fbpx
LOGO

Bagaimana Cara Kerja Kafein dalam Tubuh?

October 5, 2020
IMG

Kafein telah lama dikenal sebagai nootropik dan stimulan. Komponen kafein yang umum dapat ditemukan di kopi dan teh ini mampu membuatmu kembali bersemangat dan bergairah setelah tegukan pertama.

 

Meskipun dikaitkan dengan efek kecemasan, kafein lebih diasosiasikan dengan efek euforia dan melawan kantuk. Sayangnya bagi para pecinta kopi, mereka mungkin tidak mendapatkan efek euforia dan hanya mendapatkan efek stimulan.

 

Dibalik segala manfaatnya, bagimana tepatnya cara kerja kafein?

 

Kafein dapat memblokir dua dari empat reseptor adenosin di otak (A1 dan A2A), dengan berbagai efek. Dengan menghalangi A1 reseptor, yang mempromosikan kantuk ketika diaktifkan, kafein dapat meningkatkan kewaspadaan. Ketika kafein memblokir reseptor A2A, ini akan dapat meningkatkan kadar dopamin, yang memiliki efek merangsang dan meningkatkan suasana hati. 

 

Kafein sebagai reseptor antagonis adenosin yaitu  dengan mencegah adenosin dari penggabungan dengan dua subtipe reseptor ini, sehingga meningkatkan kewaspadaan. 

 

Sebagai neuroprotektan, kafein memberikan efek perlindungan dengan meningkatkan ekspresi gen faktor neurotropik yang diturunkan dari otak atau Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Hal ini akan menghasilkan perlindungan terhadap pengembangan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer (1).

 

Kafein juga meningkatkan kepadatan reseptor GABA, mempotensiasi dopamin, dan menyebabkan beberapa reseptor serotonin menjadi lebih responsif, sehingga akan menghasilkan peningkatan suasana hati yang lebih baik.

 

Maka dari itu, kafein seringkali dikonsumsi untuk meningkatkan fungsi kognisi, waspada, memori, energi fisik, serta membantu membakar lemak. Penggunaan kafein pun tentunya harus dibatasi, karena dapat menyebabkan efek samping berupa insomnia, kecemasan, gelisah, dan jantung berdebar. 

 

 

 

Takaran yang aman dalam mengonsumsi kafein pada setiap orang berbeda berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan. Untuk orang dewasa sehat, doisis kafein hingga 400 mg / hari dianggap aman.

 

Wanita hamil atau menyusui disarankan untuk mengonsumsi tidak lebih dari 200 mg / hari. Anak-anak dan orang dengan masalah kesehatan jantung juga harus membatasi asupan kafein mereka. Adapun orang dengan kondisi kesehatan lain disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui keamanan dan efek samping yang mungkin ditimbulkan.

 

Setiap orang juga memiliki toleransi kafein yang berbeda. Semakin tinggi toleransi seseorang terhadap kafein, maka semakin kebal manfaat kafein yang diterima.

 

Jika Anda ingin memaksimalkan manfaat kafein, konsumsilah dengan dosis yang lebih sedikit atau lebih jarang. Membatasi asupan kafein Anda sekali atau dua kali seminggu adalah cara terbaik untuk mendapatkan lebih banyak manfaat dari setiap cangkir.

 

 

Referensi:

Patel K. (2018). The science behind caffeine. Examine. Diakses pada 04 Oktober 2019.

Tomen D. (2018). Caffeine. Nootropics Expert. Diakses pada 04 Oktober 2019.

Ghoneim FM, Khalaf HA, Elsamanoudy AZ, et al. Protective effect of chronic caffeine intake on gene expression of brain derived neurotrophic factor signaling and the immunoreactivity of glial fibrillary acidic protein and Ki-67 in Alzheimer’s disease. Int J Clin Exp Pathol. (2015).


Tags: