fbpx
LOGO

Benarkah Fruktosa Lebih Sehat dari Glukosa dan Corn Syrup?

October 20, 2020
IMG

Gula adalah salah satu jenis karbohidrat sederhana yang digunakan untuk menambah rasa manis pada suatu hidangan. Terdapat enam jenis gula yang dikelompokkan dalam monosakarida, disakarida, dan oligosakarida. Keenam jenis gula ini memiliki reaksi yang berbeda pada tubuh.

 

Contohnya glukosa dan fruktosa, pemanis alami pada buah-buahan. Walaupun keduanya termasuk kedalam monosakarida, glukosa diproses menjadi energi, sementara fruktosa diproses menjadi lemak tubuh. Hal ini yang menyebabkan seseorang tidak boleh mengonsumsi fruktosa berlebih.

 

Gula meja adalah disakarida dengan perbandingan glukosa dan fruktosa yang sama. Komposisi sirup jagung fruktosa tinggi (HFCS) hanya sedikit berbeda dengan gula meja, yaitu mengandung 55% fruktosa, 41% glukosa, dan 4% sakarida lainnya.

 

Mengonsumsi minuman yang dimaniskan dengan gula dikaitkan dengan peradangan kronis, serta peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung.

 

Hal ini dibuktikan oleh World Cancer Research Fund (WRCF) bahwa konsumsi tinggi gula dan minuman yang dimaniskan dapat meningkatkan berat badan dan risiko diabetes tipe 2. Pada akhirnya ini akan berujung pada risiko jenis kanker tertentu, termasuk kanker kolorektal dan kanker payudara pascamenopause.

 

Sebuah penelitian terbaru juga berhipotesis bahwa fruktosa pada minuman manis berkaitan dengan faktor risiko peradangan kronis, nilai lipid darah abnormal, dan penurunan sensitivitas insulin. Perbandingan metabolisme dengan konsumsi alkohol juga telah dibuat untuk fruktosa.

 

Para peneliti membandingkan efek metabolisme minuman yang dimaniskan dengan fruktosa, sirup jagung fruktosa tinggi (HFCS), dan glukosa pada penanda peradangan jaringan sistemik dan adiposa serta permeabilitas usus.

 

Studi ini melibatkan 24 partisipan sehat yang terdiri dari 15 pria dan 9 wanita dengan usia rata-rata 36. Partisipan dibagi dua kelompok berdasarkan Body Mass Index (BMI), yaitu berat badan normal (BMI 20.0-24.9; n = 12) dan kelebihan berat badan / obesitas (BMI 25.0-39.9; n = 12).

 

Seluruh partisipan tidak mengalami malabsorpsi fruktosa dan kriteria eksklusi lainnya termasuk faktor khas seperti merokok, penyalahgunaan obat atau alkohol, penyakit metabolik atau peradangan kronis, dan penggunaan obat resep.

 

Selama penelitian, partisipan mengonsumsi makanan terstandar selama tiga periode delapan hari sambil meminum 25% dari perkiraan kebutuhan kalori mereka dengan minuman yang mengandung fruktosa, glukosa, atau HFCS. Makanan diberikan kepada peserta dan dikonsumsi sesuai keinginan mereka.

 

Setelah penelitian, tim peneliti tidak menemukan efek diferensial yang substansial pada partisipan dengan berat badan normal atau gemuk yang mengonsumsi minuman yang dimaniskan dengan glukosa, fruktosa, atau HFCS.

 

Sebaliknya, mereka menemukan bahwa konsumsi minuman yang dimaniskan dengan ketiga gula tersebut menghasilkan asupan energi sekitar 15% lebih besar dari kebutuhan yang dihitung. Namun, penelitian ini tidak dapat menjelaskan apa dampak dari konsumsi kronis.

 

Pada penelitian lain, peserta yang mengonsumsi minuman dengan glukosa atau fruktosa sebanyak 25% dari kalori mereka selama sepuluh minggu tidak memiliki perubahan penanda inflamasi. Namun, terdapat peningkatan lemak yang lebih banyak pada kelompok fruktosa dibandingkan glukosa (1). 

 

Disamping itu, penelitian pada hewan menunjukkan konsumsi fruktosa yang tinggi dapat merusak permeabilitas usus dan menyebabkan peradangan. Tetapi sejumlah kecil studi pada manusia tidak menemukan hal yang sama (2, 3).

 

 

 

Kesimpulan

 

Berlawanan dengan temuan dari penelitian hewan, penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan dari konsumsi jangka pendek fruktosa HFCS, atau glukosa dari minuman manis dalam jumlah besar pada peradangan sistemik kronis tingkat rendah atau permeabilitas usus dalam berat normal hingga orang dewasa gemuk.

 

Namun, studi jangka panjang menunjukkan bahwa asupan fruktosa yang tinggi akan berbahaya jika dipasangkan dengan asupan kalori berlebih, sehingga akan berdampak pada akumulasi lemak dalam rongga viseral.

 

 

Referensi

Patel K. (2018). Fructose vs Glucose vs HFCS. Examine. Diakses pada 25 Oktober 2019.

Beres D. (2018). There was no relationship between obesity and poverty — until high-fructose corn syrup. Big Think. Diakses pada 25 Oktober 2019.

Nutrition. (2019). Prospective cohort study suggests link between sugary drinks and cancer risk. Nutrition. Diakses pada 25 Oktober 2019.

Cox CL, Stanhope KL, et al. Circulating concentrations of monocyte chemoattractant protein-1, plasminogen activator inhibitor-1, and soluble leukocyte adhesion molecule-1 in overweight/obese men and women consuming fructose- or glucose-sweetened beverages for 10 weeks. J Clin Endocrinol Metab. (2011).

Spruss A, Kanuri G, Wagnerberger S, Haub S, Bischoff SC, Bergheim I. Toll-like receptor 4 is involved in the development of fructose-induced hepatic steatosis in mice. Hepatology. (2009).

Kavanagh K, Wylie AT, et al. Dietary fructose induces endotoxemia and hepatic injury in calorically controlled primates. The American Journal of Clinical Nutrition. (2013).


Tags: