fbpx
LOGO

Jelatang, Herbal Alami untuk Mengobati Hipertensi

June 30, 2020
IMG

Stinging nettle (Urtica dioica) atau jelatang adalah tanaman yang telah digunakan sebagai ramuan obat sejak zaman Yunani kuno. Tanaman ini memiliki bulu halus pada bagian batang dan daun, ketika mengenai kulit, bulu halus ini menghasilkan sensasi menyengat, gatal, kemerahan, bahkan pembengkakan. Hal ini dapat terjadi karena adanya senyawa yang terkandung dalam jelatang antara lain serotonin, histamin dan asetilkolin. 

 

Ketika diolah menjadi suplemen, jelatang aman dikonsumsi serta memiliki kualitas farmakologis dan anti-inflamasi yang dapat  mengobati berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan berkemih dan pembesaran prostat. Penduduk Mesir kuno menggunakan jelatang untuk mengobati radang sendi dan nyeri punggung bagian bawah, sementara pasukan perang Romawi menjadikannya sebagai penghangat tubuh.

 

 

Manfaat

 

1. Mengobati Tekanan Darah Tinggi

Sebuah penelitian yang dilaksanakan pada hewan coba, pemberian jelatang telah terbukti menurunkan tekanan darah serta meningkatkan kadar antioksidan dalam darah. Sehingga menurunkan resiko terjadinya gangguan ataupun kelainan pada organ jantung (1, 2). 

 

Secara tradisional, jelatang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, merangsang produksi oksida nitrat, yang bertindak sebagai vasodilator. Vasodilator bermakna senyawa dalam jelatang mampu melemaskan otot-otot pembuluh darah dan membantunya melebar, sehingga tekanan darah dapat turun. Selain itu senyawa yang terkandung didalamnya bertindak sebagai penghambat saluran kalsium, yang mampu merilekskan kinerja jantung dengan mengurangi kekuatan kontraksi otot jantung (3, 4, 5).

 

2. Mengurangi Inflamasi Berlebih

Sebuah penelitian yang dilaksanakan pada hewan coba, jelatang terbukti mampu mengurangi kadar hormon inflamasi (prostaglandin dan leukotrien) dengan mengganggu produksi hormon tersebut. Ekstrak lipopoliskarida (LPS) dalam tumbuhan jelatang juga diketahui mampu meningkatkan produksi TNF-alpha  dan IL-1 beta sebagai sitokin atau protein yang mencegah terjadinya peradangan atau inflamasi selama 24 jam setelah penggunaan (6, 7). 

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Rheumatology menyebutkan efek anti-inflamasi jelatang dapat melindungi tubuh dari berbagai penyakit autoimun (menyerang jaringan tubuh sendiri) seperti pada kondisi radang sendi atau rheumatoid arthritis (8). 

 

Penelitian lain dengan 27 partisipan penderita radang sendi menunjukkan bahwa pengaplikasian daun jelatang di area sendi yang mengalami radang terbukti menurunkan rasa sakit dan memberikan efek pengobatan. Bahkan ketika dikonsumsi secara langsung, jelatang memberikan sensasi kelegaan (9). Mengonsumsi suplemen jelatang diketahui juga dapat menggantikan peran berbagai obat kimia sebagai anti-peradangan, sehingga menurunkan efek samping obat kimia dan meringankan kinerja hati dan ginjal (10).

 

3. Mengatasi BPH dan Masalah Berkemih

Penderita pembesaran prostat atau hiperplasia prostatik benigna (BPH) mengalami berbagai gangguan dalam berkemih atau buang air kecil. Beberapa gangguan antara lain dalam pengosongan kandung kemih yang tidak tuntas, berkemih yang menyakitkan, dan penurunan aliran kemih.

 

Meski kalangan medis seperti Dokter masih belum sepenuhnya yakin mengenai manfaat jelatang dalam mengatasi masalah BPH, telah banyak studi klinis yang menyimpulkan bahwa tanaman tersebut mengandung bahan kimia yang mempengaruhi hormon testosteron sebagai penyebab utama terjadinya BPH.

 

Sebuah penelitian yang dilaksanakan pada tikus coba menunjukkan bahwa jelatang sama efektifnya seperti finasteride, yakni obat kimia yang digunakan untuk mengatasi berbagai gejala BPH. Jelatang mampu mencegah konversi testosteron menjadi dihidrotestosteron, bentuk testosteron yang lebih kuat, sehingga membantu mengurangi ukuran prostat yang menghambat saluran berkemih pada pria (11, 12)

 

Penelitian pada penderita BPH menunjukkan bahwa ekstrak jelatang membantu mengobati masalah buang air kecil tanpa efek samping meski dikonsumsi dalam waktu yang lama (13, 14). Konsumsi jelatang secara tunggal maupun dikombinasikan dengan saw palmetto juga terbukti dapat memperlambat atau menghentikan penyebaran sel kanker prostat (15).

 

4. Mengatasi Alergi

Tumbuhan jelatang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan herbal yang rendah efek samping dalam mengatasi berbagai gejala alergi pada saluran pernafasan seperti bersin, rasa gatal dan berbagai gejala lain. Jelatang menunjukkan efek anti histamin dan menghambat produksi sel mast triptase, yakni sel yang berperan dalam menimbulkan berbagai reaksi hipersensitivitas pada penderita alergi. 

 

Sebuah penelitian mengenai pemberian jelatang sebesar 600 miligram kepada penderita Allergic Rhinitis, atau penderita alergi serbuk bunga. Setelah dilaksanakan evaluasi, diketahui bahwa 48% responden menyatakan kepuasan dan minimnya efek samping setelah menggunakan jelatang dibandingkan dengan obat kimia yang biasa digunakan dalam mengatasi gejala alergi (16).

 

 

 

Sumber

 

Stinging nettle atau tumbuhan jelatang terutama bagian akar digunakan untuk mengatasi gangguan dalam perkemihan. Sedangkan bagian daun dan batangnya digunakan untuk mengatasi masalah alergi dan gangguan pernafasan. 

 

 

Dosis Pemakaian

 

Mengatasi Benign Prostate Hiperplasia (BPH-pembesaran kelenjar prostat): Konsumsi 120 miligram serbuk akar jelatang, tiga kali sehari, dengan total dosis maksimum adalah 360 miligram sehari.

 

Mengatasi alergi: Konsumsi suplemen jelatang dosis 300 miligram, terbagi dalam dua dosis perhari.

 

Mengatasi nyeri persendian: Menempelkan langsung daun jelatang pada sendi yang bermasalah, atau dapat mengoleskan krim yang mengandung ekstrak jelatang. 

 

 

Interaksi Sinergi

 

Saw palmetto: Mengkombinasikan jelatang dengan saw palmetto digunakan untuk memperlambat atau menghentikan penyebaran sel kanker prostat. 

 

 

Kontraindikasi

 

Wanita hamil atau menyusui

 

• Bagi penderita diabetes, kombinasi ekstrak jelatang dengan obat-obatan diabetes dapat menyebabkan kadar gula darah yang terlalu rendah. 

 

Orang yang mengonsumsi obat-obatan lain seperti lithium (dapat menimbulkan efek samping serius), obat anti-depresan (dapat menyebabkan rasa kantuk yang  berlebihan), dan warfarin atau obat pengencer darah (dapat menurunkan efektivitas obat tersebut)

 

Penderita tekanan darah rendah. Selain itu kombinasi ekstrak jelatang dengan obat-obatan darah tinggi dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang drastis. 

 

Orang dengan masalah ginjal

 

 

Efek Samping

 

Gangguan pencernaan

Berkeringat

Iritasi kulit, bila kontak langsung dengan tanaman jelatang.

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Stinging nettle. Examine. Diakses pada 25 Juni 2019.

Axe, Josh. (2018). 5 Proven, remarkable stinging nettle benefits. Dr Axe. Diakses pada 25 Juni 2019.

Raman, Ryan. (2018). 6 Evidence-based benefits of stinging nettle. Healthline. Diakses pada 25 Juni 2019.

WebMD. (2018). Stinging nettle. WebMD. Diakses pada 25 Juni 2019.

Testai L, Chericoni S, Calderone V, et al. Cardiovascular effects of Urtica dioica L. (Urticaceae) roots extracts: in vitro and in vivo pharmacological studies. J Ethnopharmacol. (2002).

Vajic UJ, Grujic-Milanovic J, Miloradovic Z, et al. Urtica dioica L. leaf extract modulates blood pressure and oxidative stress in spontaneously hypertensive rats. Phytomedicine. (2018).

Qayyum R, Qamar HM, Khan S, Salma U, Khan T, Shah AJ. Mechanisms underlying the antihypertensive properties of Urtica dioica. J Transl Med. (2016).

Hermann M, Flammer A, Lüscher TF. Nitric oxide in hypertension. J Clin Hypertens (Greenwich). (2006).

Elliott WJ, Ram CV. Calcium channel blockers. J Clin Hypertens (Greenwich). (2011).

Riehemann K, Behnke B, Schulze-Osthoff K. Plant extracts from stinging nettle (Urtica dioica), an antirheumatic remedy, inhibit the proinflammatory transcription factor NF-kappaB. FEBS Lett. (1999).

Obertreis B, Ruttkowski T, Teucher T, Behnke B, Schmitz H. Ex-vivo in-vitro inhibition of lipopolysaccharide stimulated tumor necrosis factor-alpha and interleukin-1 beta secretion in human whole blood by extractum urticae dioicae foliorum [published correction appears in Arzneimittelforschung 1996 Sep;46(9):936]. Arzneimittelforschung. (1996).

Klingelhoefer S, Obertreis B, Quast S, Behnke B. Antirheumatic effect of IDS 23, a stinging nettle leaf extract, on in vitro expression of T helper cytokines. J Rheumatol. (1999).

Randall C, Randall H, Dobbs F, Hutton C, Sanders H. Randomized controlled trial of nettle sting for treatment of base-of-thumb pain. J R Soc Med. (2000).

Jacquet A, Girodet PO, Pariente A, Forest K, Mallet L, Moore N. Phytalgic, a food supplement, vs placebo in patients with osteoarthritis of the knee or hip: A randomised double-blind placebo-controlled clinical trial. Arthritis Res Ther. (2009).

Nahata A, Dixit VK. Ameliorative effects of stinging nettle (Urtica dioica) on testosterone-induced prostatic hyperplasia in rats. Andrologia. (2012).

Marks LS. 5alpha-reductase: History and clinical importance. Rev Urol. (2004).

Safarinejad MR. Urtica dioica for treatment of benign prostatic hyperplasia: a prospective, randomized, double-blind, placebo-controlled, crossover study. J Herb Pharmacother. (2005).

Lopatkin N, Sivkov A, Schläfke S, Funk P, Medvedev A, Engelmann U. Efficacy and safety of a combination of Sabal and Urtica extract in lower urinary tract symptoms–long-term follow-up of a placebo-controlled, double-blind, multicenter trial. Int Urol Nephrol. (2007).

Konrad L, Müller HH, Lenz C, Laubinger H, Aumüller G, Lichius JJ. Antiproliferative effect on human prostate cancer cells by a stinging nettle root (Urtica dioica) extract. Planta Med. (2000).

Mittman P. Randomized, double-blind study of freeze-dried Urtica dioica in the treatment of allergic rhinitis. Planta Med. (1990).

 


Tags: ,