fbpx
LOGO

Diet Detoks: Penyelamat Hidup atau Hanya Omong Kosong?

September 24, 2020
IMG

Pada dasarnya, detoksifikasi adalah proses menghilangkan racun dari suatu area atau individu. Tubuh dapat menumpuk racun, terutama logam berat seperti merkuri, dan bahan kimia liposoluble, seperti polutan organik persisten (POPs).

 

Namun secara alami, tubuh memiliki sistem pembersihan sendiri. Sistem detoks internal tubuh melibatkan paru-paru, hati, dan organ lain yang bekerja sama menghilangkan zat-zat berbahaya dalam tubuh.

 

Untuk mendukung kelancaran sistem detoksifikasi alami, Anda dapat mengonsumsi buah-buahan dan sayuran (disarankan yang organik karena memiliki residu pestisida berbahaya yang lebih sedikit), aktif bergerak seperti berolahraga, dan mengonsumsi beberapa suplemen seperti milk thistle, NAC (Acetylcysteine), SAMe (S-adenosyl-L-methionine) dan TUDCA (Tauroursodeoxycholic Acid).

 

 

Apakah Tubuh Memerlukan Detoks?

 

Secara medis, Anda perlu detoksifikasi ketika mengalami keracunan akut akibat terpapar racun dari obat-obatan, seperti alkohol. Pelaksanaan detoksifikasi medis harus dilakukan dengan pengawasan medis langsung.

 

Standar detoksifikasi medis dilakukan menggunakan suplemen arang aktif dosis 25-100 gram setiap beberapa jam untuk mencegah tubuh menyerap bahan kimia yang tertelan. Arang mengikat bahan kimia, sehingga dapat dibuang dengan aman oleh tubuh Anda (1, 2)

 

Walapun arang aktif bermanfaat sebagai detokfikasi medis, namun mengonsumsi suplemen arang aktif sangat tidak disarankan. Sifat arang tidak bisa membedakan zat beracun dengan yang tidak, seperti membedakan bahan kimia berbahaya dengan vitamin dan mineral penting.

 

Selain itu, dosis arang aktif jauh di bawah 25-100 gram yang digunakan secara medis, dan arang aktif hanya dapat mengikat bahan kimia di saluran usus, bukan yang sudah terserap atau bahan kimia yang berada di paru-paru (3).

 

 

Apakah Diet Detoks Bekerja Secara Efektif?

 

Diet detoksifikasi atau detoks semakin populer. Diet detoks merupakan rencana diet jangka pendek yang dirancang untuk menghilangkan racun dari tubuh.

 

Diet detoks yang khas melibatkan periode puasa, diikuti dengan diet ketat dengan mengonsumsi buah, sayuran, jus buah, dan air. Kadang-kadang dalam rencana diet ini juga mengonsumsi ramuan herbal, teh, suplemen, dan obat untuk pembersihan usus besar atau enema.

 

Diet detoks diklaim mampu membantu mengistirahatkan organ, merangsang hati untuk membuang racun, mempromosikan penghapusan toksin melalui feses, urin, dan keringat, memperbaiki sirkulasi darah, serta memberikan nutrisi pada tubuh. 

 

Master Cleanse mencontohkan dengan menetapkan 6–12 gelas limun dengan sirup maple dan cabai rawit sebagai satu-satunya menu makanan. Menurut penciptanya, program ini mempromosikan penghapusan segala jenis penyakit dan merupakan diet penyembuhan paling sukses di dunia.

 

Tapi tampaknya diet detoks tidak sesuai dengan klaim yang telah disebutkan. Pada tahun 2009, sebuah laporan investigasi dari 15 produsen program detoks menemukan bahwa tidak ada yang bisa memberikan daftar jelas dari zat berbahaya yang dihilangkan detoks, dan tidak ada yang dapat mendefinisikan detoks dengan cara yang sama (4).

 

Selain itu, hampir tidak ada program detoks yang telah diuji keamanan atau kemanjurannya. Pusat Nasional untuk Kesehatan Pelengkap dan Integratif menyatakan bahwa tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa program detoksifikasi benar-benar menghilangkan racun dari tubuh sekaligus meningkatkan kesehatan Anda (5).

 

Beberapa produk dan prosedur yang digunakan dalam rencana diet ini juga mungkin berbahaya bagi kesehatan. Terdapat laporan kasus diet smoothie hijau dan teh detoks  memicu kerusakan ginjal dan gagal hati (6, 7).

 

Adapun penelitian yang membuktikan efektivitas diet detoks dikatakan penuh dengan masalah metodologis. Manfaat diet detoks jangka pendek, termasuk penurunan berat badan, sebagian besar disebabkan oleh pembatasan kalori dan efek plasebo, bukan karena efek detoksifikasi khusus (8, 9, 10, 11).

 

 

 

Kesimpulan

 

Toxicants (racun), terutama logam berat dan bahan kimia liposoluble, dapat menumpuk di tubuh Anda.

 

Untuk menghindari penumpukan racun di tubuh, Anda dapat melakukan diet kaya protein, mengonsumsi sayur dan buah agar organ tubuh dapat berfungsi secara optimal serta mendukung proses detkosifikasi alami.

 

Olahraga dan mengonsumsi beberapa suplemen juga dapat mendukung organ hati secara khusus untuk mengeluarkan logam berat.

 

Adapun program diet detoksifikasi tidak dapat membuktikan klaimnya. Sebagian besar manfaatnya, terutama penurunan berat badan yang cepat, dikaitkan dengan pembatasan kalori yang drastis, bukan detoksifikasi. Hal ini menandakan diet detoks tidak memiliki dampak terhadap tubuh Anda.

 

Dalam kasus keracunan akut oleh racun, Anda disarankan pergi ke rumah sakit untuk mendapat detoksifikasi medis yang tentunya dilakukan dengan pengawasan medis.

 

 

Referensi:

Leaf A. (2019). Do you need to detox?. Examine. Diakses pada 27 September 2019.

Bjarnadottir A. (2019). Do detox diets and cleanses really work?. Diakses pada 27 September 2019.

Park GD, Spector R, Goldberg MJ, Johnson GF. Expanded role of charcoal therapy in the poisoned and overdosed patient. Arch Intern Med. (1986).

Neuvonen PJ. Clinical pharmacokinetics of oral activated charcoal in acute intoxications. Clin Pharmacokinet. (1982). 

Kadakal Ç, Poyrazoglu ES, Artik N, Nas S. Effect of activated charcoal on water-soluble vitamin content of apple juice. Journal of Food Quality. (2004).

Blachford A, et al. (2017). The detox dossier. Sense About Science. Diakses pada 27 September 2019.

Klein AV, Kiat H. Detox diets for toxin elimination and weight management: a critical review of the evidence. J Hum Nutr Diet. (2015). 

Makkapati S, D’Agati VD, Balsam L. Green smoothie cleanse causing acute oxalate nephropathy. Am J Kidney Dis. (2018). 

Kesavarapu K, Kang M, Shin JJ, Rothstein K. Yogi detox tea: A potential cause of acute liver failure. Case Rep Gastrointest Med. (2017).

Allen J, Montalto M, Lovejoy J, Weber W. Detoxification in naturopathic medicine: A survey. J Altern Complement Med. (2011). 

Kim JA, Kim JY, Kang SW. Effects of the dietary detoxification program on serum γ-glutamyltransferase, anthropometric data and metabolic biomarkers in adults. J Lifestyle Med. (2016). 

Kim MJ, Hwang JH, Ko HJ, Na HB, Kim JH. Lemon detox diet reduced body fat, insulin resistance, and serum hs-CRP level without hematological changes in overweight Korean women. Nutr Res. (2015).

Tinsley G, Urbina S, Santos E, Villa K, Foster C, Wilborn C, Taylor L. A purported detoxification supplement does not improve body composition, waist circumference, blood markers, or gastrointestinal symptoms in healthy adult females. J Diet Suppl. (2019). 


Tags: , ,