fbpx
LOGO

Hati-Hati, Obat Ini Bisa Mengacaukan Bakteri di Usus Anda !

October 12, 2020
IMG

Tubuh manusia terdiri dari organ yang bekerja dengan sendirinya. Selain organ yang menjalankan tugas, terdapat aktivitas lain yang berjalan beriringan di dalam tubuh manusia, yang disebut mikrobioma. 

 

Usus manusia adalah rumah bagi triliunan bakteri yang membentuk lebih banyak genom daripada semua sel manusia dalam tubuh. 

 

Mikrobioma adalah genom atau kumpulan yang terdiri dari mikroba baik yang dengan pertumbuhannya mampu menekan mikroba jahat (patogen) seperti bakteri, jamur, dan lainnya. 

 

Para ahli pencernaan sepakat bahwa 85% bakteri baik dan 15% bakteri jahat adalah jumlah mikroorganisme yang seimbang dalam pencernaan. Namun, ketika seseorang sakit, apakah obat yang dikonsumsi benar-benar membantu tubuh untuk hanya melawan bakteri penyebab penyakit, atau justru mengacaukan mikrobioma?

 

 

Apa kata penelitian?

 

Sebuah penelitian diterbitkan dalam jurnal Nature, meneliti tentang interaksi antara obat-obatan farmasi dan mikrobioma manusia. Mereka menguji 40 bakteri yang ditemukan di usus dengan 1.079 obat farmasi untuk melihat obat mana yang menghambat pertumbuhan bakteri usus.

 

Obat-obatan yang menghentikan pertumbuhan setidaknya satu jenis bakteri dianggap sebagai serangan dan kemungkinan memiliki efek samping seperti antibiotik pada manusia.

 

Obat-obatan yang diuji dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan target seluler mereka, yaitu obat antibiotik (menargetkan bakteri), obat anti-infeksi (menargetkan parasit, protozoa, virus, dan jamur), dan human targeted drugs (obat apa pun yang dirancang untuk memengaruhi manusia sebagai lawan dari mikroba).

 

Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa:

 

Obat antibiotik: Sebagian besar antibiotik yang diuji menghambat pertumbuhan setidaknya satu strain bakteri usus.

 

Obat anti-infeksi: 53% dari obat ini menghambat pertumbuhan setidaknya satu jenis bakteri. Hal ini agak mengejutkan, karena obat ini tidak dirancang untuk menyerang bakteri. 

 

Human targeted drugs: 24% dari obat ini memiliki efek samping seperti antibiotik. Ini termasuk obat-obatan dari seluruh kelas utama. Contohnya termasuk: antipsikotik, penghambat saluran kalsium, antihistamin, penghambat pompa proton, obat tiroid, pengencer darah, NSAID dan anti-penderita diabetes seperti metformin.

 

 

Penelitian pada manusia juga mendukung temuan ini. Studi kohort Flemish yang besar menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan hormon, antidepresan, imunosupresan, atau obat antiinflamasi mengalami perubahan signifikan pada mikrobioma mereka.

 

Studi lain menunjukkan bahwa pasien metformin jangka panjang menunjukkan perubahan dalam bakteri usus mereka. Studi yang serupa menunjukkan hasil yang sama untuk antipsikotik atipikal dan inhibitor pompa proton (1, 2, 3). 

 

Temuan-temuan diatas menunjukkan bahwa banyak obat-obatan farmasi mampu memodulasi mikrobioma. Obat antipsikotik adalah salah satu contoh obat yang dirancang untuk sel manusia yang seharusnya tidak memengaruhi bakteri pada usus, namun justru memengaruhi bakteri usus secara negatif.

 

Meski tidak semua obat-obatan tidak memberikan efek negatif tersebut, untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan, dapat dilakukan dengan menciptakan dan menjaga keseimbangan bakteri di usus. 

 

 

Referensi

Brogan K. (2019). Your microbiome on drugs. Kelly Brogan MD. Diakses pada 11 Oktober 2019.

Taneja V. (2017). Principles of gender-specific medicine. Science Direct. Diakses pada 11 Oktober 2019. 

Falony G, Joossens M, et al. Population-level analysis of gut microbiome variation. Science. (2016).

Wu H, Esteve E, et al. Metformin alters the gut microbiome of individuals with treatment-naive type 2 diabetes, contributing to the therapeutic effects of the drug. Nat Med. (2017).

Flowers SA, Evans SJ, Ward KM, McInnis MG, Ellingrod VL. Interaction between atypical antipsychotics and the gut microbiome in a bipolar disease cohort. Pharmacotherapy. (2017).


Tags: