fbpx
LOGO

Hal yang Harus Diketahui Sebelum Mengonsumsi Soda Diet

August 18, 2020
IMG

Soda diet didefinisikan sebagai minuman berkarbonasi bebas kalori yang dimaniskan dengan pemanis buatan (seperti aspartam, siklamat, sakarin, acesulfame-k, dan sucralose) atau pemanis non-kalori atau kalori minimum lainnya.

 

Soda diet pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950-an untuk penderita diabetes, kemudian dipasarkan untuk orang yang mencoba mengendalikan berat badan atau mengurangi asupan gula. Minuman ini menjadi populer, terutama di kalangan orang-orang yang ingin mengurangi asupan gula atau kalori.

 

Hampir setiap produk minuman bersoda yang populer memiliki versi ini, seperti Diet Coke, Coke Zero, Pepsi Max, Sprite Zero, dan lainnya. 

 

Tetapi, apakah benar soda diet mampu menurunkan berat badan?

 

Dalam sebuah uji klinis, ditemukan bahwa tidak ada perbedaan antara soda diet dengan minuman non-kalori dalam penurunan berat badan pada orang yang mengontrol diet. Hal tersebut menunjukkan kemungkinan masalahnya terletak pada kebiasaan orang-orang yang minum soda diet, daripada soda diet itu sendiri (1).

 

Susan E. Swithers, PhD, profesor ilmu psikologi dan seorang ahli saraf perilaku di Purdue mengatakan mungkin perlu memperluas peringatan untuk membatasi asupan semua pemanis, termasuk pemanis tanpa kalori.

 

Mengonsumsi pemanis buatan akan mengganggu mekanisme tubuh dalam mengelola kalori yang dipicu rasa manis. Konsumsi soda diet cenderung membuat seseorang makan berlebih. 

 

Dalam tinjauannya, 30% dewasa dan 15% anak-anak Amerika mengonsumsi pemanis buatan, termasuk aspartam, sucralose, dan sakarin. Bukti menunjukkan bahwa sering mengonsumsi pemanis buatan yang berlebihan berisiko terkena obesitas, sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular (2, 3). 

 

 

Kandungan Soda Diet

 

Meskipun soda diet adalah versi ringan dari kebanyakan soda lainnya, soda diet ternyata tidak mengandung nutrisi apapun. Pada dasarnya, soda diet merupakan campuran air berkarbonasi, pemanis buatan atau alami, warna, rasa dan bahan tambahan makanan lainnya seperti kafein atau kadang-kadang vitamin. 

 

Namun, tidak semua soda diet rendah kalori atau bebas gula. Beberapa soda diet menggunakan gula dan pemanis buatan secara bersamaan. Misalnya, satu kaleng Coca-Cola Life mengandung pemanis alami stevia yang memiliki 90 kalori dan 24 gram gula (4).

 

Berikut ini kandungan yang terdapat dalam soda diet:

 

Air berkarbonasi: Kebanyakan soda dibuat dengan melarutkan karbon dioksida ke dalam air di bawah tekanan.

 

Pemanis: Termasuk pemanis buatan umum, seperti aspartam, sakarin, sukralosa atau pemanis alami seperti stevia, yang 200–13.000 kali lebih manis daripada gula biasa.

 

Asam: Asam-asam tertentu, seperti asam sitrat, asam malat dan asam fosfat, digunakan untuk menambah rasa getir pada minuman soda. Asam seringkali dikaitkan dengan erosi enamel gigi.

 

Pewarna: Pewarna yang paling umum digunakan adalah karotenoid, anthocyanin dan karamel.

 

Perisa: Banyak jenis jus alami atau rasa buatan digunakan dalam diet soda, termasuk buah-buahan, beri, rempah-rempah dan cola.

 

Pengawet: Pengawet yang umum digunakan adalah kalium benzoat.

 

Vitamin dan mineral: Beberapa minuman ringan diet menambahkan vitamin dan mineral sebagai alternatif yang lebih sehat.

 

Kafein: Sama seperti soda pada umumnya, soda diet mengandung kafein. Satu kaleng Diet Coke mengandung 46 mg kafein, dan Diet Pepsi mengandung 34 mg.

 

 

Apakah Soda Diet Berbahaya?

 

Secara umum, soda dapat memperburuk kesehatan gigi, terutama anak-anak. Konsumsi soda dapat menyebabkan erosi lapisan gigi. Selain itu, beberapa penelitian juga mengaitkan soda diet dengan masalah kesehatan lain.

 

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation menyatakan bahwa konsumsi minuman yang tinggi pemanis buatan dapat meningkatkan risiko kematian total (kematian yang disebabkan oleh kondisi apa pun), terutama dari penyakit kardiovaskular. Dalam penelitian ini, wanita ditemukan memiliki tingkat asupan diet soda tertinggi (5). 

 

Orang yang memiliki asupan minuman dengan pemanis buatan (ASB) yang lebih tinggi, lebih cenderung memiliki hipertensi, indeks masa tubuh (IMT) yang lebih besar, dan kecenderungan kelebihan berat badan. Beberapa peneliti percaya bahwa ASB berkontribusi terhadap risiko kardiometabolik, meskipun mengandung sedikit atau tidak ada kalori. 

 

Berikut ini beberapa masalah kesehatan yang ditimbulkan akibat mengonsumsi soda diet yang berlebih:

 

1. Depresi

Minum lebih dari empat kaleng soda sehari dikaitkan dengan risiko depresi 30 persen lebih tinggi daripada seseorang yang tidak mengonsumsi soda. Risiko itu tampaknya lebih besar bagi orang yang minum diet soda dibandingkan dengan soda biasa (6, 7).

 

2. Kerusakan ginjal

Asupan soda diet telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit ginjal kronis. Peneliti Harvard membuktikan bahwa orang yang melakukan diet jangka panjang dengan meminum soda diet menyebabkan penurunan fungsi ginjal hingga 30 persen lebih besar, sehingga dapat memicu terjadinya gagal ginjal (8). 

 

Penelitian lain juga menemukan bahwa orang yang minum lebih dari tujuh gelas soda diet per minggu memiliki risiko hampir dua kali lipat terserang penyakit ginjal. Penyebab kerusakan ginjal diduga karena kandungan fosfor soda yang tinggi, yang dapat meningkatkan beban asam pada ginjal (8, 9).

 

3. Diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik

Penelitian menemukan bahwa meminum satu porsi minuman dengan pemanis buatan per hari dikaitkan dengan risiko diabetes tipe 2 8 hingga 13% lebih tinggi (10, 11).

 

Penelitian tahun 2009 yang diterbitkan dalam jurnal Diabetes Care menemukan bahwa minum diet soda setiap hari meningkatkan risiko sindrom metabolik sebesar 36% dan diabetes tipe 2 sebesar 67% dibandingkan dengan peminum soda non-diet (12).

 

4. Penyakit kardiovaskular

Sebuah tinjauan terhadap empat studi dengan total 227.254 peserta menemukan bahwa mengonsumsi satu porsi minuman dengan pemanis buatan per hari dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi sebesar 9%. Berdasarkan data pengamatan, soda diet juga dikaitkan dengan risiko stroke (13, 14).

 

Penelitian yang dilakukan peneliti Universitas Miami dan Universitas Columbia juga menemukan hal yang serupa. Mereka menemukan bahwa orang dewasa yang minum soda diet setiap hari lebih mungkin menderita stroke atau serangan jantung. Mereka juga lebih mungkin meninggal karena penyakit kardiovaskular (15).

 

Risiko peningkatan ini tetap ada bahkan ketika para peneliti mengoreksi dengan kebiasaan merokok, olahraga, berat badan, asupan natrium, kolesterol tinggi, dan faktor-faktor lain yang dapat berkontribusi terhadap perbedaan tersebut (16).

 

5. Gangguan paru-paru

Meminum soda, termasuk soda diet, dikaitkan dengan penyakit asma dan gejala penyakit paru obstruktif kronis (PPOK/COPD). Sebuah penelitian di Australia menemukan bahwa 13,3 % peserta yang menderita asma dan 15,6 % menderita COPD memiliki kebiasaan meminum lebih dari dua cangkir soda setiap hari (17, 18).

 

6. Kerusakan otak

Pemanis buatan, seperti aspartam, dikaitkan dengan penurunan sistem pertahanan antioksidan pada otak. Hasil penelitian pada hewan menemukan konsumsi jangka panjang aspartam menyebabkan ketidakseimbangan  antioksidan di otak, terutama melalui mekanisme yang melibatkan sistem yang bergantung pada glutathione (19).

 

Aspartam juga dikaitkan dengan beberapa masalah lain seperti migrain & sakit kepala, depresi, kegelisahan, gangguan pendengaran, pertambahan berat badan, kelelahan, epilepsi, ADHD, penyakit Alzheimer & Parkinson, hingga tumor otak.

 

 

 

Solusi

 

Para ilmuwan lebih menyarankan untuk mengonsumsi minuman dengan pemanis alami dibandingkan dengan pemanis buatan. Anda dapat mencoba alternatif lain seperti susu, kopi, teh hitam, atau air yang mengandung buah.

 

Namun, Anda harus tetap memperhatikan batasan konsumsi pemanis alami. Diantara semua jenis minuman, air mineral adalah pilihan yang lebih baik.

 

 

Referensi:

Zerbe L. (2019). Is diet soda bad for you? here’s what it does to your body?. Dr Axe. Diakses pada 01 Agustus 2019.

Mandl E. (2018). Diet soda: Good or bad?. Healthline. Diakses pada 01 Agustus 2019.

Patel K. (2019). Is diet soda bad for you?. Examine. Diakses pada 01 Agustus 2019. 

Nettleton JA, Lutsey PL, Wang Y, Lima JA, Michos ED, Jacobs DR Jr. Diet soda intake and risk of incident metabolic syndrome and type 2 diabetes in the Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA). Diabetes Care. (2009). 

Swithers SE. Artificial sweeteners produce the counterintuitive effect of inducing metabolic derangements. Trends Endocrinol Metab. (2013). 

Neubert AP. (2013). Prof: Diet drinks are not the sweet solution to fight obesity, health problems. Purdue. Diakses pada 01 Agustus 2019. 

Malik VS, Li Y, Pan A, De Koning L, Schernhammer E, Willett WC, Hu FB. Long-term consumption of sugar-sweetened and artificially sweetened beverages and risk of mortality in US adults. Circulation. (2019). 

Guo X, Park Y, Freedman ND, et al. Sweetened beverages, coffee, and tea and depression risk among older US adults. PLoS One. (2014).

Craig J. (2013). Diet soda linked to depression, coffee tied to lower risk. Newswise. Diakses pada 01 Agustus 2019.

National Kidney Foundation. (2017). Say no to that diet soda?. National Kidney Foundation. Diakses pada 01 Agustus 2019.

Rebholz CM, Grams ME, Steffen LM, et al. Diet soda consumption and risk of incident end stage renal disease. Clin J Am Soc Nephrol. (2017). 

Ferraro PM, Taylor EN, Gambaro G, Curhan GC. Soda and other beverages and the risk of kidney stones. Clin J Am Soc Nephrol. (2013).

Greenwood DC, Threapleton DE, Evans CE, et al. Association between sugar-sweetened and artificially sweetened soft drinks and type 2 diabetes: Systematic review and dose-response meta-analysis of prospective studies. Br J Nutr. (2014). 

Imamura F, O’Connor L, Ye Z, et al. Consumption of sugar sweetened beverages, artificially sweetened beverages, and fruit juice and incidence of type 2 diabetes: Systematic review, meta-analysis, and estimation of population attributable fraction. BMJ. (2015).

Nettleton JA, Lutsey PL, et al. Diet soda intake and risk of incident metabolic syndrome and type 2 diabetes in the multi-ethnic study of atherosclerosis (mesa). Diabets Care. (2019). 

Kim Y, Je Y. Prospective association of sugar-sweetened and artificially sweetened beverage intake with risk of hypertension. Arch Cardiovasc Dis. (2016). 

Narain A, Kwok CS, Mamas MA. Soft drinks and sweetened beverages and the risk of cardiovascular disease and mortality: A systematic review and meta-analysis. Int J Clin Pract. (2016). 

Gardener H, Rundek T, Markert M, Wright CB, Elkind MS, Sacco RL. Diet soft drink consumption is associated with an increased risk of vascular events in the Northern Manhattan Study. J Gen Intern Med. (2012).

Ferrari N. (2012). Is there a link between diet soda and heart disease?. Harvard Health Publishing. Diakses pada 01 Agustus 2019.

Jaslow R. (2012). Drinking soda raises risk for asthma, COPD: Study. CBS News. Diakses pada 01 Agustus 2019.

Shi Z, Dal Grande E, Taylor AW, Gill TK, Adams R, Wittert GA. Association between soft drink consumption and asthma and chronic obstructive pulmonary disease among adults in Australia. Respirology. (2012). 

Abhilash M, Sauganth Paul MV, Varghese MV, Nair RH. Long-term consumption of aspartame and brain antioxidant defense status. Drug Chem Toxicol. (2013). 


Tags: , ,