fbpx
LOGO

Ampuh Mengatasi Hipertensi, Ini Manfaat Lain Tanaman Kumis Kucing

July 24, 2020
IMG

Kumis kucing (Orthosiphon stamineus atau Orthosiphon aristatus) merupakan tanaman asli Afrika yang banyak ditemui di daerah Indonesia. Selain dijadikan tanaman hias, kumis kucing sering dijadikan ramuan obat, dan sangat umum dikonsumsi sebagai teh. Sebuah produk herbal yang menjadikan kumis kucing sebagai bahan utama adalah Java Tea.

 

Kumis kucing kaya akan kandungan asam rosmarinik dan flavonoid termetilasi. Umumnya, herbal ini digunakan untuk mengatasi gangguan peradangan, menjaga kesehatan saluran dan kandung kemih, serta ginjal.

 

 

Manfaat Kumis Kucing bagi Kesehatan Tubuh

 

1. Meningkatkan kesehatan kulit

Ketika diproses, kumis kucing akan memproduksi minyak. Sebuah penelitian pada wanita menyatakan bahwa mengoleskan krim 2% yang mengandung ekstrak orthosiphon pada kulit sebanyak dua kali sehari selama 28 hari akan memperbaiki kualitas kulit terutama mengatasi kulit berminyak, mencerahkan, menyamarkan pori, serta mengurangi kerutan pada kulit (1).

 

Minyak esensial kumis kucing yang kaya akan kandungan fenol dan asam caffenic juga cukup efektif dalam mengobati berbagai infeksi kulit, menekan pertumbuhan bakteri gram positif Escherichia coli dan Klebsilla pneumonia, serta secara signifikan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae (2)

 

2. Mengatasi Tekanan Darah Tinggi

Senyawa kimia yang ada dalam kumis kucing membantu mengurangi tingkat tekanan darah. Beberapa percaya bahwa kandungan antioksidan dan anti-inflamasi dari ramuan adalah alasan untuk manfaat ini. Senyawa methylripariochromene yang terkandung pada tanaman kumis kucing terbukti bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah sistolik pada tikus percobaan melalui pemberian dengan dosis 1000 mg/kg selama 14 hari berturut-turut.

 

Senyawa tersebut bekerja dengan menurunkan fenilefedrin yang  bertanggung jawab terhadap terjadinya kontraksi pembuluh darah serta meningkatkan produksi asetilkolin yang memberikan efek relaksasi pada pembuluh darah (3). 

 

Pada sebuah penelitian lain dengan subyek manusia, pemberian kombinasi ekstrak kumis kucing (100 mg), nutraseutik dari berberin, monokolin K dari ragi beras merah, dan policosanol secara signifikan menurunkan tekanan darah dan kadar glukosa darah. Namun efek penurunan yang dihasilkan tidak sebanyak hydrochlorothiazide (obat konvensional anti-hipertensi) (4). 

 

3. Sebagai Diuretik

Istilah diuretik mengacu pada zat yang membantu meningkatkan pembuangan kelebihan cairan dalam tubuh melalui berkemih. Efek diuretik yang dimiliki oleh tanaman kumis kucing berasal dari kandungan sinensetin dan tetramethoxy-flavones yang membantu meningkatkan aliran urin dengan melemaskan otot-otot dinding pembuluh internal kandung kemih. Potensi ini juga dikaitkan dengan kandungan Methylripariochromene A dalam ekstrak daun kumis kucing.

 

Pada percobaan dengan tikus dengan asam urat, penggunaan ekstrak methanol kumis kucing dengan dosis 250 – 2000 mg/kg terbukti dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah setelah 6 jam pemberian dengan meningkatkan pengeluaran kelebihan asam urat melalui urin. Hasil penelitian ini menunjukkan selain adanya efek diuretik, ekstrak kumis kucing juga memiliki efek anti-gout (mengobati asam urat) meski efektivitasnya masih lebih rendah dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan duiretik ataupun penurun asam urat konvensional seperti furosemid dan allopurinol (5, 6).

 

Namun, diperlukan lebih banyak penelitian untuk membuktikan efektivitas diuretik kumis kucing pada manusia.

 

4. Menurunkan Berat Badan 

Secara tradisional, tumbuhan kumis kucing telah digunakan untuk tujuan menurunkan berat badan. Dalam sebuah percobaan pada tikus dengan berat badan normal, pemberian ekstrak 70% ethanol daun kumis kucing sebesar 450 mg/kg selama dua minggu berturut-turut dapat menurunkan berat badan hingga 41%, serta menurunkan massa lemak hingga 63%.

 

Selain itu, juga terjadi penurunan asupan makan pada tikus hingga 45%, dan peningkatan leptin mencapai 140%. Hormon leptin merupakan hormon yang bertanggung jawab atas munculnya rasa lapar dan kenyang. Kadar leptin akan meningkat ketika seseorang merasa kenyang dan sebaliknya kadar leptin yang terlalu rendah menandakan rasa lapar (7).

 

Sebuah penelitian dengan hewan coba lain dilaksanakan dengan penambahan kombinasi senyawa penghalang PTP1B (asam betulinik) pada tikus dengan kondisi obesitas. Kombinasi ini terbukti secara sinergis meningkatkan regulasi leptin dan menurunkan berat badan terutama pada tikus dengan obesitas (8).

 

Meski penelitian terhadap manusia masih sangat terbatas, namun kumis kucing telah menunjukkan potensi yang sangat baik untuk dikembangkan dalam hal menurunkan berat badan. 

 

 

 

Sumber Makanan

 

Bagian tanaman yang paling sering digunakan adalah bagian daun dari tanaman kumis kucing

 

 

Dosis Pemakaian

 

Belum adanya informasi mengenai dosis ideal untuk mengonsumsi ekstrak maupun suplemen kumis kucing

 

Jika mengacu pada penelitian dengan hewan coba, maka dosis setara untuk manusia berkisar antara:

110-4.900 mg untuk orang dengan berat badan 69 kg

150-6.500 mg untuk orang dengan berat badan 91 kg

180-8.100 mg untuk orang dengan berat badan 114 kg

 

Daun kumis kucing dapat dinikmati sebagai teh dengan cara langsung diseduh maupun direbus dengan tambahan kombinasi herbal lain.

 

 

Interaksi Sinergi

 

• Sonchus spp atau Barleria spp: Mengkombinasikan ekstrak tanaman kumis kucing dengan salah satu bakteri tersebut dapat merangsang ginjal dan sebagai obat untuk mengatasi nefritis (infeksi ginjal), batu empedu dan diabetes.

 

• Daun Blumea balsamifera, Phyllanthus fraternus, ditambah rimpang Curcuma xanthorrhiza: Mengkombinasikan ekstrak tanaman kumis kucing dengan berbagai bahan herbal ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit kuning yang disebabkan oleh infeksi liver (hepatitis).

 

• Daun Andrographis paniculata: Kombinasi keduanya digunakan secara tradisional untuk mengobati diabetes.

 

Senyawa penghalang PTP1B (asam betulinik, juga terdapat pada asam ursolik dan berberine): Mengkombinasikan senyawa ini dengan ekstrak kumis kucing terbukti mampu meningkatkan regulasi hormon leptin dan menurunkan berat badan pada tikus dengan obesitas. 

 

 

Efek Samping

 

Mengkonsumsi ekstrak tanaman kumis kucing dapat menyebabkan reaksi alergi.

 

Adapun konsumsi jangka panjang dapat menurunkan kadar sodium/garam dalam tubuh yang mengakibatkan kelelahan, pusing, mual dan muntah, kram, hingga dapat terjadi kejang otot.

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil dan menyusui

Tekanan darah rendah

Pasien pra-operasi

Edema (bengkak) akibat gangguan jantung dan ginjal

 

Hindari mengonsumsi ekstrak kumis kucing bersama dengan obat-obatan jenis lithium (obat-obatan anti sindrom bipolar), karena kombinasi keduanya dapat meningkatkan jumlah lithium dalam tubuh dan menghasilkan efek samping yang serius. Bicarakan dengan penyedia layanan kesehatan Anda sebelum mengkonsumsi kumis kucing karena dosis lithium Anda mungkin perlu diubah.

 

 

Referensi

Patel, Kamal. (2013). Orthosiphon stamineus. Examine. Diakses pada 11 Juli 2019.

WebMD. (2018). Java tea. WebMD. Diakses pada 11 Juli 2019.

Sylvia. (2019). Cat’s whiskers facts and health benefits. Healthline. Diakses  pada 11 Juli 2019.

Vogelgesang B, Abdul-Malak N, Reymermier C, Altobelli C, Saget J. On the effects of a plant extract of Orthosiphon stamineus on sebum-related skin imperfections. Int J Cosmet Sci. (2011). 

Alshawsh MA, Abdulla MA, Ismail S, et al. Free radical scavenging, antimicrobial and immunomodulatory activities of Orthosiphon stamineus. Molecules. (2012). 

Manshor NM, Dewa A, Asmawi MZ, Ismail Z, Razali N, Hassan Z. Vascular reactivity concerning orthosiphon stamineus benth-mediated antihypertensive in aortic rings of spontaneously hypertensive rats. Int J Vasc Med. (2013). 

Cicero AF, De Sando V, Izzo R, Vasta A, Trimarco A, Borghi C. Effect of a combined nutraceutical containing Orthosiphon stamineus effect on blood pressure and metabolic syndrome components in hypertensive dyslipidaemic patients: a randomized clinical trial. Complement Ther Clin Pract. (2012). 

Arafat OM, Tham SY, Sadikun A, Zhari I, Haughton PJ, Asmawi MZ. Studies on diuretic and hypouricemic effects of Orthosiphon stamineus methanol extracts in rats. J Ethnopharmacol. (2008). 

Olah NK, Radu L, Mogoşan C, Hanganu D, Gocan S. Phytochemical and pharmacological studies on Orthosiphon stamineus Benth. (Lamiaceae) hydroalcoholic extracts. J Pharm Biomed Anal. (2003).

Son J, Park S, Kim J. et al. Orthosiphon stamineus reduces appetite and visceral fat in rats. J. Korean Soc. Appl. Biol. Chem. (2011). 

Choi YJ, Park SY, Kim JY, et al. Combined treatment of betulinic acid, a PTP1B inhibitor, with Orthosiphon stamineus extract decreases body weight in high-fat-fed mice. J Med Food. (2013). 


Tags: , ,