fbpx
LOGO

Kerusakan Mitokondria Bisa Berakibat Fatal, Begini Cara Pencegahannya

January 21, 2021
IMG

Mitokondria merupakan tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel makhluk hidup, metabolisme asam lemak, biosintesis pirimidina, homeostasis kalsium, transduksi sinyal seluler, dan penghasil energi.

 

Mitokondria seringkali disebut sebagai pembangkit tenaga sel, karena membantu mengubah energi yang diambil dari makanan menjadi energi yang dapat digunakan sel. Mitokondria juga berperan dalam menghasilkan panas tubuh dan mempromosikan apoptosis (kematian sel) untuk penyakit tertentu, termasuk kanker.

 

Mitokondria berukuran sangat kecil, sekitar 0.75 hingga 3 mikrometer dan terbagi atas beberapa wilayah yang masing-masing memiliki peran yang berbeda. Jenis sel yang berbeda memiliki jumlah mitokondria yang berbeda pula, misalnya sel darah merah dewasa tidak memiliki sama sekali mitokondria, sementara sel hati dapat memiliki hingga 2.000 mitokondria dalam satu sel.

 

 

Disfungsi Mitokondria

 

Mitokondria memiliki peran vital dalam proses penghasilan energi berupa ATP. Sayangnya, DNA dalam mitokondria rentan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas selama sintesis ATP (dalam produksi energi). Mitokondria juga tidak memiliki mekanisme perlindungan yang sama seperti inti sel.

 

Namun, sebagian besar kerusakan mitokondria lebih sering disebabkan oleh mutasi pada DNA. Mutasi ini dapat diwariskan secara genetik atau spontan.

 

Beberapa kondisi yang diduga melibatkan disfungsi mitokondria antara lain penyakit Alzheimer, Parkinson, Huntington, gangguan bipolar, skizofrenia, autisme, diabetes, dan sindrom kelelahan kronis. 

 

 

Meningkatkan Fungsi Mitokondria

 

 

 

 

Meningkatkan kesehatan dan fungsi mitokondria tentunya berdampak pada kesehatan dan fungsi tubuh secara keseluruhan.

 

Para ilmuwan berhipotesis bahwa gaya hidup sehat dan konsumsi suplemen dapat  meningkatkan kesehatan mitokondria dengan cara meningkatkan ketersediaan protein yang dibutuhkan untuk produksi ATP.

 

Dalam beberapa bukti yang masih terbatas, perubahan gaya hidup dan beberapa suplemen dapat meningkatkan jumlah mitokondria. 

 

1. Puasa Intermiten

Puasa intermiten atau puasa selang-seling dan melakukan pembatasan kalori dapat menurunkan tingkat energi dalam tubuh. Dalam sebuah hipotesis ilmiah, mengimbangi puasa intermiten dapat meningkatkan NAD+.

 

NAD+ merupakan koenzim yang berfungsi untuk meningkatkan energi sel. Sehingga puasa intermiten mampu meningkatkan kemampuan mitokondria untuk menghasilkan ATP, dan berdampak pada peningkatan produksi ATP selanjutnya (1).

 

2. Olahraga

Menurut beberapa peneliti, berolahraga menghabiskan energi dalam tubuh yang mampu menstimulus fungsi mitokondria dengan meningkatkan ketersediaan molekul NAD + yang dibutuhkan untuk membuat ATP (1).

 

Selain itu, olahraga membutuhkan energi dari otot untuk bekerja dan menyalurkan oksigen ke seluruh tubuh. Olahraga secara rutin mampu meningkatkan jumlah mitokondria dalam sel otot sehingga kadar ATP yang memadai dapat diberikan untuk digunakan selama latihan atau beraktifitas fisik  (2).

 

Faktanya, sebuah penelitian yang melibatkan 8 sukarelawan lanjut usia yang sehat menemukan hanya 2 minggu pelatihan interval intensitas tinggi (HIIT) secara signifikan meningkatkan fungsi mitokondria pada otot.

 

Meski begitu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan konsistensi temuan ini (3).

 

3. Diet Ketogenik

Diet ketogenik adalah diet yang tinggi lemak dan rendah karbohidrat yang diklaim mengalihkan pembentukan energi dari karbohidrat ke lemak. Ketika lemak diubah menjadi energi, tubuh akan memproduksi molekul yang disebuh keton. Selanjutnya, tubuh menggunakan molekul-molekul keton ini untuk produksi ATP. 

 

Beberapa peneliti percaya bahwa ini menghasilkan peningkatan fungsi mitokondria (PGC-1alpha, SIRT1 / 3, aktivasi AMPK), tingkat ATP yang lebih tinggi dari rantai transpor elektron, dan kesehatan seluler secara keseluruhan (4).

 

Sebuah penelitian menemukan bahwa diet ketogenik memperlambat miopati mitokondria (penyakit otot) pada tikus sekaligus meningkatkan jumlah mitokondria baru. Namun, diperlukan penelitian pada manusia untuk mengetahui efektifitas diet ketogenik (5).

 

4. Mengonsumsi Suplemen

Mengonsumsi beberapa suplemen dikatakan mampu meningkatkan fungsi mitokondria. Beberapa suplemen tersebut yaitu oxaloacetate, asam malat, resveratrol, niacinamide, asam lipoat, berberin, gotu kola, butyrate, dan banyak lainnya. 

 

Namun, perlu diperhatikan bahwa sebagian besar suplemen yang direkomendasikan belum disetujui penggunaan klinisnya oleh FDA untuk meningkatkan fungsi mitokondria, dan umumnya tidak memiliki bukti penelitian yang kuat.

 

Maka dari itu, jika Anda ingin mengonsumsi suplemen untuk meningkatkan fungsi mitokondria, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. 

 

 

Referensi

Khatib, Yara. (2019). 33 Natural ways to improve mitochondrial function. Self Hacked. Diakses pada 22 Oktober 2019.

Newman, Tim. (2018). What are mitochondria?. Medical News Today. Diakses pada 22 Oktober 2019.

Houtkooper RH, Auwerx J. (2012). Exploring the therapeutic space around NAD+. Journal of Cell Biology. Diakses pada 22 Oktober 2019.

Hood DA. (2009). Mechanisms of exercise-induced mitochondrial biogenesis in skeletal muscle. Appl Physiol Nutr Metab. Diakses pada 22 Oktober 2019.

Menshikova EV, Ritov VB, Fairfull L, Ferrell RE, Kelley DE, Goodpaster BH. (2006). Effects of exercise on mitochondrial content and function in aging human skeletal muscle. J Gerontol A Biol Sci Med Sci. Diakses pada 22 Oktober 2019. 

Gano LB, Patel M, Rho JM. (2014). Ketogenic diets, mitochondria, and neurological diseases. J Lipid Res. Diakses pada 22 Oktober 2019. 

Ahola-Erkkilä S, Carroll CJ, et al. (2010). Ketogenic diet slows down mitochondrial myopathy progression in mice. Hum Mol Genet. Diakses pada 22 Oktober 2019.


Tags: ,