fbpx
LOGO

Bunda, Jenis Zat Aditif Ini Berbahaya Bagi Anak dan Harus Dihindari!

August 20, 2020
IMG

Beberapa tahun terakhir, zat kimia dan aditif makanan semakin umum ditemukan dalam produk makanan dan produk sintetis lainnya. Penambahan zat kimia pada produk makanan bertujuan untuk membuat rasanya tetap segar, awet, dan lebih menarik.

 

Penambahan zat kimia pada produk kosmetik contohnya akan membuat sebuah produk memiliki rasa menyerupai makanan, terlihat menarik, berbau harum, dan berbagai manfaat lainnya.

 

Tanpa disadari, produk kimia yang ditambahkan memiliki bahaya yang tersembunyi. Banyak bahan kimia saat ini diketahui atau diduga terkait dengan kanker, pubertas dini, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), obesitas, autisme, dan masalah kesehatan serius lainnya. 

 

Dampak ini akan lebih buruk jika terjadi pada anak-anak karena mereka sedang dalam tahap perkembangan, sehingga bahan kimia yang masuk memiliki lebih banyak waktu untuk menimbulkan kerusakan. Di sisi lain, anak-anak masih belum mengerti dan mandiri untuk dapat menjaga kesehatan secara pribadi.

 

American Academy of Pediatrics dalam pernyataan kebijakannya yang berjudul Aditif Makanan dan Kesehatan Anak, memperingatkan beberapa zat aditif dan bahan kimia yang berbahaya antara lain:

 

1. Bisphenol A (BPA)

BPA dapat meniru hormon estrogen, mengganggu pubertas dan kesuburan, serta mempengaruhi perkembangan dan kesehatan reproduksi. Penggunaan BPA sangat terkait dengan terjadinya pubertas dini pada anak perempuan, juga diketahui dapat meningkatkan lemak tubuh, dan menyebabkan masalah pada sistem kekebalan dan sistem saraf. 

 

BPA sering ditemukan dalam botol minum atau dot bayi yang terbuat dari plastik atau gelas minum anak-anak (kemasan lama). BPA juga masih sering ditemukan dalam lapisan kaleng makanan dan minuman, dan bahkan pada struk atau kwitansi belanja. Pada botol plastik, kandungan BPA ditandai dengan kode angka 3 atau 7. 

 

2. Ftalat (Phthalates)

Cara kerja ftalat mirip dengan BPA yang dapat meniru hormon dan mengganggu perkembangan genitalia pria. Ftalat juga dapat meningkatkan risiko obesitas, menimbulkan penyakit jantung dan pembuluh darah, berhubungan dengan kejadian testosteron rendah dan masalah reproduksi pria.

 

Ftalat digunakan untuk melunakkan plastik vinil dan ditemukan dalam banyak hal, seperti jas hujan, ransel, tirai mandi, mainan tiup, dan selang taman. Ftalat juga digunakan untuk menjaga aroma pada sabun, losion, parfum, cat kuku, dan obat sprai rambut.

 

3. Perfluoroalkyl (PFC)

PFC dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, serta masalah dengan sistem kekebalan tubuh, gangguan tiroid, dan masalah kesuburan. Zat ini umumnya ditemukan pada kertas minyak, kemasan kardus, dan produk rumah tangga seperti kain anti air dan wajan/panci anti lengket.

 

4. Perklorat (Perchlorate)

Bahan kimia ini dapat mengganggu fungsi tiroid dan mengganggu perkembangan otak. Perklorat merupakan kontaminan kimia industri yang digunakan dalam bahan bakar roket, kembang api, bahan peledak, pemutih, dan berbagai pupuk sintetis. Zat ini juga dapat ditemukan dalam air tanah, air permukaan, air minum, air irigasi, serta beberapa kemasan makanan kering (yang digunakan untuk mengurangi listrik statis).

 

5. Pewarna makanan buatan

Pewarna makanan buatan telah diketahui dapat meningkatkan gejala pada anak-anak yang memiliki gangguan ADHD. Pewarna makanan buatan dapat ditemukan pada hampir semua jenis produk makanan, terutama produk makanan untuk anak-anak.

 

6. Nitrat dan Nitrit

Keduanya dapat mengganggu kerja hormon tiroid, serta kemampuan darah untuk mengirimkan oksigen ke tubuh. Zat ini juga dapat meningkatkan risiko kanker tertentu. Dalam penggunaanya, nitrat dan nitrit sering digunakan untuk mengawetkan makanan dan meningkatkan warnanya sehingga menjadikan sebuah produk menjadi lebih menarik. Nitrat dan nitrit juga umum ditemukan dalam makanan olahan, terutama daging olahan.

 

 

Selain zat aditif yang telah disebutkan diatas, bahan kimia lain yang perlu dihindari yaitu:

 

Arsenik: FDA menemukan jumlah kecil arsenik dalam jus apel dan anggur.

 

• Formaldehida (formaldehyde): Biasanya digunakan sebagai cairan pembalseman, dan juga ditemukan dalam furnitur, pakaian, produk pembersih dan kecantikan, dan beberapa merek tisu bayi.

 

Merkuri: Merkuri memasuki lingkungan melalui polusi udara dan limbah industri, sehingga beberapa ikan, termasuk kerang, mungkin terpapar merkuri.

 

• Polybrominated diphenyl ethers (PBDEs): Zat ini sering ditemukan pada furnitur berlapis, termasuk sofa, bantal, kasur, dan bantalan karpet.

 

Fluoride: Terlalu banyak fluoride dapat menyebabkan masalah kesehatan pada anak, termasuk perubahan warna gigi, gigi berlubang, tulang rapuh, dan neurotoksisitas. Zat ini banyak ditemukan dalam pasta gigi dan obat kumur.

 

Pestisida: Tanaman atau air tanah yang terpapar terlalu banyak pestisida dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, terutama bayi dan anak-anak.

 

Timbal: Meski telah dilarang, timbal masih dapat ditemukan pada bahan material bangunan yang berusia tua, mainan impor, perhiasan, dan bahkan terdapat dalam permen. Keracunan timbal dapat menyebabkan kerusakan sistem saraf, kerusakan ginjal, serta keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan.

 

 

Pencegahan dan Solusi

 

Sebagai upaya mengurangi risiko terhadap paparan zat aditif dan bahan kimia berbahaya pada anak-anak, American Academy of Pediatrics(AAP) menyarankan hal berikut:

 

1. Konsumsi lebih banyak buah dan sayuran segar dan kurangi konsumsi daging olahan, terutama selama masa kehamilan. 

 

2. Hindari mengonsumsi makanan yang dipanaskan di microwave dan meminum dari wadah plastik. Lebih baik mencuci wadah plastik dengan tangan daripada menggunakan mesin pencuci piring (dishwasher).

 

3. Gunakan lebih banyak wadah yang terbuat dari kaca dan stainless steel daripada plastik.

 

4. Hindari wadah plastik dengan kode angka 3, 6, dan 7.

 

5. Cuci tangan hingga bersih sebelum dan sesudah menyentuh makanan, dan bersihkan semua buah dan sayuran dengan baik.

 

 

Anda juga dapat melakukan hal berikut ini:

Kurangi makanan kaleng dan minuman.

 

Kurangi makanan cepat saji dan makanan olahan.

 

Baca label, kenali apa yang ada dalam produk yang Anda gunakan.

 

Carilah losion, sabun, dan produk lain yang dibuat secara alami dan terbebas dari parfum/pewangi.

 

Pertimbangkan membuat produk pembersih rumah sendiri, Anda dapat membuatnya dari soda kue atau cuka, dengan hasil yang sama seperti produk pembersih komersial.

 

 

 

Referensi:

McCarthy, Claire. (2018). Common food additives and chemicals harmful to children.Harvard Health Publishing. Diakses pada 28 Agustus 2019.

Savole, Keely. (2013). 10 Harmful chemicals to avoid. Parents. Diakses pada 28 Agustus 2019.