fbpx
LOGO

Bisakah Kreatin Meningkatkan Kadar Testosteron?

December 3, 2020
IMG

Kreatin atau kreatina merupakan suplemen yang populer di kalangan atlet atau olahragawan karena klaimnya dalam meningkatkan kinerja olahraga, kekuatan, dan massa otot.

 

Kreatin juga diproduksi dalam tubuh sebagai hasil dari metabolisme endogen melalui makanan. Klaim lain mengatakan bahwa kreatin berfungsi sebagai penguat testosteron.

 

Klaim tersebut berasal dari hasil pengujian kreatin pada hormon yang menunjukkan bahwa kreatin bersifat anabolik. Sifat anabolik berarti membantu meregenerasi adenosin trifosfat (ATP), pembawa energi utama dalam sel Anda, sehingga membantu berolahraga lebih keras, mengangkat beban lebih berat, dan bekerja ekstra menghasilkan lebih banyak otot.

 

Efek anabolik pada kreatin didapatkan secara tidak langsung melalui peningkatan intensitas latihan. Kemudian para peneliti mulai mempertanyakan apakah kreatin memiliki efek anabolik langsung seperti meningkatkan testosteron.

 

 

Apakah kreatin mampu meningkatkan kadar testosteron?

 

Dalam tiga penelitian terkontrol acak, suplementasi kreatin tampaknya memiliki efek meningkatkan hormon, meskipun secara statistik signifikansinya kecil. Pada penelitian pertama, suplementasi kreatin diberikan pada 20 pemain rugby muda sehat yang dibagi dalam dua kelompok secara acak.

 

Kelompok kreatin mendapat dosis pemuatan (25 g per hari) selama satu minggu, kemudian dosis pemeliharaan (5 g per hari) selama dua minggu. Sebenarnya, tingkat testosteron pada kelompok plasebo dan kreatin tidak berubah. Namun, pada akhir penelitian, terdapat peningkatan dihydrotestosterone (DHT), androgen dari testosteron, pada kelompok kreatin sebesar 0,12 ng/mL (1).

 

Penelitian kedua dan ketiga melibatkan 20 laki-laki muda yang aktif dan sehat. Mereka memberikan 20/ ari selama 1 minggu kepada kelompok kreatin, dan hasilnya menunjukkan peningkatan testosteron sebesar 0,57 ng / mL (57 ng / dL) dan 1,5 ng / mL (150 ng / dL) (2, 3).

 

Suplementasi yang dikombinasikan dengan beta-alanin memberikan perubahan paling besar pada masa tubuh dan masa lemak jika dibandingkan dengan pemberian kreatin tunggal atau plasebo. Kreatin juga tercatat meningkatkan konsentrasi testosterone pada masa istirahat. Namun tidak ada perubahan yang sigifikan pada endokrin lainnya (4).

 

Tetapi, beberapa penelitian lain menemukan hasil yang berbeda. Suplementasi kreatin memang terbukti meningkatkan kinerja olahraga, tapi tidak memiliki efek pada peningkatan kadar testosteron.

 

Sepuluh uji coba terkontrol acak (RCT) melibatkan total 218 laki-laki muda, sehat, dan aktif, yang menguji efek kreatin pada testosteron. Penelitian dilakukan 6 hari hingga 10 minggu dengan dosis kreatin harian mulai dari 3 hingga 25 g (kecuali untuk satu penelitian yang menggunakan total 4 dosis sebelum latihan selama 10 minggu).

 

Sembilan dari sepuluh RCT menggunakan kreatin monohydrate, dan sisanya menggunakan kreatin malate (0,07 g per kilogram berat badan per hari) kepada 19 pelari pria muda selama 6 minggu. Sayangnya, semua penelitan tidak menunjukkan peningkatan testosteron pada kelompok kreatin (5, 6, 7, 8).

 

 

 

Kesimpulan

 

Meski bersifat anabolik, kreatin hanya terbukti mampu meningkatkan kinerja olahraga secara signifikan, dan sebagian besar penelitian menunjukkan bahwa suplememtasi kreatin tidak berpengaruh pada kadar testosteron. 

 

Saran terbaik untuk meningkatkan kadar testosteron secara alami adalah dengan cukup tidur, olahraga secara teratur, memperhatikan jumlah kalori, vitamin D, magnesium, dan seng (zinc). Jumlah yang tidak optimal dari semua ini dapat menurunkan produksi testosteron.

 

 

Referensi:

Hull, Michael. (2019). Can kreatin increase your testosterone levels?. Examine. Diakses pada 31 Juli 2019.

Barhum, Lana. (2018). How do you boost testosterone naturally?. Medical News Today. Diakses pada 31 Juli 2019. 

van der Merwe J, Brooks NE, Myburgh KH. Three weeks of creatine monohydrate supplementation affects dihydrotestosterone to testosterone ratio in college-aged rugby players. Clin J Sport Med. (2009).

Arazi H, Rahmaninia F, Hosseini K, Asadi A. Effects of short term creatine supplementation and resistance exercises on resting hormonal and cardiovascular responses. Science and Sports. (2015).

Vatani DS, Faraji H, Soori R, Mogharnasi M. The effects of creatine supplementation on performance and hormonal response in amateur swimmers. Science and Sports. (2011).

Hoffman J, Ratamess N, Kang J, Mangine G, Faigenbaum A, Stout J. Effect of creatine and beta-alanine supplementation on performance and endocrine responses in strength/power athletes. Int J Sport Nutr Exerc Metab. (2006). 

Cook CJ, Crewther BT, Kilduff LP, Drawer S, Gaviglio CM. Skill execution and sleep deprivation: effects of acute caffeine or creatine supplementation – a randomized placebo-controlled trial. J Int Soc Sports Nutr. (2011).

Cooke MB, Brabham B, et al. Creatine supplementation post-exercise does not enhance training-induced adaptations in middle to older aged males. Eur J Appl Physiol. (2014). 

Eijnde BO, Hespel P. Short-term creatine supplementation does not alter the hormonal response to resistance training. Med Sci Sports Exerc. (2001). 

Tyka AK, Chwastowski M, Cison T, Palka T, Tyka A, Szygula Z, Pilch W, Strzala M, Cepero M. Effect of creatine malate supplementation on physical performance, body composition and selected hormone levels in spinters and long-distance runners. Acta Physiol Hung. (2015).


Tags: , ,