fbpx
LOGO

Khasiat Ashwagandha, Ginseng dari Tanah India

June 25, 2020
IMG

Ashwagandha atau ginseng India adalah tanaman yang sangat terkenal dalam pengobatan Ayurveda, pengobatan tradisional India, dan sudah digunakan menjadi ramuan obat selama lebih dari 2500 tahun. Dalam literasi India, ashwagandha berarti “bau kuda”, karena akar tanaman tersebut memiliki bau seperti kuda, dan juga dikenal sebagai “kekuatan kuda jantan” karena manfaatnya yang dapat memperkuat sistem tubuh setelah terserang penyakit dan meningkatkan stamina.

 

Ashwagandha semakin populer karena kemampuannya dalam mengatasi stres. Disamping itu, tanaman herbal ini juga bermanfaat untuk mengatasi gangguan mood, mencegah penyakit degeneratif, dan menjadi agen anti-inflamasi. 

 

 

Manfaat Ashwagandha

 

1. Mengatasi Gangguan Kecemasan dan Stres Kronis

Dalam sebuah penelitian tahun 2009 yang diterbitkan dalam PLOS One menyebutkan bahwa ashwagandha memiliki manfaat yang sebanding dengan obat-obatan anti-berita seperti lorazepam dan imipramine. Bahkan ashwagandha diketahui tidak menimbulkan efek samping. Sedangkan obat-obatan anti-krisis dapat menyebabkan kantuk, susah tidur, kehilangan nafsu makan dan nafsu makan meningkat. 

 

Penelitian singkat dilaksanakan selama 12 minggu dengan 75 peserta yang terdiagnosis gangguan terbagi dalam dua kelompok, yaitu intervensi yang diberikan ashwagandha dengan dosis 300 mg, dan kelompok penerima psikoterapi. Kelompok penerima ashwaganda diketahui kehilangan skor sebesar 55%. Sementara kelompok penerima psikoterapi mengalami penurunan hanya sebesar 30,5%.

 

Perbedaan signifikan antara kedua kelompok juga ditemukan dalam derajat kesehatan mental, konsentrasi, fungsi sosial, vitalitas, dan kualitas hidup secara total dibandingkan dengan kelompok psikoterapi ( 1 ).

 

2. Mengatasi Depresi

Selain dapat mengatasi krisis dan stres, ashwagandha juga diketahui lelmiliki manfaat bagi penderita depresi. Sebuah studi eksperimental yang dilaksanakan pada tahun 2000 melaksanakan perbandingan antara ashwagandha dengan imipramine (obat anti-depresan) yang diberikan kepada hewan coba tikus.

 

Ditemukan fakta bahwa ashwagandha menunjukkan efek antidepresan yang sebanding dengan imipramine. Sehingga kesimpulan ini menyimpulkan bahwa ashwagandha dapat digunakan untuk menstabilkan suasana hati seseorang yang sedang dalam kondisi depresi, dan menjadi obat herbal bagi penderita depresi ( 2 ).

 

 

 

3. Meningkatkan Fungsi Kelenjar Tiroid

Salah satu manfaat yang paling luar biasa dari herbal adaptogen berjenis ashwagandha adalah dapat meningkatkan fungsi kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid terletak di tubuh bagian bawah leher yang berfungsi memproduksi hormon tiroid. Adapun hormon tiroid berfungsi untuk meningkatkan metabolisme dan kesehatan secara keseluruhan.

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Alternative and Complementary Medicine menyatakan bahwa ashwagandha bermanfaat untuk menormalkan kadar hormon tiroid pada pasien dengan hipotiroid.

 

Hipotiroid adalah kondisi dimana kelenjar tiroid tidak cukup memproduksi hormon tiroid sehingga mengakibatkan rendahnya proses metabolisme dalam tubuh manusia (3).

 

Sebuah penelitian lain yang diterbitkan dalam Journal of Ayurveda and Integrative Medicine juga menemukan fakta bahwa ashwagandha memiliki sifat meningkatkan kadar tiroid dalam darah pada pasien gangguan bipolar. Pemberian ashwagandha sebesar 500 mg/hari selama delapan minggu diketahui mampu memperbaiki fungsi kognitif pada responden penelitian.

 

Namun, penelitian ini juga menunjukkan fakta bahwa ashwagandha meningkatkan fungsi dan kadar hormon tiroid, sehingga harus cukup waspada jika Anda seorang penderita tiroid hiperaktif, seperti penyakit Graves (4).

 

4. Menurunkan Kadar Gula Darah

Beberapa penelitian berhasil membuktikan bahwa ashwagandha memiliki sifat anti-diabetes. Ashwagandha dapat menurunkan kadar gula darah baik pada orang yang sehat maupun penderita diabetes dengan cara meningkatkan sekresi dan sensitivitas insulin di dalam sel-sel otot. Selain itu, berikan ashwaganda dalam dosis yang tinggi yakni antara 750 – 1.250 mg tidak menunjukkan efek samping serius ( 5 , 6 , 7 ).

 

Penelitian lain menunjukkan adanya efek hipoglikemik pada ashwagandha. Pasien diabetes tipe 2 beresiko terkena hipoglikemik atau kadar gula darah rendah. Pemberian bubuk ashwagandha selama 30 hari berturut-turut diketahui bermanfaat dalam mengatasi kenaikan gula darah yang tidak terkontrol pada pasien diabetes tipe 2. Ashwaganda juga diketahui memiliki kekuatan yang hampir sama dengan mengonsumsi obat anti-diabetes ( 8 ).

 

5. Mengatasi Infertilitas Pada Pria

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ashwagandha memiliki efek pada peningkatan kadar testosteron dan kesehatan kelompok, terutama pada kelompok pria. Efek peningkatan testosteron pada ashwagandha juga berkaitan dengan peningkatan massa otot dan pemulihan pasca latihan fisik ( 9 , 10 ). 

 

Suplementasi bubuk ashwagandha juga efektif mengurangi stres oksidatif pada pria sehat maupun infertil (mandul), yang berdampak pada peningkatan kesuburan. Sebuah penelitian dengan partisipan sebanyak 75 pria infertil atau mandul, kelompok yang diberikan intervensi ashwagandha menunjukkan peningkatan kadar antioksidan, jumlah dan motilitas sperma serta peningkatan kadar testosteron yang signifikan ( 11 ). 

 

Pada penelitian lain yang melibatkan 60 partisipan pria infertil dan 60 partisipan pria subur sebagai kelompok kontrol. Kelompok pria tidak subur menerima ashwagandha sebesar 5 g / hari selama 3 bulan berturut-turut.

 

Setelah evaluasi dilaksanakan tidak diketahui bahwa kelompok penerima ashwagandha mengalami peningkatan kadar antioksidan yang lebih tinggi dan kualitas sperma yang lebih baik. Bahkan diketahui setelah tiga bulan mempersembahkan, sebesar 14% pria yang dinyatakan tidak menunjukkan tingkat kesuburan yang lebih baik karena tidak diketahui hamil secara positif.

 

Penelitian ini juga membuktikan bahwa ashwagandha efektif meningkatkan kesuburan pada pria yang mengalami kecanduan berat pada rokok ( 12 ).

 

6. Meningkatkan Kekuatan dan Massa Otot Pada Pria

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa ashwagandha dapat meningkatkan massa otot, mengurangi lemak tubuh dan meningkatkan stamina pada pria. Mengkombinasikan ashwagandah dengan tanaman arjuna ( Terminalia arjuna ) meningkatkan peningkatan seluruh parameter kecepatan dan kekuatan tubuh ( 13 ).

 

Sebuah penelitian dilaksanakan bertujuan untuk menentukan dosis aman dan efektif untuk konsumsi ashwagandha dengan responden pria sehat. Partisipan yang mengonsumsi 750 hingga 1.250 mg akar ashwagandha bubuk per hari selama satu bulan penuh diketahui mengalami peningkatan kekuatan yang signifikan.

 

Penelitian tersebut juga menemukan potensi ashwagandha dalam perawatan kondisi sarkopenia, yaitu sindrom penurunan massa dan fungsi otot pada lansia ( 6 ).

 

Penelitian lain pada pria yang mengonsumsi ashwagandha yang memiliki peningkatan kekuatan dan ukuran otot yang jauh lebih besar, dan mengalami penurunan presentasi tubuh sebanyak dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo.

 

Manfaat ini tidak terlepas dari pengaruh ashwagandha dalam meningkatkan testosteron. Sehingga, para peneliti juga menyimpulkan bahwa ashwagandha berguna untuk review Program latihan Ketahanan (resistensi) ( 10 ).

 

7. Sebagai Agen Anti-Inflamasi

Penelitian yang dilakukan terkait efek anti inflamasi pada ashwagandha menyatakan bahwa tanaman tersebut membantu mengurangi peradangan pada hewan coba dengan kondisi hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi ( 14 ). Ekstrak akar ashwagandha juga diketahui memiliki efek antinocicetive atau analgesik, yaitu efek pereda nyeri. Pemberian ekstrak akar ashwaganda yang mampu menangani peradangan dan rasa nyeri yang diakibatkan oleh paparan bahan kimia seperti formalin ( 15 ).

 

Selain itu, mempersembahkan ashwagandha yang tidak diketahui mampu mengurangi adanya protein yang info tentang peradangan protein C-Reaktif (CRP) yang meningkatkan risiko penyakit jantung pada manusia. Kelompok yang mengonsumsi 250 mg ekstrak ashwagandha setiap hari mengalami penurunan CRP sebesar 36%, dibandingkan dengan kelompok plasebo yang hanya mengalami penurunan kadar CRP sebesar 6%. Penelitian tersebut menunjukkan efek imunologis dari ashwagandha, efek ashwagandha pada aktivasi sel memerlukan penelitian yang lebih lanjut ( 16 , 17 ). 

 

8. Menjaga Kesehatan dan Fungsi Otak

Uji tabung dan penelitian pada hewan coba menunjukkan bahwa ashwagandha dapat mengurangi masalah memori dan fungsi otak yang disebabkan oleh cedera atau penyakit. Ashwagandha dapat memperbaiki kerusakan memori spasial pada tikus dengan diagnosis epilepsi, melalui proses penurunan kadar radikal bebas dalam tubuh. Memori spasial sendiri bertanggung jawab untuk merekam infromasi yang berkaitan dengan spasial (lokasi, navigasi), sehingga kerusakan pada memori spasial dapat menyebabkan ketidakmampuan tikus untuk melakukan navigasi atau mengenali rute lokasi yang umum dilalui  (18).

 

Studi lain menyebutkan bahwa mengonsumsi 500 mg ekstrak ashwagandha setiap hari akan meningkatkan fungsi dan kinerja tugas pada otak. Sementara itu, mengonsumsi 300 mg ekstrak akar ashwaganda dua kali sehari diketahui secara signifikan mampu meningkatkan memori serta perhatian atau perhatian ( 19 , 20 ).

 

 

Sumber Makanan

 

  • Ekstrak akar dan daun tanaman ashwagandha

 

 

Dosis Pemakaian

 

• Dosis awalan yang tidak makan dalam konsumsi bubuk ashwaganda secara umum adalah sebesar 300-500 mg per hari. Baik dikonsumsi di pagi hari secara bersamaan dengan sarapan atau setelah makan pagi.

 

• Dosis rendah sebesar 50-100 mg telah terbukti mengurangi gejala penurunan sistem imunitas (imunosupresi) yang diakibatkan oleh stres serta dapat meningkatkan efek-ansietas (untuk mengatasi pengurangan) lainnya.

 

• Dosis yang diambil untuk mengatasi stres adalah 300 mg ekstrak akar ashwaganda (suplemen suplemen KSM66, Ixoreal Biomed) sebanyak dua kali sehari setelah. Dosis tersebut terbukti baik dan aman dikonsumsi selama 60 hari berturut-turut.

 

 

Efikasi

 

Pria sehat yang mengonsumsi 750 hingga 1.250 mg akar ashwagandha bubuk setiap hari dapat merasakan optimalisasi kekuatan otot, terutama setelah konsumsi tanaman herbal selama 30 hari atau sebulan penuh.

 

 

Sinergi

 

Terminalia arjuna : mengkombinasikan ashwagandha dengan tanaman arjuna dapat mengoptimalisasi performa dan stamina tubuh.

 

 

Efek Samping

 

Ashwagandha dapat menimbulkan efek samping berupa mengantuk dan sedasi ringan pada beberapa orang.

 

 

Kontraindikasi

 

Ashwagandha merupakan suplemen yang baik dikonsumsi kecuali pada beberapa kasus berikut ini:

 

Ibu hamil dan menyusui tidak disarankan untuk mengonsumsi ekstrak maupun suplemen ashwagandha.

 

Penderita gangguan auto-imun seperti rheumatoid arthritis, lupus, tiroiditis Hashimoto dan diabetes tipe 1 disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu jika akan mengonsumsi ekstrak atau suplemen ashwagandha untuk menghindari efek samping yang mungkin terjadi.

 

Pasien gangguan tiroid yang sedang dalam masa pengobatan harus berhati-hati ketika akan mengonsumsi ashwagandha, karena berpotensi meningkatkan kadar hormon tiroid, menurunkan kadar gula darah dan tekanan darah. Disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

 

Penderita tekanan darah rendah tidak dianjurkan untuk mengonsumsi ekstrak maupun suplemen ashwagandha karena dapat menurunkan tekanan darah rendah secara signifikan.

 

Pasien pra-operasi: Ashwagandha dapat memperlambat proses dalam sistem saraf pusat, terutama dalam fungsi penerimaan obat jenis anestesi selama dan setelah operasi. Sebaiknya berhenti mengonsumsi ashwagandha selama kurang lebih 2 minggu sebelum jadwal operasi.

 

• Hindari suplementasi ashwagandha jika Anda sedang mengkonsumsi obat imunosupresan, obat penenang (Benzodiazepines), dan pil hormon tiroid.

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Ashwaganda. Examine. Diakses pada 11 Juni 2019.

Axe,  Josh. (2018). 11 Ashwagandha benefits for the brain, thyroid and even muscles. Draxe. Diakses pada 11 Juni 2019.

Spritzler, Franziska. (2018). 12 Proven health benefits of ashwagandha. Healthline. Diakses pada 11 Juni 2019.

Cooley K, Szczurko O, Perri D, Mills EJ, Bernhardt B, Qi Zhou, Seely D. Naturopathic care for anxiety: A randomized controlled trial ISRCTN78958974. Plos One. (2009). 

Bhattacharya S, Bhattacharya A,  Sairam K, Ghosal S. Anxiolytic-antidepressant activity of withania somnifera glycowithanolides: An experimental study. Phytomedicine : international journal of phytotherapy and phytopharmacology. (2001). 

Sharma AK, Basu I, Singh S. Khasiat dan keamanan ekstrak akar ashwagandha pada pasien hipotiroid subklinis: Uji coba terkontrol plasebo acak tersamar ganda . J Alternatif Pelengkap Med. (2018). 

Gannon JM, Forrest PE, Roy Chengappa KN. Perubahan halus dalam indeks tiroid selama studi terkontrol plasebo dari ekstrak Withania somnifera pada orang dengan gangguan bipolar . J Ayurveda Integr Med. (2014).

Gorelick J, Rosenberg R, Smotrich A, Hanuš L, Bernstein N. Aktivitas hipoglikemik withanolides dan menimbulkan Withania somnifera . Fitokimia. (2015).

Raut AA, Rege NN, Tadvi FM, dkk. Studi eksplorasi untuk mengevaluasi tolerabilitas, keamanan, dan aktivitas ashwagandha (withania somnifera) pada sukarelawan yang sehat . J Ayurveda Integr Med. (2012). 

Agnihotri AP, Sontakke SD, Thawani VR, Saoji A, Goswami VS. Efek Withania somnifera pada pasien skizofrenia: studi percobaan percontohan terkontrol plasebo acak, buta ganda, dan terkontrol . Farmakol J India. (2013).

Andallu B, Radhika B. Efek hipoglikemik, diuretik dan hipokolesterolemik dari akar ceri musim dingin (withania somnifera, dunal) . Indian J Exp berbagai. (2000).

Gupta A, Mahdi AA, Shukla KK, dkk. Khasiat withania somnifera pada metabolit plasma mani laki-laki tidak subur: studi NMR proton pada 800 MHz . J Ethnopharmacol. (2013).

Wankhede S, Langade D, Joshi K, Sinha SR, Bhattacharyya S. Memeriksa efek suplementasi withania somnifera pada kekuatan dan pemulihan otot: Uji coba terkontrol secara acakJ Int Soc Sports Nutr . (2015).

Ahmad MK, Mahdi AA, Shukla KK, dkk. Withania somnifera meningkatkan kualitas semen dengan mengatur kadar hormon reproduksi dan stres oksidatif dalam plasma mani pria yang tidak subur.  Steril Pupuk. (2010).

Mahdi AA, Shukla KK, Ahmad MK, dkk. Withania somnifera meningkatkan kualitas semen pada kesuburan pria yang berhubungan dengan stres. Pengobatan Alternatif Pelengkap Berbasis Bukti. (2009). 

Sandhu JS, Shah B, Shenoy S, Chauhan S, Lavekar GS, Padhi MM. Pengaruh withania somnifera (ashwagandha) dan terminalia arjuna (arjuna) pada kinerja fisik dan daya tahan kardiorespirasi pada dewasa muda yang sehat . Int J Ayurveda Res. (2010).

Samadi Noshahr Z, Shahraki MR, Ahmadvand H, Nourabadi D, Nakhaei A. Efek perlindungan dari akar withania somnifera pada penanda inflamasi dan resistensi insulin pada tikus yang diberi makan fruktosa . Rep Biochem Mol berbagai. (2015).

Ekstrak akar dunal Orrù A, Casu MA, Tambaro S, Marchese G, Casu G, Ruiu S. Withania somnifera (L.) meredakan nosisepsi yang diinduksi formalin pada tikus: Keterlibatan sistem opioidergik . Perilaku Pharmacol. 2016).

Bhat J, Damle A, Vaishnav PP, Albers R, Joshi M, Banerjee G. Peningkatan in vivo aktivitas sel pembunuh alami melalui teh yang diperkaya dengan herbal ayurveda . Phytother Res. (2010).

Mikolai J, Erlandsen A, Murison A, dkk. Efek in vivo ekstrak ashwagandha (withania somnifera) pada aktivasi limfosit . J Alternatif Pelengkap Med. (2009).

Soman S, Korah PK, Jayanarayanan S, Mathew J, Paulose CS. Stres oksidatif yang diinduksi perubahan reseptor NMDA menyebabkan defisit memori spasial pada epilepsi lobus temporal: Efek amelioratif dari withania somnifera dan withanolide a . Res neurochem. (2012).

Pingali U, Pilli R, Fatima N. Pengaruh ekstrak air standar withania somnifera pada tes kinerja kognitif dan psikomotorik pada peserta manusia yang sehat . Res Farmakognosi. (2014).

Choudhary D, Bhattacharyya S, Bose S. Khasiat dan keamanan ekstrak akar ashwagandha (withania somnifera (L.) dunal) dalam meningkatkan memori dan fungsi kognitif . J Diet Supp l . (2017).


Tags: , , , , , , , , ,