fbpx
LOGO

Benarkah Lemak Jenuh Menyebabkan Penyakit Jantung?

November 6, 2020
IMG

Lemak jenuh adalah jenis lemak yang umum ditemukan pada daging, keju, dan produk olahan susu lainnya. Selama bertahun-tahun, kita telah diperingati untuk menghindari konsumsi lemak jenuh karena akan meningkatkan risiko penyakit jantung. Karena hal itu, lemak jenuh juga dijuluki sebagai lemak jahat.

 

Akan tetapi, apakah lemak jenuh memiliki dampak seburuk itu? 

 

Para peneliti mengamati dan melakukan meta-analisis terhadap 72 penelitian yang membahas tentang lemak dan penyakit jantung. Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 600.000 orang dari 18 negara. Beberapa partisipan sudah memiliki penyakit jantung, sementara yang lain tidak. 

 

Mereka menguji lemak yang berbeda untuk melihat efeknya terhadap hati. Lemak tersebut terdiri dari:

 

• Lemak jenuh yang ditemukan dalam daging, produk susu berlemak, dan makanan panggang.

 

• Lemak tak jenuh ganda, seperti omega-3 dan omega-6 yang ditemukan dalam ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak nabati

 

• Lemak tak jenuh tunggal yang ditemukan dalam minyak zaitun dan minyak canola

 

• Lemak trans yang ditemukan dalam makanan yang digoreng dan makanan yang dipanggang, dan dihapus dari persediaan makanan

 

Menariknya, hasil analisa menunjukkan bahwa lemak jenuh, yang selama ini diduga meningkatkan risiko penyakit jantung, ternyata tidak memiliki pengaruh sama sekali. Justru lemak tak jenuh tunggal dan ganda dikaitkan dengan peningkatan kesehatan jantung.

 

Selain itu, lemak trans yang kerap dihilangkan dalam daftar komposisi, juga meningkatkan kolesterol jahat dan menurunkan kolesterol baik, yang tentunya berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi (1).

 

Hasil temuan ini menyebabkan perdebatan di kalangan peneliti. Salah satu organisasi besar, American Heart Association, menolak hasil temuan ini dan tetap berpegang pada pedoman mereka yang mengaitkan lemak jenuh dengan penyakit jantung.

 

Untuk menjaga kesehatan jantung, mereka merekomendasikan diet kaya buah-buahan, sayuran, biji-bijian, ikan, kacang-kacangan, dan lemak tak jenuh.

 

Walter Willett, ketua gizi di Harvard School of Public Health, yang tidak terlibat dalam penelitian juga menolak hasil analisis tersebut. Menurutnya, baik buruknya lemak jenuh bergantung dari pembandingnya. 

 

“Jika Anda mengganti lemak jenuh dengan karbohidrat atau tepung atau gula olahan, itu tidak mengubah risiko penyakit jantung Anda. Jika Anda mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh ganda, itu memang menunjukkan pengurangan risiko penyakit jantung.” jelasnya.

 

Menurut peneliti Ivonne Sluijs, PhD, Pusat Ilmu Kesehatan dan Perawatan Primer Julius, Universitas Pusat Medis Utrecht, Universitas Utrecht, Belanda, terdapat kemungkinan bahwa berbagai jenis lemak jenuh memiliki efek yang berbeda pada kadar kolesterol dan perkembangan penyakit jantung koroner. 

 

Individu yang menjalankan diet lemak jenuh rantai pendek atau lemak jenuh rantai panjang seperti produk susu dan daging, atau konsumsi protein nabati justru memiliki risiko serangan jantung yang rendah, bahkan nol risiko. 

 

“Mengonsumsi relatif sedikit asam lemak jenuh yang dirantai lebih lama dan mengonsumsi protein nabati sebagai gantinya dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah. Mengganti lemak jenuh tersebut dengan sumber energi lain seperti karbohidrat tidak memengaruhi risiko pengembangan infark miokard,” kata Dr. Sluijs.

 

Dalam sebuah artikel dijelaskan bahwa penyakit jantung koroner adalah kondisi peradangan kronis, dan bukan  disebabkan oleh lemak jenuh yang menyumbat arteri.

 

Mengonsumsi lemak jenuh tidak berkaitan dengan semua penyebab kematian, termasuk penyakit jantung koroner (PJK), stroke iskemik atau diabetes tipe 2 pada orang dewasa yang sehat.

 

Demikian pula dalam pencegahan sekunder PJK tidak ada manfaat dari pengurangan lemak, termasuk lemak jenuh, pada infark miokard, mortalitas kardiovaskular atau semua penyebab. 

 

Ini penting untuk dicatat bahwa dalam penelitian yang dilakukan wanita pascamenopause dengan PJK menunjukkan bahwa asupan lemak jenuh yang lebih besar dikaitkan dengan progresivitas aterosklerosis yang lebih sedikit ketika dilakukan angiografi.

 

Sedangkan asupan karbohidrat dan lemak tak jenuh ganda dikaitkan dengan perkembangan atherosklerosis yang lebih besar.

 

Untuk menurunkan risiko serangan jantung, dapat dilakukan melalui intervensi gaya hidup sehat seperti pola diet sehat yang menekankan pembatasan asupan daging merah dan olahannya, gula dan garam berlebih, mengganti biji-bijian olahan dengan biji-bijian utuh, serta rajin mengonsumsi buah dan sayuran. 

 

 

 

Kesimpulan

 

Salah satu penyebab penyakit jantung adalah peradangan kronis. Menurut penelitian, konsumsi karbohidrat refined (gula, roti putih) dan lemak trans (ditemukan dalam makanan yang digoreng dan makanan yang dipanggang) dapat meningkatkan kolesterol jahat, sehingga merupakan salah satu penyebab penyakit jantung.

 

Maka, tidak benar bahwa lemak jenuh dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2. 

 

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai lemak jenuh, Anda dapat membaca artikel kami yang lain disini.

 

 

Referensi:

Elsevier. (2019). Not all saturated fats are equal when it comes to heart health: Cardiovascular risk of diets rich in saturated fats found in meats and the benefits of plant-based and dairy alternatives. Science Daily. Diakses pada 09 Agustus 2019.

Malhotra A, Redberg RF, Meier P. Saturated fat does not clog the arteries: Coronary heart disease is a chronic inflammatory condition, the risk of which can be effectively reduced from healthy lifestyle interventions. British Journal of Medicine. (2017).

Doheny K. (2018). Dietary fats q&a. WebMD. Diakses pada 09 Agustus 2019.

Paturel A. (2018). Is butter back? the truth about saturated fats. WebMD. Diakses pada 09 Agustus 2019.

Chowdhury R, Warnakula S, et al. Association of dietary, circulating, and supplement fatty acids with coronary risk: A systematic review and meta-analysis. Annals of Internal Medicine. (2014).


Tags: