fbpx
LOGO

Estradiol, Kontrasepsi Alami dengan Segudang Manfaat

August 20, 2020
IMG

Estradiol merupakan steroid dan hormon seks pada wanita. Estradiol-17β (E2) adalah jenis estrogen yang paling aktif dalam tubuh. Hormon ini diproduksi di otak, jaringan lemak, sel kekebalan tubuh, tulang, dan ovarium atau sel telur sebagai produsen utama estradiol. Testosteron dan progesteron yang juga merupakan hormon seks, juga diketahui memproduksi estradiol.

 

Estradiol penting untuk menjaga kesehatan dan reproduksi seksual pada wanita dan pria, membantu fungsi otak dan tiroid, sekaligus menjaga kesehatan tulang dan kulit. Bayi memiliki kadar estradiol tertinggi, dan seiring bertambahnya usia, tingkat estradiol akan menurun.

 

Pada wanita sehat, kadar estradiol umumnya berkisar antara 40 hingga 2.000 pg/mL, tergantung pada kondisi dan perbedaan usia antara anak-anak (sebelum pubertas), wanita hamil, dan wanita post-menopause. Di usia subur, kadar estradiol normal berkisar antara 25 – 500 pg/mL, sedangkan pada wanita post-menopause kadar estradiol akan mengalami penurunan sebanyak 75 hingga 90%.

 

Kadar estradiol dan estrogen lainnya dapat diukur melalui tes darah dan tes urin. Kadar estradiol juga dapat digunakan untuk membantu menguji cadangan ovarium (tes kesuburan) pada wanita. 

 

 

Fungsi Estradiol

 

Estradiol memegang peranan penting bagi kesehatan baik pria maupun wanita, antara lain:

 

1. Perkembangan & Kesehatan Reproduksi Wanita

Estradiol merupakan sumber estrogen utama yang mendorong perkembangan karakteristik seks sekunder wanita sejak lahir hingga pubertas. Estradiol juga berperan dalam kehamilan. Pada tingkat normal, estradiol membantu menjaga kehamilan.

 

Tetapi pada tingkat tinggi, estradiol dapat menurunkan kesuburan, sehingga juga umum digunakan sebagai formulasi dalam kontrasepsi atau pil KB (1).

 

2. Perkembangan & Kesehatan Reproduksi Pria

Pria juga membutuhkan estradiol untuk perkembangan dan fungsi seksual, terutama untuk membantu fungsi ereksi, pembentukan sperma, dan libido seksual. Terlalu banyak estradiol dapat menurunkan gairah seks pria. Kadar estradiol tinggi dan testosteron rendah juga dapat menyebabkan pembesaran payudara pada pria atau juga dikenali dengan istilah ginekomastia (2).

 

3. Melindungi Otak

Estradiol membantu melindungi otak terhadap efek negatif kortisol. Kadar estradiol yang lebih rendah menyebabkan wanita pasca-menopause lebih rentan terhadap stres dan memiliki fungsi otak yang lebih buruk dalam menanggapi stres (3).

 

Estradiol juga terbukti mampu mencegah terjadinya apoptosis atau kematian pada sel otak, meningkatkan produksi dopamin yang sangat mempengaruhi timbulnya motivasi dan perkembangan kognisi. Wanita yang memiliki kadar estrogen tinggi memiliki daya ingat dan performa yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok wanita yang memiliki kadar estrogen lebih rendah (4, 5).

 

Bahkan pada wanita dengan kadar estrogen yang tinggi memiliki tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok pria (6). 

 

4. Menjaga Berat Badan dalam Batas Normal

Estradiol berperan dalam mengontrol nafsu makan, penggunaan energi, pengaturan berat badan, serta persebaran lemak pada tubuh seorang wanita. Seseorang yang memiliki kadar estrogen cukup dalam darahnya akan memiliki kontrol rasa lapar dan kenyang yang lebih baik, proses kontrol ini dilaksanakan oleh axis hipotalamus-pituitari-gonadal di otak dan sangat mempengaruhi kebiasaan makan pada wanita.

 

Hal ini juga ditunjukkan pada sebuah penelitian, dimana wanita post-menopause dengan kadar estrogen rendah memiliki berat badan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok wanita postmenopause yang menjalani terapi estrogen (7). 

 

5. Mencegah Pengeroposan Tulang 

Manfaat selanjutnya dari estradiol adalah dibutuhkan dalam pertumbuhan tulang serta menjaga kesehatan tulang sekaligus menjadi pelumas pada persendian. Kondisi osteoporosis atau pengeroposan pada tulang sangat berhubungan dengan terjadinya defisiensi estrogen dalam tubuh baik pada wanita maupun pria dengan usia lanjut (9).

 

Estrogen bekerja dengan cara menurunkan aktivitas osteoklas dalam mendegradasi sel tulang, sehingga akan menjaga massa dan kepadatan tulang (10). 

 

 

 

6. Menjaga Kesehatan Tiroid

Meski penelitian terhadap manusia masih belum banyak dilaksanakan, namun terdapat dua reseptor estrogen yang terikat pada jaringan tiroid yakni Erα dan Erβ yang dapat menimbulkan hubungan satu sama lain.

 

Pada uji coba dengan tikus, kadar estrogen yang rendah akan menyebabkan hormon tiroid tidak terproduksi dengan baik, begitupula sebaliknya. Kadar estrogen yang tinggi memicu terjadinya hiperaktivitas hormon tiroid yang sangat mempengaruhi pengaturan berbagai organ vital dan keseimbangan metabolisme tubuh (11). 

 

Kondisi gangguan tiroid dan kanker tiroid juga lebih banyak diderita oleh kaum wanita, para peneliti masih menduga ada peran estrogen yang menyebabkan kondisi ini dan penelitian lebih lanjut dengan subyek manusia masih sangat diperlukan. 

 

7. Menjaga Kesehatan Kulit

Estrogen sangat  berperan dalam menjaga elastisitas kulit, ketebalan, serta pertumbuhan rambut pada tubuh manusia (12). Estrogen juga dibutuhkan pada proses penyembuhan luka. Kadar estrogen yang rendah berhubungan dengan terjadinya peradangan dan perlambatan proses penyembuhan luka (13). 

 

Pada wanita post-menopause, rendahnya kadar estrogen berdampak pada rendahnya kadar kolagen pada kulit. Hal ini mempercepat proses penuaan pada kulit, menghasilkan lebih banyak keriput, penurunan kepadatan kulit serta kekenyalan yang sangat nampak pada kulit wajah (14). 

 

Penggunaan estrogen dalam bentuk sediaan gel, losion, dan krim diketahui dapat memperbaiki kadar kolagen, menyamarkan garis halus dan keriput, meningkatkan kelembaban kulit, dan menghilangkan bekas luka (15). 

 

8. Kesehatan Jantung

Estradiol juga diduga bermanfaat dalam menjaga kesehatan jantung. Pada observasi yang dilaksanakan terhadap kelompok wanita post-menopause, gangguan sindrom metabolik seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kolesterol dan berat badan yang meningkat lebih sering terjadi pada wanita (16).

 

Meski demikian, penelitian mengenai manfaat terapi estrogen terhadap pencegahan gangguan jantung masih kontroversial, sebagian menunjukkan efek positif sebagian lainnya menunjukkan hasil yang kurang signifikan.  

 

 

Efek Samping Tingginya Kadar Estradiol

 

Kekurangan estradiol berkaitan erat dengan penurunan fungsi otak, osteoporosis, dan sindrom metabolik. Sedangkan, kondisi kelebihan estradiol juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

 

Tingginya kadar estradiol pada pria dapat menyebabkan pertumbuhan payudara atau disebut dengan ginekomastia. Ketidakseimbangan antara kadar estradiol dan testosteron juga dapat mengakibatkan penurunan gairah seksual.

 

Suplementasi estradiol sintetis dapat mengaktifkan gen penyebab kanker tertentu (BRCA1, BRCA2, dll.). Gen ini merupakan jenis gen yang meningkatkan risiko kanker payudara, kanker endometrium, dan kanker prostat pada pria (17, 18, 19).

 

Suplementasi estrogen sintetis dosis 0,625 mg plus progestin 2.5 mg setiap hari meningkatkan risiko kanker payudara, gagal jantung, kanker endometrium, fraktur, stroke iskemik (sumbatan), hingga kematian yang lebih tinggi pada kelompok wanita post-menopause dengan kondisi sehat. Hasil penelitian juga menyatakan telah menghentikan penggunakan regimen kombinasi estrogen dengan progestin ini sebagai pencegahan maupun manajemen utama penyakit kronis gagal jantung maupun stroke.

 

Setiap wanita utamanya wanita post-menopause harus berhati-hati ketika mengambil terapi estrogen sintetis untuk berbagai tujuan kesehatan (20, 21, 22).

 

Estrogen alami yang banyak terkandung dalam sumber makanan di alam diketahui tidak memiliki efek samping yang negatif dan berbahaya dibandingkan dengan suplementasi estrogen smtetis. 

 

 

Bagaimana Cara Mengatur Kadar Estradiol?

 

Jika Anda memiliki kadar estradiol yang rendah, berikut ini beberapa cara alami untuk meningkatkan estradiol dalam tubuh:

Berlatih yoga

 

Meningkatkan asupan serat dan karbohidrat

 

Mengurangi rokok dan konsumsi alkohol

 

Suplementasi maca dan semanggi merah

 

Mengonsumsi makanan yang mengandung fitoestrogen, seperti kedelai, wijen, sayuran hijau, legum, teh hijau, dan teh semanggi merah

 

Jika kadar estradiol Anda tergolong tinggi, Anda dapat menurunkan tingkat aktivitas enzim aromatase yang merupakan enzim penting pada produksi estradiol. Anda dapat mengurangi aromatase dengan:

 

Meningkatkan asupan seng, selenium, dan magnesium

 

Meningkatkan asupan makanan yang mengandung inhibitor aromatase alami, termasuk jamur, seledri, wortel, bayam, dan anggur

 

Mengurangi konsumsi alkohol

 

Diet karbohidrat

 

• Meningkatkan asupan sayuran yang mengandung indole-3-carbinol, seperti kubis, kembang kol, brokoli, kale, dan kubis Brussel

 

 

Referensi :

Cohen J. (2019). 10 Estradiol effects + how to increase & decrease levels. Self Hacked. Diakses pada 28 Agustus 2019.

Kumar P, Magon N. Hormones in pregnancy. Niger Med J. (2012). 

Schulster M, Bernie AM, Ramasamy R. The role of estradiol in male reproductive function. Asian J Androl. (2016). 

Ycaza Herrera A, Mather M. Actions and interactions of estradiol and glucocorticoids in cognition and the brain: Implications for aging women. Neurosci Biobehav Rev. (2015). 

Hampson E, Morley EE. Estradiol concentrations and working memory performance in women of reproductive age. Psychoneuroendocrinology. (2013). 

Weber MT, Maki PM, McDermott MP. Cognition and mood in perimenopause: a systematic review and meta-analysis. J Steroid Biochem Mol Biol. (2014). 

Hampson E, Morley EE. Estradiol concentrations and working memory performance in women of reproductive age. Psychoneuroendocrinology. (2013).

Geary N. Estradiol, CCK and satiation. Peptides. (2001). 

Riggs BL. The mechanisms of estrogen regulation of bone resorption. J Clin Invest. (2000). 

Väänänen HK, Härkönen PL. Estrogen and bone metabolism. Maturitas. (1996). 

Abdel-Dayem MM, Elgendy MS. Effects of chronic estradiol treatment on the thyroid gland structure and function of ovariectomized rats. BMC Res Notes. (2009). 

Thornton MJ. The biological actions of estrogens on skin. Exp Dermatol. (2002). 

Ashcroft GS, Ashworth JJ. Potential role of estrogens in wound healing. Am J Clin Dermatol. (2003). 

Raine-Fenning NJ, Brincat MP, Muscat-Baron Y. Skin aging and menopause: Implications for treatment. Am J Clin Dermatol. (2003). 

Shah MG, Maibach HI. Estrogen and skin. An overview. Am J Clin Dermatol. (2001). 

Carr MC. The emergence of the metabolic syndrome with menopause. J Clin Endocrinol Metab. (2003). 

Lyytinen H, Pukkala E, Ylikorkala O. Breast cancer risk in postmenopausal women using estradiol-progestogen therapy. Obstet Gynecol. (2009). 

Greenwald P, Caputo TA, Wolfgang PE. Endometrial cancer after menopausal use of estrogens. Obstet Gynecol. (1977). 

Nelles JL, Hu WY, Prins GS. Estrogen action and prostate cancer. Expert Rev Endocrinol Metab. (2011). 

Rossouw JE, Anderson GL, Prentice RL, et al. Risks and benefits of estrogen plus progestin in healthy postmenopausal women: Principal results from the women’s health initiative randomized controlled trial. JAMA. (2002).

Wassertheil-Smoller S, Hendrix SL, Limacher M, et al. Effect of estrogen plus progestin on stroke in postmenopausal women: The women’s health initiative: A randomized trial. JAMA. (2003).

Henderson VW, Lobo RA. Hormone therapy and the risk of stroke: Perspectives 10 years after the women’s health initiative trials. Climacteric. (2012).


Tags: ,