fbpx
LOGO

Dijuluki Sebagai Makanan Super, Ini 6 Khasiat Bawang Putih

July 21, 2020
IMG

Bawang putih (Allium sativum) adalah salah satu rempah yang umum digunakan dalam dunia kuliner. Bawang putih memiliki rasa dan aroma yang kuat, juga mengandung allicin sejenis sulfur, yang dipercaya sangat berperan penting pada kesehatan manusia.

 

Selain allicin, terdapat senyawa penting lain yang terkandung dalam bawang putih yaitu mangan, vitamin B6, vitamin C, selenium, serat, serta kalium, dan besi.  

 

Bawang putih menduduki peringkat kedua superfood, setelah kunyit, karena kaya akan khasiat. Rutin mengonsumsi bawang putih dikatakan mampu menjaga kesehatan jantung, vitalitas fisik dan seksual, kognisi, dan resistensi terhadap infeksi, sifat anti-penuaan, serta anti-kanker. 

 

 

Manfaat

 

1. Menjaga Kesehatan Jantung

Bawang putih telah dikenal luas manfaatnya untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kardiovaskular dan metabolisme, termasuk aterosklerosis (sumbatan pembuluh darah oleh lemak), hiperlipidemia (kadar kolesterol yang terlalu tinggi dalam darah), trombosis, hipertensi, dan diabetes.

 

Sebuah tinjauan ilmiah yang meneliti manfaat bawang putih menemukan bahwa enzim alinase dalam bawang putih menghasilkan efek kardioprotektif yang signifikan pada penelitian dengan hewan dan manusia (1).

 

Sebuah penelitian tahun 2016 yang diterbitkan dalam Journal of Nutrition melibatkan 55 pasien berusia 40 hingga 75 tahun, yang telah didiagnosis dengan sindrom metabolik. Hasil temuan menunjukkan bahwa ekstrak bawang putih secara efektif mampu menurunkan jumlah plak dalam arteri koroner (arteri yang memasok darah ke jantung) terutama pada pasien dengan sindrom metabolik (2).

 

Sindrom metabolik adalah sekelompok gangguan kesehatan meliputi peningkatan tekanan darah tinggi, penumpukan lemak di perut, serta kenaikan kadar gula darah, kolesterol, dan trigliserida secara bersamaan. 

 

Salah satu peneliti utama, Matthew J. Budoff, MD, mengatakan bahwa bawang putih mampu mengurangi akumulasi plak lunak dan mencegah pembentukan plak baru di arteri, yang dapat menyebabkan penyakit jantung.

 

Suplementasi ekstrak bawang putih juga dapat membantu memperlambat perkembangan aterosklerosis kekakuan pembuluh darah akibat penumpukan lemak dan  mencegah terjadinya tahap awal penyakit jantung (3).

 

2. Melindungi dari Kanker

Bawang putih dan bawang merah memiliki senyawa sulfur bioaktif yang diyakini memiliki efek pada setiap tahap pembentukan kanker dan memengaruhi banyak proses biologis yang mengubah risiko keganasan pada sel kanker (4).

 

National Institute of Health’s National Cancer Institute menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan asupan bawang putih dan pengurangan risiko kanker tertentu, termasuk kanker lambung, usus besar, kerongkongan, pankreas, dan payudara. E

 

fek perlindungan ini berasal dari sifat antibakteri atau dari kemampuannya untuk memblokir pembentukan zat penyebab kanker, menghentikan aktivasi zat penyebab kanker, meningkatkan perbaikan DNA, mengurangi proliferasi sel, atau menginduksi apoptosis atau kematian sel (5). 

 

Pada sebuah penelitian populasi terkontrol, partisipan diikuti perkembangan kesehatan dari tahun 1995 hingga 1999. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang mengonsumsi kombinasi sayuran dan buah-buahan termasuk bawang putih sebanyak kurang dari 9 kali per hari memiliki risiko kanker pankreas lebih tinggi dibandingkan partisipan yang mengonsumsi kombinasi sayuran dan buah lebih banyak (6). 

 

Pada penelitian yang lain dilaksanakan pada 345 pasien penderita karsinoma sel kanker payudara, setelah ditelusuri melalui diari makanan diketahui bahwa partisipan yang mengonsumsi serat, bawang putih dan bawang bombay dengan jumlah yang lebih rendah memiliki risiko keganasan sel kanker payudara lebih tinggi.

 

Partisipan dengan kebiasaan mengonsumsi lemak jenuh tinggi juga menunjukkan risiko terhadap keganasan lebih tinggi (7)

 

Bahan aktif di dalam bawang putih yang bertanggung jawab dalam menekan keganasan dan mutasi sel adalah komponen organosulfur termasuk L-sistein sulfoksida dan γ-glutamil-L-sistein peptida, ajoene dan S-allylmercaptocysteine (SAMC).

 

Ketika bawang putih ditumbuk, diiris tipis, maupun dikunyah langsung sebuah enzim bernama alliinase akan keluar dan menginduksi kemunculan berbagai organosulfur yang sangat bermanfaat dalam mematikan keganasan sel (8).

 

3. Mengobati Tekanan Darah Tinggi

Sebuah penelitian melakukan uji coba efek dari ekstrak bawang putih tua sebagai pengobatan tambahan untuk 50 penderita hipertensi yang sudah menggunakan obat anti-hipertensi namun masih memiliki tekanan darah yang tidak terkontrol.

 

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa mengonsumsi empat kapsul ekstrak bawang putih dengan dosis 960 miligram setiap hari selama tiga bulan dapat menurunkan tekanan darah tinggi (9).

 

Penelitian lain yang diterbitkan pada tahun 2014 menemukan bahwa bawang putih selain memiliki potensi untuk menurunkan tekanan darah pada orang hipertensi, juga memiliki efektivitas yang sama dengan obat antihipertensi standar atau yang umum digunakan.

 

Penelitian ini lebih jauh menjelaskan bahwa polisulfida rempah-rempah meningkatkan pembukaan atau pelebaran pembuluh darah sehingga menurunkan tekanan darah (10).

 

 

 

4. Membantu Mengobati Diabetes

Diabetes adalah adalah sebuah kondisi gangguan regulasi gula darah yang disebabkan oleh penurunan fungsi insulin. Penderita diabetes akan mengalami peningkatan kadar gula darah namun insulin tidak mampu menghantarkan gula ke dalam sel untuk menghasilkan energi ataupun metabolisme, mengakibatkan berbagai gangguan termasuk risiko komplikasi pada saraf dan fungsi ginjal.

 

Konsumsi bawang putih telah terbukti membantu mengatur kadar gula darah, berpotensi mengurangi beberapa komplikasi diabetes, melawan infeksi, mengurangi kolesterol jahat (LDL), meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL), serta mendorong sirkulasi darah dengan lebih baik (11, 12, 13, 14).

 

Hal serupa ditunjukkan pada penelitian yang dilaksanakan pada tikus dengan diabetes. Pemberian bawang putih mentah sebesar 500 mg/kg berat badan selama 7 minggu berturut-turut menunjukkan penurunan yang signifikan pada kadar gula darah (hingga 57%), kolesterol total, serta kadar trigliserida darah. Kadar protein dalam urin tikus juga diketahui lebih rendah 50% dibandingkan kelompok tikus kontrol (15). 

 

5. Mengatasi Pilek dan Infeksi

Mengonsumsi suplemen bawang putih selama 12 minggu selama musim dingin (antara November dan Februari) dapat menurunkan risiko terkena flu, dan membantu pulih lebih cepat dari flu. Kemampuan ini dikatakan berkaitan dengan komponen komponen aktif biologisnya yang disebut allicin (16).

 

Penelitian lain juga menunjukkan hasil yang sama, dimana partisipan yang diberikan dosis tinggi ekstrak bawang putih (2,56 gram per hari) terbukti menurunkan jumlah hari atau masa sakit pilek maupun flu hingga sebesar 61% (17).

 

6. Mencegah Alzheimer dan Demensia

Bawang putih selain mengandung berbagai enzim juga tinggi akan kandungan antioksidan yang dapat mencegah efek buruk terjadinya kerusakan oksidatif akibat penuaan dan paparan radikal bebas termasuk perlindungan terhadap fungsi kognitif. Alzheimer dan demensia merupakan gangguan saraf kronis mengakibatkan penurunan fungsi kognitif dan memori yang sangat mempengaruhi kualitas hidup lansia. 

 

Penumpukan plak β-amyloid peptide (Aβ) pada otak pasien dengan Alzheimer diketahui dapat dicegah dengan pemberian AGE (aged garlic extract) yang dapat menginduksi kemunculan  S-allyl-L-sistein (SAC) pada ekstrak bawang putih. SAC melindungi sel saraf atau neuron dari kerusakan oksidatif, menurunkan hingga 70% penumpukan  amiloid pada uji coba dengan tikus yang mengalami Alzheimer. SAC menjadi senyawa yang potensial digunakan untuk pengobatan Alzheimer (18). 

 

 

Sumber Makanan

 

Bawang putih

 

 

Dosis Pemakaian

 

Bawang putih dapat dikonsumsi mentah, maupun dalam sediaan lain seperti minyak bawang putih atau rebusan bawang putih. Ekstrak bawang putih juga tersedia dalam bentuk suplemen tablet maupun kapsul. Dosis standarnya pun berkisar antara 600-1.200 miligram per hari.

 

Bawang putih dapat menjadi racun ketika dikonsumsi lebih dari 400 mg/kg berat badan atau setara dengan 25 gram bawang putih mentah. Dosis maksimum dibagi menurut berat badan seseorang:

17,0 gram untuk berat badan ≤ 68 kg

 

22,7 gram untuk berat badan ≤ 91 kg

 

28,4 gram untuk berat badan ≤ 113 kg

 

Menjaga kesehatan bagi orang dewasa: 2 hingga 5 gram per hari untuk sediaan bawang putih segar, 0,4 hingga 1,2 gram bubuk bawang putih kering, 2 hingga 5 miligram per hari untuk sediaan minyak bawang putih, 300 hingga 1.000 miligram ekstrak bawang putih, atau formulasi lain yang sama dengan 2 hingga 5  miligram allicin.

 

Bawang putih harus ditumbuk, iris tipis, atau langsung dikunyah untuk mengeluarkan enzim allicin secara maksimal. Hindari memasak bawang putih dengan suhu tinggi menggunakan microwave karena akan menghilangkan komponen bioaktif di dalamnya.

 

Simpan bawang putih pada suhu kamar dan kering.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Milk thistle: Kombinasi bawang putih dan milk thistle melindungi hati dari oksidasi dan kerusakan sel akibat keganasan atau kanker hati

 

• Madu Tazma dan jahe: Madu memiliki komponen antibakteri yang sangat baik bersinergi bersama bawang putih dan jahe dalam menekan pertumbuhan bakteri Salmonella, Staphylococcus aureus, Listeria moncytogenes dan Streptococcus pneumonia. Terutama madu Tazma yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat (Apis mellipodae).

 

Captopril: Captopril adalah jenis obat antihipertensi ACE inhibitor, ketika terapi ini dikombinasikan dengan allicin (senyawa dalam bawang putih) secra efektif menurunkan tekanan darah, serta mencegah terjadinya gagal jantung (dalam dosis rendah).

 

 

Efek Samping

 

Nafas berbau

Rasa terbakar di mulut atau perut

Mulas

Gas dan kembung

Mual dan muntah

Bau badan

Diare

Dapat menimbulkan reaksi alergi seperti asma dan iritasi kulit

 

 

Kontraindikasi

 

Beberapa orang dengan kondisi dibawah ini disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu terutama untuk konsumsi bawang putih jenis sediaan suplemen:

Anak-anak

Ibu hamil dan menyusui

Gangguan pendarahan atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah

Pasien pra-operasi

Orang dengan masalah pencernaan

Diabetes

Tekanan darah rendah

 

Hindari kombinasi bawang putih dengan obat-obatan di bawah ini:

Isoniazid (Nydrazid)

Pil KB

Siklosporin (Neoral, Sandimmune)

Obat untuk HIV / AIDS

Obat anti-inflamasi nonsteroid (NSAID)

Saquinavir (Fortovase, Invirase)

Cytochrome P450 2E1 (CYP2E1)

Cytochrome P450 3A4 (CYP3A4)

Obat antikoagulan / antiplatelet

 

 

Referensi

Patel, Kamal. (2014). Garlic. Examine. Diakses pada 07 Juli 2019.

Axe, Josh. (2017). 7 Raw garlic benefits for fighting disease. Dr Axe. Diakses  pada 07 Juli 2019.

Leech, Joe. (2018). 11 Proven health benefits of garlic. Healthline. Diakses pada 07 Juli 2019.

WebMD. (2018). Garlic. WebMD. Diakses pada 07 Juli 2019.

Banerjee SK, Maulik SK. Effect of garlic on cardiovascular disorders: a review. Nutr J. (2002).

Matsumoto S, Nakanishi R, et al. Aged garlic extract reduces low attenuation plaque in coronary arteries of patients with metabolic syndrome in a prospective randomized double-blind study. The Journal of Nutrition. (2016). 

Los Angeles Biomedical Research Institute at Harbor-UCLA Medical Center (LA BioMed). New study shows aged garlic extract can reduce dangerous plaque buildup in arteries: Supplement can help prevent progression of heart disease. ScienceDaily. (2016). 

Nicastro HL, Ross SA, Milner JA. Garlic and onions: Their cancer prevention properties. Cancer Prev Res (Phila). (2015).

Nee PW. (2013). The key facts on cancer prevention: Everything you need to know about cancer prevention.  USA: MedicalCenter. (2013). 

Chan JM, Wang F, Holly EA. Vegetable and fruit intake and pancreatic cancer in a population-based case-control study in the San Francisco bay area. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. (2005). 

Challier B, Perarnau JM, Viel JF. Garlic, onion and cereal fibre as protective factors for breast cancer: a French case-control study. Eur J Epidemiol. (1998).

Higdon J. Garlic and organosulfur compounds. Oregon State University. (2005).

Ried K, Frank OR, Stocks NP. Aged garlic extract lowers blood pressure in patients with treated but uncontrolled hypertension: a randomised controlled trial. Maturitas. (2010). 

Ried K, Fakler P. Potential of garlic (Allium sativum) in lowering high blood pressure: mechanisms of action and clinical relevance. Integr Blood Press Control. (2014). 

Silagy C, Neil A. Garlic as a lipid lowering agent–a meta-analysis. J R Coll Physicians Lond. (1994). 

Stevinson C, Pittler MH, Ernst E. Garlic for treating hypercholesterolemia. A meta-analysis of randomized clinical trials. Ann Intern Med. (2000). 

Ried K, Toben C, Fakler P. Effect of garlic on serum lipids: An updated meta-analysis. Nutr Rev. (2013).

Thomson M, Al-Amin ZM, Al-Qattan KK, Sabhan LH. Antidiabetic and hypolipidaemic properties of garlic (Allium sativum) in streptozotocin-induced diabetic rats. International Journal of Diabetes and Metabolism. (2007).

Josling P. Preventing the common cold with a garlic supplement: a double-blind, placebo-controlled survey. Adv Ther. (2001). 

Nantz MP, Rowe CA, Muller CE, Creasy RA, Stanilka JM, Percival SS. Supplementation with aged garlic extract improves both NK and γδ-T cell function and reduces the severity of cold and flu symptoms: A randomized, double-blind, placebo-controlled nutrition intervention. Clin Nutr. (2012). 

Ray B, Chauhan NB, Lahiri DK. Oxidative insults to neurons and synapse are prevented by aged garlic extract and S-allyl-L-cysteine treatment in the neuronal culture and APP-Tg mouse model. J Neurochem. (2011).


Tags: , , ,