yang tidak mengalami insomnia. Produk limbah yang menumpuk akan mengganggu ritme sirkadian, yakni waktu normal untuk beraktivitas dan istirahat, dan menciptakan lingkaran setan.

 

Tidur yang buruk menyebabkan Alzheimer, dan Alzheimer akan lebih memperburuk kualitas tidur (4, 5).

 

6. Trauma dan Stres

Seseorang yang mengalami cedera kepala berulang diketahui memiliki empat kali risiko lebih besar terkena penyakit Alzheimer dan gangguan neurodegeneratif lainnya. Sebuah tinjauan penelitian yang melibatkan lebih dari 2 juta orang mengungkapkan bahwa cedera kepala dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer hingga 50% dan juga meningkatkan risiko terhadap semua jenis demensia (seperti penyakit Parkinson dan Huntington) hingga lebih dari 60% (6, 7).

 

Manajemen stres juga dapat dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya penyakit Alzheimer. Stres kronis atau berkepanjangan berkontribusi pada perkembangan penyakit Alzheimer. Sebuah studi pada hewan coba tikus menunjukkan bahwa hormon pelepas kortikotropin (CRH), yang dilepaskan dari kelenjar hipofisis sebagai bagian dari respons stres, merangsang produksi protein beta-amiloid.

 

Produksi beta-amiloid berlebih dapat berubah menjadi plak dan menyebabkan kerusakan di area otak, sehingga sangat berkontribusi terhadap kemunculan gejala dari penyakit Alzheimer (8).

 

7. Kondisi Kesehatan Lainnya

Peluang Anda terkena demensia dapat menjadi lebih tinggi jika Anda memiliki gangguan kesehatan kronis seperti diabetes tipe 2, obesitas, maupun tekanan darah tinggi di usia paruh baya. Selain itu, penyakit stroke juga berkaitan erat dengan Alzheimer, bahkan keduanya saling mempengaruhi. Sebuah studi review menemukan bahwa stroke secara signifikan meningkatkan risiko Alzheimer. Demikian juga, Alzheimer meningkatkan risiko stroke (9).

 

Kadar testosteron yang rendah pada pria juga berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer. Kadar testosteron yang rendah secara signifikan akan memperburuk fungsi kognitif pada pria lanjut usia (10).

 

Selain itu, kekurangan nutrisi seperti vitamin D dan tingginya kadar alumunium dalam darah juga dikaitkan dengan risiko Alzheimer. Pasien Alzheimer diketahui memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah dibandingkan orang yang sehat. Sementara aluminium sendiri dapat berkontribusi terhadap perkembangan Alzheimer, karena zat ini mengurangi kemampuan otak untuk menghilangkan plak beta-amiloid (11, 12).

 

 

Gejala Penyakit Alzheimer

 

Anda atau orang yang Anda sayangi mungkin terkena Alzheimer tipe onset dini jika mengalami beberapa gejala sebagai berikut dan sangat disarankan untuk segera mengunjungi dokter:

 

Kehilangan ingatan yang terjadi secara berulang hingga mengakibatkan terganggunya aktivitas harian.

 

Tidak dapat mengatasi masalah atau sulit menemukan solusi.

 

Kesulitan dalam membuat keputusan.

 

Kesulitan dalam menyelesaikan tugas yang umum atau sering dilakukan, seperti berkendara.

 

Kesulitan dalam menentukan waktu atau tempat, seperti lupa di mana mereka berada, bagaimana mereka sampai di sana, atau mengapa mereka ada di sana.

 

Kehilangan penglihatan, seperti bermasalah dalam menilai jarak dan menentukan kontras atau warna.

 

Kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat, seperti sulit melanjutkan pembicaraan karena lupa kalimat selanjutnya.

 

Sering menaruh barang di tempat yang salah, seperti menaruh makanan di dalam mesin cuci.

 

Mengalami perubahan kepribadian dan suasana hati seperti bingung, cemas, depresi, dan rasa takut.

 

Menjauh dari lingkungan kerja, aktivitas sosial, atau berhenti melakukan hobinya.

 

 

 

 

Kesimpulan

 

Alzheimer adalah salah satu penyebab penyakit pikun atau demensia. Kondisi ini dapat terjadi akibat faktor penuaan, genetik, trauma dan stres, gaya hidup yang tidak sehat, atau kondisi kesehatan lainnya. Mengalami gangguan tidur juga dapat meningkatkan risiko terkena penyakit demensia.

 

Beberapa gejala Alzheimer yang umum adalah sering mengalami lupa hingga menggangu aktivitas harian, sering menaruh barang di tempat yang salah, dan kesulitan dalam menentukan waktu dan tempat.

 

Namun, Anda dapat melakukan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko terkena penyakit Alzheimer seperti melakukan aktivitas mental dan sosial, menjaga gaya hidup sehat, dan lain sebagainya. 

 

 

Referensi :

Julajak, Jimmy. (2019). Is alzheimer’s genetic? the real causes of alzheimer’s. Self Hacked. Diakses pada 27 Agustus 2019.

Hansen, Kelli. (2016). What are the signs of early onset alzheimer’s disease (ad)?. Healthline. Diakses pada 27 Agustus 2019.

Alzheimer’s Society. (2018). Understanding risk factors for dementia. Alzheimers. Diakses pada 27 Agustus 2019. 

Hamer M, Chida Y. Physical activity and risk of neurodegenerative disease: a systematic review of prospective evidence. Psychol Med. (2009). 

Rusanen M, Kivipelto M, Quesenberry CP Jr, Zhou J, Whitmer RA. Heavy smoking in midlife and long-term risk of Alzheimer disease and vascular dementia. Arch Intern Med. (2011). 

Whitmer RA, Gustafson DR, Barrett-Connor E, Haan MN, Gunderson EP, Yaffe K. Central obesity and increased risk of dementia more than three decades later. Neurology. (2008). 

Shi L, Chen SJ, Ma MY, et al. Sleep disturbances increase the risk of dementia: A systematic review and meta-analysis. Sleep Med Rev. (2018). 

Ju YE, Lucey BP, Holtzman DM. Sleep and Alzheimer disease pathology–a bidirectional relationship. Nat Rev Neurol. (2014).

Lehman EJ, Hein MJ, Baron SL, Gersic CM. Neurodegenerative causes of death among retired National Football League players. Neurology. (2012). 

Li Y, Li Y, Li X, et al. Head injury as a risk factor for dementia and alzheimer’s disease: A systematic review and meta-analysis of 32 observational studies. PLoS One. (2017). 

Futch HS, Croft CL, Truong VQ, Krause EG, Golde TE. Targeting psychologic stress signaling pathways in Alzheimer’s disease. Mol Neurodegener. (2017). 

Zhou J, Yu JT, Wang HF, et al. Association between stroke and Alzheimer’s disease: Systematic review and meta-analysis. J Alzheimers Dis. (2015). 

Lv W, Du N, Liu Y, et al. Low testosterone level and risk of alzheimer’s disease in the elderly men: A systematic review and meta-analysis. Mol Neurobiol. (2016).

Annweiler C, Llewellyn DJ, Beauchet O. Low serum vitamin D concentrations in Alzheimer’s disease: A systematic review and meta-analysis. J Alzheimers Dis. (2013). 

Kawahara M, Kato-Negishi M. Link between aluminum and the pathogenesis of alzheimer’s disease: The integration of the aluminum and amyloid cascade hypotheses. Int J Alzheimers Dis. (2011).


Tags: , , , , , , , , ,