fbpx
LOGO

Benarkah Lemak Jenuh Berbahaya? Begini Kata Penelitian

October 19, 2020
IMG

Lemak jenuh adalah jenis lemak yang umum ditemukan pada daging, keju, dan produk olahan susu lainnya. Selama bertahun-tahun, kita telah diperingati untuk menghindari konsumsi lemak jenuh karena akan meningkatkan risiko penyakit jantung. Karena hal itu, lemak jenuh juga dijuluki dengan lemak jahat.

 

Sebuah meta-analisis dilakukan terhadap 72 studi yang membahas tentang lemak dan penyakit jantung. Penelitian ini melibatkan lebih dari 600.000 partisipan dari 18 negara dengan beberapa partisipan memiliki riwayat penyakit jantung, sementara yang lainnya tidak.

 

Penelitian ini menemukan bahwa lemak jenuh yang selama ini dikatakan mampu meningkatkan risiko penyakit jantung, ternyata tidak terbukti sama sekali (1).

 

Hasil penelitian ini ditentang oleh banyak pihak, termasuk American Heart Association yang merekomendasikan diet lemak tak jenuh untuk menjaga kesehatan jantung.  World Health Organization (WHO) juga menyarankan hal yang sama. 

 

Para penulis artikel  BMJ juga menganggap hasil penelitian di atas dapat menyebabkan berkurangnya asupan makanan kaya nutrisi dan mempromosikan konsumsi rendah lemak jenuh dengan tinggi pemurnian karbohidrat dan gula.

 

Mereka menunjukkan bahwa asam lemak jenuh yang berbeda memiliki efek kesehatan yang berbeda, dan matriks makanan juga berpengaruh terhadap dampak lemak jenuh pada kesehatan.

 

Misalnya, yogurt utuh dan susu murni tidak meningkatkan risiko penyakit jantung karena kandungan lemak jenuh mereka (2).

 

 

Bukti kuat lain telah dipublikasikan oleh Scientific Advisory Committee on Nutrition (SACN) yang menyatakan bahwa mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dapat bermanfaat bagi penderita kolesterol tinggi dan penyakit kardiovaskular (3).

 

Para penulis BMJ merekomendasikan pedoman berbasis makanan seperti Eatwell Guide di UK. Eatwell Guide menyarankan mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh pada peserta diet yang bertujuan untuk mengurangi risiko diabetes tipe 2, obesitas, dan kanker.

 

Pedoman ini juga cocok bagi banyak orang untuk memenuhi asupan serat. vitamin, dan mineral harian yang diperlukan. Eatwell Guide juga mempertimbangkan masalah yang lebih luas seperti keberlanjutan pasokan makanan dari perspektif lingkungan dalam konteks perubahan iklim.

 

Namun, para penulis menyoroti rekomendasi Eatwell Guide dimana terdapat beberapa rekomendasi makanan tinggi lemak jenuh yang pada kenyataannya terbukti bermanfaat dalam kesehatan, seperti produk susu, mentega, daging, coklat hitam, dan telur. 

 

Singkatnya, mereka menyarankan untuk mencari rekomendasi nutrisi yang berfokus pada makanan dan pola diet yang lebih sehat. Nutrisi tidak pernah dikonsumsi secara tunggal, tetapi merupakan campuran dari berbagai komponen yang memiliki efek berbeda pada kesehatan.

 

 

Referensi

Nutrition. (2019). BMJ opinion piece questions WHO advice to reduce saturated fat intake. Nutrition. Diakses pada 24 Oktober 2019.

Elsevier. (2019). Not all saturated fats are equal when it comes to heart health: Cardiovascular risk of diets rich in saturated fats found in meats and the benefits of plant-based and dairy alternatives. Science Daily. Diakses pada 24 Oktober 2019.

Chowdhury R, Warnakula S, et al. Association of dietary, circulating, and supplement fatty acids with coronary risk: A systematic review and meta-analysis. Annals of Internal Medicine. (2014).

Nutrition. (2017). Saturated fat: Good, bad or complex?. Nutrition. Diakses pada 24 Oktober 2019.

SACN. (2018). Draft report: Saturated fats and health. SACN. Diakses pada 24 Oktober 2019.


Tags: , ,