fbpx
LOGO

Benarkah Daging Merah Berbahaya? Begini Kata Penelitian

November 5, 2020
IMG

Daging merah mengandung banyak nutrisi penting, seperti protein, kalsium, asam lemak omega-3, vitamin B, sekaligus merupakan sumber utama zat besi. Daging merah bisa berasal dari daging sapi, kambing, domba, ataupun babi.

 

Sekarang ini terdapat berbagai jenis daging, yaitu:

 

Daging olahan:  Produk ini biasanya berasal dari sapi yang dipelihara secara konvensional, kemudian melalui berbagai metode pemrosesan. Contohnya sosis dan bacon.

 

Daging merah konvensional: Daging merah konvensional cukup diproses, tetapi untuk sapi biasanya dipelihara di peternakan. Daging yang berwarna merah saat mentah didefinisikan sebagai daging merah. Daging merah termasuk domba, sapi, babi dan beberapa lainnya.

 

Daging putih: Daging yang putih saat dimasak didefinisikan sebagai daging putih. Daging putih termasuk daging dari unggas seperti ayam dan kalkun.

 

Daging organik yang diberi makan rumput: Daging ini berasal dari hewan yang telah diberi makan secara alami dan dibesarkan secara organik, tanpa obat-obatan, hormon, maupun bahan kimia buatan lainnya. 

 

 

Benarkah daging merah berbahaya?

 

Orang-orang telah mengonsumsi daging merah sejak ribuan tahun yang lalu, namun daging merah merupakan salah satu makanan yang kontroversial dalam sejarah gizi.

 

Pertanyaan yang seringkali muncul ketika akan mengonsumsi daging merah adalah apakah mengonsumsinya benar-benar dapat meningkatkan risiko penyakit kanker dan jantung?  

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daging merah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, kanker, dan kematian yang lebih besar. Hal ini dipercaya karena kandungan lemak jenuhnya yang tinggi sehingga meningkatkan kadar kolesterol jahat LDL.

 

Namun, tidak semua daging merah memiliki dampak kesehatan yang sama (1).

 

Sebuah tinjauan sistematis terhadap 20 penelitian yang melibatkan 1.218.380 individu menemukan bahwa daging olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan diabetes. Namun, tidak ada hubungan yang ditemukan untuk daging merah yang tidak diproses (2).

 

Dalam studi EPIC dengan melibatkan 448.568 orang membuktikan bahwa daging olahan meningkatkan risiko kematian, sementara tidak ada efek terlihat untuk daging merah yang tidak diproses (3).

 

Adapun dalam hal kanker, jawabannya tidak begitu jelas. Banyak peneliti mengatakan bahwa daging merah memang meningkatkan risiko, termasuk risiko rendah kanker kolekteral. Sebuah meta-analisis menemukan efek yang lemah untuk pria, tetapi tidak ada efek untuk wanita (4, 5).

 

Sebaliknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mengonsumsi daging merah ataupun olahan hanya menimbulkan efek kesehatan yang relatif kecil dan tidak signifikan. Beberapa organisasi kesehatan tetap menyarankan orang dewasa untuk tidak menghentikan konsumsi daging merah dan daging olahan.

 

Namun, kesimpulan ini telah ditentang oleh badan-badan kesehatan termasuk Kesehatan Masyarakat Inggris, Cancer Research UK dan World Cancer Research Fund. Meskipun besarnya peningkatan risiko terkait konsumsi daging merah dan olahan tergolong kecil, ketika ditinjau dalam populasi yang lebih besar maka konsumsi daging merah maupun olahan memiliki resiko penyakit.

 

Sebagai contoh, satu temuan menyatakan penurunan 3 porsi daging merah atau olahan per minggu dapat mengakibatkan antara 1-12 lebih sedikit kasus diabetes tipe 2 per 1000 orang. Jika diterapkan ke populasi jutaan orang, mengurangi konsumsi daging merah ataupun olahan berpotensi mengurangi ribuan kasus diabetes

 

 

 

Kesimpulan

 

Walaupun risiko yang ditemukan dalam temuan ini kecil dan tidak signifikan, disarankan untuk mengikuti panduan yang diberikan.

 

World Cancer Research Fund menyarankan agar makan tidak lebih dari 500 g daging merah seminggu untuk memenuhi diet seimbang dan sehat.

 

Karakteristik pola diet yang bermanfaat adalah konsumsi seimbang antara makanan nabati seperti buah-buahan, sayuran, gandum, lemak, minyak tak jenuh, dengan makanan protein, termasuk kacang-kacangan, biji-bijian, makanan laut, telur, daging dan unggas tanpa lemak, dan produk susu rendah lemak.

 

 

Referensi

Nutrition. (2019). New studies suggest there is no need to reduce consumption of red and processed meat. Nutrition. Diakses pada 24 Oktober 2019.

Gunnars K. (2019). Is red meat bad for you, or good? an objective look. Healthline. Diakses pada 24 Oktober 2019.

Lee E. (2017). The truth about red meat. WebMD. Diakses pada 24 Oktober 2019.

Wang X, Lin X, Ouyang YY, Liu J, Zhao G, Pan A, Hu FB. Red and processed meat consumption and mortality: Dose-response meta-analysis of prospective cohort studies. Public Health Nutr. (2016).

Micha R, Wallace SK, Mozaffarian D. Red and processed meat consumption and risk of incident coronary heart disease, stroke, and diabetes mellitus: A systematic review and meta-analysis. Circulation. (2010). 

Rohrmann S, Overvad K, et al. Meat consumption and mortality–results from the European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition. BMC Med. (2013).

Alexander DD, Weed DL, Cushing CA, Lowe KA. Meta-analysis of prospective studies of red meat consumption and colorectal cancer. Eur J Cancer Prev. (2011). 

Alexander DD, Cushing CA. Red meat and colorectal cancer: a critical summary of prospective epidemiologic studies. Obes Rev. (2011).


Tags: