fbpx
LOGO

Manfaat Potensial Asam Sitrat untuk Kecantikan dan Kesehatan

June 24, 2020
IMG

Citric acid atau asam sitrat dikenal sebagai penambah rasa masam. Umumnya, asam sitrat digunakan sebagai penyedap rasa dan pengawet makanan, terutama dalam minuman ringan, makanan dalam kaleng, dan permen. Namun di beberapa negara, asam sitrat juga ditambahkan ke dalam produk kosmetik dan kecantikan.

 

Asam sitrat dapat ditemukan pada seluruh makhluk hidup. Dalam tubuh manusia, asam sitrat merupakan senyawa yang berfungsi untuk memproduksi energi yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Asam sitrat juga banyak dijumpai di sumber makanan seperti jeruk limau, jeruk nipis, lemon, dan nanas.

 

Adapun suplemen asam sitrat tersedia dalam bentuk sediaan tablet, kapsul, ekstrak cair, dan bubuk. Meski memiliki rasa yang masam, asam sitrat memiliki efek alkali (basa) dalam tubuh yang berfungsi mengimbangi efek asam pada tubuh.

 

 

Manfaat Asam Sitrat

 

1. Sebagai Antioksidan dan Anti-Inflamasi

Beberapa penelitian menyebutkan, asam sitrat terbukti memiliki sifat antioksidan yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan membantu memerangi stres oksidatif (kerusakan akibat radikal bebas).

 

Sebuah penelitian pada tahun 2014 yang diterbitkan dalam Journal of Medicinal Food, asam sitrat yang diberikan pada tikus mampu menurunkan peroksidasi dan peradangan lipid otak, kerusakan hati, dan fragmentasi DNA pada tikus setelah injeksi yang dimaksudkan untuk menyebabkan stres oksidatif pada otak dan hati tikus.

 

Stres oksidatif yang terjadi pada tubuh dapat menyebabkan risiko terjadinya kanker, penyakit Alzheimer dan Parkinson, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa asam sitrat dapat membantu mengurangi peroksidasi lipid dan menurunkan regulasi inflamasi (1).

 

2. Memiliki Efek Alkali

Meskipun asam sitrat identik dengan rasanya yang asam, kenyataannya asam sitrat memiliki efek alkali dalam tubuh. Efek ini membantu mengurangi asam dalam tubuh dan melawan efek asam yang timbul dari konsumsi makanan seperti daging dan biji olahan. Adapun makanan yang memiliki efek asam yang harus dikonsumsi dengan bijak antara lain hidangan beku (frozen food), susu dan minuman berkafein, sereal olahan, kacang-kacangan, nasi, roti, produk olahan gandum, telur, dan pemanis buatan (2).

 

3. Berfungsi Sebagai Antikoagulan

Asam sitrat dapat membantu meningkatkan fungsi endotelium. Endotelium merupakan selaput tipis yang melapisi bagian dalam jantung dan pembuluh darah yang membantu relaksasi dan kontraksi pembuluh darah serta mempengaruhi dalam proses pembekuan darah.

 

Asam sitrat juga berperan dalam meningkatkan kekebalan tubuh, dan mencegah terjadinya agregasi atau penggumpalan trombosit (keping darah). Molekul asam sitrat yang disebut sitrat dapat digunakan sebagai antikoagulan (pengencer darah) karena kemampuannya sebagai agen pengikat kalsium (3).

 

 

4. Membantu Proses Metabolisme

Sitrat merupakan molekul pertama yang terbentuk selama proses siklus asam sitrat. Proses ini dikenal sebagai siklus tricarboxylic acid (TCA) atau siklus Krebs. Siklus Krebs berfungsi dalam proses perubahan makanan menjadi energi. Siklus ini sangat penting dalam metabolisme makhluk hidup karena manusia dan organisme yang lain mendapatkan energi untuk dapat bermetabolisme dan beraktivitas normal melalui siklus tersebut (4).

 

Ketika makhluk hidup makan, tubuh memecah makanan tersebut menjadi bagian-bagian kecil dan menyerap nutrisi yang ada pada makanan. Pemecahan tersebut menghasilkan berbagai macam senyawa yang diubah menjadi energi. Nantinya, energi ini akan digunakan untuk makhluk hidup dapat beraktivitas.

 

5. Meningkatkan Penyerapan Nutrisi

Suplemen mineral tersedia dan terjual bebas dalam berbagai bentuk. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kemampuan menyerap nutrisi dan mineral yang sama. Asam sitrat membantu tubuh dalam meningkatkan penyerapan nutrisi dan mineral yang dibutuhkan sehingga proses penyerapan terjadi lebih efektif dan efisien (5, 6).

 

Sebagai contoh, penderita asam lambung tidak dapat menyerap kalsium dari asam sitrat (kalsium sitrat) dengan baik. Hal ini akan menyebabkan terjadinya gangguan pencernaan seperti kembung atau sembelit. Karena itu, kalsium sitrat lebih baik dikonsumsi orang tanpa penyakit maag atau kondisi asam lambung normal (7, 8).

 

Asam sitrat juga membantu tubuh menyerap zinc (seng) dengan lebih baik (9). Zinc adalah mineral penting yang digunakan untuk membantu proses kerja enzim dalam tubuh. Secara tidak langsung, zinc juga berperan dalam proses pertumbuhan dan meningkatkan imunitas tubuh.

 

6. Mencegah Batu Ginjal

Asam sitrat dalam bentuk potasium sitrat dapat mencegah batu ginjal dan menghancurkan batu ginjal yang sudah terbentuk (10, 11, 12). Asam sitrat akan membuat kandungan urin menjadi tidak terlalu asam sehingga mencegah urin mengkristal menjadi batu ginjal (13). Meskipun potasium sitrat umum diberikan kepada pasien batu ginjal, tetapi mengonsumsi makanan yang mengandung asam sitrat juga dapat membantu penyembuhan dan pencegahan batu ginjal (14, 15).

 

7. Menjaga Kesehatan Tulang

Umumnya asam sitrat dikonsumsi untuk mengurangi kadar asam dalam tubuh dan metabolisme tulang. Manfaat ini juga erat kaitannya dengan efek alkali pada asam sitrat. Beberapa penelitian membuktikan bahwa alkali mampu mengatasi perubahan keasaman tubuh dan mencegah terjadinya risiko kekurangan kalsium yang disebabkan oleh asupan natrium atau garam yang tinggi. Suplementasi alkali dengan dosis 0,1 g/kg berat badan menunjukkan efek menguntungkan pada metabolisme tulang (16, 17, 18, 19).

 

8. Menjaga Kesehatan Kulit

Selain dinikmati manfaatnya melalui makanan, asam sitrat juga banyak digunakan pada kosmetik dan produk kecantikan. Kandungan asam sitrat diketahui dapat menunjang penyesuaian kadar asam pada kulit melalui pengelupasan kulit mati/exofiliating. Proses ini akan memicu pertumbuhan kulit baru yang lebih sehat.

 

Asam sitrat juga sering dijumpai dalam produk anti penuaan, serum, masker, dan krim malam. Asam sitrat memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi kulit dari penuaan dini akibat polusi udara dan radikal bebas (20).

 

 

Sumber Makanan

 

Beberapa makanan yang mengandung asam sitrat antara lain:

• Jeruk Nipis
• Jeruk Purut
• Lemon
• Jeruk Mandarin
• Jeruk Bali
• Anggur
Nanas
• Strawberry
• Tomat

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis pemakaian asam sitrat berbeda-beda untuk setiap kebutuhan pemakaiannya. Untuk pencegahan dan penyembuhan batu ginjal, dosis potasium sitrat yang direkomendasikan adalah 3,3 gram setelah makan, dan dapat dicampur dengan air atau jus.

 

Dosis yang direkomendasikan untuk mendapatkan efek alkali dalam tubuh yaitu mengkonsumsi asam sitrat dosis tinggi sekitar 0,1 gram per kilogram berat badan, yakni sekitar 8,2 gram sehari untuk orang dengan berat badan 82 kg. Ketika mengonsumsi asam sitrat, disarankan untuk memenuhi asupan air yaitu 8 gelas air putih dalam sehari.

 

 

Kontraindikasi

 

Diwajibkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi asam sitrat, terutama anak-anak serta penderita gangguan ginjal, masalah hati, tekanan darah tinggi, iritasi lambung, riwayat penyakit jantung, masalah urin, edema, diabetes, dan diare kronis.

 

Asam sitrat juga tidak boleh digunakan bersamaan dengan antasida, obat tekanan jantung atau darah, dan diuretik. Perokok dan peminum alkohol juga disarankan untuk berhati-hati dalam suplementasi asam sitrat karena dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan. Berhati-hatilah dalam mengonsumsi makanan dengan kombinasi rasa pedas dan asam yang mengandung tomat, bawang putih atau merah, buah jeruk dan produk olahan jeruk yang tinggi kandungan asam sitrat.

 

 

Efek Samping

 

Efek samping yang umum ditemui ketika mengonsumsi asam sitrat secara berlebihan antara lain kesulitan bernafas, iritasi kulit, reaksi alergi, iritasi hingga kerusakan mata, serta iritasi pada area hidung dan tenggorokan.

 

Efek samping yang lebih serius dari mengonsumsi asam sitrat secara berlebihan meliputi mati rasa, pembengkakan atau kenaikan berat badan yang cepat, kram otot, detak jantung yang cepat atau lambat, kebingungan atau perubahan suasana hati, tinja berdarah atau lembab, sakit perut yang parah, diare yang berkelanjutan, dan kejang.

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2012). Citric acid. Examine. Diakses pada 11 Juni 2019.

Levy, Jillian. (2018). Citric acid aros & cons: Is citric acid harmful to the body?. Draxe. Diakses pada 11 Juni 2019.

Canon, Eden. (2019). What you need to know about citric acid. Ethical Foods. Diakses pada 11 Juni 2019.

Walle, G. V. D. (2019). What is citric acid, and is it bad for you?. Healthline. Diakses pada 11 Juni 2019.

Mayo Clinic. (2019). Citrate (oral route). Mayo Clinic. Diakses pada 11 Juni 2019.

Gabutti, L., et al. The favorable effect of regional citrate anticoagulation on interleukin-1beta release Is dissociated from both coagulation and complement activation. J Nephrol. (2004).

Link, Rachael. (2019). 25 Acidic foods to avoid and healthier alternatives. Draxe. Diakses pada 11 Juni 2019.

Tang Xilan, et al. The cardioprotective effects of citric acid and l-malic acid on myocardial ischemia/reperfusion injury. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine. (2013).  

Berg J.M., et al. Biochemistry. 5 Edition. New York: W H Freeman. (2002).

Lacour, B., Tardivel, S., Drüeke, T. Stimulation by citric acid of calcium and phosphorus bioavailability in rats fed a calcium-rich diet. Miner Electrolyte Metab. (1997).

Teucher, B., Olivares, M., Cori, H. Enhancers of iron absorption: Ascorbic acid and other organic acids. International Journal for Vitamin and Nutrition Research. (2004).

Straub, D. A. Calcium supplementation in clinical practice: A review of forms, doses, and indications. Nutrition in Clinical Practice. (2007).

Ross, C. A., et al. Dietary reference intakes for calcium and vitamin d. Washington, D. C.: The National Academies Press. (2011).

Wegmüller, R., et al. Zinc absorption by young adults from supplemental zinc citrate is comparable with that from zinc gluconate and higher than from zinc oxide 1,2,3. The Journal of Nutrition. (2014).

Kern, A., Grimsby, G., Mayo, H., & Linda, B. A. Medical and dietary Interventions for preventing recurrent urinary stones in children. Cochrane Database of Systematic Reviews. (2017).

Phillips, R., et al. Citrate salts for preventing and treating calcium containing kidney stones in adults. Cochrane Database of Systematic Reviews. (2015).

Prezioso, D., et al. Dietary treatment of urinary risk factors for renal stone formation. A review of clu working group. Archives of Italian Urology and Andrology. (2015).

Walker, R. W., et al. Calcium receptor signaling and citrate transport. Urolithiasis. (2018).

Penniston, K. L., et al. Quantitative assessment of citric acid in lemon juice, lime juice, and commercially-available fruit juice products. Journal of Endourology. (2008).

Gul, Zeynep & Monga, Manoj. Medical and dietary therapy for kidney stone prevention. Korean Journal of Urology. (2014).

Wachman, A., & Bernstein, D. S. Diet and osteoporosis. Lancet. (1968).

Macdonald, H. M., et al. Effect of potassium citrate supplementation or increased fruit and vegetable intake on bone metabolism in healthy postmenopausal women: A randomized controlled trial. The American Journal of Clinical Nutrition. (2008).

Sellmeyer, D. E., Schloetter, M., & Sebastian, A. Potassium citrate prevents increased urine calcium excretion and bone resorption induced by a high sodium chloride diet. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. (2002).

Marangella, M., et al. Effects of potassium citrate supplementation on bone metabolism. Calcified Tissue International. (2004).

Kornhauser, A., Coelho, S. G., Hearing, V. J. Effects of cosmetic formulations containing hydroxyacids on sun-exposed skin: Current applications and future developments. Dermatology Research and Practice. (2012).


Tags: , , , , , , ,