fbpx
LOGO

Pro Kontra Penggunaan Aniracetam dan Manfaatnya

July 8, 2020
IMG

Aniracetam tergolong ke dalam suplemen nootropik, yakni obat yang mampu meningkatkan fungsi dan kinerja otak melalui peningkatan aliran darah. Penggunaan Aniracetam dikatakan kontroversial karena penggunaannya dilarang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) namun diterima di sebagian negara Eropa.

 

Selayaknya kafein, Aniracetam juga memiliki sifat stimulan sehingga penggunanya akan terus terjaga dan tetap fokus. Meski manfaatnya pada manusia masih dipertanyakan, saat ini banyak penelitian yang sedang dilaknsanakan untuk mempelajari fungsi aniracetam sebagai modulator AMPA untuk mengatasi depresi dan gangguan sistem syaraf pusat lainnya seperti penyakit Alzheimer.

 

 

Manfaat

 

1. Sebagai Antidepresan

Aniracetam diketahui memiliki efek antidepresan yang potensial, karena dapat mengatasi depresi dengan cara meningkatkan produksi serotonin dan dopamin, yakni neurotransmitter di otak yang berperan dalam peningkatan suasana hati, meningkatkan kualitas tidur, nafsu makan dan suasana positif.

 

Beberapa penelitian terhadap tikus sebagai hewan coba menunjukkan bahwa pemberian aniracetam single dose per oral sebesar 600 mg/kg berat badan dan diikuti 50 mg/kg berat badan  sebagai dosis harian mampu secara signifikan meningkatkan produksi dopamin dan serotonin pada korteks cerebral dan area striatum otak (1, 2).

 

Efek aniracetam pada reseptor AMPA juga diketahui dapat mengatasi depresi yang disebabkan oleh penyakit kognitif seperti penyakit Parkinson. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa pengaruh aniracetam pada reseptor AMPA mengurangi gejala depresi dan menurunkan perilaku depresi pada tikus yang menua dengan gangguan fungsi otak (3, 4, 5).

 

2. Meningkatkan Kesehatan dan Fungsi Otak 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Pharmacol Biochem Behaviour meneliti efek pemberian aniracetam peroral pada hewan coba tikus yang yang mengalami iskemia otak (penurunan aliran darah dan oksigen kepada area otak) serta menimbulkan perilaku yang abnormal.

 

Hasil penelitian menunjukkan dosis aniracetam sebesar 10 mg/kg dan 30 mg/kg berat badan mampu memperbaiki perilaku abnormal pada tikus muda dan tikus yang berusia tua ketika dikombinasikan dengan injeksi methampetamin (6, 7).

 

Aniracetam juga terbukti mampu meningkatkan perhatian pada tikus yang terpapar bahan kimia apomorphine serta mampu memperbaiki memori akibat kondisi insomnia (8, 9). Pada tikus tua, aniracetam mampu mengurangi perilaku impulsif dan gangguan perilaku lainnya, tanpa mengurangi akurasi pilihan atau kecepatan dalam tes fisik melalui modulasi reseptor AMPA di otak. Suplementasi aniracetam juga diketahui mampu meningkatkan fokus (10).

 

Meski begitu, penelitian suplementasi aniracetam pada subjek manusia masih sangat terbatas. Sebuah penelitian dilaksanakan pada kelompok lansia dengan berbagai gejala penurunan fungsi kognitif mengarah pada demensia dan alzheimer. Partisipan yang mengkonsumsi aniracetam dosisi 1500 mg setiap hari selama 6 bulan berturut-turut diketahui menunjukkan efek neuroproteksi yang lebih baik dibandingkan pemberian piracetam sebesar 2400 mg/hari.

 

Aniracetam diketahui mampu memberikan efek positif modulasi pada reseptor glutamat, AMPA, dan memfasilitasi transmisi kolinergis tanpa menimbulkan kenaikan enzim pada hati (11).

 

3. Membantu Mengobati Kerusakan Otak

Dalam penelitian pada tikus, aniracetam mampu membalikkan efek sindrom alkohol janin (FAS) pada tikus muda dengan meningkatkan jumlah reseptor AMPA di hippocampus, dan meningkatkan pertumbuhan neuron, menunjukkan potensi perbaikan jaringan otak setelah cedera otak traumatis yang merusak koneksi saraf (12, 13).

 

 

 

 

Sumber Makanan

 

Aniracetam merupakan jenis obat sintetik yang tidak dapat ditemukan di berbagai sumber makanan di alam. Karena penggunaan suplemen ini masih kontroversial, beberapa sumber lebih menyarankan untuk melaksanakan olahraga atau mengonsumsi makanan sehat dan seimbang untuk mendapatkan efek nootropik yang lebih aman. 

 

 

Efikasi 

 

Kadar aniracetam bertahan dalam darah dan mencapai puncak pada satu hingga dua setengah jam setelah konsumsi obat. 

 

 

Interaksi Sinergi

 

Beberapa pengguna aniracetam menyarankan untuk mengkombinasikan obat ini dengan sumber kolin seperti Alpha GPC atau citicholine. Namun belum ada bukti ilmiah yang mendasari kombinasi ini, dan tingkat keamanan belum dapat diketahui. 

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis standar untuk pasien dengan Alzheimer berkisar antara 1.000-1.500 mg per hari. Dapat dikonsumsi terbagi dalam dua dosis sebesar 500-750 mg dua kali sehari dengan makanan.

 

Dosis rendah sebesar 400 mg telah dilaporkan memiliki beberapa khasiat.

 

 

Kontraindikasi

 

Hindari mengonsumsi obat-obatan berjenis racetam untuk:

Anak-anak

Ibu hamil (dapat menyebabkan keguguran dan cacat janin)

Ibu menyusui

 

Semua obat berjenis racetam memiliki efek anti pembekuan darah. Hindari konsumsi obat ini jika Anda mengonsumsi obat-obatan pengencer darah. Sangat disarankan unuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengonsumsi obat jenis ini.

 

 

Efek Samping

 

Beberapa efek samping potensial yang dapat terjadi ketika mengonsumsi aniracetam antara lain:

• Gelisah

• Mudah  marah

• Insomnia

• Sakit kepala dan vertigo

• Mual dan muntah

• Diare

• Pingsan (dapat terjadi pada kondisi overdosis)

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Aniracetam. Examine. Diakses pada 27 Juni 2019.

Cherney, Kristeen. (2019). What you need to know about aniracetam, which is not approved in the u.s. Healthline. Diakses  pada 27 Juni 2019.

Hunter, Will. (2019). Potential uses of aniracetam + dosage, side effects & reviews. Self Hacked. Diakses  pada 27 Juni 2019.

Petkov VD, Grahovska T, Petkov VV, Konstantinova E, Stancheva S. Changes in the brain biogenic monoamines of rats, induced by piracetam and aniracetam. Acta Physiol Pharmacol Bulg. (1984).

Shirane M, Nakamura K. Aniracetam enhances cortical dopamine and serotonin release via cholinergic and glutamatergic mechanisms in SHRSP [published correction appears in Brain Res 2002 Feb 1;926(1-2):197]. Brain Res. (2001).

Petkov VD, Grahovska T, Petkov VV, Konstantinova E, Stancheva S. Changes in the brain biogenic monoamines of rats, induced by piracetam and aniracetam. Acta Physiol Pharmacol Bulg. (1984).

O’Neill MJ, Witkin JM. AMPA receptor potentiators: Application for depression and Parkinson’s disease. Curr Drug Targets. (2007). 

Nakamura K, Tanaka Y. Antidepressant-like effects of aniracetam in aged rats and its mode of action. Psychopharmacology (Berl). (2001).

Himori N, Mishima K. Amelioration by aniracetam of abnormalities as revealed in choice reaction performance and shuttle behavior. Pharmacol Biochem Behav. (1994).

Ventra C, Grimaldi M, Meucci O, et al. Aniracetam improves behavioural responses and facilitates signal transduction in the rat brain. J Psychopharmacol. (1994).

Nakamura K, Kurasawa M, Tanaka Y. Apomorphine-induced hypoattention in rats and reversal of the choice performance impairment by aniracetam. Eur J Pharmacol. (1998).

Dubieal FP, Queiroz CM, et al. Ampa receptors mediate passive avoidance deficits induced by sleep deprivation. Behavioral Brain Research. (2013).

Nakamura K, Kurasawa M, Shirane M. Impulsivity and AMPA receptors: aniracetam ameliorates impulsive behavior induced by a blockade of AMPA receptors in rats. Brain Res. (2000).

Lee CR, Benfield P. Aniracetam. An overview of its pharmacodynamic and pharmacokinetic properties, and a review of its therapeutic potential in senile cognitive disorders. Drugs Aging. (1994).

Vaglenova J, Pandiella N, Wijayawardhane N, et al. Aniracetam reversed learning and memory deficits following prenatal ethanol exposure by modulating functions of synaptic AMPA receptors. Neuropsychopharmacology. (2008).

Fushiki S, Matsumoto K, Nagata A. Neurite outgrowth of murine cerebellar granule cells can be enhanced by aniracetam with or without alpha-amino-3-hydroxy-5-methyl-4-isoxazole propionic acid (AMPA). Neurosci Lett. (1995).


Tags: , ,